PANGGILAN KEPADA PARA ENGINEER

Shofia Trianing Indarti
Karya Shofia Trianing Indarti Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 28 Maret 2016
PANGGILAN KEPADA PARA ENGINEER

Terlahir sebagai anak dari seorang petani membuat saya sedikit banyak mengetahui permasalahan pertanian. Baru-baru ini, kabar santer terdengar bahwa di daerah saya (Ngawi, Jawa Timur), petani banyak mengalami kerugian. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, karena musim hujan biasanya petani banyak mendapat keuntungan dibanding musim kemarau, mengapa saat ini justru yang terjadi sebaliknya?Hal ini tentu akan menjadi penghambat cita-cita presiden kita yang akan membuat Indonesia swasembada pangan 3-5 tahun ke depan.
?Pemerintah sendiri sebenarnya telah tampak berusaha untuk mencukupi kebutuhan para petani, baik itu berupa pupuk, sistem irigasi, penyuluhan benih, dsb. Namun, yang menjadi satu kendala besar adalah kurangnya SDM (sumber daya manusia). Mengapa hal ini terjadi? Jelas karena pekerjaan sebagai petani adalah pekerjaan yang dianggap tidak bergengsi. Pekerjaan petani hanya dianggap sebelah mata karena terkenal dengan kerja kerasnya untuk kuat di bawah terik matahari ataupun kuat dalam menghadapi dingginnya malam untuk sekedar mengatur jalannya air. Selain itu, dari segi nilai ekonominya jelas rendah, upah tenaga setengah hari dihargai Rp 20.000-30.000 itupun tidak setiap hari mereka bisa bekerja. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila para petani rela banting tulang agar anaknya mampu untuk bersekolah agar kelak sang anak menjadi pegawai dan tidak menjadi petani seperti orang tuanya.
Pergeseran pemikiran petani ini rupanya mulai berdampak serius. Anak-anak petani tidak lagi berhasrat menjadi petani. Setelah lulus sekolah, mereka lebih memilih untuk menjadi buruh pabrik di kota-kota besar atau bahkan menjadi TKI ke luar negeri karena jelas menjanjikan kehidupan yang lebih layak. Akibatnya, saat musim panen tiba tidak ada lagi SDM produktif yang mau untuk terjun ke sawah. Padahal saat padi mulai menguning harus segera di panen agar saat terkena hujan atau angin besar batang padi tidak ambruk yang menyebabkan harga turun drastis. Untuk menghindari kerugian besar, para petani seringkali terjerat pada sistem ijon yang jelas-jelas merugikan petani. Para petani tidak mampu mencari solusi lain, karena jika harus menunggu berkumpulnya orang maka dikhawatirkan batang padi akan segera ambruk dan berujung pada kerugian besar.
Saatnya Teknologi Berperan
Permasalahan menurunnya kuantitas SDM pada dunia pertanian haruslah segera diselesaikan. Jika tidak, maka dikhawatirkan para petani akan mengalami kerugian terus-menerus. Peran teknologi terbarukan dalam hal ini saya kira menjadi solusi terbaik. Untuk itulah, saya berharap ke depannya akan banyak anak-anak bangsa Indonesia, khususnya para engineer yang mampu menciptakan alat-alat yang dapat membantu para petani. Misalnya, membuat robot untuk menanam padi, menyiangi tanaman, memanen padi, atau bahkan menjemurnya. Dengan kecanggihan-kecanggihan teknologi tersebut, diharapkan selain meningkatkan keuntungan petani juga dapat menarik minat anak muda untuk bangga menjadi seorang petani.?


  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    #paragrafing

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    M*forever

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Klo mesin dan robot harganya tidak dapat dibeli oleh petani gimana ?

    • Lihat 2 Respon