Salsa Selfie

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 April 2016
Salsa Selfie

Sore itu aku meliriknya di sebuah lorong rumah sakit. Dia merengek, aku sempat menguping pembicaraan dengan mamanya. Katanya dia lelah menunggu, ingin es krim. Sesekali dia melihat ke arah ku, aku pura-pura memalingkan muka ke tembok. Dia merengek lagi, menggandeng mamanya dan berlalu pergi. 

Tidak berapa lama, dia kembali dengan sebuah es krim ditangan, dibukanya dengan hati-hati. Coklat yang menempel dikemasan dijilati hingga bersih, sebegitunya memakan es krim. Yaa...memang anak-anak. Ingin rasanya aku menyapanya, walaupun hanya bertanya basa-basi, "adek makan apa?" tapi lagi-lagi aku urungkan keinginanku itu. Diliriknya aku dengan ketus, seakan dia tidak peduli. Kupandangi saja dia, sedikit demi sedikit mulutnya belepotan es krim, aku menahan tawa, takut dia tersinggung. Aku berpaling muka lagi dan mencoba kembali mewawancari narasumberku. Aku berusaha konsen, melibas satu per satu pertanyaan untuk si narasumber, yaa selesai. Dia juga selesai dengan es krimnya, dia menengok ke belakang lalu tersenyum...kepada siapa? Kepadaku! Akhirnya...

Aku tau dia anak yang periang, aku mulai menyapanya, "udah makan es krimnya?", dia menjawab singkat, "udah kak". "Salsa..." tak berapa lama namanya dipanggil, dia masuk ke ruangan itu. Beberapa menit kemudian, dia dan keluar bersama orang tuanya. Kami tim reporter dan keluarga Salsa berangkat ke rumah singgah di wonogiri. Perjalanan kami cukup jauh, selama di mobil Salsa tak berhenti bercerita dan berceloteh, seperti biasa...celoteh anak-anak...

Sesampainya di rumah, dia langsung mendekatiku. Heran awalnya, tidak seperti di rumah sakit tadi, pikirku. Dia tahu, aku mengeluarkan amunisi, yaa kamera untuk liputan sore itu. Rasa ingin tahu anak kecil memang besar, dia memegang kamera itu dan menanyakan bagaimana cara kerjanya. Aku menjelaskan secara singkat, lalu aku berikan kamera itu kepadanya. Aku rasa dia anak kecil yang punya rasa berhati-hati yang tinggi dibanding anak seusianya yang lain. 

Cekrak cekrek, satu kali dua kali dan seterusnya shutter ditekan. Untuk anak seusianya dia cukup mahir memotret. Anak kecil memang cepat bosan, "nih kak!" katanya sembari memberikan kamera itu kepadaku. Tak lama aku mengeluarkan smartphone, diliriknya lagi benda persegi panjang dan tipis yang ada ditanganku. Dia memandangku, kupancing dengan kamera, aku mendekatinya dan segera berselfie. "sini..." kataku. Dia mendekat tanpa ragu sedikitpun. Satu dua foto, sesekali kami tertawa cekikan melihat hasil fotonya. Layaknya dua kawan yang lama tidak bertemu.

Perjalanan kami lanjutkan ke Alun - alun kota Wonogiri. Salsa ikut bersama kami. Kota ini begitu sepi, jarang orang lalu lalang dimalam hari. Sesampainya di Alun - alun, kita memilih duduk dipinggiran. Kami berbincang kecil dan Salsa menempel dekat denganku. Sesekali kami tertawa lagi. Sampai matanya tertuju pada gerobak penjual sosis bakar. Dia diam memelas dan mungkin mulai berkhayal tentang rasanya. Layaknya anak kecil. Aku gandeng tangannya yang berkeringat dingin, "nduk jalan - jalan yok!" kataku. Kita berhenti didepan gerobak penjual sosis, "Salsa mau yang mana?" tanyaku. Seketika matanya berbinar dan tak ragu menunjuk 2 sosis, 2 nugget, dan 1 baso ikan. Tak heran bila memang badannya gembul, kata mamanya dia memang suka nyemil. Memanjakan dia tidak perlu banyak uang. Itu Salsa. Tidak perlu gadget berharga jutaan rupiah seperti anak - anak jaman sekarang. 

Aku keluarkan smartphone, "kak fotoin aku." katanya. Cekrek, satu bidikan dan selesai. "kamu ndak malu?" tanyaku mengulang pertanyaan di rumah singgah tadi sore. "ndak, aku suka difoto." jawabnya tegas senyumnya kembali terurai.

Yaa, Salsa...anak kecil berumur 6 tahun. Dia tinggal di kecamatan paling ujung di kota Wonogiri. 75% tubuhnya terkena luka bakar, tidak terkecuali wajahnya. Peristiwa beberapa waktu lalu itu merebut senyumnya, tapi tidak untuk beberapa terakhir ini. Senyumnya kembali lagi, dia tidak merasa minder dengan keadaannya. Dia mudah membaur dengan orang baru, seperti aku contohnya. Baginya entah akan diterima atau tidak oleh lingkungannya itu bukan masalah yang berarti, yang terpenting dia bisa sembuh. Senyumnya yang ikhlas diatas semua beban yang dirasa berat untuk anak seusianya. Itulah cermin anak Indonesia yang sebenarnya. 

Kalau kita mungkin hanya karena 1 jerawat diwajah, pasti sudah enggan untuk berselfie. Alasan malu, risih, atau hanya sekedar khawatir terlihat jelek. Bagaimana dengan Salsa? Tanpa ragu berselfie didepan kamera dengan pamerkan senyumnya yang khas. Selama senyumnya masih mengembang, disitulah semangatnya selalu ada untuk menjemput kesembuhan...