Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 1 Mei 2016   22:57 WIB
[Fikber KOMPI] Aji Panglimunan lan Aji Sepiangin ing Negeri Bharatawarsha

Masa ‘mengasingkan’ diri si Arjuna

Menjelajahi daratan Bharatawarsha

Dengan tujuh gunung di sekelilingnya

Segepok uang tak lupa dia bawa beserta Gandiwa

 

Iya, Arjuna ‘mengasingkan’ diri

Sengaja menghilang dari hiruk pikuk Indraprastha

Bukan karena hukuman melihat Yudistira dan Dropadi bercinta

Memang sengaja ‘mengasingkan’ diri

 

Ini bukan cerita dari Tiongkok

Atau Bandara Halim Perdanakusuma

Tentang kekuatan Aji Panglimunan dan Aji Sepiangin yang mendadak terhenti di Negeri Bharatawarsha

**

Tahun Kalem

Arjuna seluruh pewarta Negeri Indraprastha menginginkan beritamu, bahkan sebagian sudah jadi headline di koran-koran sampah itu,” kata si ajudan dengan penuh kecemasan.

“Ikuti saja permainan mereka,” jawab Juna tenang sembari menyulut cangklong warna hitam

“Kamu siap menghadirinya? Apa kata orang? Ketok palu akan segera terdengar kan?” pertanyaan dan desakkan dilayangkan oleh bawahan berpangkat semu itu.

‘Brrraaakkkk!’ meja berbahan jati dengan ukiran khas jepara digebrak oleh Arjuna. Matanya menatap tajam dan hanya tertuju kepada ajudan bertubuh kekal itu. Sejurus kemudian dia meninggalkan pendopo ndalem di Kawasan Menteng dengan raut muka yang masih kalem. Arjuna yang dulu resah kini sudah berubah. Karena ketampanan dan keahlian yang tiada duanya, perangainya semakin meraja. Nama tetap arjuna, diraga yang sama, tapi perangainya semakin luar biasa...

Tahun Setahun

Arjuna masih menjadi sorotan warga Indraprastha. Hanya setahun saja, tidak usah berlama-lama. Setahun bukan apa-apa untuk Arjuna, ibaratnya ketika kamu sedang terlelap dan ketika bangun kamu sudah bebas dari jeruji-jeruji dosa. Ajian apa yang membuat mereka tertunduk dalam kuasa si Arjuna? Hanya setahun saja, tidak usah berlama-lama. “apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” masih pertanyaan dari si ajudan.

“Siapa yang tidak tahu Arjuna? Siapa yang tidak mengakui kepintaran Arjuna? Memanah saja perkara mudah, apalagi permainan selanjutnya,” jawab Arjuna setengah mengkerlingkan satu mata. Kerlingan penuh siasat.

Tahun Kesit

“Sudah siap semua?” tanya Arjuna kepada ajudan setia. Si ajudan mengangguk pelan, matanya tak lepas dari koper berisi kitab Adiparwa, secuil rahasia negeri Indraprastha. Dibawanya juga Gandiwa, sebuah busur panah sakti. Bukan ingin ikut perlombaan Jemparingan di Yogyakarta, yaa...lebih sekedar untuk berjaga-jaga.

“si empunya kuasa bidang perhukuman negeri Indraprastha hadiahkan 4 tahun lagi? Kabarnya sebentar lagi kamu akan diseret ke Pendopo Sa’drajat. Bagaimana ini?” ujar ajudan. Hobi sekali si ajudan ekspresikan kecemasan bagai gadis perawan bersiap kopdar.

“Nyooohhh!” kata Arjuna setengah berteriak sambil memberikan secarik kertas dengan ketok warna biru berlogo Pendopo Sa’drajat. Dibukanya perlahan, si ajudan cuma geleng-geleng, pangling dan heran. “Siap kita mengasingkan diri?” tanya Arjuna lagi. Si ajudan hanya mengangguk setengah pikirannya diawang-awang.

Selang sehari, pewarta mulai berghibah sana sini. Headline berisi tentang berita Arjuna terpampang di koran-koran negeri Indraprastha. Para kuasa bidang perhukuman memadati Pendopo Sa’drajat hari itu juga. Mereka dibuat gusar tentang tindakan Arjuna. Amblas gadas, tanpa jejak . Dia sudah menghilang menggunakan Aji Panglimunan dan Aji Sepiangin.

Arjuna jadi masuk daftar hitam...Duh..Gusti...

Tahun di Baratawarsha

Arjuna kembali ke jaman purba, nomaden berpindah-pindah. Awalnya dia menuju Gunung Mahendra, selang beberapa bulan berpindah ke sebelahnya, Gunung Malaya. Begitu seterusnya hingga sampai ke Hutan Kandawa. Hutan yang seharusnya di lalap api oleh Dewa Agni. Selang beberapa lama, Arjuna kebagian secarik surat berketok biru logo Pendopo Sa’drajat. Ajudan yang melihatnya sudah harap-harap cemas,’surat apalagi ini?’ batinnya.

“Hmmm sudah telat,” kata Arjuna meletakkan surat itu di atas meja keramik khas negeri  Bharatawarsha. Masih saja kalem, tanpa rasa bersalah. “Aji-ajiku tidak akan ada habisnya, haha,” kata Arjuna dengan angkuhnya, tertawa penuh kebanggaan.

Tahun Perburuan

Beberapa media memberitakan kebijakan Wakil Negeri Indraprastha yang membentuk squad pencari Arjuna. Di tembok gedung-gedung pencakar langit jadi tempat fotonya terpampang dengan gagahnya, bertuliskan “wanted!”. Berita itu sampai ketelinga Arjuna, si tampan dengan Gandiwa. Bersiap memasung siapa saja yang menghalangi aji-ajinya. Tapi masih kalem, rajin-rajin kunjungi badan imigrasi untuk berganti-ganti kewarganegaraan. Seolah lupa dimana dia dilahirkan, di Negeri Indraprastha. Enam tahun perburuan belum berbuah apa-apa. Arjuna semakin tua, tapi tak hilang keperkasaannya membidik dengan Gandiwa kepada setiap tim squad yang ingin mendekati wilayah kekuasaannya.

Tahun GP China

Arjuna masih gagah, duduk anteng dibarisan penonton tribun VIP  Sirkuit Balap di Shanghai. Sesakti-saktinya Arjuna, dia tak menangkap firasat apapun tentang hari itu. Sia-sia saja dia berguru dengan Sang Resi Dorna. Sia-sia juga latihannya memanah, menebak potongan leher di depan kaca. Gugurnya Dorna pun tidak ia rasa, tak ia duka. Seketika Aji Panglimunan dan Aji Sepiangin lenyap dari raganya yang rentah. Tepat selesai menyaksikan Formula 1 GP China, Arjuna digelandang ke Pendopo Sa’drajat di tanah Indraprastha...

Kepulangannya di Bandara Halim Perdanakusuma disambut para ‘kolega’ disusul puluhan pewarta, merangsang nalar untuk mewawancara...

Begitulah sosok Arjuna dimata si dalang yang setia di depan debog pisang, dibalik kain putih dan sinar remang-remang...cerita dari tanah Jawa hingga daratan India...bagaimana dengan Arjuna yang lain, kemana dia akan mengembara menjadi kelana? Atau akan disusul para penggemar Arjuna? Atau mungkin para sekutunya? Entah...

Karya : Shinta Siluet Hitam Putih