Apa Bisa Menikah Tanpa Cinta

senyuman sijingga
Karya senyuman sijingga Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Apa Bisa Menikah Tanpa Cinta

Aku pernah mendengar dari beberapa orang bahwa Menikah itu bisa tanpa cinta,karena memang cinta itu ditumbuhkan. Dan dengan menikah,Cinta itu akan bersemi. Begitu singkatnya.

Aku tak  yakin sebelumnya,mana bisa kita hidup bersama tanpa ada cinta sebelumnya. Namun semua ketidakpercayaan itu sekarang aku alami. Pada hari ke tigapuluh aku menikah aku sudah jatuh cinta ah semakin jatuh cinta pada pria yang ada di sampingku saat ini. Aku menatapnya dengan beribu makna. Aku menghitung setiap helaan nafas yang ia keluarkan,karna saat ini tepatnya aku sedang berada diatas jantungnya,ia hanya tertidur pulas memelukku erat. Pria berkacamata yang matanya sipit,berjanggut tipis,bibirnya sedikit merah,manis sebuah pemandangan indah yang menjadi sarapan setiap pagi sebelum beranjak dari ranjang.

Namanya Awan Zhafeer.aku senang memanggilnya Mas Awan. Sebulan yang lalu tepatnya ketika dia menghalalku dia genap berumur 26 tahun. Dia seorang penulis dan penyanyi. Dia berperawakan tinggi,tidak begitu putih tapi memang manis,berjenggot tipis,berkacamata,penampilannya selalu rapi,hobinya sesuai dengan profesinya menulis dan menyanyi. Dia lulusan sastra inggris dari salah satu Universitas terkenal di Sudan dengan tanpa biaya sedikitpun. Dia terlahir dari keluarga yang sederhana namun karenanya sekarang keluarganya sangat terpandang.

Sedangkan aku, Namaku Yumnaa Kinan aku baru saja berusia 21 tahun. Aku berperawakan kecil kalau kata orang sunda peot tapi tidak mengkhawatirkan. Aku berkulit sawo matang. Berlesung pipi keduanya,itu yan membuatku jadi anak termanis dirumahku,itu kataku. Rambutku panjang tapi hanya aku dan Ibu yang tau,ah tidak. Sekarang suamiku juga tahu. Aku berasal dari keluarga biasa juga hobiku memasak dan berbicara,iya,karna memang aku seorang aktivis dakwah pekerjaanku berbicara dari satu liqo ke liqo yang lain,tapi ini sebagai bentuk pembelajaran untukku. Aku juga dilahirkan dari keluarga sederhana,Abahku hanya seorang aktivis Dakwah juga,dan ia membantu Ibuku membangun usaha Cateringnya.

Ohh iya sebelum aku bertemu dengan suamiku,Mas awan aku memang pecinta awan dan jingga,aku senang melihat awan dengan langit biru disampingnya,mataku selalu tak ingin berkedip ketika melihat awan dan jingga. Tapi,sekarang aku lebih senang melihat awan yang ini, yang ada disampingku. Suami tercinta.

Aku pertama bertemu Mas Awan…aku tak ingat tapi dia mengingatnya,saat itu dia sedang ada job menyanyi mengisi acara pernikahn yang kebetulan teman liqo ku. Dan kebetulan juga suaminya temenku yang nikah,temen dia juga. Kita itu pernah satu frame berfoto bersama pengantin,yaa walaupun serombongan tapi anehnya dia masih ingat ada aku disana, sampai sampai fotonya ia minta copy sama temenku dan ia bawa pulang,dia simpan diam diam di buku agendanya lalu ia beri tanda pada potoku dengan tanpa hati,ahhh so sweet.

Katanya ketika pertama dia melihatku dia merasa adeuuuummm ada sesuatu yang berbeda pada diriku,aku sedikit geer tapi mencoba jaim.wajar. bisa dibilang Love at First Sight.ah manis sekali.

Dia mencari tahu tentang aku pada temanku yang menikah dengan temannya,ketika dia mendengarkan semua hal yang berhubungan denganku katanya dia semakin mantap,dan ditambah ia tahu bahwa aku masih lajang waktu itu. Pertemuan pertama kita semakin ia susun,ia rencanakan sampai suatu  saat kita dipertemukan oleh kedua teman kita yang telah menikah.

“Assalamu’alaikum Ustadzah…” pria itu menyapaku pertama kalinya,dia masih tertunduk,begitupun aku yang waktu itu masih sangat cuek pada laki laki,pertemuan ini sangat tidaklah nyaman,kalau bukan karena teman baikku aku sangat tak ingin begini beginian.

“Waalaikumsalam,aduh Mas,gak usah panggil saya ustadzah saya bukanlah seorang ustadzah,kita sama sama masih cari ilmu kan,saya belum pantas.”

“Oh,tak apa De,biar jadi do’a. kalau begitu maaf boleh saya panggil ade?”

“Silahkan,Mas.” Aku masih tertunduk,kedua temanku nyengir nyengir lihat kelakuanku yang so jaim katanya,padahal aku biasa saja.

