Surat dari Gadismu

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juni 2016
Surat dari Gadismu

Assalamualaikum, Kekasih...

Kekasih, apa kabarmu di sudut kota sana? Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya ya...

Banyak pertanyaan mengekor di otakku sekarang...

Kekasih, apa kamu masih suka mengaduk teh hitam khas kota Lumajang? Apakah kamu masih suka masakan asin dan pedas? Oh iya, apa kamu masih suka sikat gigi sebelum tidur? Apa kamu masih rajin bersujud di 1/3 malam? Apa kamu...ah pertanyaanku terlalu banyak ya...ya memang, aku rindu kekasih...aku rindu sekali...

Kekasih, ingat kemesraan kita setiap malam di ranjang cinta kita? Ingat betapa keras tawa membuncah karena tingkah-tingkah konyol kita? Ingat romantisme kita yang saling menyelimuti raga sebelum terlelap oleh mimpi? Ingat...ah, aku terlalu menodongmu dengan ingatan-ingatan semu itu ya kekasih? Khuznudzonku, semoga kamu tak lupa kekasih, tidak akan pernah lupa...

Kekasih, malam ini aku sangat ingin merayumu. Seperti biasanya sebelum kita terlelap dan sesaat sesudah kita terbangun oleh adzan Shubuh. Tolong tanya aku kekasih, “Kamu sayang aku?” yaa...seperti biasanya kekasih...

“Tidak, aku tidak menyayangimu,” jawabku dengan memasang ekspresi nyengir kuda. Bukankah itu rayuan paling gombal dan elegan, kekasih?

Banyak cerita yang ingin aku dongengkan untukmu malam ini, kekasih...

Kekasih, sudah genap 3 bulan aku di sini, di kota rantau yang tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Kota yang sangat kamu benci jugakan? Karena di sini jauh dengan sanak saudaramu. Aku mengerti kekasih, aku paham. Kita juga pernah di sini selama 4 tahun dan mungkin bagimu serasa berpuluh-puluh tahun lamanya. Aku mengerti kekasih, aku paham. Dan aku kembali ke sini, sendiri, tanpa kamu dan cuma ada aku...

Kekasih, gadismu sekarang bukan gadismu yang dulu. Gadismu yang dulu telah hilang, kini gadismu lebih tangguh kekasih. Dia sekarang rajin membereskan kamarnya, rajin mencuci pakaiannya sendiri, dan rajin mengatur perabotan sendiri. Yaa...gadismu sekarang agak rapih, tak seperti waktu itu bersamamu. Gadismu sadar bahwa memang ada masanya perempuan harus mampu mengurus dirinya sendiri...

Kekasih, gadismu sekarang 6 hari dalam seminggu berangkat pagi pulang sore. Gadismu sekarang sudah punya rutinitas, kekasih. Mencari uang. Rasanya gadismu ingin sekali memamerkannya di depanmu. Dia menjadi seorang jurnalis sekarang, cita-citanya sejak kecil...bila dia berimaji, kamu selalu bilang “Yaa...Aamiin...” 2 kata saja, tapi sangat menguatkan dari sebuah doa.

Kekasih, gadismu sekarang punya banyak teman. Mereka orang-orang ya baik, ya seperti yang kamu bilang, “berusahalah jadi baik dan orang baik akan bermuara dengan orang-orang yang baik pula.” Benar kekasih, di sini semua baik tapi gadismu ini tak cukup baik untuk mereka. Gadismu ini masih suka ceplas-ceplos dan berkata-kata kasar. “Jadilah wanita yang kalem dan tenang. Jaga volume tertawamu dan jangan suka banyak tingkah di depan lawan jenis,” ucapmu setiap hari. Aahh gadismu ini masih saja nyablak, jauh dari kata anggun, dekat dengan kata pecicilan dan pencilak'an. Memang begini gadismu ini.

Kekasih, gadismu ini sekarang sudah jatuh cinta lagi. Ahh mungkin kamu juga akan bosan dan cemburu mendengarkannya. Selalu saja berganti-ganti tambatan hati. Pasti kamu menebak, cinta yang berujung dengan patah hati. Yaa, memang...aku belum tau, kekasih. Apa memang berlabuh di pelabuhan yang halal atau hanya terdampar di pulau gersang bernama kenangan...? yaa...aku masih belum tau...”kamu mudah jatuh cinta,” ungkapmu. Yaa, tidak ada saran atau solusi darimu atas masalah cinta gadismu yang absurd ini. Satu kalimat sarkasme tapi memang benar adanya...

Oh iya, intinya dari sekian ratus kata diatas...gadismu ini sedang sakit sekarang dan wajah pertama yang dia ingat adalah kamu, kekasih...

Sehat – sehat terus di sana ya bu...

 

 

Dari, Gadismu...

Yogyakarta, 14 Juni 2016 22:43

 

*Pencilakan = tidak bisa diam