Mereka punya Cerita

shintia dyah purwita
Karya shintia dyah purwita Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 September 2017
Mereka punya Cerita

Namanya Sandi. Belakangan aku teringat Sandi karena mengajar di sebuah SD Negri di kawasan Jatinangor. SDN Neglasari namanya. SD ini menurutku cukup memprihatinkan karena tidak punya lapang. Aku bertanya-tanya dimana murid - murid upacara dan olahraga? SD ini bertetangga dengan SD yang lain, dan mereka punya lapang. Sekilas itulah yang dapat kuceritakan tentang SD itu, mari fokus pada satu murid. Kenalkan, namanya Diki. Diki Maulana. Anak kelas 4 SD. Aku hampir dibuat menangis olehnya, padahal dia cuma diam saja. Karena dia cuma diam saja maka aku menghampirinya, memberinya selembar kertas HVS kosong karena sedang mata pelajaran KTK dan semua murid harus menggambar. Kata temannya "dia mah emang gitu kak, biarin aja ga pernah ngomong". Teman - temannya yang lain mengiyakan diiringi kata - kata bullyyang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang anak SD. Katanya memang iya, Diki tak pernah mau bicara selain pada ibunya. Aku melihat sorot ketakutan dari mata Diki. Aku bertanya apa yang mau ia gambar, "rumah" katanya dengan suara yang hampir hilang. Ku ambil kursi dan duduk lebih dekat dengannya. Dia diam saja belum mulai menggambar, sementara temannya yang banyak satu kelas itu ribut bukan main. Dia tak kunjung juga menggambar hanya terus memegang pensil yang mulai basah karna keringatnya jadi kutanya saja apa yang pertama kali dibuat jika ingin menggambar rumah? Dia diam. Aku raih tangannya yang dingin dan mulai menggerakan membentuk sebuah segitiga. Segitiga yang kecil. "tuyul" kata temannya yang lewat, aku marahi dia. Katanya "gapapa kak bilang tuyul kan dia botak" disusul tawa temannya yang lain. Aku judes tak pedulikan mereka, tapi menangis dalam hati. Apa yang kamu rasa Diki? Kamu diam saja terus. Lama - lama dia mulai membuat genteng rumahnya. Aku bantu pelan - pelan. Kemudian, dia sudah punya pondasi rumah. Aku tanya lagi "Apa lagi yang ada di rumah?" Diki jawab "Jendela" sambil mulai membuat coretan membetuk persegi dengan dua garis vertikal dan horizontal ditengahnya. Persis seperti jendela. Kalau kau mau bilang itu gambar anak TK, silahkan. Toh kamu tak kenal Diki. Selesailah rumah yang digambar susah payah oleh Diki, kusuruh tulis nama rumahnya, ia beri nama "Rumah Diki". Tak lama pengajar lain memberi ia kertas dengan sudah ada gambar ikannya, jadi Diki tinggal warnai saja. Hal itu membuat teman - temannya lebih ribut, bilang kalau Diki curang karna dapat yang sudah ada gambarnya. Sementara mereka harus gambar sendiri. Akhirnya Diki mulai mawarnai, warnanya rapi. Diki lebih sering memilih warna oranye dan coklat untuk ikannya. Kamu bisa memilih warna sendiri Nak, gambarmu tetap bagus. Saat jam sekolah akan berakhir, kutanya bagaimana dia pulang. "Ibu" maksudnya ibunya akan menjemput. Baiklah. Lalu apa hubungannya dengan Sandi yang diawal kusebut? Diki membuat aku mengingat Sandi. Apa kabar Sandi? Kalau kau lihat Sandi mungkin akan berlari atau menjauh seperti yang dilakukan yang lain sehingga membuat Sandi marah. Aku jadi ingat bagaimana tanganku tiba - tiba diraih sandi. Aku kaget. Padahal, ia cuma mau coki - coki. Sejak saat itu aku bertekad tak mau suudzon lagi. Nanti akan kuceritakan lagi tentang Sandi. Lebih lengkap. 
Besoknya setelah mengajar di SD itu, aku mengajar lagi di sebuah tempat Bimbel dan aku bertemu Noval anak kelas 3 SD, dan ia tak bisa jalan. 
Aku sedih meratapi hidupku sendiri yang sering ku keluhkan. 




Sumber Gambar : Kartunlucu.com 

  • view 56