Jangan Alergi Buat “Evaluasi Diri”

Shofia Trianing Indarti
Karya Shofia Trianing Indarti Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Maret 2017
Jangan Alergi Buat “Evaluasi Diri”

            Kalau sampai saatnya menyentuh usia seperempat abad, pasti kita semua nemuin kegalauan yang nggak jauh-jauh beda. Kalau enggak jodoh, karir, ya rencana masa depan. Mau cewek mau cowok kayaknya masalahnya sama. Bagi yang sudah bertemu jodohnya, bersyukurlah karena Anda sudah laku. Bagi yang sudah berkarir, bersyukurlah karena di luar sana banyak yang mengincar posisi Anda. Lalu bagaiman dengan masa depan? Saya kira anak raja juga bakal galau memikrkannya. Tapi bagaimana masalah karir? Rasanya banyak  yang mempermasalahkannya.

            Di usia-usia seperempat abad sampai menjelang kepala tiga memang usia yang cukup rawan. Kebanyakan dari kita pasti bermimpi untuk mulai merintis karir, ya kalau bisa sambil ketemu jodoh. Kalau karir sama jodoh uda didapet, ya alhamdulillah setidaknya titik aman pertama di dapat. Nah, kalau dua-duanya nasibnya masih tragis? Kerjaan aja belum jelas apalagi jodoh? Ini yang seringkali bikin galau.

            Nah, sadar atau tidak, sebenarnya posisi kita saat ini sebenarnya tidaklah jauh-jauh sama keputusan yang telah kita ambil di masa lalu. Misalnya, kalau saat ini Anda sebagai manager di sebuah instansi, saya yakin dulu Anda sebelum menjadi saat ini adalah tipikal orang yang tidak mau menjadi orang rata-rata. Ceileh, ya minimal dulu waktu kuliah tidak banyak bolos, sering ikutan organisasi ini-itu, ikutan les ini-itu, dsb. Yang pasti bukan cuman mahasiswa kupu-kupu, kuliah-pulang, kuliah-pulang. Nah, kalau yang sampai saat ini masih belum punya pencapaian apapun? Ini yang harus dicari solusinya.

            Uda nyebar seribu lamaran, cuman mentok sampai wawancara. Itu aja uda pake ngos-ngosan. Mau buka usaha, nggak ada modal. Yang lebih repot lagi, nggak tahu mau buka usaha apa. Jika kalian dalam posisi ini, menurut saya kalian mending sekarang diem. Merenung dulu sejenak, kira-kira apa yang harus diperbaiki. Cari pulpen sama kertas. List daftar skill yang kita kuasai dan yang belum kita kuasai. Ibarat mau beli bahan masakan, lihat dulu bahan yang kita punya. Nah, yang belum punya baru beli. Jangan sampai pas masak, bahannya ndak ada.

            Jangan malu-malu buat evaluasi diri. Akui saja pada diri sendiri kalau memang kita banyak kurangnya. Mengaku kekurangan pada diri sendiri nggak dosa, kok. Nah, kalau sudah ketemu skill kita kurangnya apa saja, tulis target buat mengusainnya.

“Yaelah, buat makan aja susah. Tau nggak sih, skill yang nggak aku kuasai itu bahasa Inggris, les sekarang nggak murah ya!”

“Bener sih, les itu mahal. Tapi kan situ punya hape keren. Les gratis banyak kali di mbah google.”

Ini nih, kadang yang bikin kita cuman diem nunggu keajaiban. Nggak peka sama yang barang-barang canggih yang semestinya bisa dimanfaatin lebih. Punya hape canggih mestinya yang punya juga canggih. Jangan kalah sama anak kecil yang maennya youtube. Tuh, lihat anak-anak sekarang, cari cara maen lego saja nanya youtube, ngerjain PR nanya youtube, bahkan liet mobil-mobilan aja buka youtube. Nah, kita punya hape canggih cuman buat chatting sama pamer photo melulu, uda gitu kalau nggak ada yang nge-like jadi merasa sendiri tak ada yang peduli.

Insyaflah wahai manusia. Nggak apa-apa kok kalau sampai detik ini kita cuman gini-gini aja. Cuman kalau kalian sudah bosen dengan hidup yang seperti ini, mungkin ini saatnya kalian harus peka sama sinyal Tuhan yang berkehendak agar hidup kalian berubah. Kalau kalian merasa salah langkah, ingatlah pesan Rhenald Kasali, “Putar arah kalian sekarang juga.” Putarlah ke arah yang benar. Tetapkan target-target realistis yang action-nya bisa segera diwujudkan. Jangan remehkan peluang sekecil apapun, karena barangkali datangnya tak lebih dari sekali. Buang rasa malas untuk belajar. Yang terakhir, jangan lupa berdoa ya, semoga Tuhan membimbing kita ke jalan yang benar, amin.

  • view 63