Menjaring Cahaya

Menjaring Cahaya

Jazmina Shofiya
Karya Jazmina Shofiya Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 November 2017
Menjaring Cahaya

Ahad, 12 November 2017

Oleh-oleh Seminar Nasional “Pembinaan Mental Anak dan Remaja dalam Islam”

            “Apa sesungguhnya yang menjadikanmu istimewa?”

            Mendengar pertanyaan itu, membuatmu menyadari bahwa ada yang luput tersadari selama ini. Bahwa, kamu seringkali abai tentang mengenal dirimu sendiri. Lalu, pertanyaan itu membuatmu berpikir keras, sungguh-sungguh mempertanyakannya pada dirimu. Sedihnya, meskipun telah berpikir keras, tak kamu temukan keistimewaan yang patut dibanggakan pada dirimu sendiri. Atau mungkin sebaliknya, tanpa bepikir keraspun, kamu dengan mudah menyebutkan keahlian-keahlian, berbagai prestasi, kepopuleran yang menjadikanmu istimewa. Ah, betapa beruntungnya.

            Jika kamu sulit menemukan jawaban atas pertanyaan itu, mungkin butuh belajar syukur lebih keras lagi. Sebab bagaimanapun juga, kamu istimewa dan pasti memiliki kelebihan yang tak semua orang lain miliki. Maka jangan minder atau berkecil hati. Tetaplah optimis terhadap rahmat Alloh yang luasnya tak terbatas.

            Jika kamu mudah menemukan jawabannya, dan bangga pada dirimu sendiri akan semua keistimewaan itu, marilah dengan sepenuh hati memuji-Nya dan beristighfar memohon ampunan jika terkotori oleh rasa riak dan sombong. Karena sebanyak apapun kelebihan yang kita punya, itu adalah karunia Alloh dan atas izin Alloh. Kelebihan-kelebihan itupun bersifat fana. Dan sebab manusia adalah makhluk yang tak sempurna, maka kekuranganpun pasti melekat juga.

            Maka, apa yang menjadikanmu istimewa, bukan karena kelebihan dan kekurangan yang ada padamu. Yang menjadikanmu istimewa adalah sebab kamu adalah manusia itu sendiri.  Ya, sebab kita manusia makanya istimewa. Alloh yang menjadikan manusia lebih istimewa dari makhluk lainnya. Lebih istimewa dari hewan, tumbuhan, malaikat, jin atau bahkan dari bidadari dan gunuji. Ada nurani dan akal bersemayam pada jasad, oleh sebab itulah, derajat kita lebih tinggi dari makhluk lainnya.

Memang, kelebihan dan keterbatasan lekat pada manusia. Tapi, ia akan menjadi lebih istimewa ketika kita terus bersyukur atas apa adanya diri kita. Bersyukur dengan apa adanya diri kita bukan berarti terlampau pasrah atas apa yang diberikanNya tanpa berusaha lebih baik untuk memperbaiki diri. Namun, bergerak untuk berusaha lebih baik adalah bagian dari kesyukuran itu sendiri.

***

“Masing-masing kita memang memiliki keterbatasan. Tapi, dia yang bersyukur selalu mampu menjadikan keterbatasan itu sebagai kelebihannya. Mampu terus berkarya dan berprestasi tanpa banyak mengeluh.” Begitu yang dapat saya simpulkan dari materi yang disampaikan oleh Dr. Alam Aji Putera, M.Pd seorang praktisi anak berkebutuhan khusus dan leader yayasan Idayu Malang di acara seminar nasional bertema ‘Pembinaan Mental Anak dan Remaja dalam Islam’ yang diadakan LSO Tahfidz Qur’an Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Banyak sekali mereka yang kurang beruntung di luar sana yang terabaikan. Banyak sekali teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik namun mereka tak pernah mengeluh dan tetap berperestasi. Meskipun memiliki keterbatasan, mereka tetap bisa bersaing dengan kita yang secara fisik sempurna, sehat wal ‘afiyat tak kurang satu apapun. Namun, sedikit sekali ada yang peduli dengan mereka. sibuk mengurus diri sendiri, sampai lupa berbagi kasih sayang atau sekedar meraih tangan mereka untuk kita gandeng, lalu berjalan bersisi-sisian bersama. Mereka yang memiliki keterbatasan fisik seringkali hanya kita pandang dengan sebelah mata. Lebih memilih menjauh dari pada mendekat. Padahal, sama-sama manusia, sama-sama memiliki kesempatan untuk kehidupan masa depan. Rupa-rupanya, kepekaan dalam diri berkurang. Semoga saja tak mematikan nurani. Bagaimanapun, mereka semua adalah saudara. Semua saudara adalah mereka yang butuh kita, sekalipun tampak sekali kekurangan yang mereka miliki. Sadarilah juga bahwa, meskipun secara fisik kita tampak sempurna, kekuranganpun tak luput dari diri kita. Sebab tak ada manusia sempurna.

