Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 12 Januari 2018   12:24 WIB
DILEMA

Pagi-pagi sekali ponselku sudah ramai ! Berseling beberapa detik setelah aku mem-posting tentang pentingnya pengembangbiakan lelaki yang rajin ke mesjid, satu demi satu chat  berdatangan. Dan satu diantara denting-denting WhatsApp itu yang sejenak membuatku tertegun. Seulas senyum lantas tergurat begitu saja saat mataku menangkap figur yang khas di sana. Sosok berambut hitam tebal dengan janggut telah bertengger di sudut kiri atas layar ponselku.

“Sekalian di stek, cangkok dan kloning”

Tak sadar seulas senyum menggurat panjang di kedua bibirku, ada hal yang seharusnya biasa saja, tapi hati memaksa untuk tidak biasa. Eimmm. Lelaki itu.

***

Aku gadis Enegik pecinta langit serta apa-apa yang digantungkan diatasnya; seperti awan, matahari, bulan, bintang, dan lain sebagainya. Oke, Panggil saja aku “Aku”. Tak lama setahun kebelakang ini aku baru saja mengalami patah hati yang sangat drama dalam hidup. Suatu hari aku sempat saling menyimpan rasa dengan seseorang, saling komitmen, oke ini norak banget, dan kemudian si seseorang itu pergi tanpa pamit, sampai akhirnya hati yang awalnya tumbuh subur dan berkembang patah sepatah-patahnya, layu kemudian mati, dan ini kisah terdrama yang pernah aku alami. Yang kemudian mereformasi diriku, dari gadis energik jadi gadis dengkik[1]

Lupakan soal itu.itu tentang satu tahun kebelakang. Tidak untuk hari ini. Sore ini, seperti biasa aku yang baru saja pulang kuliah menikmati setiap ruas jalan di pusat kota yang akrab disebut alun-alun. Gerobak Goyobod , tahu Bulat, tahu balut, Seblak, kelapa muda dan lain sebagainya yang menderet di trotoar jalan, sedikitpun tidak menarik perhatianku. Aku lebih tertarik pada langit sore ini. Walau jingga pada senja yang dirindukan sore tak muncul jua, kurasa penutup hari sore ini cukup dengan awan putih yang kemudian pelan pelan  menjadi abu abu, pekat, sampai gelap.

Sebelum langit benar-benar menghadirkan bulan, suasana sore di alun-alun sedikitnya masih hidup, bangku bangku disekitar Taman Alun-Alun memang sedang tak berpenghuni, tapi ruas ruas jalan disekitarnya ramai dengan orang yangberlalu-lalang .

Lalu untuk mengisi kehampaan suasana sore ini , aku duduki salah satu bangku di pinggir Taman. Bukan untuk melanjutkan drama yang pernah aku perankan. Maksudku bukan untuk mengenang apa-apa yang aku rindukan dulu. Aku hanya ingin lebih lama menikmati sore ini.

Aku cukup bahagia, menjalani hari dengan tanpamu,aku sudah terbiasa. Tenang saja, aku sudah sadar bahwa,“Kadang orang yang kita cintai memang diciptakan untuk dilupakan”[2] itu sangat berlebihan memang, namun intinya mungkin kita benar benar harus tau pentingnya ikhlas dalam hidup ini.

Sederhananya, semisal apa yang  akan kita makan saja. Jika tak sampai mulut kita, maka itu bukan milik kita, atau tepatnya tidak Allah takdirkan untuk kita. Apalagi kita yang pada dasarnya tak memiliki apa apa, kehilangan bukan hal yang seharusnya kita khawatirkan dengan berlebihan bukan ? ah lupakan tentang kehilangan itu. Aku sudah tak nyaman  hidup dalam masa lalu.

Masih disore yang sama, Aku masih duduk di bangku yang sama pula, aku memang pengidap 90 % Ekstrovert tapi, entah mengapa, aku sangat nyaman jika sendiri seperti ini. Memikirkan banyak hal dan kemungkinan kemungkinan yang mungkin terjadi dalam hidup kalau kata kids jaman now ini  adalah salah satu kenikmatan yang haqiqi, lalu berimajinasi membuat alur hidup sendiri untuk menyempurnakannya.

Aku perempuan yang sudah berkepala dua lebih satu tahun ini, sebenarnya sedang dilema.  Benar-benar sedang dilema. Aku bingung apakah aku sedang kasmaran atau sedang berhasil melupakan ? dua duanya memang hal yang baik. Tapi  ini benar benar ujian baru.

Sejujurnya Saat ini, aku sedang tak ingin kasmaran kepada siapapun. Tapi, hati dengan lancangnya, tiba-tiba ingin membangun kehidupan dengan lelaki yang benar benar seratus delapan puluh derajat berbeda kadar shalehnya denganku.

