Ikut Euforia : Bagi Saya, Kartini dan (calon) Kartini...

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2016
Ikut Euforia : Bagi Saya, Kartini dan (calon) Kartini...

Tema tulisan saya malam ini memang mainstream, padahal selama ini bisa dibilang saya penganut aliran yang anti mainstream. Iya tentang, Kartini. Pada judul, Ikut Euforia : Bagi Saya Kartini dan (calon) Kartini…ada kata ‘euforia’, padahal saya tidak merasakan ada perasaan euforia saat menulis ini, biasa saja. Sedangkan definisi euphoria sendiri adalah perasaan senang dan meletup-letup. Ah abaikan saja intro saya yang tidak jelas dan bertele-tele ini!

Oh ya, bicara tentang Kartini memang tidak ada habisnya. Semakin hari, semakin ke sini, semakin banyak definisi Kartini menurut banyak orang. Mungkin semua pembaca sudah hafal apa saja perjuangan beliau semasa hidup (pada jamannya). Kartini itu bla bla bla, beliau itu pejuang bla bla bla. Bukan kalimat-kalimat asing lagi, emansipasi wanita, sekolah gratis untuk kaum wanita, derajat wanita, dan semuanya…seklise-klisenya definisi selama ini…

Pembaca tentu sudah tahu siapa itu kartini, semua cerita tentang dia, dia berasal dari mana, hingga cerita bahwa ternyata ada banyak pihak yang meragukan kebenaran perihal surat-surat yang ditulis oleh Kartini, yang ada dalam buku-bukunya.

Semua wanita berhak jadi kartininya masing-masing, dengan cara masing-masing pula. Wanita pekerja keras, bisa disebut kartini. Wanita yang pekerjaannya tidak wajar dilakukan oleh seorang wanita, bisa disebut kartini, atau seorang wanita dengan keterbatasan membuka sebuah sekolah gratis? Bisa juga disebut kartini. Terserah, karena perspekstif kartini menurut setiap orang berbeda. Dalam tulisan yang mungkin akan pendek ini, saya hanya ingin mengungkapkan seperti apa sih seharusnya wanita yang sekartini-kartininya, apalagi di era yang katanya kekinian seperti ini…

 

 

Bagi Saya, Kartini dan (calon) Kartini…

 

Bukan yang masih anak ingusan berani ‘sayang-sayangan’, apalagi bersandang seragam merah putih

Bukan yang sembarangan joget erotis berasa dugem, eh masih bersandang seragam putih biru

Bukan yang lulus sekolah seragam dicoret, rok dirobek setinggi paha, pose nungging, adik-adik gemes yang bersandang putih abu-abu

 

Yang pasti…

 

Bukan yang sebentar memelas minta suara, sebentar menangis merasakan derita rakyat (katanya), sebentar lagi menggebu ingin geser jabatan orang

Bukan yang alih-alih katanya akan meneruskan visi misi suami, si istri mencalonkan diri jadi pemimpin, tinggal wariskan saja, beres (katanya)

Bukan yang berdrama peduli rakyat, eh arisannya aja harus ke luar negeri

 

Oh ya…

 

Bukan pula yang beralibi banyak kesibukan, anak dititipkan kepada baby sitter

Bukan pula yang pas anaknya sakit, didiamkan, dan update status “GWS, sayangnya mommy…”

Bukan pula yang kocak-kocok diarisan, dan bilang “nanti di jemput pak supir aja ya nak…”

Bukan pula yang rajin kroscek duit suami, eh tetiba beli tas branded dari sista-sista online shop

 

Dannnnnnnn...

 

Bagi Saya, Kartini dan (Calon) Kartini…

 

Dia yang tahu hakikat diri sebagai seorang pelajar

Dia yang tahu bagaimana menjaga akhlak sedari muda

Dia yang tahu bahwa di bawah kepalan tangan mereka, kita akan bersandar atas negara ini, esok…

 

Atau saat…

 

Dia yang sedang merasa prihatin dengan rakyat, dia akan usaha mati-matian merubah penderitaan mereka, tidak hanya omong belaka

Dia yang sudah dipercaya, bisa amanah

Dia yang bersanding dengan seorang pemimpin dan dia akan terjun langsung ke perumahan kumuh tempat suaminya memimpin dan mengabdi

 

Yang terpenting…

 

Dia yang tahu bahwa seorang ibu adalah Madrasah dan Sekolah pertama bagi anaknya

Dia yang tahu hakikat seorang wanita yang sudah berumah tangga

Dia yang tahu bahwa sesungguhnya surga-Nya ada dibawah naungan suaminya kelak

 

 

Dan…

 

Untuk semua wanita diluar sana, semoga bisa beristiqomah untuk meng-kartini-kan diri

Untuk yang masih pelajar, jadilah pelajar sesuai perspektif kartini, tidak terbatas namun ingat hakikat

Untuk yang sudah bekerja, bekerjalah sekeras kartini tapi tidak lupa akan tempatmu pulang, yaitu keluarga

Untuk yang sedang berorganisasi, bergeraklah seperti kartini, bentuk pribadi seperti baja, namun tidak melupakan hakikatmu sebagai mahasiswi

Untuk ibu-ibu muda, letakkan gadget kalian bu, melihat perkembangan anak setiap detiknya itu anugrah, melihat dia sudah bisa merangkak, berjalan, berlari, membaca, bernyanyi…itu momen dan tidak mungkin terulang lagi...

Untuk para istri, kelak bila suami kalian berada di Jannah-Nya, salah satu nama yang terselip untuk diikutsertakan ke surga, pasti namamu…kalian segalanya bagi mereka, setelah Ibunya…

Untuk para single, ah sudahlah bersabar saja…saya juga single kok…*eh! (dibold, diitalic, biar jelas)

Untuk Mas Bay yang bayangannya kayak bayangan mantan *eh! Maaf, tidak menuruti saran untuk 'memoles' diksi kali ini… ^_^

 

Sumber Thumbnails : Dari fanpage tempat saya bekerja sebagai jurnalis (sekalian promosi siapa tau ada yang mau sedekah, sedekah hati juga boleh! *eh!)


  • Kartini F. Astuti
    Kartini F. Astuti
    1 tahun yang lalu.
    Nah ini toh Kartini juga kan yang nulis. Anggap saja semua perempuan itu Kartini. Hehehe.

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata...

    Euphoria sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, menjadi: euforia

    • Lihat 5 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Kudu dibaca lagi entar siangan ini mah... ^_

    *Betewe, sekarang giliran kamu di link ini, Mimi...
    https://www.inspirasi.co/post/detail/13025

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Mbak siluet, instagram kita udah temenan Blm yaaa, udah mbak buka belumgehh

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Untuk para single, ah sudahlah bersabar saja?saya juga single kok. ---> semoga ada lelaki single yang 'menanggapi' kalimat bagian ini ya mba
    atau sekalian ikut sedekah hati, eh, #SR ding.

    • Lihat 14 Respon