the stories begin....

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....

Minggu Sore di ?Rumah Mewah?

??????????? Seperti yang telah dijanjikan kami berdua (aku dan Royan) menemui calon ?ortu asuhku?. Kami berdua pergi ke kota Malang pada hari minggu karena pada hari itu sekolah libur dan juga calon ?ortu asuhku? free pada hari itu. Kami berangkat sekitar jam 8an dari rumah, sampai di Malang sekitar pukul 10an, perjalanan kami lebih lama dari wakrtu yang seharusnya karena kami masih mencari alamat yang dimaksud, alamat dimana kita akan bertemu. Aku dan Royan sampai di rumah kecil yang asri dan sepi, di sana kami sudah disambut oleh ibu setengah baya yang ternyata merupakan ibu perantara kami yang nantinya akan memperkenalkan kami dengan calon ?ortu asuhku? sebut saja namanya bu Handri.

?Royan ya?? sapa ibu itu tersenyum bersahabat sambil menjabat tangannya.

? Iya bu, dan ini bu anaknya yang akan ikut ibu?. Kata Royan sambil memperkenalkanku pada bu Handri.

?Oh, iya, siapa namanya?? tanyanya dengan senyum ramahnya.

?Mimi bu?. Jawabku dengan kikuk.

?Ayo, masuk dulu ke rumah. Saya perkenalkan teman saya yang juga pemilik rumah ini.? Ajak bu Handri sambil membimbing kami masuk ke dalam rumah.

Didalam rumah, kami berdua dikejutkan dengan pemandangan yang benar-benar baru dan membuat kami ?shocked?. Ya kami berdua dibimbing bu Handri masuk kedalam lorong-lorong rumah, kami akhirnya sampai di ruang tengah rumah yang bersih dan rapi, seperti sebuah kamar. Di sana ?terdapat seorang wanita yang duduk di kursi roda, dengan segala keterbatasannya, dan yang tak pernah kusangka sebelumnya betapa ternyata ?she?s the ?great woman whom I?ve ever meet?.

Lalu, kamipun diperkenalkan bu Handri pada wanita yang berada diatas kursi roda, beliau tersenyum hangat kepada kami dan menyalami kami dengan tangan yang tak sesempurna kami.

?Ini bu Ratna, sahabat saya dan bu Ratri juga, yang juga merupakan pemilik rumah ini.? Jelas bu Handri kepada kami.

?Ini Royan dan Mimi bu, yang akan ikut ibu Ratri Astuti ? Kata bu Handri pada bu Ratna.

?Senang bertemu dengan kalian, bagaimana kabarnya? Capek ya tadi mencari-cari rumahnya??

?Sama-sama bu, ya Alhamdulillah...capek juga sih iya, maklum bu belum terlalu kenal dengan daerah Malang tapi senang kok?. Jawab Royan sambil tersenyum begitupun juga aku.

?Ah masak anak masih muda sudah mengeluh nyari alamat sini aja, masak kalah sama saya yang seperti ini? Saya saja tidak pernah mengeluh dengan keadaan saya yang seperti ini?.

Kata bu Ratna, sambil memperlihatkan keadaanya pada kami. Tidak ada perasaan keminderanpun dalam diri ibu ini dan rasa sedih dengan keadaannya. Saya acungkan beberapa jempol buat ke PEDE an bu Ratna. Wanita yang memang sudah menginspirasi banyak orang.

Lalu bu Handri menyambung perkataan bu Ratna,

??Hayooo...tahu tidak kalian, Siapa bu Ratna ini??.

?Tidak tahu bu?. Jawab kami polos sambil menggelengkan kepala.

?Masak sama penulis terkenal tidak tahu sih? Bu Ratna ini penulis terkenal, karya-karyanya telah banyak yang mendapat penghargaan. Tidak percaya kan? Harus percaya ya bu? Kata bu Handri sambil tersenyum mendelik ke bu Ratna.

?Ah, tidak seperti itu, terlalu dilebih-lebihkan itu bu Handri, tetapi memang saya telah menulis beberapa novel dan cerpen, pasti belum pernah membaca tulisan saya ya?? Jelasnya sambil tersenyum.

Ditengah-tengah pembicaraan kami, tiba-tiba ada dua orang perempuan datang membawa minuman buat kami.

