the stories begin....Hijrah ke Kota

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....Hijrah ke Kota

Hijrah ke ?Kota?

??????????? Ini merupakan hal yang paling pilu dalam hidupku, tiada keindahan selain berkumpul dengan orang tua, dan slogannya wong jowo ?mangan gak mangan asal kumpul?, it?s a great! Tapi hal itu tidak berlaku dalam kehidupanku karena aku harus berpisah dengan orang tuaku untuk dapat bersekolah dan tinggal dengan orang tua asuhku. Dan hari itu hari sabtu, aku dan ibuku berangkat ke kota. Dengan bekal beberapa baju dan ?jarit mbah? yang dipersiapkan ibuku dan dimasukkan ke dalam tas, aku siap melangkahkan kakiku ke kota. Kau tahu kawan apa fungsi ?jarit mbah? selain sebagai selimut ketika malam menerpa, benda itu juga sebagai alat agar aku kerasan tinggal ditempatku yang baru, selain itu aku juga dibawakan segenggam ?tanah? oleh orang tuaku, hal ini dimaksudkan agar aku betah dan kerasan ditempat yang baru. Aku juga tidak tahu apa hal itu akan berpengaruh besar terhadap kehidupanku di rumah orang tua asuhku. Dengan berlinang air mata dan tatapan sedih aku berpamitan kepada bapak dan ibu. Bapak mengantar aku dan ibu sampai ke depan rumah dan menemani kami menunggu angkudes untuk pergi ke kota. Ya, aku diantar ibuku pergi ke kota.

??????????? Kami hanya pergi berdua, di sepanjang perjalanan kami, tak dapat ku bendung buliran air mata yang terus jatuh ke pipiku. Hatiku benar-benar menangis dan rasanya aku tidak mampu bila harus jauh dan berpisah dengan orang tua tetapi di sisi lain ada sedikit kegembiraan juga karena bisa melanjutkan sekolah. Kami berdua tidak langsung ke rumah bu Ratri karena kami tidak tahu harus lewat mana dan naik angkot mana, maka dari itu kami ke rumah anaknya bapak yang tinggal di sukun, sebut saja namanya mas Tiyok. Dia merupakan satu-satunya anak bapak dari istri pertamanya. Usianya sepantaran dengan ibuku. Kehidupannya? Well, bisa dikatakan sudah? lumayan mapan, mempunyai seorang istri dan 2 orang anak. Dia bekerja sebagi PNS di kabupaten dan istrinya seorang tukang salon, anaknya yang pertama usianya 2 tahun lebih tua dari usiaku dan adiknya, usianya juga diatas adikku, yah itulah sekilas tentang kehidupan mas ?tiri? ku. Sesampainya disana, hari sudah siang dan mas Tiyok dan istrinya menyuruh kami untuk istirahat dulu, mereka akan mengantar kami agak sorean ke rumah bu Ratri. Dan dalam sesi kami istirahat, mas Tiyok menginterviewku bagaimana bisa kenal dan akhirnya bisa ikut dengan bu Ratri. Setelah aku menceritakan semuanya, dia dan istrinya mendukungku 100% untuk ikut bu Ratri. Aaahhh... it?s a difficult choice, you know, kalau harus milih sih mending tetap ikut orang tua. Sedikit intermezzo, adakah dari kawan-kawan semua yang berpikir, kenapa tidak minta disekolahkan mas Tiyok? Tidak terpikirkan dan lagi pula mana mungkin menyekolahkanku yang notabene tidak ada hubungan darah denganku. It?s impossible and never happen!

