Harapan Industri Wisata Nasional Melalui e-Commerce B2B dan B2C

sigit budi
Karya sigit budi Kategori Teknologi
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Harapan Industri Wisata Nasional Melalui e-Commerce B2B dan B2C

Cina punya situs marketplace pariwisata CTrip dan Alitravel (sayap bisnis Alibaba.com), kedua situs pariwisata terbesar di Cina ibaratnya “mall”  khusus untuk penyedia jasa di industri pariwisata, mulai dari hotel, airline, transportasi lokal, restoran, pemandu wisata, dll. Ctrip mengembangkan bisnsi internet berbasis B2B dan B2C, kini menjadi situs wisata terbesar di Cina, berdiri sejak tahun 1999, bahkan sudah menjadi perusahaan terbuka, karena sudah “listing” di bursa Nasdaq, New York.

Ingin tahu berapa komisi yang diterima situs ini per tahun ? Di situsnya, Ctrip mengklaim, pada tahun 2014  telah mengantongi komisi dari penjualan paket-paket wisata dan ticketing sebesar USD 1,3 milyar. Sebuah angka yang fantastis, pendapatan situs ini 1 trilyun lebih selama 1 tahun. Saat ini divisi ticketing Ctrip melayani 5000 kota, 6 benua.

Selama 10 tahun lebih Indonesia kehilangan moment mengembangkan industri digital nasional, sejak tragedi ambruknya situs – situs besar di awal tahun 2000-an. Saat itu banyak investasi masuk ke Indonesia, banyak situs – situs baru bermunculan, tentu masih ada yang ingat situs Astaga.com yang sempat populer masa itu. Tak sampai 5 tahun situs – situs ambruk, tinggal beberapa gelintir yang bertahan, situs detik.com yang akhirnya menjadi juara paska era itu.

Bagaimana kita bersaing dengan situs – situs e-commerce pariwisata dari luar yang kini “jor-joran” berpromosi membujuk pengguna internet di Indonesia, seperti Ctrip, Skyscanner ? Berwisata sudah menjadi bagian gaya hidup penduduk perkotaan, baik untuk wisata domestik atau manca negara. Potensi pasar lokal memang kian meningkat, sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah. Sejumlah pemain lokal  berhasil menyabet peluang itu  dengan mengembangkan konsep B2C (Business to Consumer) melalui penjualan tiket dan booking hotel online.  

Secara skala bisnis, situs – situs lokal ini masih jauh omzet nya dibandingkan situs – situs e-commerce dari Cina, Ctrip. Meski cukup terlambat dibandingkan dengan negara - negara tetangga kita, seperti Cina, Singapura dan Malaysia, setidaknya ada langkah yang bagus. PT Telkom meluncurkan program online untuk tujuan wisata tradisional,yaitu Desa Wisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menargetkan pengembangan 2000 desa sebagai desa wisata melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata.  

Marketplace Desa Wisata menjadi aset wisata yang bisa dipasarkan secara B2B (Business to Business) dan B2C, sejalan dengan program Kemenparekraf yang saat ini sedang membuat aplikasi B2B industri wisata nasional,  Travel Exchange Indonesia (TXI) . Bila saat ini destinasi favorit pelancong dari luar negeri adalah Pulau Bali dan Lombok, program TXI bisa memeratakan kunjungan wisatawan ke destinasi lain di Indonesia.

 

  • view 173