TAMU

Jazmina Shofiya
Karya Jazmina Shofiya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Oktober 2016
TAMU

By : Jazmina Shofiya

            Krik… krik…krik…

            Sekawanan jangkrik telah mengepungnya, suara mereka ramai terdengar di telinga. Jam dinding masih menunjukkan pukul 18:30, masih sore. Tapi sekawanan jangkrik yang mengepung seolah telah menjadikannya terasa larut dan mencekam. Sejak pertama kali menjadi tetangganya, tak pernah sekalipun mataku luput mengamatinya. Kawanan jangkrik itu memang hobi sekali dekat-dekat dengannya, seakan menghiburnya -yang di mataku- selalu tampak murung, kesepian dan penyendiri.

            Berbeda denganku. Jika matahari sudah mulai tenggelam, manusia berjas mewah yang dikenal dengan sebutan manager dan beberapa karyawannya malah bersiap mendandaniku agar terlihat cantik dan mempesona. Aku harus memamerkan wajah cantikku dengan ceria. Tak boleh bermuka masam  atau sendu. Dinding-dindingku di kelilingi lmpu-lampu warna-warni dan beberapa lampu disco, dihiasi berbagai alat music, alunan suara para penyanyi, dan lenggak-lenggok pinggul para penari seksi.

Tidak seperti dia yang dikelilingi jangkrik. Kalian harus tahu, tak seekor jangkrik pun pernah ku lihat mampir di sisiku. Selain itu, ia juga hanya diurus oleh seorang kakek tua yang tubuhnya telah bungkuk dan geraknya bergetar menopang tubuhnya sendiri. Kakek tua tak pernah memakai jas rapi dan mahal seperti managerku. Dia hanya mengenakan peci, baju koko dan sarung. Setiap hari, kakek tua itu lah yang selalu mengurusinya. Menyapu sendiri, mengepel sendiri, menggelar karpet sendiri, menghidangkan suguhan untuk para tamu pun sendiri. Setiap lima waktu, kakek tua akan berseru-seru memakai pengeras suara. Katanya, itu seruan untuk para tamu kekasih Tuhan agar mereka segera datang menikmati hidangan surga yang telah disediakan. Ah, lucu sekali. Bahkan suara kakek tua pun terdengar sangat memuakkan karena tak merdu. Pantas saja, tak ada tamu yang mendekat apalagi mampir.

  Beberapa waktu lalu, aku tak sengaja mendengar kakek tua mengobrol dengan beberapa tamu yang umurnya tak jauh beda dengan si kakek.        “Ya, sejak dia menjadi tetangga, tak satupun pemuda tertarik bertamu pada kami.” Ujar pak tua itu pada mereka. dan yang membuatku geram dan kesal adalah kata ‘dia’ yang pak tua itu maksud adalah aku. Aku sungguh yakin maksudnya adalah aku. Tetapi, kenapa jadi aku yang disalahkan? Pak tua itu seolah menuduhku merampas tamunya dan si kesepian itu. Kalau dipikir-pikir, itu bukan salahku sepenuhnya. Siapa suruh pak tua tak mendandaninya dengan baik. Walaupun dia teramat cantik, tapi tetap saja butuh polesan make up kan ?! sayangnya, tak ada yang bisa ku lakukan untuk membela diri. Jadi aku hanya diam saja pura-pura tak mendengar apapun.

            “Hei, kamu…!” ujarku memberanikan diri. Si kesepian menoleh tanpa mengatakan apapun. Hanya saja, ia menunggu kalimat yang akan ku katakan berikutnya.

            “Kamu kenapa ?” Tanyaku. Aku ingin memastikan apakah dalam jawabannya nanti ada kalimat yang menunjukkan bahwa ia tengah marah padaku karena menjadi tetangganya.

            “Aku tak perlu menceritakan aku kenapa. Bukankah kau selalu memantau bagaimana hari-hariku belakangan ini ?! tetaplah memperhatikan tiap gerak-gerikku, nanti kau akan tahu sendiri jawaban atas pertanyaanmu.” Jawabnya. Tuturnya memang lemah lembut, tapi ada keangkuhan yang  tersembunyi di balik itu. Itulah yang aku rasakan. Aku merasa seolah dipermalukan. Memangnya dia siapa yang harus kuperhatikan ?! ah, aku tak ingin berdebat. Lagi pula aku tak banyak waktu.

            “Ya sudah kalau tak mau bercerita. Sebentar lagi tamu-tamuku akan semakin ramai berdatangan. Aku harus bersiap-siap dan menyiapkan suguhan special untuk mereka.” sebal sekali. Aku menyesal telah menyapanya. Sudah untung aku peduli atas keadaannya.

