Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 17 Agustus 2016   20:43 WIB
Merdeka menurut ku adalah. . . .

Benar kata sebuah kalimat yang aku baca di jaman yang telah lampau.

"Semakin lama manusia melihat atau merasakan sesuatu, ketertarikan mereka akan memudar terhadap sesuatu tersebut."

Misalnya kita sangat excited ketika bisa mengendarai motor, akhirnya bisa kemana-mana sendiri, tidak perlu nyari boncengan atau minta tolong Gojek. Tapi semakin sering mengendarai motor, rasa senang itu semakin berkurang, entah karena tangan yang belang karena terlalu sering kena paparan sinar matahari, bensin yang boros, atau rasa malas yang mendatangi.

Atau contoh yang lain, ketika mendapat kartu ATM untuk pertama kalinya, semangatku untuk pergi ke ATM Center meluap-luap, tersenyum sendiri ketika hampir salah memasukkan kartu dan overexcited ketika menekan pin. Tidak ada kata males dan rasanya seperti telah naik derajat dan memasuki sebuah era baru. Namun ketika dua tahun berlalu, rasa itu sudah tidak kurasakan lagi dan aku merasa biasa aja ketika perlu bertransaksi melalui ATM.

Tahun ini Indonesia menginjak usia 71 tahun, sudah memiliki 34 anak (baca : provinsi) dan ratusan cucu (baca : kab/kotamadya). Berbanding 180 derajat dari kalimat di atas, setiap tahun euforia kemerdekaan seakan tidak berkurang. Lomba di mana-mana, malam tirakatan, pawai, serta pengibaran sang merah putih di berbagai tempat dan kondisi. Seperti sebuah tradisi yang selalu dijaga turun-temurun. Tanda cinta kasih kita kepada negara ini.

Namun dibalik kemeriahan yang ada, apakah kita sudah merdeka?

Indonesia belum benar-benar merdeka, terlepas dari fakta bahwa Indonesia sudah di akui secara de facto dan de jure sejak puluhan tahun lalu. 

Merdeka itu tidak sesederhana red and white, tetapi merdeka itu serumit menggabungkan red dan white agar tidak menjadi pink.

Merdeka menurut ku adala ketika warga negara ini sudah memahami dengan baik sila pertama. Yang mana agama bukanlah topik yang pantas diperdebatkan. Tidak protes ketika si A yang beragama X memimpin daerah dengan mayoritas penduduk yang menganut beragama Y.

Merdeka menurut ku adalah ketika para wakil  rakyat memahami dengan benar apa tugasnya. Bukan hanya menebar janji saat kampanye, blusukan menjelang hari pemilihan, lalu setelah terpilih malah sering tidak menghadiri rapat yang membahas tentang rakyat.

Merdeka menurut ku adalah ketika pelajar sadar akan buruknya budaya menyontek dan membeli kunci jawaban hanya karena gengsi semata, hanya karena mengejar nilai yang tidak abadi, hanya karena malas belajar.

Merdeka menurut ku adala ketika para koruptor mengakui bahwa ia telah memakan uang rakyat. Berani bertanggung jawab atas sikap gelap mata yang telah ia lakukan.

Merdeka menurut ku adalah, ah, sepertinya aku akan menghabiskan banyak waktu jika kutulis satu persatu. Tentu saja Indonesia kita belum merdeka seutuhnya, bahkan 71 tahun belum cukup untuk menyadarkan kalian akan pentingnya negara ini, pentingnya potensi alam dan pangan yang dimiliki negara ini, dan juga banyaknya budaya serta sejarah yang disimpan oleh negara ini.

Oh, atau mungkin kalian sudah sadar namun hanya diam di pojokan dinding menunggu seseorang mengulurkan tangan?

Maka, ku ulurkan tanganku kepada kalian.

Mari kita buat Ibu Pertiwi bangga karena telah melahirkan kita.

Tidak ada yang melarang mu untuk memulai dengan langkah kecil

MERDEKA!

 

Sumber gambar : http://ayscz.tumblr.com/

Karya : Shofwa Muhimatunnisa