the stories begin....Minggu sore di kota Malang...

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....Minggu sore di kota Malang...

Senin Pagi di Kota? Malang

??????????? Setelah nilai Ujian Nasionalku keluar dan aku mendapatkan ijazah dan tentunya setelah pisah kenang dengan segenap guru dan teman-temanku, ada sejumput kebahagiaan dalam hatiku karena aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Di hari perpisahan itu, aku bisa membuat ibuku bangga, walaupun tidak menjadi nomer satu tapi aku telah membawa ibuku maju ke podium kehormatan bagi siswa-siswa yang memperoleh nilai umum DANEM 10 besar umum. Dan aku menempati posisi yang ketiga, tapi aku jujur betapa bangga yang luar biasa dalam diriku. Semua teman-temanku yang 5 besar, dan kebetulan memang dari kelasku semua dan yang memang dekat denganku sudah merencanakan untuk melanjutkan ke SMA Negeri Kabupaten favorit yang memang merupakan yang terbaik di kotaku kala itu dan mungkin juga masih terbaik sampai sekarang. Jujur, aku sangat sedih sebenarnya tidak bisa ke sekolah itu padahal itulah yang aku impi-impikan dan aku inginkan dari dulu. Tetapi aku tidak berlarut-larut menyesali itu karena setidaknya aku masih punya harapan, karena aku akan disekolahkan oleh seorang profesor dengan harapan beliau mengubah pemikirannya dan mau menyekolahkan aku ke SMA setelah melihat nilai DANEMku yang memang memuaskan.

??????????? Sesuai dengan janji awal pertemuan kami, bahwa setelah DANEM keluar dan pendaftaran untuk murid baru sudah mulai di buka, aku dan Royan di hari senin pagi, hari pertama pendaftaran murid baru datang ke rumah bu Ratri. Sesampainya di rumahnya sekali lagi kami disambutnya dengan hangat seperti pertama kali kami bertandang ke rumahnya. Bu Ratri sudah berpakaian dan berdandan rapi, terlihat fashionable dan smart. Walaupun rambutnya sudah memutih semua tetapi masih terlihat modis dengan potongan pendek diatas bahu yang tersisir dengan rapi. Karena bu Ratri sudah siap, kami tidak berlama-lama dirumahnya kami langsung berangkat ke sekolah yang akan kami tuju. Bu Ratri mengeluarkan mobilnya dan mengajakku naik? mobil bersamanya dan Royan pun mengikuti kami dari belakang.

Sepanjang perjalanan bu Ratri mengajakku mengobrol, dia menanyakan apa hobbiku. Lalu ku jawab kalau aku suka membaca, beliau menanyakan buku apa yang suka ku baca. Beliau memberitahuku kalau dirumahnya banyak sekali sumber bacaan mulai dari koran, majalah, tabloid, intisari, dan lain-lain. Aku hanya mendengarkan dan menjawab ?ya? dan ?ya? sambil sesekali ?mantuk-mantuk?. Kemudian beliau juga menceritakan kegiatan sehari-harinya yang dilakukan sendiri karena beliau suka mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang lain, seperti saat ini pun beliau menyetir mobilnya sendiri dan tidak memakai supir.

Begitulah secara garis besar tentang obrolan kami. Karena letak sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah bu Ratri, jadi perjalanan kami menempuh waktu hanya sekitar 10 menitan.

??????????? Sesampainya di sekolah, Royan minta ijin untuk ke kampus untuk mengurus administrasinya. Dan kamipun menuju ke tempat pendaftaran, disitu masih belum terlalu banyak anak yang mendaftar karena mungkin masih hari pertama dan juga masih pagi. Beberapa anak memperhatikanku dan melihat ?bet? diseragamku tertera SMPN XXX Malang, pasti semua mengira aku sekolah disitu padahal itu bukan seragamku, aku meminjam seragam adik keponakanku. Sesampai di Malang aku sama Royan baru menyadari kalau mendaftar harus memakai seragam, karena tidak mungkin kami kembali ke desa oleh karena itu kami meminjam miliknya adikku. Setelah memperoleh formulir pendaftaran, aku segera mengisinya sedangkan ibu menemui salah satu guru yang ada disitu dan asyik mengobrol. Ketika aku sedang mengisi formulir pendaftaran tiba-tiba ada anak yang melihat danemku dan bertanya ?Kenapa tidak mendaftar di SMA Negeri aja? Kenapa daftar disini, gak eman danemnya tah? Danemnya tinggi lho, ke SMA 1 bisa masuk lho. Kalau danemku segitu sudah daftar ke SMA Negeri aku, di SMA 1 atau 3 ketrima kamu?. Katanya panjang lebar.

