Apakah ini Cerita terakhir "kita"?

senyuman sijingga
Karya senyuman sijingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Agustus 2016
Apakah ini Cerita terakhir

Iya ,aku tak tau benar maksud dari makna “jangan tunggu” yang Mas Hafwan katakan, aku tak ingin berbesar hati, tak ingin menduga duga terlebih lagi mengharapkan,sekalipun itu suatu yang baik, tetap saja berharap pada selain Sang Maha Pemilik Harapan itu bukanlah keinginanku.

“Jangan tunggu” “jangan tunggu”, aku terus mengulang ngulang dua kata itu di penggalan terakhir cerita kita yang kubuat 12 mei lalu. Awalnya aku tak ingin mneruskan cerita kita,ah maksudnya ceritaku sendiri,aku selalu salah mengira bahwa cerita yang awalnya aku buat di tahun 2014 lalu dan kemudian yang berlanjut lewat do’a do’a yang setiap hari terpanjat dan beberapa cerita aku tuliskan. Dan setelah cerita kedua aku tuliskan mei lalu kabarmu tiba tiba menghilang,aku berfikir aku ingin menghentikannya,tapi entah kenapa setelah siang tadi,aku ingin bercerita lagi.

Iya,siang tadi. Setelah beberapa bulan kabarmu menghilang,do’a yang menggantung,dan ada pemeran baru datang di cerita kita,dan aku sudah mulai merasa ingin menghentikan cerita kita lalu memulai cerita dengan pemeran baru itu,tiba tiba beberapa hari kamu tulis di status akun BBM mu.

Aku Disini” singkatmu. Aku malam itu ingin sekali berkomentar,memulai Chating atau sekedar menegurmu,tapi aku sudah mulai merasa bahwa kamu menjaga “Jarak”,aku tahu itu sejak kabarmu menghilang,sapaanmu yang tak lagi hadir di media social,dan hafalanmu yang terus bertambah, tapi kamu tidak menghindar kontakku nyatanya belum kamu Delcon di akun bbmmu. Aku masih berhusnudzon,mungkin diam diam kamu masih menjaga silaturahim kita.

“Kita” kata yang sangat ingin aku ucapkan suatu hari nanti ketika ijab telah di qabul ketika aku halal untuk mencium tanganmu dan kamu mengecup keningku,ketika itu kata “Kita” bukan lagi sebuah mimpi tapi hal biasa yang akan terus menghiasi telingaku ketika kau ucap merdu setiap saat. Namun nyatanya ini masih sebuah mimpi.  

Cerita kali ini aku buat dengan berbeda,dengan gaya bahasa yang berbeda dan tentunya alur yang berbeda,sebenarnya bukan karna perasaanku yang sudah berbeda tapi mungkin saja. Karena sejak aku tahu,semakin bertambah hafalanmu aku merasa semakin jauh jarak yang dulu aku rasa hanya sebuah dinding dari dua tempat yang berbeda sekarang jarak juga merupakan atap atau teras yang memisahkan  lantai satu dengan lantai tujuh,kamu di lantai tujuh dan aku masih di lantai satu,ah tidak mungkin kamu sudah lantai kesekianpuluh dengan keshalihanmu sebagai penghafal quran sedang  aku masih saja seorang muslimah dhoifah yang tak mampu mencoba memantaskan diri dengan baik,mungkin jika suatu saat kamu sudah hafal 30 juz,aku masih di juz 30,aku malu.

Ditambah kabarmu yang menghilang,menenggelamkan jarak yang tadinya menggantung,menjaga hati mengistiqomahkan diri sebagai jomblowan luar biasa. Bahkan saking shalehnya,menegurpun kamu tak berani,aku tahu itu. Dan berusaha yakin dengan dugaanku.

Siang tadi setelah satu hari sebelumnya,undangan pernikahan kakamu datang kerumahku yang ketika itu aku begitu terkejut karna yang aku baca bukan nama calon pengantin,melainkan nama Ayah Ibumu,mimpi buruk suatu hari yang lalu tentang kamu yang menikah dengan orang yang kukenal sekelebat melewat difikiranku,aku tak ingin membuka halaman dimana nama calon pengantin ditulis,karena saat itu aku takut namamu “Hafwan Kafil Halim” terpampang dengan calon pengantin perempuan.jika itu terjadi aku akan mengalami galau berbulan bulan menangis sepanjang malam dannnn, Ah ini terlalu dramatisir.

Dan sampai akhirnya aku buka halaman itu,aku tersenyum lega yang kubaca nama kaka perempuan yang tertulis “Ah Barakallah teh” bisikku dalam hati. Kamu masih jomblo,aku sedikit bahagia,terlebih ketika aku tahu malamnya kamu menulis status yang artinya kamu sedang berada di kota kita,aku sangat ingin ikut ibu ke kondangan,niatku memang sedikit lain karna selain mendoakan pengantin dan silaturrahmi niat utamaku tak lain ingin bertemu dengan mu.

Siang tadi sebelum berangkat tepatnya pukul 11.00 aku berusaha berdandan dengan baik tapi masih dalam batas sederhana,aku pakai gaun hijau muda favoriteku lalu aku pakai khimar motif bunga bunga dengan warna peach ada warna hijau dibagian motif daunnya,menyeimbangkan. Entah mungkin aku sedang kasmaran kali ketiga pada pertemuan ketiga kita,aku memakai khimar motif bunga sebagai simbol. Aku memakai sedikit polesan lipstick dibibirku,aku malu sendiri melihat tingkah polahku yang aneh,tapi masih wajar.

