Ja?rak

Jazmina Shofiya
Karya Jazmina Shofiya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Desember 2016
Ja?rak

Ja∙rak: n  ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat.

. . . . .

PO Bus Malam - Lombok

            Senja itu, ciuman penghormatanku mendarat di tangan Inak dan Bapak. takzim dengan menduduk, bukan menarik atau mengangkat tangan mereka ke atas mensejajari mukaku. Lalu, bibirlah yang menempel di punggung tangan mereka, bukan pipi. Tak sampai satu menit, barangkali hanya beberapa detik sambil bibirku melafazkan sholawat kepada Rasulullah SAW.

“Ketika kau bersalaman dengan seseorang, maka saat itu pula bacalah sholawat agar salammu tak hanya sekedar salam kosong” Begitu tutur inak padaku beberapa tahun lalu. Entahlah apa alasan di balik nasehat itu, aku tak sampai mempertanyakan hal itu lebih jauh.

Ya, ritual salam penghormatan itu tak sampai setengah menit dan tak menyisakan sensasi haru yang keterlaluan. Syukurlah, karena jika ada air mata mengalir di pipiku saat itu, aku akan merasa sangat malu. Akupun bergegas menuju Bus malam –bus yang akan membawaku ke pulau seberang sebentar lagi. Untuk beberapa menit sejak ritual salaman berlalu, aku masih baik-baik saja.

            Barang-barang sebagian sudah masuk ke bagasi Bus dan aku hanya membawa ransel bersamaku. Kursiku berada di deretan belakang, tampak di sandingku seorang nenek-nenek tengah duduk sambil terpejam menghadap jendela. Dalam hati, aku sedikit kecewa sebab ternyata kursi yang aku tempati tidak dekat dengan jendela. Padahal, aku sudah berangan-angan untuk menikmati bintang darat selama perjalanan. Tapi ya sudahlah. Seketika ada yang berdesir di relung hatiku. Sayup-sayup keharuan menyapu tiap celah hatiku. Nuraniku terusik. Tiba-tiba saja, aku kangen inak. Kangen ritual bersalaman baru saja, kangen senyumnya, kangen nasehatnya, kangen seluruhnya ia.

            Aku menoleh, mencari sosoknya dari balik kaca jendela. Ia masih berdiri di bawah pohon menghadap pintu bus. Wajahnya sendu, tapi tak ada air mata. Mungkin kita sama-sama gengsi untuk menangis? Barangakali jawabannya memang iya. Dia melihat bayanganku dari balik kaca, aku juga melihatnya –bahkan lebih jelas. Aku hanya cengengesan sambil melambaikan tangan ketika bus mulai melaju. Namun sesungguhnya, hatiku tertohok dan aku menahan sakitnya. Sejak saat itu, aku menyadari bahwa tak ada alasan untuk tak besahabat dengan jarak bagi seorang perantau.

*

            Nenek di sampingku masih terpejam. Beberapa rambut putihnya keluar dari sela-sela kerudungnya yang longgar dan tak rapi. Kulitnya keriput. Perkiraanku, mungkin umurnya sekitar tujuh puluhan ke atas. Aku menoleh kiri-kanan, barangkali nenek ini ikut rombongan. Tapi, sepertinya tidak. Karena tak ada tanda-tanda bahwa ia ikut bersama rombongan penumpang lain. Sendiri ? entahlah... . ia terlmpau senja untuk melakukan perjalanan jauh ini sendiri. Dan aku merasakan sakit di hatiku. Entahlah...

            Nada hand phone poliphonik itu berbunyi, membut nenek itu terbangun dan mencari-cari hand phone di tas usangnya. Aku tak tahu persis apa yang dikatakan seorang penelpon di seberang sana, tapi aku mendengar nenek hanya menjawab, “Iya, busnya sudah berangkat” lalu sambungan telepon itu terputus dan nenek kembali menaruh hp nya di tas.

Dia menoleh padaku, dan tersenyum, “Saya mau ke Malang...” Katanya padaku tiba-tiba. Akupun membalas senyumnya dan bertanya, “Sendirian, Nek?” aku sungguh penasaran.

“Iya...”

Mendengar jawaban itu, entah kenapa hatiku semakin sakit. “Kenapa enggak ada yang temani ?”

“Biasanya cucu perempuanku yang menemani, tapi dia menjadi guru. Sekolah sudah tidak libur.” Katanya. Tapi tetap saja hatiku masih sakit. Ia terlampau renta untuk melakukan perjalanan ini sendirian. Bahkan geraknya sudah bergetar.

“Apa tak apa-apa nenek sendirian?”

“Tidak apa-apa. Saya sering ke Malang. Nanti juga mau ke Jakarta. Anak saya keduanya laki-laki. Satu di Jakarta dan satunya ada di Malang...”

Allah...

Tiba-tiba aku kesal dan sakit di hatiku semakin menjadi-jadi. Nenek itu bercerita bahwa kedua anak lelakinya tak bisa pulang mengunjunginya ketika liburan Hari Raya Iedul Fitri, sebab itulah dia yang harus mengunjungi anak-anaknya. Kedua anaknya menjadi pengajar. Dan betapa aku melihat wajahnya berbinar-binar sambil terus tersenyum sepanjang ia mengisahkan tentang kedua anaknya itu. Aku rasa, dia teramat bangga dan bahagia. Tapi kenapa malah aku yang sewot? Ya, apa namanya kalo bukan sewot  karena malah merasa kesal dan sakit hati seperti ini. padahal nenek baik-baik saja kan ?!