***

            Semakin larut, tamu-tamuku semakin ramai berdatangan. Mereka menikmati tiap hidangan yang kami sediakan. Bernyanyi, minum-minum, berjoget di tengah remang-remang cahaya kelap-kelip lampu disko. laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu. Mereka berbahagia dan bersenang-senang. Aku senang tamu-tamuku menikmati suguhan yang kami sediakan. Di beberapa tempat, pria dan wanita tampak bermesraan sambil bermanja-manja. Mereka tengah kasmaran, membuatku geli dan gemas sekali. Hingga larut, mereka tak jua beranjak. Biasanya mereka akan pulang ketika subuh menjelang. Hingga terkadang, ruang luas yang aku sediakan menjadi terasa sempit. Beberapa tamuku bahkan tak bisa masuk saking tak ada ruang untuk mereka. barangkali, harus menambah ruang lagi supaya mereka tak berbalik tanpa mencicipi suguhan-suguhan menarik yang kami sediakan.

            Tamu-tamuku dari berbagai kalangan, kecuali anak di bawah umur. Dari kelas motor butut hingga mobil mewah seharga miliaran rupiah. Dari remaja hingga kakek-nenek. Mereka senang sekali berlama-lama menjadi tamuku. kata mereka, menjadi tamuku adalah hal yang paling menyenangkan. Tempat refreshing melepas stress, karena segala yang tersuguhkan adalah wanita-wanita cantik nan seksi, pria-pria macho dan segar, minum-minuman dengan kadar alcohol yang membuat fly, music disco yang keras membuat tubuh ikut berjoget ria dan aneka kesenangan lainnya. mereka tak segan-segan menghabiskan berlembar-lembar rupiah hanya karena menjadi tamuku tiap malam. “Ini kebutuhan pokok, kebutuhan rohani yang wajib dipenuhi” Begitu dalih mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Ya, aku setuju sekali dengan dalih itu. “Silahkan berlama-lama dan nikmati suguhan special kami. Penuhi kebutuhan rohani kalian !” seruku suka cita nan bangga.

            Sesekali ku lirik tetanggaku-si Kesepian itu. Ia hanya berdiam dan sepi. Hanya ditemani kakek tua dan suara jangkrik yang semakin ramai. Kakek tua tampak berada di teras depan, menyeru-nyeru pada manusia yang berseliweran di depannya.

            “Ayo Nak… masuklah… masuklah menjadi tamu kami !” Seru kakek tua itu. Tapi tak seorangpun menggubris seruannya.  Aku merasa iba. Manusia-manusia itu selalu saja menganggapnya angin lalu dan melewati mereka, lalu kemudian menghampiriku. Memintaku menerima mereka menjadi tamuku tanpa harus aku yang menyeru. Kakek tua menoleh kepadaku dengan raut sedih dan kecewa. Kedua matanya tanpak berkaca, bibirnya melafadzkan sesuatu, kemudian menggeleng-geleng. Aku merasa bersalah dan prihatin sekali. Tapi sekali lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa membujuk hati mereka yang terlanjur tertarik menjadi tamuku agar mau menjadi tamunya. Karena itu pilihan mereka masing-masing. Bukankah manusia-manusia seperti mereka dan kakek tua lebih memahami urusan pilihan hidup mereka masing-masing ?!

            Ku pandangi si kesepian itu seksama. Ia tepat berdiri kokoh nan anggun di sampingku. Tak satupun ada keganjilan padanya. Malah, bagiku teramat sempurna. Bersih, bahkan lebih bersih dariku. Wangi, terang, terlihat sejuk dan nyaman. Cahaya yang ia pancarkan berbeda dari cahaya-cahaya lampu biasanya. Lebih tampak indah. Entah bagaimana aku mendeskripsikannya kepadamu. Yang jelas, ketika memandangnya hati ini jadi terasa tentram, adem dan menenangkan. Bagaimana bisa manusia-manusia itu tak menyadari keelokannya ? sebenarnya, diam-diam ada rasa iri karena ia memiliki keindahan yang tak dibuat-buat sepertiku.

            “Ada apa memandangku seperti itu ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku terperanjat, dia membuatku kaget. Segera ku alihkan pandanganku ke sekitar.

            “Tak apa-apa.” Jawabku pura-pura, karena sebenarnya ada banyak pertanyaan bergelantungan mengelilingiku. Dia hanya ber’o’ saja menanggapi jawabanku. Padahal, aku ingin responnya lebih dari itu. Mungkin bertanya lebih banyak lagi kepadaku karena rasa penasaran. Tapi ternyata, tidak seperti yang aku bayangkan. Membuatku semakin tak sabar dan penasaran.