??????????? Keberuntungan sedikit berpihak pada kami sore itu, disaat kami tengah berembug bagaimana dan harus naik angkot apa ke rumah bu Ratri, suami adik ipar mas Tiyok yang seorang supir taksi datang dengan membawa taksinya, sebut saja namanya pak Arman. Orangnya ramah dan baik hati, dilihat dari sekilas saja sudah terlihat sikap bapak tersebut. Dan beliau menawarkan tumpangan pada kami. Maka sekitar? jam 4an lebih kami berlima berangkat menuju ke rumah bu Ratri (aku, ibu, mas Tiyok dan istrinya, dan tentu saja dengan adik iparnya mas Tiyok). Sepanjang perjalanan mas Tiyok tanya padaku dimana alamatnya, aku memberi tahu tetapi ya kurang jelas karena hanya 2 kali kesana itupun dibonceng Royan jadi masih belum hafal jalan-jalan mana yang dilewati. Ketika mas Tiyok menanyakan apa lewat Jembatan Soehat, aku masih bingung jembatan yang mana tetapi ketika melewati jembatannya dan mendekati gang rumahnya bu Ratri, aku segera mengenalinya. Sekitar jam 5an kami sampai dirumah bu Ratri. Kami semua keluar dari mobil, ketika melihat rumahnya dari luar, orang-orang yang bersamaku terlihat kaget, terperanjat, dan ?takjub? melihat betapa besar rumahnya orang yang sebentar lagi aku tempati. Semua orang menggumam ?besar ya rumahnya?. Dari luar rumah tampak sepi, mas Tiyok memencet bel tapi tidak ada orang yang keluar untuk membukakan, lalu memencet berkali-kali dan lagi-lagi tidak ada tanda-tanda seseorang yang membukakan pintu hanya suara gonggongan anjing yang terdengar.

??Loh Mi, bu Ratri memelihara anjing?? tanya mbak Yuni dengan kagetnya.
?Iya mbak?.

?Loh katanya sudah haji, kok memelihara anjing?? tanya mbak Yuni lagi.
?Gak tahu, katanya sih buat jaga rumah gitu? jawabku.

Lalu mas Tiyok punya ide untuk menelpon rumahnya dari wartel yang kebetulan tepat di depan rumahnya bu Ratri. Ternyata, ditelpon berkali-kali pun tidak ada jawaban, dan berkesimpulan bahwa bu ratri sedang tidak ada di rumah. Lalu, kamipun memutuskan untuk menunggu kedatangan bu Ratri. Mas Tiyok meminta pak Arman untuk pulang duluan tetapi pak Arman tidak mau dan memutuskan menunggu sampai bu Ratri pulang, kalaupun nanti bu Ratri tidak pulang maka pak Arman akan mengantar kami kembali pulang. Dan hampir setengah jam lebih kami menunggu di depan pintu gerbang seperti orang hilang sampai bedug maghrib menyapa kami dan bu Ratri belum kembali. Ditengah keputusasaan kami yang mau kembali pulang, tiba-tiba sebuah mobil corolla hijau dan seorang perempuan berambut putih dibelakang kemudi mengklakson mobilnya berkali-kali. Lalu si pengemudipun turun dari mobilnya yang juga merupakan si empunya rumah. Bu Ratri membuka pintu pagarnya dan memasukkan mobilnya, kami mengikutinya dari belakang dan pak Arman pun pamit pulang duluan. Setelah memasukkan mobilnya ke garasi, bu Ratri mempersilahkan kami masuk setelah sebelumnya meminta kami menutupkan pintu pagarnya. Kami berempat di persilahkan masuk dan di dudukkan di dapur belakang.

??????????? Setelah menyalami kami dan menanyakan siapa saja yang ku ajak kok rombongan yang datang kerumahnya.

?Siapa saja ini Mimi, kok seperti orang-orang baru semua ini yang diajak kesini? Sudah dari tadi nunggu di luar? Tak kirain tidak jadi datang, ini tadi saya ada rapat?.

Lalu mas Tiyok memperkenalkan dirinya dan istrinya, ibuku pun juga memperkenalkan dirinya.

?Oh ini ibunya Mimi, pantesan Mimi kecil, lha wong ibunya juga kecil begini?. Celetuk bu Ratri.

?Iya bu, ya seperti ini ibunya Mimi?.

?Mana bapaknya kok gak ikut sekalian??

?Bapaknya sudah sepuh bu, jadi tidak ikut kesini bu, dirumah sama adiknya Mimi?. Jawab ibuku.

