Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 25 Maret 2018   23:12 WIB
Jika kau ingin mengambil telur, jangan rusak sarangnya.

Sebelas Februari lalu, aku melakukan riset kecil lewat akun instagram story pribadiku. Isinya tentang tergugahnya motivasi mereka, apakah terbangun lewat dukungan ataukah hinaan yang terlontar dari orang lain. Ini mungkin bisa terkesan seperti riset abal-abal yang belum bisa dipastikan kebenarannya karena hanya dilakukan lewat metode non-ilmiah. But whatever, aku pikir polling ini bisa dijadikan acuan awal untuk aku mulai menelaah, karena mereka yang memberikan voting hanyalah mereka yang “mau” dan rela mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Dua puluh tiga orang memberikan suara. Hasilnya, 57% memilih “dukungan” sebagai metode motivasi efektif bagi mereka untuk menjadi lebih baik, dan sisanya memberikan suara terhadap “hinaan” sebagai perilaku yang dianggap bisa membuat mereka tergugah menjadi lebih baik.

Sebenarnya, aku agak takjub dengan presentase suara yang setipis itu. Kukira, orang-orang akan serta-merta menganggap bahwa dukungan adalah hal paling efektif yang mampu membangkitkan gairah pribadi mereka menjadi lebih baik. Aku kira begitu, karena aku begitu hehe. Sebaliknya, aku lebih sering terpuruk karena hinaan atau kritikan. Alih-alih membuktikan kepada para kritikus itu dengan prestasi, aku justru lebih banyak menggerutu dan mencari pembenaran-pembenaran yang mendukung pilihan-pilihan yang aku lakukan.

Tapi, yash! Perkiraanku berdasar lho. Menutut Dale Carnegie, kritik adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya, dan membangkitkan rasa benci.

Contohnya gini, dulu waktu kecil pas aku sholatnya masih seneng sehari sekali (yaitu maghrib doang),  Mama sempet marahin gitukann dengan cara banyak ngomong sampe kadang banding-bandingin sama sholatnya sepupu aku yang seumuran, yang sholatnya rajin dan ga disuruh-suruh kaya aku. Perlakuan itu beberapa kali terulang, tapi kelakuan aku tetep. Kelamaan, malah jadi gasuka sama sepupuku haha. Pikirku, gegara ada dia, aku jadi dimarahin dan seolah jadi lebih buruk dari dia. Tapi pernah nih, sekali waktu aku hafal Surah Ad-dluha & At-tin tanpa diajarin. Hafalnya karena sering denger pas Mama jadi imam sholat. Nah pas aku ternyata baca hafalannya iseng-iseng, respon keluarga tuh luar biasa. Aku seneng. BANGET. Dari sana lebih semangat buat ngafal surah lainnya. Dan sampe gede sekarang, dua surah itu jadi favorit.

Allright, di tulisan kali ini mungkin aku akan ceritain lebih banyak tentang DUKUNGAN. Dan telaah tentang mereka yang justru bisa bangkit karena adanya kritikan, insyaa Allah akan aku bahas di lain kesempatan.

B.F. Skinner, seorang psikolog terkenal di dunia, membuktikan melalui pengalaman-pengalamannya bahwa seekor binatang yang diberi hadiah dengan tingkah laku baik, akan belajar jauh lebih cepat dan menyimpan apa yang dipelajarinya dengan jauh lebih efektif, dibandingkan dengan seekor binatang yang dihukum karena bertingkah laku buruk. Studi-studi berikutnya menunjukkan bahwa hal yang sama juga berlaku pada manusia. Dengan mengkritik, kita tidak membuat perubahan yang langgeng dan sering kali menimbulkan rasa benci.

Kali ini, aku juga mengutip kata Hans Selye yang juga seorang psikolog besar lainnya, bahwa kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita pada kritik.

Manusia sangat menyukai persetujuan yang ditujukan pada dirinya, maka mereka cenderung ingin bersama dengan orang-orang yang sama dari segi pemahaman, tujuan, prinsip, bahkan pandangan hidup. Lebih dari itu, maka terbentuklah kelompok-kelompok kecil bernama pasangan, persahabatan, geng, komunitas, dan organisasi-organisasi lain yang dengan sengaja-ataupun-tidak-disengaja merupakan perkumpulan dari orang-orang yang “sama”. Jika kemudian bagian dari kelompok itu merasa tidak lagi berada di rute perjalanan yang sama, maka mereka akan dengan sendirinya memisahkan diri. Why? Beberapa karena mereka tidak merasakan lagi ada “dukungan”.

Aku ingin cerita tentang fenomena social life akhir-akhir ini. Kebanyakan pengguna sosial media ternyata banyak banget yang jari-jarinya tajam dan pedas, dengan enteng membubuhkan komentar-komentar negatif terhadap orang-orang yang bahkan kenal aja enggak. Kelamaan, ternyata aku sering mendengar komentar negatif bukan hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Bullying, bad words, bad comments, bad critism, bahkan bad eye-contact yang kadang mengerikan dan ngga terkontrol.

Taukah? Bahwa dengan mengeluarkan ungkapan-ungkapan kritis yang tidak baik seperti itu, dampak terburuknya adalah membuat para target menjadi “terasing” dan mereka akan mencari kelompok orang-orang yang akan menerima dia dengan segala keadaaan dirinya. Ibarat  kita menuduh seseorang mencuri, mencacinya dengan sebutan pencuri, membuatnya terasing sebagai seorang dengan kasus-kasus pencurian, lama-kelamaan dia akan mencari yang tidak menghakiminya sebagai pencuri. Siapa? Ya kelompok para pencuri. Kemudian di suatu hari kita sadar, kritikan kita tidak membuatnya lebih baik. Yang kita lakukan dahulu adalah mendorongnya ke wilayah yang benar-benar salah.

Kalaupun kita punya ambisi untuk mengarahkan orang lain dan kita rasa mengkritik adalah solusinya, maka lihatlah, mungkin sesaat kita menjadi lega karena mengungkapkannya. Tetapi orang lain akan berusaha mempertahankan dirinya. Kita hanya mengusik kehidupannya, tapi tidak berarti memperbaiki hari-harinya.

Tatkala kita berhubungan dengan manusia, kata mari kita mengingat bahwa kita tidak berhubungan dengan makhluk logika. Kita berhubungan dengan makhluk penuh emosi, makhluk yang penuh dengan prasangka dan dimotivasi oleh rasa bangga dan sombong.

Well, arah tulisan ini sebenarnya bukan tentang membenarkan apapun yang orang lain lakukan. Tapi mari kita lihat bahwa ada satu ruang di dalam perasaan manusia dimana mereka punya keinginan dan kesenangan. Sebagai ganti dari mencerca orang, mari kita coba untuk mengerti mereka. Mari kita mencoba mengerti mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan.

Terakhir, aku ambil kutipan romantis dari laman psychologytoday.com tadi sore;

“When I was a teenager I wanted a mental machine that would describe for me the secrets of the heart of the girls I was dating. Now I no longer want such a machine to be invented. First, I can usually sense feelings without the machine—and if I don't have the sensitivity to do so, there's something wrong with the relationship. Second, I value the other person's privacy.” —Aaron Ben-Ze'ev (In the Name of Love)

Karya : shofa farihah