Selain Dr. Alam Aji Putera, M.Pd yang banyak berbagi ilmu tentang teman-teman luar biasa disekitar kita, ada juga ustadz Mukhammad Yahya. Ph.D selaku dosen fakultas Tarbiyah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang membagikan cahaya-cahaya ilmu tentang pendidikan anak dan remaja dalam perspektif ilmu al-Qur’an. Beliau menjelaskan bagaimana visi al-Qur’an dalam pendidikan anak dan remaja. Ada beberapa surat dalam al-Qur’an yang dikaji untuk menemukan visi-visi tersebut.

Salah satu surah yang dikaji yaitu surah yusuf. Dalam surah ini, terdapat kisah seorang ayah dengan anaknya. Yaitu kisah Nabi Yaqub dan putranya nabi Yusuf. Bahwa gambaran seorang ayah yang baik adalah dia yang layaknya Nabi Yaqub, yang bisa menjadikan anak-anaknya nyaman berbagi kisah atau apapun dengannya. Nabi Yaqub adalah sosok ayah sejati yang tak segan dan gengsi mengungkapkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anknya, diapun sosok ayah yang juga dapat menjadi teman baik bagi Yusuf, putranya. Sebab figur ayah seperti itulah, Yusuf menjadi anak yang sholeh, baik, dan dekat dengan ayahnya. Ia pun tak segan menunjukkan rasa cintanya kepada ayahnya sebagaimana yang dilakukan ayahnya. Berbeda dengan sekarang, bahwa ayah adalah sosok yang cenderung tak bisa menjadi teman yang nyaman bagi anak-anaknya, bahwa ayah cenderung gengsi mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya sehingga mereka menjadikan sosok ayah adalah sosok yang menakutkan. Perilaku ayah dan anak yang seperti itu bukanlah perilaku islami.

Maka ditariklah benang merah, bahwa suami dan ayah yang baik adalah ia yang;

  • Bisa menjadi pendengar yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Namun, perilaku seorang ayah yang sering terjadi adalah menganggap apa yang diomongkan istri dan anak tidak penting. Sehingga, tak ada perhatian yang cukup ketika seorang istri atau anak-anak bercerita. Hal ini menjadikan mereka tak nyaman dan enggan untuk berbagi kisah. Seharusnya, seorang suami dan ayah yang baik adalah dia yang penuh perhatian, dan menjadi pendengar yang baik ketika istri dan anak bercerita kepadanya. Perhatian ini, bisa membangun kenyamanan dalam keluarga.
  • Sering-seringlah berdialog dengan anak-anak. Membangun komunikasi yang baik antara ayah dan anak akan membentuk pribadi baik pada anak.
  • Ayah harus ekstra menunjukkan kasih sayangnya kepada anak. Hal ini juga membuat anak menjadi pribadi yang baik. Jangan segan dan gengsi menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang secara terang-terangan.
  • Harus mengerti karakter anak satu per satu. Sehingga seorang ayah paham bagaimana berlaku adil terhadap mereka. adil bukan berarti sama, melainkan mampu menyeimbangkan dan berperilaku sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Ayah pun harus berlaku positif ketika mendapati anaknya pernah melakukan kesalahan. Ia tidak akan menyalahkan terus menerus, tetapi memaafkan dan meluruskan, memberi pemahaman baik sehingga anak tak mengulangi kesalahan yang sama di lain kesempatan.

