Lautanku

Zhil Fatma
Karya Zhil Fatma Kategori Puisi
dipublikasikan 01 Juni 2016
Lautanku

Minggu, 11 Januari 2015

 

Aku menembus takut,

Membunuh rindu, memecah lautan, menyonsong ombak.. terjun bebas membauri air laut,

melompat dan menembus takut... 

membunuh rindu dan rasa sakit yang kau sisakan,

aku memustuskan bangkit kembali dengan kelapangan dan warna yang lebih benderang,

Aku berhasil melakukan hal paling ku takutkan dalam hidupku,

Biduk tanpa atap, Lautan berombak, dan berenang menyelam...

kamu benar, ombak dan lautan hanya perlu kita tempuh saja, mereka teman dulu katamu..

kini aku sendirian menempuh sesak ku, tanpa kamu, lebih baik mungkin

kemarin Bukan hanya adrenaline bekerja lebih letih dari pada biasanya,

Tapi hati, rongga dada, retina mata, tulang rahang, genderang suara, helai demi helai rambut pirang ku basah dan tenggelam di lautan..

melepas rasa... membiarkan luka berserakan ditenggelamkan lautan,

Aku seperti benar-benar sedang menari dan berdansa saja dengan segala kecewa dan gundah yang kau hadiahkan pada ku,

hadiahh ulang tahun ke dua puluh empat waktu itu, seperti janji pernikahan indah atau membelikan ku cincin pertunangan kita, 

Rupanya ini seikat bunga selanjutnya yang kamu janjikan dulu, aku masih ingat...

Jika kemarin mawar merah yang kau simpan di tas kerjamu itu hadiah buatku, katanya lambang cinta.. kau ajak aku menikah dengan mu.. hahaha

Kini mawar itu menghitam, kelam, seperti kulitmu.. kecewa dan sedih aku jadinya,

kau lempar dan tamparkan padaku, waktu itu saat kau pergi dengan kawasaki ninja hitammu aku menangis sendirian..

hanya asap buangan motor besar mu yang masih ku ciumi.. 

Tak apa... aku kuat bahkan kau banting sekalipun

Hei kamu, aku jatuh cinta padamu, dan Berdoa untuk mu dan aku,

Rupanya kau ludahi aku, dari belakang..

sadarilah, betapa beruntung hatimu mendapatkan cinta sepertiku, 

Tapi semua memelukku setelah itu,

Kini, kau dan aku telah jadi hitam

Dan aku, bersahabat dengan lautan

Jatuh cinta pada ombak, mesra pada tepian perahu biduk,

Berani memiringkan badan hingga tanganku menyentuh air laut..

Bahkan berani salto dari kapal dan terjun cantik kedalam laut.. ahh luar biasa, kau selalu melarangku.. menakutiku.

aku patuh sekali dulu padamu

Benar, ada banyak ketidak sepadanan dalam hidup, kadang juga ada banyak yang kita belum paham

Barangkali kau memang tak sepadan berdiri dengan ku,

barangkali ini adalah patah hati yang tuhan memang rencanakan,

Katanya emas berkilau itu memang harus di bakar dalam suhu tinggi berkali-kali agar benar-benar berkilau,

Katanya lagi, bukankah berlian mengkilap di hasilkan setelah dipahat besi panas hingga ratusan kali,

Ikan dengan kualitas yang bagus dan segar memang harus didapat setelah kau membelah lautan dan menyongsong badai,

Aku mengerti tuhan, betapa istimewa akan benar-benar terasa kelak,

Seperti kataku pada ama berkali-kali sejak dulu, kelak uci akan jadi istri dari begitu istimewa ma, dan menjadi umi luar biasa seperti ama,,

Mereka tak ada apa-apanya dibandingkan uci ma :D

 

Tuhan,

Masih saja kusebut tahun lalu itu luar biasa,

Terimakasih,

Aku kembali lagi.. menari lagi, berdansa lagi, mendaki gunung lagi, kesalon lagi, kepantai lagi..

  • view 117