            “Ekhem. Sebenarnya kau ini kenapa ? kenapa tak ada manusia yang ingin bertamu kepadamu ? padahal dalam pandanganku, kau tak kurang satu apapun.” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dariku. Aku sudah tak sabar. Entahlah kali ini jawaban yang bagaimana akan ia utarakan . Atau mungkin, dia akan tetap diam mengabaikan pertanyaanku begitu saja. Entahlah…

Untuk beberapa saat, dia terdiam. Lalu ia menggeleng, “Entahlah…” ujarnya kemudian. “Barangkali hati mereka sudah terlampau kotor hingga tak bisa memilah seruan nurani. Barangkali, nafsu sudah terlampau beringas menguasai mereka, hingga mereka sesungguhnya bukan lagi manusia.” Lanjutnya dengan nada perih yang menyedihkan. Apa maksudnya dengan semua itu ? bukankah jelas-jelas mereka manusia. Aku tak pernah melihat mereka bisa menjelma menjadi makhluk lainnya seperti jin yang kata orang bisa menjelma menjadi apa saja.

“Ah, kau terlalu mendramatisir perkara. Terlalu membuat suasana ini menjadi terasa mistis.” Aku mencoba mencairkan suasana asing yang tiba-tiba saja membuatku bergidik ngeri. Firasatku, apa yang akan ia katakan selanjutnya lebih akan terasa menyeramkan.

“Aku serius. Aku tak main-main !” Dia menatapku tajam.

“Mungkin kau tak mengerti, karena yang kau tahu hanya bersolek, memikat banyak tamu dan menyediakan berbagai macam kesenangan duniawi yang semu. Sebenarnya, tanpa kau sadari kau itu alat yang menjadikan mereka lupa bahwa mereka manusia. Bahkan kaulah yang merubah mereka untuk tak menjadi manusia lagi !”

Aih, firasatku tak salah. Kata-katanya sungguh menusukku. Apa ia terlampau membenciku lantaran manusia tak ada yang bertamu kepadanya sampai-sampai ia menuduhku seperti itu ?! bagaiamana mungkin karenaku ? aku tak tahu apapun. Bukankah aku hanya mengikut apa yang di perintahkan majikanku saja ?. sungguh aku geram sekali mendengar tiap perkataannya. Apa dia tak sadar, bahwa apa yang ia utarakan kepadaku sangat kasar ? apa tak sedikitpun ada rasa sungkannya padaku ? dan anehnya, seperti biasa, aku selalu tak bisa membela diriku. Dia sperti memiliki aura magis yang menguasai tiap lawan bicaranya. Membuat mereka bungkam tanpa bisa menyangkal dengan dalih apapun.

Hening…

Segeraku tinggalkan ia. Kembali ke rutinitasku untuk meladeni tamu-tamuku yang semakin larut semakin membeludak. Berpura-pura mengabaikan tiap kalimat yang ia ucapkan padaku walaupun sejatinya aku tetap saja memikirkannya. Pertanyaan-pertanyaanpun semakin menghantuiku, mengganggu konsentrasiku.

***

Malam ini menjadi malam yang menakutkan untukku. Tamu-tamuku ramai, riuh tak terkendali. Mereka berlari tergopoh-gopoh tak tentu arah, membanting apapun yang mereka temui, berteriak-teriak, saling menabrak satu sama lain, kebingungan mencari-cari tempat sembunyi. Bahkan mereka berkali-kali membenturkan dirinya ke arahku, membuatku meringis kesakitan, tapi mereka tak peduli. Mereka seolah hanya memikirkan keselamatan diri mereka sendiri.

Tadinya, suasana malam ini sama seperti malam-malam lalu. Hanya kesenangan, kebahagiaan, tawa riang tanpa sedikitpun rasa takut. Tapi, suasana menyenangkan itu sirna seketika tepat ketika rombongan manusia berseragam menyerbu masuk. Mereka menggerebek kami, menghancurkan semua kebahagiaan yang ada. Mereka para polisi. Namun, apa yang salah? aku tak pernah tahu apa salahku. Bukankah aku telah melakukan tugasku dengan baik ?!

Aku mencari-cari sosoknya, manusia berjas mewah dan mahal yang dikenal dengan sebutan manager itu. Sejak keributan berlangsung, aku tak sedikitpun melihat batang hidungnya. Entahlah dia bersembunyi di mana. Meninggalkanku begitu saja. Aku benar-benar menyadari bahwa aku sendiri, terabaikan begitu saja. Jangan-jangan apa yang dikatakan si kesepian tentang, aku hanya sebagai alat itu, benar. Perih. Aku ingin menangis, igin mengadu, tapi pada siapa?! ku dongakkan kepalaku menatap sekeliling, dan mataku tertambat pada mata si kesepian yang teduh. Dia menatapku prihatin. Dan aku menangis.

