Lara Alana : Asmodeus dan Smartphone Warna Hitam

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 April 2016
Lara Alana : Asmodeus dan Smartphone Warna Hitam

Solo, 1 November 2015

 

Kamu sadar, sedih ini milikmu?

Aku rasa kamu hanyalah mayat hidup di sini

Kamu sadar, senyumku tak lagi simpul?

Aku rasa kamu hanyalah wanita bertopeng senyum di sini

 

Di dalam kamar hotel berukuran 2 x 1 meter ini aku meringkuk di pojok ranjang empuk berseprei putih polos. Tangisku bukan tak bersuara, hanya saja aku meredam isaknya di bawah bantal. Sedu sedu dan mendayu, kulepaskan kesedihan sesedih-sedihnya malam ini. Sesekali aku memandangin kaca, pemandangan dari lantai 15 itu terlihat bagus. Tapi tidak untukku. Kerlap-kerlip lampu rumah warga Solo tidak bisa mengalihkan kejadian siang itu. Terekam lekat di dalam ingatan. Entah kenapa aku begitu berani siang itu, berpura-pura meminta satu pulsa untuk berkirim pesan dengan teman sebaya. Amon membujukku, pintar mulutnya beradu rayu. “Lana, biarkan tanganmu berkreasi. Biarkan dia melihat kebenaran, sakit memang, tapi hanya sebentar nak,” bisiknya.

Asmodeus (+6285188194xxx):

Sayang sedang apa di sana? Aku masih mencintamu hingga akhir waktu. Sayang, bila memang takdir aku akan terus mencintai dan membuat mereka menerima keadaan ini.

Kubi, kamu tahu rasanya siang itu? Dirajam seribu batupun mungkin tidak ada rasanya, Kubi. Tapi mengena, sayatan kecil dicelah paling dalam dihati. Berapa lama kamu bersekongkol dengan khianat, Kubi? Tanganku saat itu tergetar. Lemas. Tak ada daya. Aaahh…sulit mendefinisikan perasaan siang itu. Aku memang pengintip ulung, Kubi. Senyum kembali tersimpul dan hanya untuk kamu. Sesegera kamu merampas smartphone itu dari genggaman, aku kaget! Namun lagi-lagi aku masih betah dengan kepura-puraan. Aku tersenyum lagi. Aku melangkah pelan meninggalkan kamar itu.

                Mungkin bantal putih ini sudah basah, aku masih menikmati isak demi isak kesedihan hari ini, Kubi. Aku tak memungkiri bila memang sedang merajut kenangan dijaring-jaring kehidupan kita. Selaras dan seirama, itulah kita, Kubi. Masih ingat ketika aku kecil, kita bermain di bawah 2 meja kerja. Aku pemilik rumah dan kamu tamunya. Senang rasanya bila kedatangan kamu dan kita berpura-pura minum teh hangat bersama. Ditiupnya gelas, seolah teh itu memang panas. Boneka disejajarkan dari yang kecil hingga besar. Sampai Bos Besar datang, kita mendadak gugup dan segera  berbenah merapikan semuanya. Masih ingat Kubi? Ketika Bos Besar mengerang kesakitan, dipelukanmu aku terlindung. Sekuat-kuatmu melindungiku, Kubi. Aku yang tidak mengerti apa-apa waktu itu hanya memandangimu lekaaaattt dan memelaaasss. Kubi, setangguh itu kamu jadi tameng bajaku…

Siang itu aku meninggalkan kamar kita. Melangkah tak tahu arah, sampailah di sebuah taman kecil di sudut kota. Aku menelisik lebih dalam apa yang terjadi tadi. Apa mimpi? Bila mimpi, tolong bangunkan aku, Kubi. Tolong katakan, “Lana jangan menggigau disiang hari…”, itu saja sudah cukup bagiku. Aku keluar dari keramaian di tempat itu, memasuki sebuah café tiga ceret di pinggiran jalan. Aku pesan segelas teh panas, padahal mentari sedang terik-teriknya. Terbakar dilidah pun tidak berasa. Semati rasa itukah? Apa ini side effect kejadian tadi? Tanyaku merenung. Banyak lelaki di café itu, Kubi. Tak kupedulikan pandangan mereka, ada yang tajam, ada yang yang mencuri pandang, ada tak mempedulikan. Bila ada kamu, mungkin aku sudah diajak pulang dan kamu berkata, “kalau hanya sekedar teh hangat, kenapa harus mencari di jalanan?”

Tidakkah kamu dengar tangisku, Kubi? Biasanya hati kita paling bersinergi kan? Kenapa malam ini tidak? Kenapa kamu tidak curiga, bila aku berlama-lama di kamar? Masih kemarin, ketika aku termenung di kamar kita sendirian, tanpa diundang kamu masuk dan mendekap erat, walau hanya bertanya, “Kenapa?”. Atau ketika kita sedang bersiap terlelap di ranjang yang sudah usang itu, kamu bertanya. “apakah hari ini jadi berkah untukmu?” atau kalau tidak, “hari ini kebaikan apa yang telah kamu lakukan?”. Akhir-akhir ini tidak…kamu tidak begitu…begitupun kamu sekedarnya…itupun karena terpaksa…

Kini kamu khianat, Kubi. Kamu bilang cuma aku yang kamu sayang, melebihi semua orang di sekitarmu. Kubi, tahu rasanya patah hati ditinggal seorang kekasih? Yaa…aku kini lebih dari rasa itu…

Semoga ini memang mimpi dalam lelap disatu malam, di Kota Solo…


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Sepertinya kunci filosofi kisah ini ada di pemilihan nama yah, Mimi... ^_

    Alana... Alone.
    Asmodeus bisa juga Ashmedai... raja setan
    Kubi... Remote Telepresence Robot

    Setelah jelas gambaran filosofi nama2 karakter tokohnya, maka kisah ini langsung tersibak dengan amat telanjang, baik luka jiwa yang dalam yang diderita oleh tokoh utamanya, maupun 'penghakiman' penulis pada sosok asmo, yang sebelumnya laksana kubi...

    Karya bagus, coba nanti jum'at dinihari akan saya promo ulang biar naik ke atas... ^_

    *Nunggu traktiran nasi jejen dan wedang pokak dari penulisnya... ^_

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    pukpuk
    semoga hati Lana yang patah segera tersambung dengan hati baru
    *ehh