Aku berangkat dengan perasaan hati yang tak bisa ku gambarkan,detik detik ke tempat mu,seperti biasa jantungku berdetak lebih cepat seperti sebelum sebelumnya kita bertemu selalu seperti itu,aku tarik nafas dan….

Kamu. Iya kamu memakai batik biru tosca menggendong keponakanmu yang cantik,aku melihatmu. Tepat, aku melihatmu beberapa senti dari pandanganku “Kamu ganteng Mas” desahku dalam hati,lalu menundukkan pandanganku. Dalam bayanganku kamu pun sama melihatku dengan gaun dan khimar yang cantik kemudian kamu tersenyum dan berbisik dalam hatimu “Kamu juga hari ini cantik Humairaaaa” ahh,imajinasiku kacau.

Setelah itu beberapa kali bayanganmu,bukan. Maksudnya ragamu bolak baik beberapa meter saja tepat didepan kursi makanku,kamu sesekali menolehkan wajahmu kearahku tapi ketika aku melihatmu kamu sudah menunduk atau menoleh kearah yang lainnya.

Pertemuan itu,aku ingin lebih lama disana,lebih sering melihat wajahmu,lebih dekat lagi memandangmu,atau bahkan kita bisa sampai duduk berdua berbicara,ah atau sekedar kamu menyapaku “Ukht….” Katamu dalam bayangku sambil tersenyum. Tapi nyatanya tidak,akhirnya setelah sekian menit makan dan silaturahmi memberikan selamat pada kakakmu,aku harus pulang bersama ibu. Saat aku pulang,aku sempat lewat percis hanya beberapa inci saja ditempatmu duduk,tapi sepatah katapun kamu tak menyapaku,aku kecewa.

Tiba tiba beberapa obrolan ibu ibu pengajian tamu undangan di resepsi pernikahan kakakmu terdengar di telingaku ketika hendak pulang.

“Neng Laila itu nikahnya sudah hafidz 30 juz,suaminyapun sama,mashaAllah yaaa yang ganteng yang cakep hafidz hafidzah Allah pertemukan dan kemudian disatukan pula oleh Nya,benar ya Wanita yang baik untuk laki laki yang Baik,itu memang Mutlak”

Aku terharu,mendengar itu,tapi ketika itu pula aku malu dan sangaaaat merasa tidak pantas,menantikan cinta dari kamu yang nantinya seorang Hafidz,aku rasa aku tidak pantas untukmu,kamu pantas dan berhak mendapat dan mencari calon istri yang pantas untukmu.

“Aku Mundur” kataku dalam hati ketika sampai dirumah,dan tanpa disadari air mata menetes tepat dipipi sebelah kanan yang kemudian membasahi sedikit khimar bagian pipi.

Aku berusaha menghapus tangisku,tarik nafas. Lalu aku membuka Novelnya bang Fahd –Jodoh- untuk sekedar menghilangkan galau aku baca ulang bagian Penantian. Di awal bab Bang Fahd menulis ini,kutipannya sering dan senang aku baca ulang

“Tentang Jodoh,aku tak punya kuasa untuk menyalahkan keyakinan dalam hatimu, aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu,tapi aku tak punya bukti apapun bahwa akulah jodohmu…”

Sayangnya aku berbeda dengan Sena pemeran utama dalam novel itu,aku tidak mampu membuktikan bahwa aku mencintaimu,kata cinta yang belum mampu aku ucapkan aku harus simpan dalam dalam,lalu menguburnya dan membiarkannya menghilang dan mati.

Cinta ini tidak pantas untukmu,aku harus ikhlas melepasmu walaupun nyatanya aku belum pernah sekejap pun menggenggammu,kamu bukan milikku dan bukan untuk aku miliki. Aku harus ikhlas. Ikhlas.

Entahlah apa ini pertemuan terakhir kita,atau cerita terakhir kita. Maksudku cerita terakhirku tentang aku yang mengagumimu yang bermimpi suatu saat menjadi “kita”. Esok lusa mungkin berbeda,Allah yang tahu jalan cerita,tapi aku yang memerankannya,dan memilih peranku dan ceritaku. Mungkin dengan pemeran baru itu seseorang yang masih belum aku ceritakan,atau mungkin masih dengan kamu.

Tapi tetap,kaliketiga kita bertemu aku sudah ikhlas melepasmu.

Kau dan aku tak bisa bersama

Bagai syair lagu tak berirama

Selamat tinggal kenangan denganku

Senyumku melepaskan kau pergi ~

                Bersama sore hari yang mendung,segelas teh manis yang hambar dan rindu yang terobati, lagu dari Cakra Khan Mencari Cinta sejati seakan menutup cerita kita. Menghentikannya.

 

 

*ditulis minggu sore ,disebuah ruangan yang tak bisa disebut kamar*

tolong read cerpen sebelumnya yang gaya bahasanya sangat jauh beda  ^^

http://senyumansijingga.blogspot.co.id/2014/08/bermula-dari-pesan-pertama-oleh.html

http://senyumansijingga.blogspot.co.id/2016/05/dari-pesan-pertama-ke-pertemuan-kedua.html

 

  • view 272