Hubungan Terapeutik Kepemudaan

Shofwa Muhimatunnisa
Karya Shofwa Muhimatunnisa Kategori Psikologi
dipublikasikan 02 November 2017
Hubungan Terapeutik Kepemudaan

Hari peringatan sumpah pemuda memang telah terlewati, euforianya pun perlahan mulai menghilang dari edaran. Tahun ini nuansa peringatannya tidak begitu kental, meski kalimat fenomenal dari seorang proklamator Indonesia masih tetap eksis dijadikan caption Instagram.

Delapan puluh sembilan tahun yang lalu, pemuda-pemudi Indonesia berkumpul untuk mendeklarasikan tiga bulir sumpah yang ditujukan kepada bumi pertiwi.

Pemuda. Salah satu fase dalam perkembangan manusia di mana banyak badai dan tantangan yang menghadang, ketika seorang individu bukanlah anak-anak lagi yang selalu disuapi, bukan pula seorang dewasa yang telah mandiri.

“Bagaimana pemuda yang baik menurut kalian?”

Terkadang, ada banyak sekali pertanyaan sederhana yang jawabannya justru tidak sederhana. Pertanyaan di atas merupakan salah satunya.

Mungkin, orang-orang akan menjawab pertanyaan tersebut dengan berbagai macam jawaban. Mulai dari pemuda yang baik adalah pemuda yang sholeh, pintar, cerdas, berjiwa keadilan yang tinggi, mapan, memiliki masa depan yang cerah, bisa diandalkan, dan lain sebagainya.

Menurut saya, pemuda yang baik adalah yang bisa membangun hubungan terapeutik tepat sasaran.

Hubungan terapeutik? Apaan tuh?

Secara ilmiah, hubungan (atau lebih dikenal sebagai komunikasi) terapeutik didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stress, mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Struat G. W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien. Sedangkan S. Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan kerjasama yang ditandai tukar-menukar antar perilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam membina hubungan intim.
Sederhananya, hubungan terapeutik adalah hubungan yang saling menyembuhkan. Hubungan yang saling membangun satu sama lain. Tidak terikat oleh Suku, Agama, Ras, Etnis, ataupun teman bermuka dua. Hubungan yang dapat menyembuhkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki di tubuh pemudu masa kini, atau istilah bekennya sih, pemuda jaman now.

Didasari oleh kesadaran akan kebutuhan di masa depan. Sudah sepatutnya para pemuda yang juga merupakan penerus bangsa saling bahu membahu. Menyatukan berbagai macam kepribadian, tujuan, ambisi, di dalam satu wadah yang dijaga bersama. Tidak terikat oleh ego pribadi yang bukan tidak mungkin hanya akan merugikan diri sendiri.

Pemuda juga merupakan seorang manusia, dengan kepribadian yang tidak serupa. Banyak sekali teori kepribadian yang menggolongkan kepribadian ke dalam kelompok-kelompok kecil sehingga menegaskan bahwa setiap manusia tidak memiliki kepribadian yang serupa, pasti terdapat ciri khusus yang membedakan satu pemuda dengan pemuda lainnya. Perbedaan yang dimiliki bukan menjadi jurang pemisah, sebaliknya, perbedaan tersebut dapat memberi warna terhadap hubungan terapeutik antar pemuda.

Masih banyak yang harus dibenahi, masih banyak yang harus dipahami. Memang, jika melihat potret pemuda masa kini, kalimat fenomenal bung Karno hanya terdengar seperti angin lalu. Hampir mustahil mendapatkan 10 pemuda yang dapat mengguncang dunia.

Maka dari itu, hari sumpah pemuda dapat dimaknai sebagai langkah awal dimulainya sebuah hubungan baru yang akan membawa perubahan ke arah positif. Kita memang tidak sama, kita bekerja sama. Kita memang berbeda, untuk itulah kita bekerja sama.

#sumpahpemuda2017

  • view 16