the stories begin....Wartel Yang Mengubah Jalan Hidupku...

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....Wartel Yang Mengubah Jalan Hidupku...

# Wartel Yang Mengubah Jalan Hidupku

??????????? Sabtu pagi sekitar jam tujuh aku bersama Royan telah sampai di rumah bu Ratri. Kami memencet bel rumahnya berkali-kali tetapi tuan rumahnya tidak juga membukakan pintu pagarnya. Setelah hampir setengah jam kami menunggu di depan pagar tanpa kepastian akhirnya Royan mengajakku ke suatu tempat. Kami pergi ke jalan Surakarta, yang ?ternyata kantornya bu Ratri , dan sekali lagi kita tak mendapatkan apa-apa dan tidak bertemu bu Ratri. Kami putuskan kembali lagi ke rumahnya bu Ratri dan hasilnya nihil. Bahkan kita menelpon bu Ratri dari wartel depan rumahnya dan sekali lagi tidak di angkat. And the last choice is Royan mengajakku pulang dan mengatakan akan mendaftarkanku ke SMAN 1 Kabupaten favorit. Betapa membuncahnya hatiku dan idenya ku amini 1000%. Bayangan dan angan-anganku melambung tinggi ke angkasa, betapa aku bakal sekolah di SMA paling bagus di kabupatenku dan bareng teman-temanku lagi. Royan mengatakan kalau dengan danemku aku pasti bisa masuk di SMA itu dan nanti setelah daftar baru bilang ke bapak kandungku untuk membiayai sekolahku. Aku tidak terlalu memikirkan bagaimana nanti biaya sekolahku karena didalam otakku aku ingin segera sampai di kota kabupatenku dan mendaftar ke sekolah itu. Hatiku benar-benar berbunga-bunga membayangkan aku bisa sekolah yang aku idam-idamkan dari dulu seperti orang yang jatuh cinta pada seseorang dan kau akan bertemu dengannya, bagaimana itu rasanya benar-benar fantastik seakan-akan tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Dalam perjalanan pulang itu aku benar-benar bahagia, aku tersenyum-senyum sendiri dibelakang boncengan Royan membayangkan SMAku sudah didepan mata dan bersyukur pada Allah aku bisa kembali pada sekolah yang sudah kutaksir dari dulu. Dan hatiku benar-benar berbunga-bunga. Tiba-tiba tanpa memberitahu niatannya Royan memarkir motornya di depan wartel di jalan kepuh.

?Loh kok berhenti?? tanyaku heran.

?Mi, kita telpon bu Ratri lagi ya, siapa tahu bu Ratri sudah pulang?. Jawabnya enteng sambil masuk ke dalam KBU.

Aku sebenarnya dengan berat hati mengiyakan idenya Royan kali ini, tapi apa boleh buat, dia yang merupakan sopir ojeknya maka dia dengan enaknya kapanpun dapat memakirkan motornya dimanapun tanpa aku bisa berbuat apa-apa sebagai orang yang diboncengnya.

Aku menunggu diluar dengan harap-harap cemas, berharap bu Ratri tetap tidak ada dan aku bisa melanjutkan perjalananku ke Kepanjen untuk daftar disana. Tapi ada rasa kecemasan juga jika harus kembali ke rumah bu Ratri, dan rasa kecemasan itu terjawab sudah dengan keluarnya Royan dari wartel dan menuju ke tempatku, dengan mengatakan kalau kita harus kembali lagi menemui bu Ratri. Orangnya sudah berada dirumah dan kita diminta kembali kerumahnya. Dan saat itu juga, kaki dan tubuh ini rasanya lemas sekali, betapa tidak, ketika harapan untuk dapat bersekolah di sekolah yang telah diinginkan semenjak SMP dan dapat bareng-bareng lagi dengan teman-teman SMP harus sirna seketika. Harapan yang sudah ada di depan mata dan angan-angan yang mengembang beberapa menit yang lalu, layu sudah seketika. Rasanya aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk kembali ke tempat bu Ratri. ?Aku seperti patung diam membisu dibelakang boncengan Royan menuju kembali ke BG. Dan sesampainya disana, mbak Dewi sudah berada disana duluan. Bu Ratri bilang kalau tadi beliau masih senam jadi tidak ada yang ada dirumah. Bu Ratri juga mengatakan padaku dan Royan kalau beliau sudah membujuk Kepala Sekolah di SMK X agar bisa memasukkan aku tetapi tetap saja tidak bisa, tinggi badanku masih belum memenuhi syarat. Lalu bu Ratri bermaksud menyekolahkanku di SMK swasta bareng mbak Dewi juga.