Aku hanya bisa diam, shock, nyesek, tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa berkata ?Emang berapa danemmu??

Aku semakin shock ketika dia menjawab danemnya hanya xxx. Betapa jauh sekali danemnya dibawahku. Dan dia menjelaskan karena danemnya hanya segitu makanya dia mendaftar disini.? Lalu ibunya pun juga ikut menimpali, kenapa gak sekolah di SMA saja? Kemudian semua pendaftar mengerubutiku dan semua menyesalkan diriku kenapa mendaftar disini dan tidak ke SMA, sekali lagi saya pertegas SMA. Dan yang membuat aku semakin shocked dan speechless ketika aku tahu, hampir semua pendaftar yang bareng denganku semua danemnya jauh dibawahku. Betapa hatiku bagaikan teraduk-aduk, ketika semua yang ada disitu menyesalkan aku tidak mendaftar ke SMA. Dalam hati aku menangis, bukan hanya kalian yang menyesal, aku bahkan lebih menyesalkan semua ini karena aku tidak punya biaya untuk membiayai sekolahku sendiri. Aku disekolahkan jadi aku hanya bisa manut dan pasrah dengan keinginan calon ortu asuhku.

Lalu setelah insiden yang menghebohkan itu aku menemui bu Ratri yang sedang berbincang-bincang dengan seorang guru, kemudian guru itu tersenyum padaku dan berkata pada bu Ratri.

??Ini ya bu calon anak asuhnya yang akan sekolah disini??. Tanyanya dengan ramah.

?Iya, kecil banget tho?. Jawab bu Ratri.

Lalu guru itu pun melihat bet seragam disekolahku, lalu bertanya ?Dari SMP mana? SMP XXX ya??

Lalu aku buru-buru menjawab

?Bukan bu, ini tadi pinjam milik anaknya mas saya. Saya dari SMPN 1 K?.

Lalu beliaupun kaget mendengar jawabanku dan memastikannya kembali .

?Apa? SMPN 1K??

?Iya bu?. Jawabku.

?Kalau begitu muridnya pak Nurdin ya?? tanyanya antusias.

?Iya bu. Loh kok ibu kenal dengan pak Nurdin??

? Ya iya dong, saya kan istrinya. Pak Nurdin sering ngajak Nanda kan? Kenal Nanda tidak??.

Saya tidak kalah kagetnya mendengar jawaban guru tersebut.

?Iya bu kenal sama Nanda, sering ikut ke dalam kelas dan anaknya lucu, anak-anak semua suka pada Nanda.?

?Ya gitu, Nanda sering ngambek ingin ikut ayahnya makanya sering diajak sama pak Nurdin?.

Wah dunia itu memang sempit ya, benar itu peribahasa dunia tidak selebar daun kelor, tidak nyangka ya bakal bertemu disini, setelah jadi muridnya pak Nurdin sekarang mau jadi murid saya ya??. Kata guru tersebut sambil tertawa renyah.

?Iya bu, saya juga tidak pernah menyangka bakal ketemu istrinya pak Nurdin, hehe.? Jawabku.

Kamipun tertawa renyah bersama atas pertemuan yang tidak disengaja ini. Lalu bu Ratri menemuiku kembali setelah meninggalkanku ketika aku sedang mengobrol dengan istrinya pak Nurdin. Lalu beliau bertanya apa yang kami obrolkan kok sepertinya seru, lalu istrinya pak Nurdin menceritakan semua itu, bu Ratripun juga terlihat kaget dan tersenyum dan bilang memang dunia itu sempit ya. Kemudian kami pamit mau ke ruang wawancara sambil menyerahkan formulir pendaftaran.

