Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 13 Agustus 2017   23:40 WIB
Tentang Kehilangan

            “Bagaimana kamu begitu kuat?” Tanyaku pagi itu ketika melihat senyumnya yang begitu manis. Wajahnya tampak cerah dan ceria, tak ada sedikitpun gurat kesedihan. Aku mendekat, mulai meraih dan memeluk lengannya.

            “Apa yang terlihat, terkadang tak selalu benar, Fiy...” Ujarnya padaku. Senyumnya masih sama, tak berubah sedikitpun. Kami berdua bejalan beriringan menikmati udara pagi di tengah seliweran orang yang juga mengisi pagi mereka dengan bermacam-macam aktifitas. Ada yang jogging, senam, sekedar berjalan-jalan seperti kami, bersepeda, anak-anak bermain sepatu roda dan banyak hal. Kami sedang berada di kawasan Car Free Day/ CFD.

            Jika mata adalah pintu hati yang mampu mengutarakan sejujur-jujurnya rasa, aku tak menemukan kesedihan-sebab peristiwa menyedihkan yang baru saja ia alami- pada matanya. Mata itu menjelaskan bahwa ia telah ikhlas atas semua peristiwa kehilangan. Bahwa ia perempuan tegar dan beriman.

            “Ayah telah kembali pulang, itulah yang terbaik bagi-Nya. Mungkin bagi kita, kehidupan menjadi tak sempurna lagi, tapi bukankah kembali ke sisi-Nya adalah sebuah keniscayaan? Hanya saja, waktu yang dijadwalkan-Nya tak selalu sama.” Begitu katanya. Iya, dua minggu lalu, ayahnya telah berpulang ke sisi-Nya.

Kalimat yang ia ujarkan lantas membuatku tersadar bahwa kematian, mau tak mau akan menjemput setiap insan. Dan lagi, betapa percayanya ia bahwa semua dariNya adalah hal terbaik baginya, ia tak putus asa atau mencaci maki. Aku tahu, itu karena iman kepada Alloh begitu kuat. Sebab iman yang kuat itulah, ia menjadi perempuan tangguh, tak larut dalam kesedihan. Ia sadar bahwa Alloh-Tuhan kita- Maha Besar, Maha segalanya, yang tak pernah sekalipun keliru atas takdir yang telah ia berikan kepada dirinya. Betapa inginnya menjadi setangguh dia.

            Lelah berjalan-jalan, kami duduk santai di trotoar sambil menikmati cemilan yang baru saja kami beli untuk sarapan. Disana, kami mengobrol banyak hal. Saling berbagi kisah pengalaman masing-masing. aku lebih memilih menjadi pendengar saja. Sebenarnya, ingin menghiburnya, menguatkan hatinya. Tapi ia malah lebih kuat dari yang ku kira. Malah mendengar kisahnya, membuatku tersadar bahwa sesungguhnya aku begitu lemah selama ini. bahwa rapuhnya aku yang sedikit-sedikit mewek dan mengeluh ketika tertimpa hal yang tak pas di hati.

            “Tentu saja aku sedih atas kehilangan ini. Apalagi kehilangan salah satu orang tersayang. Aku manusia biasa, bagaimana mungkin tak sedih....ha ha” Dia tertawa ketika dengan polosnya aku menanyainya tentang kesedihan. Ah, bagaimana mungkin aku-dengan polosnya-bertanya perihal seperti itu. itu adalah pertanyaan yang tak perlu jawaban, karena semua sudah tahu jawabannya. Tapi begitulah, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

            “Lagian, melihat ayah terus-terusan keluar masuk rumah sakit, melihatnya kesakitan membuatku tak tega. Sudah lama ayah menderita, jadi mungkin kembali ke sisi-Nya adalah lebih baik. Ah bukan mungkin, tapi memang terbaik.” Dia mengoreksi kalimatnya.

            Kata orang, cinta itu tak boleh egois, dan ia berhasil membuatku mengerti bahwa cinta yang ia miliki untuk ayah bukanlah cinta yang egois. Keikhlasannya menerima kepergian ayahnya adalah bukti cinta itu. Doanya yang selalu memohon hal terbaik dan tak memaksa adalah cinta yang tak egois. Oh Alloh...

            “Jadi begitulah, Fiy...” Senyumnya tak pernah hilang. Sesekali ia tertawa melihat tingkah badut Mickiy Mouse  yang menggemaskan ditengah keramaian.

            “Selama menunggui ayah di rumah sakit, aku menjumpai banyak orang yang tak seberuntung kita yang sehat. Disana aku sering merenung, betapa nikmat sehat itu sangat berharga. Beruntunglah kita masih deberi kesehatan, yang normal, yang masih bisa makan enak, masih bisa bernapas tanpa sesak, masih bisa melihat, berjalan, berbicara dengan baik. Juga bisa sholat dengan gerakan-gerakan sempurna.” Matanya berkaca-kaca ketika mengatakan kalimatnya yang terakhir.

            “Alhamdulillah ya Alloh....” Ujarku. Segala puji bagi Alloh atas nikmat sehat yang telah Ia berikan. Tapi manusia memang pelupa akut. Sekarang ia sadar, tapi sedetik berikutnya ia kembali lupa. Ampunkanlah ya Alloh...

            “Kau tahu yang ayah pesankan kepada kami sebelum meninggal ?”

            Aku menggeleng, “Apa?” Tanyaku ingin tahu.

            “Sholat. Kata Ayah, jagalah sholatmu, jaga ibadahmu untuk bekal akhiratmu kelak. Tegakkan dengan sebaik-baiknya, mumpung masih sehat dan kuat. Sholatlah dimanapun dan bagaiamanapun keadaanmu...begitu pesan ayah. Dalam kondisi sakit parah, betapa ayah tetap sholat dengan susah payah. Maka bersyukurlah karena Alloh memberi kita sehat dan masih bisa menegakkan sholat dengan gerakan sempurna. Masih bisa bersujud dihadapan Alloh dengan gerakan sujud yang sempurna....”

            Oh Alloh...

            Maafkan kami yang masih terlampau lalai untuk menegakkan sholat dan terlampau lalai bersyukur, padahal nikmat-Mu tak ternah sedikitpun berkurang, tak pernah sedikitpun usai. Maafkan sebab iman yang turun-naik layaknya ombak, yang sangka buruk pada-Mu lebih banyak dari persangkaan baik. Maafkanlah kami, yang masih terbata-bata mengeja cinta kasih milik-Mu.   

~Perckapan dua sahabat pagi tadi~

 Ahad, 13 Agustus 2017

Pesma. Anshofa-23:31

Karya : Jazmina Shofiya