??????????? Lalu kami bertigapun? naik mobil menuju sekolah yang akan dituju. Royan tidak ikut dan pamit akan ke kampusnya. Sesampainya di sekolah yang dimaksud, dari luar suasananya sangat sepi seperti tidak ada aktivitas pendaftaran. Setelah masuk kedalam, bangunan gedungnya besar walaupun sudah tua, ternyata ini merupakan yayasan pendidikan dari SD sampai SMA/SMK. Kami bertiga disambut oleh bapak-bapak di ruang pendaftaran, mereka menanyakan mau daftar jenjang apa? Ibu langsung bilang SMK, lalu bapak tersebut menyodorkan formulir tersebut kepada kami, dan ibu langsung menyuruh kami berdua untuk menuliskan identitas kami diformulir tersebut. Dan seperti biasanya ibu selalu memulai obrolannya bahwa ibu ini lagi mendaftarkan anak-anak asuhnya, dan mengatakan kalau mbak Dewi ini sudah kelas 2 mau pindah ke kelas 3. Dan bapak-bapak tersebut merasa kagum dengan ibu, dan sangat mempersilahkan untuk pindah kesini. Lalu, salah satu bapak yang ada disitu mendekatiku yang sedang menulis formulir dan berkata, ?

?berapa danemnya??.

?sekian?. Jawabku.

Dan kalian tahu kawan bagaimana ekspresi bapak itu, kaget banget mendengarnya kemudian mantuk-mantuk. Dan bodohnya aku, aku benar-benar tidak tahu ekspresi apa itu, kukira bapak itu sama seperti para walimurid yang mendaftarkan anak-anaknya yang kutemui di SMKN X.? Dan yang aku tidak habis pikir ketika melihat mbak Dewi mengisi formulir pendaftaran dengan ragu dan ogah-ogahan, sepertinya tidak mau sekolah disini and I don?t know what is the reason. Lalu dia berbisik padaku,

?sepertinya aku tidak jadi pindah kesini karena level sekolah di sini tidak sama dengan sekolahku dulu?.

?Trus aku gimana mbak??

??Kalau kamu terserah, kalau mau disini ya silahkan?. Jawabnya.

?Aku kan jadinya sendiri, gak ada temannya??

?Iya, maaf ya, tenang aja nanti pasti dicarikan teman kok?. Katanya menenangkanku.

Dan bodohnya aku, aku tetap tidak mengerti, beda level bagaimana maksudnya, bedanya dimana? Dan baru kuketahui, setelah aku benar-benar sekolah disini. Dan yang aku sesalkan kenapa mbak Dewi tidak pernah menjelaskanku tentang perbedaan status ini dan membiarkanku masuk ke dalam ?jurang? ini. Tapi lagi-lagi that?s my destiny. Setelah selesai urusan pendaftaran ini, sampai di pintu gerbang mbak Dewi bilang ke ibu kalau status sekolahnya berbeda dengan yang disini, dan dia pamit pulang ke rumah bu Ratna, dimana mbaknya bekerja. Dia tidak mengatakan kalau tidak mau sekolah disitu pada ibu tapi aku tahu kalau dia tidak akan kembali. Dia pamit padaku dan ibu, aku menatap kepergiannya naik angkot dengan kecewa. Yang aku kecewakan, kenapa dia tega meninggalkanku sendiri tanpa teman.

??????????? Dan akupun kembali ikut bu Ratri kerumahnya. Sesampainya dirumah, bu Ratri menggoreng telur buat aku dan Royan. Tidak lama kemudian Royan datang, dan kami berdua dipersilahkan makan di dapur belakangnya. Setelah makan, ibu memintaku dan Royan membantunya mengambil kasur yang ada dibagian gudang atas rumahnya. Setelah itu diletakkan di kamar kecil berukuran 4x3 yang nantinya bakal menjadi kamarku. Dan seminggu kemudian aku dijadwalkan kembali kesini dengan membawa baju dan perlengkapan sekolah untuk kemudian tinggal bersama bu Ratri. Dan takdir atas diriku ikut dengan orang tua asuh dimulai, dengan tujuan satu agar tetap bisa ?SEKOLAH?. Ya, sekali lagi ?SEKOLAH?.

to be continued...

  • view 110