Alusio Payung Indrayanti

Shinta Siluet Hitam Putih
Karya Shinta Siluet Hitam Putih Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 13 April 2016
Alusio Payung Indrayanti

Apa kabar mas? Semoga kamu disana tidak sedang dirundung rindu, entah itu rindu kepada keluarga, kawan, atau diam-diam rindu kepadaku, wanita yang masih belum pantas jadi sayap kananmu (aku juga tidak berharap ada sayap kiri lho). Yakin, hanya dengan sayap kanan saja, kubuat hidupmu tidak tertatih sedikitpun. Seperti apa keadaanmu saat ini, aku hanya pasrahkan kesehatanmu pada Tuhan. Karena, Dia perawat paling baik. Oh ya, aku bawakan sebuah lukisan cahaya. Seperti biasa, satu tempat romantis di sudut Jogja. Namanya, Indrayanti. Namanya seperti wanita Jawa ya? Biasanya wanita jawa itu manis, seperti pantai ini. Pantai ini berada di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Ombaknya teduh lho, walaupun kata orang pantai ini termasuk pantainya Ratu Selatan. Kamu tau, air lautnya jernih nampak berwarna biru kehijauan seakan mengajak pendatang bergumul didalamnya, ditambah lagi jajaran si pasir putih yang membentang luas dihimpit perbukitan batuan karang. Kolaborasi ciptaan Sang Empunya Dunia yang indah, mas.

Mas, lihatlah lukisan cahaya ini. Mungkin bagimu tidak ada menarik-menariknya, hanya foto pantai dibalut warna hitam putih. Tidak berseni. Tapi tidak bagiku, mas. Hitam putih itu bagiku menarik, walaupun tidak menampilkan warna yang sebenarnya. Sama seperti hidup, kadang hidup pernuh warna juga tidak baik. Warna-warna yang bikin orang lupa, bahwa dia masih menginjak dunia. Ah sudahlah, tidak selesai bila harus membahas hidupku, mu, dan orang lain di luar sana. Yang jelas, cermin pemberianmu berguna. Masih ingatkan? Yang ada ukir-ukiran khas kota Jepara. Dengan cermin itu aku bisa berkaca, melihat hitam dan putihku. Aku berkedip-kedip, tersenyum-senyum, bahkan julurkan lidah. Tak jarang aku nampak marah di depan cermin itu, mengernyitkan kening dan menatap diri dengan penuh amarah. Dengan cermin itu aku belajar, mas. Belajar menjaga putihku dan melihat jelas semua hitamku. Aku juga masih ingat kata-katamu, "Bercerminlah agar mengetahui dirimu seperti apa." atau saat kamu bertanya, "bagaimana rasanya bercermin? Senang? Malu? Marah?"

Mas, lihatlah jajaran payung difoto itu. Puluhan dan berwarna-warni. Agaknya memang sengaja dibuat warna-warni, mungkin bisa jadi point of view pantai itu. Banyak orang di bawahnya berteduh dari teriknya mentari siang itu. Sungguh tempat yang romantis memang, berpeluh-peluh kepanasan namun tak sia-sia.

Mas, aku ingin ke sana lagi, bersamamu, berdua saja. Tujuanku bukan melihat pantainya saja, tapi hanya berteduh di bawah payung Si Indrayanti dan melihat deburan ombak pantai selatan. Aku jadikan foto ini lebih berwarna bila bersamamu nanti, mas.

  • view 223

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    sepertinya kalau foto dengan "mas" tidak penting lagi foto itu akan berwarna apa, yang terpenting adalah foto dengan siapa, tak peduli lagi dengan warna, apalagi photographer nya.

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Kira2 kalo di foto dgn 'masnya', fotonya gak hitam putih lagi y?
    Padahal, warna dunia cuma 2, hitam dan putih. Tapi warna 'semesta' cuma satu 'putih'. Cahaya.
    Tak ada warna lain.
    Dah ngelantur deh

    • Lihat 2 Respon

  • Ulum Arifah
    Ulum Arifah
    1 tahun yang lalu.
    membaca tulisanmu membuatku iri setengah mati kak. Aku juga mau, aku mau pamer kepada indrayanti seperti cita-cita kecilmu

    • Lihat 1 Respon