Selepas Kepergianmu

senyuman sijingga
Karya senyuman sijingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2017
Selepas Kepergianmu

It’s Matter how this end...........”

Aku meyakinkan pada diriku berkali kali, membunuh hidup-hidup harapan yang sangat egois melukai diriku sendiri membenamkan semua perasaan yang membuatku begitu keras kepala tetap menunggumu kembali.

Kemarin sore disebuah pantai aku pernah berkata “Kamu itu punya persamaan dengan sunset, sama sama tenggelam pelan pelan..” ucapanku terpotong melihat siluet jingga yang membias pada senja kala itu. Lalu aku meneruskan “....tapi bedanya, sunset muncul kembali esok pagi, sedang kamu tak tau kapan” seketika aku tertunduk. Hanya deburan ombak yang menanggapi pernyataanku saat itu.

Dan tepat hari ini setelah aku melihat kamu dengan yang lain aku simpulkan aku akan menanggapi pernyataanku kemarin sore di pantai bahwasannya “...ternyata kamu bukan tak tau kapan kembali, tapi memang tak akan kembali”  Hening. Dan mirisnya aku sudah kehabisan air mata untuk merayakan kepergianmu.

Karna bukankah sudah tiga bulan pergi yang dengan selama itu aku yang sangat egois memaksakan harapanku menjadi sebuah kenyataan. Dan dengan sangat keras kepala menunggumu dan memaksamu kembali.

Sampai aku menemukan kata yang sangat tak ingin aku ungkapkan, kata “BODOH”.

Ya, BODOH. Aku tak lebih layaknya manusia yang jatuh dan tak punya lagi akal untuk bangun kembali, aku memilih terduduk sakit dan pura pura menahan rasa sakit itu, sampai kehilangan akal sehatku.

Harusnya aku sadar, kamu pergi bukan untuk kembali, tapi kamu pergi untuk benar benar mencari. Mencari yang lain.

Aku BODOH, dengan kesimpulanku sendiri, menerka nerka setiap kalimat yang kamu keluarkan. Menduga duga setiap sikap yang kamu lakukan. Yang  pada akhirnya persepsiku tentangmu selalu salah. Aku hampir salah mendefinisikan segala hal tentangmu, sampai aku seBODOH ini.

 Ini murni kesalahanku.

Maaf, aku sempat lupa. Aku ingkar atas janjiku sendiri yang katanya tak akan menulis cerita apapun tentangmu jika januari ini pada akhirnya kita berakhir,aku harus mengakhiri ceritaku tentangmu. Sekali lagi maaf, aku ingin pura pura lupa saja tentang janjiku yang ini. Pokoknya, aku ingin tetap menulis, apapun hambatannya aku harus tetap menulis. Ini semisal sebuah usaha melupakan. Karna bukankah benar benar berusaha melupakan akan sama hasilnya dengan selalu mengingat. Hasilnya tak akan ada hasil. Jadi kamu tenang saja, tulisanku ini semisal mecari sebuah kesibukan atau bahkan positifnya untuk sebuah perjalan hidupku. Bukan untukmu, bukan untuk KITA yang dulu.

Kamu....

Perjalannku telah tiba pada ujungnya. SELAMAT ! kamu berhasil menghentikan apa yang telah aku mulai. Kamu HEBAT bisa melukai lebih dari orang yang pernah melakukan hal yang sama padaku.

Mungkin bedanya, caramu melukaiku, pelan pelan. Sekali lagi, selamat!

***

Waktu itu sebelum pada akhirnya aku menulis cerita yang dengan sangat konyol aku mengirimkannya padamu. Kamu dengan membuatku sangat gendok menjawab “iya, nanti aa baca ya, di HP nya gak ada MS Word” aku menertawakan diriku sendiri “hahahaha” aku mencela diriku sendiri. Yang pada kenyataaanya sampai Januari hari ke duapuluhtiga setelah kamu memasang display Picture dengan dianya kamu, jawabannya adalah “Kamu tak akan pernah membaca tulisanku, tulisanku tentangmu” ini memang kesimpulan burukku. Tapi kalaupun kamu membacanya, aku pastikan itu tak akan merubah semuanya.

Aku sejenak menghela nafas “fyuhh....” kemudian satu kata keluar dari hatiku “IKHLAS” ya itu yang sedang aku usahakan sekarang. Tak ada hal lain selain berharap aku menjalani hidupku dengan tanpa mengeluh karenamu.

Selepas kepergianmu, aku tak berharap atau bahkan berusaha mencari ada orang lain yang mengobati lukaku, aku terlalu trauma untuk hal ini, seperti  kamu dulu yang  terlalu cepat aku simpulkan bahwa kamu datang untuk mengobati, yang nyatanya untuk membuat luka lebih dalam, dan kembali basah.

Tapi tenag saj, aku memaafkanmu. Karena kenyataanya aku tak bisa menyalahkan diriku sendiri, tak bisa menyalahkan cerita kita, cerita ku dan termasuk tak bisa menyalahkanmu. Ini semisal garis takdir yang harus aku jalani atas pilihanku sendiri.

Aku kalah. Aku gagal. Tapi aku faham Gagal merupakan salah satu dari dua pilihan hasil dari sebuah usaha. Aku tak pernah menyesal telah sejauh ini mengusakan apa yang aku pertahankan. Walau pada akhirnya usahaku berakhir dengan hasil"GAGAL". Tapi setidaknya aku tak hanya diam.

Selepas kepergianmu, doakan aku untuk tetap bisa melanjutkan cerita hidupku. Walau entah kedepannya bagaimana. Tetapi aku yakin, aku tahu kemana harusnya aku melangkah.

Kamu....aku terimakasih!

Atas dirimu yang rela menjadi bagian dari ceritaku. Betapapun rumitnya, tetap aku ucapkan terimakasih. Karena, setidaknya kamu pernah ada dimana saat aku bersyukur, tersenyum, bahagia, dan menikmati hidup.

Untukmu, selamat!

 

Kamis sore, di wifi corner andalan kita

*Dari diriku yang sedang merayakan kepergianmu

  • view 144