“Kinaaan,Ini Awan. Dia temanku yang kemarin ngisi di acara pernikahan kita,kamu tahu Nan?” Mas Wahyu,Suaminya Nanda temanku bertanya memecah suasana.

“Euhh… maaf aku tak memperhatikannya,jadi gak begitu ingat.”

“Aduh,Nan polos amat sih…. Bilang aja iya.” kata Nanda sambil tertawa seolah mengucilkan, aku langsung mencubitnya dibawah meja,dia sedikit nyengir,lalu diam. Dan aku sedikit malu.

“Tidak apa apa Mbak Nanda” kata pria itu,yang mulai mengangkat wajahnya sambil sedikit tersenyum,tapi waktu itu aku masih menunduk.

“Kinannn..,Awan berniat untuk taaruf denganmu,bagaimana menurutmu?”

“Boleh silahkan… sebelum Mas awan mengirim biodatanya padaku ada yang ingin aku tanyakan,apa boleh?”

“Oh silahkan..”

“Apa Cita cita Mas Awan?”

“Selain jadi Penulis dan Penyanyi Profesional,setiap hari saya memiliki cita cita yang baru,tepat beberapa hari yang lalu ,ketika Wahyu dan Mbak Nanda menikah,saya bercita cita ingin menikah, dan saat hari ini saya bertemu denganmu saya bercita cita ingin memiliki istri seperti anti,maaf saya akan bersyukur jika saya menikah dengan mu bukan dengan yang sepertimu,maaf sekali lagi ini lancang,maaf. selain itu saya juga dari dulu bercita cita ingin menjadi seorang Ayah dan suami yang Penuh Waktu,karna itu saya hanya ingin berprofesi jadi penulis,”

Wajahku sedikit memerah tapi tak ku hiraukan. “Sebentar… afwan maksudnya ayah dan suami penuh waktu?”

“Ayah dan Suami yang penuh waktu bisa menemani anak dan istrinya dimanapun kemanapun.”

“MashaAllah…” aku menatapnya pekat dengan sekejap beristighfar dalam hati dan langsung menunduk kembali.

“InshaAllah pulang dari sini saya akan kirim cv saya lengkap.” Pendekku,sekaligus penutup percakapan kita berdua. Dan membuat sepasang pengantin baru jadi pendengar setia percakapan kita waktu itu.

Dari pertemuan pertama itu,aku tidak langsung suka,aku hanya sedikit kagum saja, apa bedanya ya. Syudahlah ya intinya aku masih biasa saja.

Berlanjut dengan saling kirim CV,lewat email dia berniat ingin bertamu kerumah Abah,Ayahku. Tapi ia tak sebut kapan ia akan datang. Dan aku tak menanyakan hal itu. Tapi waktu itu aku memang sangat deg deg gan. Sekelebat pikiran muncul dari ingatanku,masa depan,kehidupan baru,Kinan baru dan…..

“Ahhhh,Nan setoooppppp!”

Padahal belum apa apa,aku sudah berpikir sejauh ini,ini hal konyol. Aku bahkan setelah baca CV nya tidak langsung jatuh cinta. Aku masih biasa saja.

Perkataan dia tentang niatnya untuk bertamu ke rumah Abah,ternyata tak dibuat basi olehnya,hari ia mengirimiku email itu,hari itu juga ia bertamu,itu yang mengejutkanku,terlebih dari aku tak menyiapkan sajian untuknya. Aku juga tak mempersiapkan diri sedikitpun,pertanyaan pertanyaan yang aku kira akan ia berikan padaku atau pertanyaan yang nanti akan ku tanyakan atau sikapku atau apalah,yaaa terutama mentalku,saat itu aku ingat betapa sangat gugupnya menghadapi pria yang asing bagiku.

“Afwan… De saya nggak bilang mau bertamu,dan bawa Ayah dan Ibu kesini” katanya setelah mengucap salam dan kebetulan aku yang membukakan pintu rumahnya.

“Silahkan masuk,saya panggilkan Abah,Pak Bu….silahkan” kataku sambil tersenyum agak segan.

Sebelum Abah menemui Mas Awan di ruang tamu aku beritahu Abah dan Ama tentang Mas Awan bahwa sebelum ia datang kesini kita pernah bertemu lalu aku kasih lihat CV yang ia kirim, aku bilang pada Ama bahwa aku belum jatuh cinta padanya. Tapi aku lihat dia pria baik. Itu saja. Jadi tak salah jika ia ingin berbicara dengan Abah dan Ama. Setelah aku jamu Mas Awan,Ayah dan Ibunya,aku langsung bergegas ke kamar.

Yang kuduga duga tapi memang aku fikirkan jauh sebelumnya memang terjadi benar, dia melamarku saat itu juga,aku memang tak mendengarnya,tapi entah apa yang membuat Abah percaya menitipkanku pada Mas Awan saat itu,padahal aku belum istikhoroh,dan Abah belum bertanya padaku,aku sempat mengelak dan tak menerima apa yang Abah lakukan padaku. Tapi Ama membuatku tenang..

