Saya Si Siluet Hitam Putih

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 April 2016
Saya Si Siluet Hitam Putih

Ini bukan review, ini juga bukan tulisan yang memotivasi. Di sini saya hanya ingin mempermalukan diri dan mengakui kesalahan saya selama ini terhadap Inspirasi.co dan ribuan orang inspirator di wadah ini. Saya bergabung dengan Inspirasi.co ini sekitar 1 bulan yang lalu, tepat ketika saya diterima jadi seorang jurnalis di sebuah organisasi sosial di Jogja. Saya sudah tau Inspirasi.co dari bulan-bulan lalu, itupun karena kakak tingkat saya si Mbak Madura mengajak saya membaca dan menyukai tulisannya yang di share di facebook dan ternyata semua tulisannya absurd. Saya klik linknya dan kesan pertama, saya sama sekali tidak tertarik. Bagi saya wadah seperti ini sama saja dengan wadah-wadah sebelah lainnya. Kreasi banyak disukai hanya lewat "nama" si empunya produk yang sudah tenar. Entah itu dia sudah punya buku, foto yang bagus, video yang sangar atau seorang pujangga yang sudah tenar dari panggung ke panggung. Bagi saya semua yang ada di wadah itu akan jadi pengemis "like", masih ingat dengan pengemis di sosmed-sosmed lainnya? yang selalu bilang, "like ea statusku?" atau "folbek kaka..." Waktu itu saya benar-benar apatis dengan wadah ini, bahkan sudah tidak mau tau lebih jauh. Apalagi saya sudah hengkang dari dunia per-nulis-an.

Sampai pada akhirnya, Tuhan membolak-balik perasaan saya. Ke-apatis-an itu berubah jadi candu, saya mendaftarkan diri ke Inspirasi.co, masuk pekarangan rumah para inspirator seenaknya, walaupun hanya melihat-lihat tulisan mereka, foto, atau yang lainnya. Saya sudah mulai menulis hal-hal absurd mulai dari politik hingga percintaan seorang single-wati, jangan ditanya itu tulisan tentang apa, cari saja di sini. Sama seperti narkoba, setiap kali saya ingin meliburkan diri buka Inspirasi.co rasanya sakau. Bahkan ditengah-tengah jam kerja, saya sempatkan membukanya, tapi saya sadar tidak ingin berlama-lama jadi pencuri waktu ditengah jam kerja. Setiap hari saya  penasaraan dengan kreasi-kreasi para inspirator lainnya. Penasaraan siapa yang tulisannya punya viewer banyak, dan siapa yang jadi kurator harian, yang bersedia mewakafkan tenaga untuk memperbaiki karya inspirator lainnya. Minggu pertama dan kedua, nyali saya ciut, melihat tulisan-tulisan dan ide-ide gila para inspirator apalagi akun yang satu ini, kalo kategori jurnalis idealis mungkin dia sudah jadi yang senior. Kata-kata gak mau diatuur, se-njeplak-nya lambe (baca: mulut) kalo orang Jawa bilang. Apalagi melihat mbak ini, yang sudah melanglang buana di dunia peng-inspirasi-an padahal usia dia sepertinya lebih muda lho, saya iri, selama ini saya kemana saja dan berkat orang ini saya bertemu orang baru yang menyempatkan nangkring di pekarangan saya, mbak ini sama mas ini. Tidak ketinggalan ada satu lelaki pecinta benang, ya mas ini. Saya dibuatnya jatuh cinta dengan produk tenunannya, yang semula gak paham tenun jadi tau sedikit-sedikitlah. Sering bertemu dengan sekelumit orang-orang kreatif seperti ini jujur membuat nyali saya ciut. Mereka lebih dulu terjun di wadah ini. Menghabiskan waktu dengan berkarya. Saya setua ini baru sadar seperti ini rasanya dicandu oleh Inspirasi.co

Oke, Skip!

Sebenarnya yang saya bahas, agaknya menjurus ke postingan redaksi yang berjudul Mengapa Berkarya?

Saya sebagai tukang tulis selama ini memang tipe idealis, dimana saya menulis sesuai dengan hati nurani, saya menulis bila saya ingin, saya juga bukan pemerhati selera pasar dan tidak pintar membaca selera pasar. Tidak hanya menulis, saya posting foto bila sedang ingin memotret, saya menggambar doodle bila sedang ingin menggambar. Melihat membership, saya sudah ada prediksi bahwa saya akan lama naik level. Hehe. Itu karena saya menulis dengan kehati-hatian. Itu alasan kenapa saya tidak bisa setiap hari menghasilkan karya, menurut saya karya harus dibaca-baca lagi dan ditelaah, tidak mengapa bila harus membutuhkan waktu yang lama. Bagi saya, berkarya itu panggilan hati, jangan tergerak karena manusia sebelah karyanya lebih banyak. Ya itu sifat-sifat idealis. Bagi saya berkarya tidak untuk disetir, jangan lirik kanan kiri, dan dengan etika. Kalo mengikuti etika jurnalis, terlalu berat, pasti semua jurnalis disini merasakannya, ndak boleh ini itu, pasal ini itu. Etika disini cuma satu, jangan mengandung SARA, itu saja. Gampang to jadi penulis?

Kini saya sedang membangun pembaca saya sendiri, saya tidak menggebu bila viewer sedikit, toh saya berkarya untuk saya sendiri kan? Saya minta maaf bila selama ini dan kedepannya saya masuk pekarangan para inspirator tanpa ijin. Saya juga menyesal, pernah meragukan wadah ini dengan ke-apatis-an saya. Saya mungkin (mungkin lho ya) secuil dari para kreator yang bertipe idealis. Berkarya bila hati ingin, berkarya dengan pemilihan kata yang asal njeplak, dan menuliskan hal-hal absurd sesuai hati nurani tapi lagi-lagi tidak memperhatikan pasar. Harapan saya untuk Inspirasi.co cuma satu, semoga Inspirasi.co selalu menyisakan tempatnya untuk kreator idealis seperti saya. Itu saja...

 

Terima Kasih sudah Menyempatkan Membaca Tulisan ini, Salam Inspirasi!

Siluet Hitam Putih

 

NB: Buat Pak CEO saya minta maaf kalo ada salah-salah kata, semua 'njeplak' dari mulut saya saja tp tetep mengikuti hati nurani.