Ameera "how i hate i my self !"

senyuman sijingga
Karya senyuman sijingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 November 2016
Ameera

Sementara kadang kadang aku membenci diriku sendiri entah dengan atau tanpa  alasan. Aku tidak mengerti. Yang pasti pada momen momen tertentu aku membenci diriku. Titik.

Kemudian,aku sesosok Ameera Rein yang katanya ekstrovert person bingits,ternyata menyimpan beberapa misteri dibalik ekstrovertnya itu,ya bukan berarti semua yang aku ekstrovertkan itu adalah fiktif,tapi tidak semua hal. Aku tekankan,tidak semua hal.

Tepatnya hari ini,setelah bertahun tahun berteman dengan Zain,ah terlalu keren,nama aslinya Zainal Luqman aku selalu menampilkan betapa ekstrovertnya aku,dan kemudian sampai dekat seinsten ini ya walaupun baru  beberapa bulan sampai kita sama sama menaruh hati,mudah mudahan bukan hanya dugaanku,tapi memang pasti. Aku baru menampilkan sisi introvertku.

Aku sedikitpun tidak menyukai diriku yang introvert, tapi untuk satu hal aku rapat rapat menguncinya sampai aku menemukan orang yang nyaman kecuali mamah untuk aku jadikan pendengar yang baik agar kemudian sisi introvertku menghilang,tapi pada nyatanya baru hari ini Zain aku jadikan sebagai pendengar yang baik,maaf.

Sebenarnya,bukan berarti aku tidak percaya,atau meragukan kamu,tapi aku sendiri yang meragukan diriku sendiri untuk mempercayai kamu,ini terdengar rancug,tapi aku yakin kamu memahaminya. Karena,soal hati se ribet se njlimet se rancug dan se tersirat apapun maknanya kalau bicara pada hati yang sama pasti akan sam sama paham,dan itu harapanku.

Ini cerita lama,yang aku tutupi sudah enam tahun lamanya,aku Rein yang kata orang seorang pemimpi,pemberani,ambisius,percaya diri,humble,mudah adaptasi,dan manis masih menurutku,ternyata aku masih menyembunyikan satu hal.

Aku adalah orang yang sangat Minder, dan gampang putus asa,walau pada moment moment tertentu dan pada hal tertentu tapi ini masalah besarku.

Pagi itu,ketika kamu mengirim ucapan “Selamat pagi....!” Lewat whatsappmu aku menjawabnya dengan diriku yang sedang berbeda,

“Pagiii juga,” jawabku singkat dan kemudian aku mulai mengetik beberapa kalimat yang memang saat aku mengetiknya aku benci diriku sendiri.

Hai,awalnya malam tadi aku mau mengirim ini,tapi selalu tidak ada waktu yang pas,

 

Mmmm,sakitku kambuh Bang,ini penyakit lama tapi kadang selalu saja seperti ini,Meera bingung sedih semua hal buruk saat ini ada dipikiran Meera,apapun itu.

Sudah 2 tahun tidak Checkup dan Meera rasa Meera sudah sembuh bang,namun nyatanya Meera sakit lagi. Dan memang kenyataanya Meera sakit. I’m not a normally person as another.

Berbagai pertimbangan hal ini utamanya yang selalu buat Meera merasa ragu dengan orang orang yang dekat dengan Meera,ragu karna diri sendiri ,ragu tentang menerima,menerima keadaan seperti ini.ini memang terlalu drama,tapi ini ....

Ah,Bang. Meera sudah lelah. Mungkin orang orang yang pernah dekat dengan Meera,mereka mencari yang lain ketika sedang dengan Meera mungkin alasan utamanya karna ini,karna penerimaan,mereka mungkin tidak akan mampu hidup dengan orang tidak sehat,beberapa hal buruk kedepan sudah termuat dalam pikiran Meera,Meera lelah,dan ...

Dan sekarang,Meera kembalikan pada bang Zain,jika kedepannya akan seperti ini lebih baik Meera mempersilahkan Bang Zain mencari yang lain,this is who i’am. Meera kalah dengan diri Meera sendiri.maaf”

Pada pagi itu dengan segelas teh hangat yang sedikitpun tidak aku hiraukan,aku bersama Gadget ku basah dengan airmata yang agak dramatisir.

Tak lama wahatasppku kamu baca dan kamu membalasnya,

“Kok widi Letoyy  banget sih” singkatmu.

Kalimatmu yang singkat saat itu,agak membuatku memaksakan melengkungkan kedua bibirku. Aku bersyukur. Aku sedikit menghapus air mataku,aku agak malu,dan masih dalam keadaan membenci diriku sendiri saat itu. Aku gigit bibir bagian bawah mencoba menahan isakanku untuk yang kesekian kalinya. Agak terminimalisir,namun aku tetap benci diriku yang ini.

Aku tak ingin melanjutkan percakapan kita saat itu,aku hanya butuh waktu sendiri. Butuh waktu untuk mengubah diriku yang ini,tapi aku selalu merasa kesulitan.

Umurku yang sudah mau beranjak 21 tahun,jika berbicara soal pasangan maka hal itu adalah pembicaraan yang memang seharusnya. Tapi aku tidak seperti itu,aku selalu menjauh jika dicolek untuk membahasnya,aku memang dekat denganmu Bang, dan selalu berdoa agar Taqdirku bersamamu, kalaupun tidak,aku tetap nego kepada Taqdir agar bersamamu. Bukan tentang kenyamanan saja,tentang menerima,tentang satu jalan,tentang saling faham atau apapun, Walau belum semua aku temui,belum ada alasan yang cukup,entahlah aku hanya ingin membangun cinta denganmu. Kuharap bukan sebuah harapan tapi ini sebuah do’a.

Tapi dibalik banyak harapan atau doa yang kupanjatkan,tetap aku tak bisa membohongi diriku sendiri,aku masih ragu pada diriku sendiri.

Jika ada kalimat “Tidak ada yang sempurna diantara kita,tapi kita akan sama sama menyempurnakan diri kita dengan hidup bersama”

Memang terdengar manis,tapi tidak untukku,Bang. Aku kira aku harus berpikir berpuluh puluh kali untuk mengeluarkan kalimat itu,aku kalah dengan diriku sendiri,aku tetap takut tidak mampu menyempurnakan diriku sendiri,pun menyempurnakanmu. Aku masih membenci diriku,maafkan.

Didepan banyak orang,kecuali mamah,Silvia sahabatku,dan kamu. Aku tetap menjadi Meera yang bukan aku benci saat ini. Ini kesulitanku.

 

 

  • view 177