Lalu bu Ratri menceritakan tentang sekolahku yang tidak diterima di SMK X karena tingginya kurang dan akhirnya disekolahkan di SMK SW, dan memberikan beberapa alasan bahwa SMK lebih bagus daripada SMA. Beliau juga cerita kalau anak yang sebenarnya bareng sama aku, dan yang dimaksud itu mbak Dewi tidak jadi ikut karena tidak mau di sekolahkan di SW. Kalau tidak mau ya sudah, belum apa-apa saja sudah minta macam-macam. Lebih baik tidak jadi ikut saya, kalau ikut saya berarti harus mengikuti aturan saya. Setelah itu bu Ratri menceritakan kalau aku ini sudah menjadi anak asuhnya yang 29 atau 28 gitu, sudah menjadi kebiasaannya mengasuh anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah, tapi yang SMK ya masih Mimi ini yang lainnya anak kuliahan semua. Dan ceritanya berlanjut tentang kegiatan beliau sehari-hari yang sering ?mobile? dan keman-mana sendiri seperti sore ini tadi. Karena itu beliau butuh teman yang? membantu menyalakan lampu kalau ditinggal sampai sore seperti itu tadi, kalau satpam atau penjaga rumahnya beliau tidak khawatir karena ada lewinski si anjingnya. Setelah bercerita panjang lebar, bu Ratri mempersilahkanku ke kamarku, dan menunjukkan ke semua orang. Di kamar itu ada sebuah ranjang, satu kasur dan bantal dan di sebelahnya ada sebuah meja untuk belajar. Lemari pakaiannya belum ada untuk sementara, ditaruh ditas dulu aja ya bajunya. Karena lantainya masih berdebu maka malam itu juga aku disuruh mengepelnya dan tentunya dibantu ibuku.

Dan setelah semuanya beres, ibu dan mas Tiyok pamit pulang. Ibu menitipkan aku pada bu Ratri, tetapi bu Ratri meminta pada ibuku bahwa anaknya jangan dilepas begitu saja, kalau ada waktu ya ditengok. Ibuku bilang iya, terlihat gurat kesedihan juga dimata ibuku. Aku tidak kuasa menahan tangis ketika ibuku pamit padaku dan meciumku.

?Hati-hati ya nak, maaf ibu tidak bisa memberi uang karena tidak ada, seng sregep lek golek kepinteran, seng manut karo bu Ratri. Emak pulang dulu ya?. Pesan ibuku.

?Iya bu?. Jawabku dengan berlinangan air mata.

Kerokonganku seakan tercekat, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku karena sesak dan sangat sedih harus berpisah dengan ibuku.

Mbak Yuyun memberiku uang Rp. 10.000 untuk membeli sesuatu. Ketika mengantar ibu di depan gerbang, aku seakan ingin ikut mereka kembali, aku tidak kuasa menahan kepergian ibuku, ingin tetap ku raih tangan itu, tapi apa daya, kami harus berpisah untuk sementara, itu semua demi masa depanku. Dan ini adalah fase terberat dalam kehidupanku saat itu. It?s so so sad.

Aku terus saja menangis sehingga ibuku tidak kuasa juga melihat kesedihanku,

?Jangan menangis terus, ibu jadi tidak tega meninggalkanmu?. Kata ibuku lirih menahan sedih sambil mengusap semua airmata yang jatuh ke pipiku. Aku makin tak kuasa dan memeluk ibuku erat-erat berharap tak berpisah, tapi perpisahan tetap harus terjadi.

?Sudah Mimi jangan menangis terus dan menahan ibunya, seperti mau tinggal dimana kamu itu, sudah besar jangan cengeng seperti anak kecil?. Kata bu Ratri membesarkan hatiku.

?Ibu sudah mempercayakan Mimi sama saya kan, jangan khawatir tidak akan terjadi apa-apa pada anaknya, yang pasti kalau tinggal disini akan bertambah pintar?. ?Kata bu Ratri pada ibuku.

?Iya bu terimaksih, kalau bandel dimarahi saja bu tidak apa-apa?. Kata ibuku.

Lalu kamipun mengantar kepulangan ibuku, mbak Yuni dan mas Tiyok sampai di depan pagar. Setelah mengantar ibu, mas Tiyok dan istrinya sampai ke pintu gerbang, air mataku tidak berhenti mengalir, bahkan setelah kepergian mereka, aliran air mata ini semakin deras. Bahkan, aku tidak selera makan ketika bu Ratri dari dalam rumah memberiku sepeiring nasi dan lauk. Aku memakannya sambil berlinangan air mata. Setelah itu aku kembali ke kamar, menutup pintunya dan menangis sejadi-jadinya sambil berteriak-teriak tanpa suara...emaakkk....emaaakkk...emaakkkk....aku ingin pulang. Dan pada malam-malam berikutnya dan hari-hari berikutnya hujan air mata masih membasahi pipiku. Dan tangisan air mata itu bakal kualami selama tinggal di BG and no days without tears.

to be continued...

  • view 149