 

Kemudian, dari surah lainnya yaitu bagaimana menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. Figur seorang ummu Musa menjadi rujukan bagi sosok ibu sejati. Ummu Musa adalah sosok ibu yang tegar hatinya ketika harus rela melepaskan musa. Demi keselamatan Musa, ia rela memasukkan musa ke dalam peti dan melepasnya dialiran sungai. Keakhawatiran memang merasukinya, tapi tidak menjadikannya rapuh dan lemah ketika prajurit-prajurit Firaun menanyainya tentang anak laki-lakinya. Kisah ini terjadi ketika zaman pemerintahan Firaun, anak laki-laki tak boleh dibiarkan hidup. Dan demi keselamatan seorang anak, ibu rela melakukan apa saja.

Sesuatu yang sering terjadi perihal kesalahan dalam mendidik anak adalah seorang ibu kadang-kadang tidak memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk berkembang dan berkreasi. Membuat banyak aturan dan kekangan sebab terlampau khawatir, bisa-bisa menjadikan kreatifitas anak  mati dan tidak berkembang. Dan anak yang hidupnya terlampau banyak larangan tidak menutup kemungkinan menjadikannya bandel dan berontak. Maka, beranilah memberikan kebebasan pada anak untuk berinovasi dalam hidupnya, tentu orang tua juga harus tetap mengawasi.

Lalu dalam kisah Luqman al Hakim pada surah Luqman mengisahkan bagaimana metode mendidik anak yang baik. Luqman sebelum memberi nasihat dan mendidik, telah Alloh berikan padanya hikmah. Hikmah bermakna keserasian antara apa yang dikata dengan perilaku. Antara omongan dan perilaku menjadi satu. Hikmah yang ada pada diri Luqman menjadikannya figur ayah yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Maka seorang ayah haruslah memiliki hikmah. Harus pula berperilaku dan befikir positif. Dan untuk menjadi sosok ayah yang senantiasa berperprilaku dan berfikir positif adalah dengan menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur, tidak banyak mengeluh. Yang terpenting ketika mengajarkan dan mendidik adalah dengan hati, tidak hanya dengan otak. Mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena apa yang disampaikan dari hati, akan sampai dan diterima pula oleh hati.

Pendidikan yang paling utama sejak dini agar mental anak menjadi baik adalah dengan memberi pendidikan al-Qur’an. Pendidikan al-Qur’an yang dimaksud ialah tidak sebatas membaca dan menghafal saja, akan tetapi memberikan pemahaman yang baik atas apa saja yang terkandung dalam setiap surah di dalamnya. Ketika pendidikan spritual dan pendidikan hati telah terpenuhi, barulah menuju pendidikan ketaqwaan, mengajarkan keimanan dan mengenalkan perilaku baik dan buruk.  

Inilah oleh-oleh yang dapat terekam dari mengikuti seminar nasional bertema ‘Pembinaan Mental Anak dan Remaja dalam Islam’ yang diadakan LSO Tahfidz Qur’an Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ahad 12 November 2017. Tentu saja masih banyak kekurangan dan cahaya-cahaya yang luput terjaring. Meski begitu, semoga ada manfaat dan kebaikan yang didapat dari ulasan singkat ini. Semoga menjadikan kita lebih peka lagi kepada saudara-saudara kita, juga menjadi bekal untuk berbenah diri supaya lebih baik. Agar nanti, ketika berkesempatan menjadi pendidik, ayah, ibu atau apapun, kita mampu membina anak-anak kita dengan cara-cara islami.

Terakhir, jika ada pemahaman yang keliru dari apa yang tertulis, mohon maafkanlah.  

 

Oleh:

Jazmina Shofiya

11:18

 

 

 

  • view 204