Ketika sampai di ruangan tersebut kami disambut dengan hangat oleh dua orang guru. Setelah membaca formulir pendaftaranku, guru tersebut mengatakan pada bu Ratri kalau aku tidak bisa diterima di sekolah tersebut karena tinggiku tidak sampai batas tinggi minimal. Ya aku kurang 10 cm. Lalu bu Ratri merayu guru tersebut kalau dalam seminggu tinggiku bisa nambah dengan mengkonsumsi susu. Tapi guru tersebut bersikukuh kalau tidak bisa dan mengatakan kalau tidak mungkin dalam seminggu bisa nambah secepat itu. Secara logikapun juga tidak mungkin bisa, tapi bu Ratri tetap bersikeras kalau hal itupun bisa terjadi kalau setiap hari mengkonsumsi susu, pasti setiap hari bisa menambah 1 cm, kalaupun masih tidak bisa, kurang sedikit saja kan tidak apa-apa, nanti lama kelamaan tinggiku juga akan bertambah. Semakin bersikeras bu Ratri memberi alasan-alasan, guru tersebut juga sama bersikerasnya memberi alasan-alasan bahwa aku bakal sering praktek dengan panci-panci yang besar-besar dan peralatan masak yang lainnya yang memang tinggiku harus 150 cm dan penjelasan-penjelasan lainnya secara panjang lebar. Saya hanya bisa diam diantara perdebatan itu dimana ibu bersikeras agar aku tetap bisa masuk sedangkan guru tersebut bersikeras tinggiku masih kurang. Yah..I?m not interested dengan perdebatan itu, aku malah sedikit lega dan ada senyum dihatiku karena aku berpikir kalau aku tidak diterima di sekolah ini mungkin bu Ratri akan menyekolahkanku di SMA, ya harapan itu seakan menari-menari dipikiranku. Dalam hati aku berkata, ya sudahlah bu aku tidak ketrima disini tidak apa-apa, ayo kita mendaftar di SMA saja. I?m very satisfied ketika bu guru itu mengatakan pada ibu kalau aku tetap tidak mungkin bisa masuk di sekolah itu. Tapi seketika itu juga harapanku rontok ketika ibu tidak kehilangan akal dengan bertanya pada ibu guru tersebut, apakah disini kepala sekolahnya disini masih ibu xxx dan ibu guru menjawabnya ?ya?. Kalau begitu biar saya yang bicara langsung pada bu xxx agar anak saya ini bisa diterima karena dia teman baik saya. Baiklah kalau begitu terima kasih ya, saya akan menemui bu xxx.

?Iya bu silahkan dicoba? jawab guru tersebut.

Mendengar rencana ibu untuk menemui kepala sekolahnya secara personal, mimpiku semakin kendor untuk bisa sekolah di SMA padahal harapan itu lima menit yang lalu masih berkobar-kobar dihatiku. Dan akupun keluar dari sekolah itu dengan lunglai. Karena Royan belum juga menampakkan hidungnya di sekolah itu, maka ibu mengajakku pulang ke rumahnya biar Royan nanti menyusulku di rumahnya. Aku tidak punya semangat lagi rasanya, runtuh impianku bahkan ketika ibu mengajakku mengobrol selama perjalanan pulang dan kami masih muter-muter karena ibu mampir ke supermarket untuk membeli sesuatu, aku hanya menjawab ya dan ya, pikiran saya jauh melayang menyayangkan nasibku yang tidak bisa ke SMA. It?s so sad.

Dan pada hari itu diputuskanlah aku kembali lagi ke malang hari sabtu untuk mengetahui nasibku akhirnya sekolah dimana. Dan jauh dilubuk hatiku, aku masih berharap ada keajaiban agar aku bisa sekolah SMA. Dan harapan itu selalu ada.. but who knows rencana Tuhan? Dan itu pun yang terjadi pada diriku, ?bagaimana kelanjutannya??? Dan Inilah skenario kehidupan SMA saya yang telah digariskan oleh Allah SWT, I called it as my destiny. And the journey of the dream is started...

  • view 129