“Kinan…. Abahmu itu kalau sudah yakin ia pasti akan lakukan,percayalah Abahmu tak akan salah,dari pada kamu ngomel mending kamu istikhoroh,jika jawabannya tidak,Ama akan bilang pada Abah,Abah sangat menyayangimu bukan? Ia bisa membatalkan pernikahanmu.”

“Tapi Ama……. Apa bisa aku menikah tanpa cinta?sedang aku baru bertemu dengannya dua kali,waktu itu dan tadi itu tak membuatku cukup untuk jatuh cinta padanya.”

“Ama pun dulu sama Abahmu seperti kau ini,Ama beritahu kamu kalau Cinta itu ditumbuhkan bukan dicari,seiringnya waktu kamu akan mencintai suamimu yang asing bagimu,terlebih jika ia memang pria sholeh,tak ada yang lebih membuat kagum ketika pria sholeh memperlakukan istrinya dengan baik,jangan Jatuh Cinta,tapi kamu harus Bangun Cinta,Naan.”

“Ama,aku sering mendengar kata kata ini,banyak motivator yang mengatakannya,walaupun aku seorang aktivis dakwah,untuk hal ini aku belum yakin benar,aku tak bisa membayangkan sekamar dengan pria asing,ah bukan sekamar berdampingan saja aku pasti tak akan bisa Amaaaa…”

“Bukan tak akan tapi belum… ayolah kamu ini shalehah,Ama hanya ingin kamu istikhoroh saja.”

Aku tak bisa mengelak lagi,lelah dan aku hanya ingin berdiam diri dikamar menutup diri untuk sementara.

Malam itu,aku Istikhoroh dan anehnya yang ada dalam bayanganku ketika berdo’a malah pria itu yang muncul aku sempat tak khusyu ketika berdo’a. tapi lewat mimpi aku malah semakin yakin bahwa jawabannya iya. Meski berat mengakui. Mungkin aku harus mengiyakannya.

Setelah acara khitbah  atau pertemuan kedua itu,giliran keluargaku bertamu kerumahnya. Selang dua bulan dari acara silaturahmi itu,kami melaksanakan akan sederhana. Dan sampai akhirnya kepemilikanku dari Abahku beralih pada Suamiku saat ini,Mas Awan.

Malam,setelah akad adalah malam terekstreem yang tak ingin aku alami,aku sangat masih merasa asing duduk berdampingan dengannya. Aku kaku dan sering diam termangu.

“De?”

“i…i… iya Mas?”

“Karena kita masih merasa asing aku akan memulai hubungan suami istri ini dengan pertemanan,agar kita semakin akrab dan tidak saling merasa asing,kita bisa sering jalan bersama,nonton bersama,makan diluar bersama,dan melakukan banyak hal bersama,bisa dibilang kita Pacaran setelah menikah. Namun sebelum aku memintamu untuk jadi pacaraku,aku akan mendekatimu dahulu dan memeberimu modus modus yang akan membuatmu  jatuh cinta padaku.” usilnya yang membuatku geli dengan tak sadar aku tertawa

“hehehe” aku sedikit menahan kegelianku untuk tertawa lepas. Dia humoris. Suasana mencair. Dan aku mulai bisa beradaptasi dan menyamankan keberadaanku.

Hari hari setelah aku menikah dengan Mas Awan aku seperti punya teman baru,tapi bisa dibilang ini teman special.

“De ini hari ke 10 setelah kita menikah ya,hari ini aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Iya Mas,mau bicara apa?”

Yumna Kinan,maukah kau jadi Pacarku?” dia berlaga seperti pria pria di drama korea,menengadah dibawahku,berlutut sambil memberikan sebuket Anggrek ungu yang cantik,dia tahu benar ini bunga favouriteku.

“hahahah,giliran buat dijadiin pacar mintanya ke aku,minta dijadiin istri nodongnya ke Abah”

“Aku kan GentleMan,eh jawab duluuuuuuuu….”

“Iya,Awan Zhafeer aku mau jadi pacarmu,Pacar dunia dan akhirat InshaAllah.”

Aku jatuh cinta. Dia memelukku erat,aku seolah tak ingin melepaskan pelukannya dan dihari kesepuluh ini aku mulai mencintai suamiku,apa yang Abah dan Ama bilang benar nyatanya. Aku tak ingin mengulanginya lagi,aku bahagia.

Setiap hari dimulai hari kesepuluh itu,tepatnya setiap qabla subuh dia mengatakan kata cinta dengan ciuman hangat dikeningku.

Karna aku mencintai Allah dan Rasulku,aku mencintai Ibuku.Ibuku,Ibuku,ayahku dan kamu istriku,I Love U for all the time I have Langitkuuuuu.

Aku tak akan bosan mendengarnya setiap pagi.Setiap hari kita pacaran,dan terus membangun Cinta kita….

Sampai hari ke 30 di hari Resepsi Pernikahan kita ini…..

 

 

Untukmu Awanku,

Aku bahagia bisa menjadi langitmu setiap saat,

 

 

  • view 296