“Kau tak apa ?” Begitu tanyanya.

Aku menangis, bagaimana mungkin aku tak apa-apa?! aku tak menjawab pertanyaannya. Hanya suara tangis dan  sesenggukanku saja yang terdengar.

“Hhh…h” dia menghela nafas. Sedang air mataku semakin deras saja. Aku masih serba tak mengerti apa yang terjadi. Lihat ! betapa menyedihkannya diriku sekarang. Tampak teramat buruk, serba berantakan. Beling-beling pecahan kaca, lampu, gelas, piring dan meja berserakan. Ruang tampak layaknya kapal pecah tak beraturan. Tak ada lagi kecantikan yang mampu memikat tamu-tamu.

“Begitulah akhir dari setiap episode kiri, sahabat…” Tukasnya. “Bangkai akan selalu tercium juga pada akhirnya.”

Hei ! apa yang salah ? apa maksudnya dengan episode kiri ? bangkai ? apa itu aku ?!. sayangnya seruan itu hanya tertahan saja di hatiku, tak sedikitpun mampu ku lontarkan padanya.

“Aku tak menuduhmu sebagai bangkai. Kau sahabatku, kita sama-sama sebuah bangunan yang dibangun dengan susunan batu-bata, berlapis semen dan lainnya. tapi manusia membawa kita ke episode yang berbeda. Kau kiri dan aku kanan.” Ia mulai menjelaskan. Rupanya ia seolah bisa mendengar kata hatiku.

“Bukankah sudah ku katakan bahwa kau hanyalah alat, sama sepertiku. Namun kita berbeda haluan. Perbedaan diantara kita bahkan sangat kontras. Aku adalah bangunan sederhana semi mewah yang manusia-manusia dirikan sebagai rumah Tuhan. Suguhanku bukanlah perkara yang membuat perut buncit karena berbagai hidangan makanan, tidak juga dengan dendangan para penyanyi serta alat musicnya, atau bahkan dengan lenggak-lenggok para penari cantik dan seksi.  Suguhanku hanya sehelai permadani sebagai alas untuk para tamu Tuhan berdiri, rukuk, sujud, duduk disertai mulut yang tak henti memuja Tuhan dan melafazkan doa. Suguhanku hanya kitab yang tiap lembarnya tertulis kalam Ilahi untuk mereka baca sebagai petunjuk ketika mereka tersesat, penerang jiwa yang gelap, pengingat ketika mereka lupa, bahkan obat dari segala penyakit yang menjangkiti mereka. seluruhku adalah kebaikan abadi, bukan kesenangan duniawi semu.”

Mendengar segala tuturnya membuatku tersadar akan sesuatu. Bahwa selama ini, aku tak pernah ada kesempatan untuk mengenal Tuhan, apalagi mengingatNya. Ya, aku hanya tahu bahwa aku didirikan sebagai tempat para tamuku berfoya-foya menghamburkan uang. Namaku diskotik dan siapapun bebas memuaskan nafsu mereka padaku dengan berbagai suguhan yang aku sediakan.

“Kau berada disampingku membuatku sungguh sedih. Aku menyaksikan kenyataan para manusia cenderung ingin bertamu kepadamu, tidak kepadaku. mereka banyak terkesima dengan keindahan dan kecantikanmu, padahal sesunggunya kecantikan dan keindahamu adalah cover yang membungkus penderitaan akhirat yang mengerikan.”

“Ku beri tahu engkau, bahwa sebenarnya aku tak begitu sedih lantaran tak banyak yang berminat menjadi tamuku. aku hanya sedih mendapati kenyataan bahwa manusia telah lupa kepada diri mereka sendiri. mereka lebih memilih tak lagi menajadi manusia. Mereka banyak lupa bahwa posisi sebagai manusia memiliki derajat termulia. Aku sungguh prihatin karena perkara duniawi adalah segalanya bagi mereka. aku sedih Karena tamu-tamumu yang membludak dari kalangan manusia itu sebenarnya lebih rendah derajatnya dari tamu-tamuku tiap malam yang hanya sekawanan jangkrik. Karena sesungguhnya, mereka senantiasa mensucikan Tuhan mereka tiap saat.”

Aku semakin bungkam tak mampu mengatakan sepatah katapun.

“Bahkan Jangkrik lebih tinggi derajatnya dari tamu-tamuku para manusia …” kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di benakku.

THE END

Alhamdulillah

  • view 159