“Oh Tuhan... Terangkanlahhh”

Aku benar benar dilema, satu sisi aku bahagia selama satu tahun menghabiskan waktu untuk melupakan, akhirnya berhasil dengan sendirinya. Tapi, disisi lain aku takut untuk kasmaran kepada laki laki shaleh itu.

Memang, saat aku mulai sadar mengaguminya, aku merasa lebih dekat dengan Allah. Aku lebih merasa tenang. Hanya saja aku tetap takut. Aku takut ibadahku tidak benar-benar berniat untuk-Nya. Aku takut kedekatanku dengan Allah bukan murni atas dasar keikhlasan. Walaupun aku mengaku ikhlas.

Karna nyatanya, bukan hanya samson yang manusia bukan ? aku juga manusia biasa yang sering khilaf. Aku takut semua ini bukan atas dasar keikhlasan.

Bukankah ikhlas itu, menghindarkan segala hal kecuali Allah. Segala hal. Aku ulangi “Segala hal!” aku benar benar takut. Takut jika suatu saat ia tak lagi pantas ada dalam doaku, aku takut aku akan amat sangat kecewa dan terpuruk.

Setegar dan sekuat apapun, wanita tetap manusia perasa. Ia begitu rapuh dan mudah pecah. Sekali ia retak ia pasti berbekas. Terlebih aku sudah mengalami kisah terdrama dalam hidupku, aku tak mau menambah drama-drama yang lainnya.

Baru kali ini, aku merasa tersiksa dengan kasmaranku ini. Aku yang awalnya hanya mengenal ia sebatas teman, tiba tiba benar-benar mengagumi dalam diam. Ini sangat menggangguku. Aku tak tertarik dengan istilah teman jadi cinta. Ini membuat hidupku sedikit rancug. Banyak rasa segan dan sangat tak nyaman menatap seseorang. Karena apa daya,  ketika aku sekejap menatapnya, nafasku seolah berhenti. Dan ini adalah kasmaran yang paling tersiksa. Terlebih aku juga merasa aku yang sangat merasa berharap sama dia.

Sampai ada waktu dimana aku sering mati gaya hanya karna hal kecil, semisal dia bilang,

“Heyyy...”

Dan dengan wajah polos, aku cuma melongo, dan oke itu gaya yang absurd banget. Terus dia dengan wajah pura-pura tidak tahu, melanjutkan percakapan.

Awalnya aku merasa “Ah, ini kayaknya aku yang ngarep deh” Tapi, semakin hari aku ngerasa puzzle demi puzzle yang aku kumpulkan sebagai variabel  dari pada pendukung Hipotesa awal ku, semakin mengarah kesana.

Sesederhana, kita yang kadang saling curi tatap, atau saling senyum mesem – mesem hanya karna candaan yang menurut orang lain gak lucu tapi hanya kita yang cengengesan. Terus dia yang sering banget mengapresiasi snapwhatsapp-ku yang seringkali mengarah pada pintu-pintu pengharapan. Semisal, suatu hari aku menulis...

Pintu rezeki itu ada sepuluh, satu untuk pegawai sembilan untuk saudagar, oke Mau dapet saudagar ah biar dapet rezekinya sembilan pintu

Terus dia appreciate banget buat ngomen yang bikin aku baper”Alhamdulillah aku calon saudagar”

Dan itu adalah ke-geeran yang haqiqi yang sangat menakutkan.

Pokoknya banyak ketakutan yang datang, rasa khawatir akan ibadahku, rasa berharap yang semakin dalam ketika doa disematkan, dan masih ada berbagai macam keterpurukan yang terjadi pada jiwa yang dirundung kasmaran ini.

Ah, tersiksa. Dan sayangnya aku seorang perempuan,makhluk yang hanya bermodalkan doa dan doa. Sempet berfikir haruskah aku sampai kata mengeluarkan kalimat “dare you marry me ?” atau “Maukah kamu menikahiku?” Ah,aku bukan Siti Khodijah. Aku hanya muslimah dhaifah yang berharap memiliki lelaki shalih itu.

Finally, dari hati yang dirundung kasmaran timbul pertanyaan “Adakah lengan lelaki itu ingin membersamaiku untuk membangun rumah dan menaiki tangga menuju syurga?”

Lagi lagi aku mesem-mesem sendiri.

Sangat disayangkan langit semakin abu pekat. Dan ini tidak memungkinkan aku, untuk meneruskan percakapan pribadi bersama sore hari.

***

Suatu sore, mungkin dilema ini berakhir. Kemudian sampai suatu waktu aku mengatakan,

 “Ah Ya Allah.... ini kaya mimpi.”

 

[1] /deng·kik/ a lunglai; tidak ada daya kerja; tanpa semangat;

[2] Setelah Hujan Reda – Boy Candra

Karya : senyuman sijingga