Masih tentang K A M U, Mas Hafwan

senyuman sijingga
Karya senyuman sijingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Oktober 2016
Masih tentang K A M U, Mas Hafwan

Izinkan aku pergi dulu......”

PAMIT,sebuah lagu dari Tulus dalam imajiku,kamu yang melantunkannya,ah padahal ini fiktif. Mas,iya kamu Mas Hafwan maaf aku masih menulis meneruskan  cerita ini,kurasa cerita kemarin menggantung,dan aku masih ingin mencoba mengakhirinya. Ingin memolesnya menjadi lebih manis,walau nyatanya Sad Ending.Entah bagaimanapun caranya aku ingin membuatnya tetap Happy Ending.

Aku tahu Mas,walau hanya sebatas intuisiku saja,aku tahu aku yakin apapun itu  sampai rancugnya kata kata yang kutulis ini,aku ulangi aku tahu aku yakin bahwa kamu baca tulisanku,titik. Bagaimana tidak,sehari setelah aku posting tulisanku,broadcast yang kamu share, display picture akun bbm mu di lengkapi dengan PM mu yang semuanya tertuju pada salam perpisahan menanggapi tulisanku kemarin.

Ini memang seperti dongeng,cerita yang sedikit ku fiktifkan tetap saja kau faham isinya,kita pura pura saling tidak tahu,tapi seolah hati kita saling berbisik,aku sedikit kepedean,tapi entah geer tingkat apa aku bisa segila ini,tapi aku yakin. Tetap yakin.

Aku baca dalam dalam,aku mencoba memahami makna tiap kata yang tertera pada sebuah kalimat pada display picture akun bbmu.

“Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kau sebut dalam do’amu,mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam diam sering menyebut namamu dalam doanya”

Aku terus menatap layar handphoneku dengan mata sedikit berbinar,menahan mata yang mulai berkaca kaca sebelumnya. Dengan tanpa sadar aku tersenyum,ikhlas.

Aku faham apa yang kamu maksud,intinya walaupun tak kamu bicarakan,kamu begitu perhatian,sampai menasihatiku,mungkin agar sedih dan kecewaku sekedar saja. Pikirku padamu positif saat itu.

Aku tahu perjalanan di depan matamu yang masih misterius menjadi alasan kamu menanggapi salam perpisahanku. Entah dari alur yang mana kamu mulai berjalan,meninggalkan kenangan yang tak sengaja kamu ciptakan. Untuk melepaskannya bahkan mungkin aku maupun kamu tak pernah memikirkan hal itu. Kita,maksudku,aku,lebih senang membayangkan masa depan yang kita tak akan tau akhirnya,seperti hari ini,yang kita bayangkan kemarin adalah sebuah kemungkinan. Namun, tidak semua kemungkinan kemungkinan yang terjadi kita bayangkan. Pun saat ini,kita dan perpisahan adalah sebuah kemungkinan yang saat ini tak lagi menjadi kata mungkin yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebenarnya,aku tak ingin terus menerus membuat diagnosa tentang semua kemungkinan yang pernah terpikirkan olehku. Kamu,ceritamu dan hidupmu bukanlah bagian dari diriku,namun fikiranku selalu gagal memahami hal itu. Aku selalu saja ingin memaksakan untuk masuk dihidupku,walaupun duniamu sulit untuk kuselami.

Beberapa hari,minggu dan hampir sebulan kamu benar benar pergi,aku mulai menikmati hidupku. Tapi aku masih saja menjadi manusia yang biasa,atau mungkin bisa jadi lebih buruk. Aku masih berusaha mengakhiri cerita kita dengan baik,aku tak berusaha untuk melupakanmu,karna itu akan sebaliknya,semakin aku mencari cara untuk melupakanmu,semakin banyak pula cara aku mengingatmu,dan itu mengganggu fokusku. Sekarang aku lebih senang mencari kesibukan,menghabiskan waktu dengan bekerja,menulis,jajan,ngasuh,bernyanyi dan melakukan kesenangan kesenangan lainnya.

Aku selalu mencintai orang orang shalih,memang kamu ada satu dua hal  lain yang menjadi spesial,tapi selain dirimu orang orang shalih lainnyapun aku sangat cintai. Aku mencintai Rasulmu oleh karna itu aku mencintaimu ,orang orang sepertimu,yang sama sama mencintai  Rasulmu,Rasul kita.

Kalau banyak yang menulis kata kata “Cinta itu tak harus memiliki” aku sangat sepakat. Tak usah jauh jauh membayangkan “kamu” sebagai simbol cinta yang selalu kupikirkan. Cinta itu tak melulu tentang kamu,seperti kita ingin menangkap kupu kupu yang indah pastilah kita ingin mendapatkannya karena kita mencintainya,tapi kita akan lebih senang menyatakan kalau kita “menyukainya”. Kita tidak mungkin menangkap kupu kupu itu untuk kemudian kita bawa ke rumah lalu menemani hari hari kita kan? Karna kita tahu,kita tidak akan mampu menjaga dan merawat kupu kupu itu, kita tak akan pernah tega menyakiti yang kita cintai. Selalu ada cara yang terbaik untuk membuatnya selalu terjaga dan bahagia. Semisal melepaskan kupu kupu itu dan membiarkannya terbang bebas,ikhlas. Itu juga sebuah C I N T A.

Dan kamu,iya kamu. Aku tak akan pernah tega memilikimu dengan tergesa gesa atau terpaksa,cinta tak sebercanda itu. Kita harus tau bagaimana cara mencintai yang benar. Seperti pada kupu kupu,jika membiarkannya bebas bisa membuatnya bahagia dan lebih baik,kenapa tidak. Aku melepaskanmu,menutup perlahan harapan ku,melakukan banyak hal untuk tidak melulu memikirkanmu.

Jika kita memang sudah Allah pasangkan kita pasti akan bertemu,Qada dan Qadar Allah lebih dari apapun yang kita persepsikan. Dan kalaupun tidak,mungkin disini aku belajar mengikhlaskan dan memperbaiki caraku mencintai seseorang.

  • view 159