Yang aku sesalkan, kenapa tega melepas nenek untuk melakukan perjalanan jauh ini sendirian? Pada usia yang terlampau senja, pada langkah yang tak lagi lincah dan tanggap, pada gerak yang terus bergetar dan patah-patah, pada tubuh yang tak lagi tegap, pada kata yang tak lagi fasih, pada seluruh ia yang tak lagi normal..., kenapa???

Kepada nenek, kenapa kau repot-repot melakukan perjalanan ini?!

            “Aku ingin mengunjungi anak dan cucu-cucuku...” Begitu saja jawabnya sambil tertawa.

Sendirian? . . . . “Iya...”

Ah, bukankah aku juga sendirian?! Itulah sebabnya Allah mempertemukan kita di perjalanan ini. sesungguhnya, tak ada kebetulan-kebetulan yang tak terencana di dunia ini. Aku percaya itu. Baiklah, Nek... aku akan berteman denganmu.

*

            “Nak, seorang ibu tak pernah usai kasih sayangnya, tak pernah lebih peduli pada dirinya sendiri dari pada kepada anak-anaknya lebih dahulu. Bagaimanapun keadaannya. Apapun itu -demi buah hati- ia rela. Tak ada pengorbanan melebihi pengorbanan ibu, tak ada cinta yang seluas cintanya. Dan tak ada balasan apapun yang bisa menandingi seluruh jasanya. Tahtanya tentu saja termulia.”

. . . .

Ja∙rak: n  ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat.

            Nenek itu seorang ibu dari dua anak laki-laki yang telah dewasa dan berkeluarga. Mungkin dialah yang telah lama mengakrabi jarak dan menjadikannya teman baik selama ini. hingga ia selalu ikhlas ketika harus menempuh perjalanan panjang untuk menemui buah hatinya. Ia juga yang barangkali tak pernah habis pengertiannya terhadap jarak, hingga sabarnya pun tak berbatas atas apa yang dikehendaki Tuhan ketika jauh perjalanannya tak selalu mulus dan indah.

            Kau tahu,

            Kali ini, air mata tak sanggupku bendung lagi. Akankah aku bisa berteman jarak seperti nenek itu yang menjadi ibu? Ataukah aku yang seorang anak mengasingkan diri dan melupakan bahwa ditempatku nanti dan tempat inak dan bapakku berada ada jarak. Hingga tak ada rindu dan kasih sayang serta doa yang ku haturkan demi melipat jarak? Hingga, semua menjadi jomplang, hanya ibu saja yang ingat dan aku melupakan...

            Allah...

            Tak ingin seperti itu. Sungguh-sungguh tak ingin....

. . . . .

Terminal Arjosari-Malang

            Pagi itu, aku sambil menggandeng nenek –temanku itu- menuruni bus pelan-pelan diantara kerumunan penumpang lainnya. Nenek akan dijemput oleh anaknya sebentar lagi katanya. Aku membujuk nenek untuk menelpon, tapi tampaknya dia tak bisa. Lantas, aku mencoba untuk meminjam hp nya akanku telponkan anaknya. Tapi ponsel itu tak menyimpan nomer siapapun dan tak memiliki pulsa untuk menghubungi siapapun. Khawatir dan takut, apa yang harus aku lakukan?!

            Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang menelpon ke ponsel nenek. Benar, ada nomer hp tak dikenal di sana. Syukurlah, itu nomer hp anaknya. Padahal buruk sangkaku telah bengkak oleh rasa kesal. Buruk sangka itupun menyusut dan pupus ketika seorang laki-laki dewasa datang menjemput nenek. Anak laki-laki itu adalah salah satu putra nenek. Aku tersenyum lega pada keduanya.

            Sebelum berpisah, ritual salam penghormatan harus kulakukan juga pada nenek. Ada sensasi haru yang menyeruak. Aku ingat inak... . Semoga, kelak aku tak membiarkanmu menua dalam kesendirian, semoga tetap baktiku padamu, semoga ridhomu senantiasa menyertaiku...  

            “Belajarlah yang baik, Nak...”  Ujar nenek

            “Enggeh, Nek...”

            “Ini kenang-kenangan dari nenek” Dia menyodorkanku sebuah bros mutiara padaku. Aku terkesima dan terharu luar biasa. Ada rasa haru yang hiper memenuhi hatiku.

Pagi itu, kami berpisah. Melanjutkan kisah hidup kami masing-masing.

*

Jarak tak boleh membuatmu asing dan melupakan syurga yang paling dekat denganmu.

Benar,

seharusnya berteman baiklah dengannya, karena ruang sela ini memberi waktu untuk memupuk rindu terus-menerus hingga doa kebaikan mengangkasa dan tak pernah usai membuatmu dekat –meski sepanjang dan sejauh apapun jarak memisahkan.

 

penulis Akarumput: `Jazmina Shofiya`

مشتاق إليك يا أمّي ....

^Anshofa^

  • view 128