?Ayo, silahkan diminum Mimi, Royan.? Kata bu Ratna dan bu Handri bebarengan.

?Iya bu, terimakasih.? Jawab kami berdua.

?Oya, pasti kalian bertanya-tanya kan, dengan kondisi saya yang seperti ini, bagaimana saya bisa menulis semua novel dan cerpen-cerpen saya? Ini dia rahasianya, sambil menepuk pundak salah satu dari perempuan tadi, dia ini asisten saya yang selalu setia mengetik buat saya kapanpun saya mendapatkan ide untuk menulis. Namanya Intan, asisten saya yang begitu telaten menulis dan menuruti semua ide-ide saya yang menggila, hehehe.? Jelas bu Ratna panjang lebar sambil tersenyum lebar juga kepada kami semua.

Inilah keunikan dari bu Ratna, beliau seliau terlihat ceria, tersenyum lebar setiap cerita dan bersemangat sekali. Tidak ada raut kesedihan dalam dirinya. Menunjukkan betapa kuat dirinya dan seakan tidak ingin membuat orang merasa kasihan dengan keadaannya.

Mendengarkan penjelasan bu Ratna membuat mbak Intan, yang merupakan asistennya pun juga terlihat tersenyum malu-malu kepada kami.

?Oh ya, tahu tidak alasannya kenapa saya menulis? Karena dengan keadaan saya yang seperti ini, saya tidak ingin kehidupan saya hanya terkungkung di dalam rumah tanpa melakukan apapun. Karena itu, ?saya menulis cerita mengenai dunia luar yang sebenarnya saya jarang berada di ranah itu tetapi saya masih bisa melihat dan mendengar apa yang ada di luar sana. Jadi saya pun ingin menyuarakan hati saya yang tidak setuju mengenai ?beberapa hal. Kalau tidak menulis, mungkin saya akan terpuruk dalam keputusasaan?. Kata bu Ratna tambah bersemangat lagi.

Aku benar-benar takjub dan salut dengan penjelasan dan cerita dari bu Ratna, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tangan tak sempurna, kaki tidak bisa berjalan, hanya berada di atas kursi roda, di dalam rumah tetapi dapat menghasilkan karya yang luar biasa, benar-benar wanita hebat. Akupun melihat sekilas raut wajah Royan, dan terlihat dia pun juga terlihat takjub dan kagum pada bu Ratna.

? Wow... bu, saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa pada ibu, keren dah bu?. Jawab Royan antusias.

? Seneng ya Yan, sebelum ketemu Prof. Ratri Astuti Suseno nanti, sekarang sudah bertemu dengan orang yang hebat ya? Kata Bu Handri menggoda Royan.

?Hehehe...iya bu, sepertinya saya krasan di sini?. Jawab Royan

Kami semua tersenyum dan tertawa, suasananya begitu mencair, orang yang baru kami kenal 10 menit yang lalu, sekarang terasa seperti kami telah mengenalnya cukup lama.

Lalu bu ratna bertanya padaku,

?Gimana Mimi sudah siap untuk tinggal sama bu Ratri? Harus siap ya? Semuanya butuh pengorbanan untuk meraih kesuksesan ya?? Katanya meyakinkanku.

Saya hanya bisa mengangguk dan menjawab ?Ya?.

?Ya didengarkan dan diikuti saja apa yang diminta, namanya juga orang tua pasti ada cerewetnya ya?? Kata bu Ratna menambahkan. ?Terus semangat ya!?. Lagi-lagi bu Ratna menyemangatiku sambil mengeluarkan ciri khasnya senyum dan tawa lebarnya.

?Iya bu?. Jawabku.

Kepikiran dan bertanya-tanya juga dengan semua wejangan yang menyuruhku harus sabar menghadapi orang tua. Seperti apakah ortu asuhku nanti?? Aku bertanya-tanya dalam hati.? Dan memang saat itu, aku tidak mengerti dengan maksud dari perkataan bu Ratna, kata-katanya benar bermakna ganda dan tersirat ternyata.

Lalu bu Handri menambahkan,

?Ya, orangnya memang sudah lumayan sepuh jadi ya memang cerewet, tapi ya begitulah cerewetnya orang tua, lumrah ya?? . Katanya dengan senyum yang membuatku makin bertanya-tanya dalam hati. Apa maksud dari semua ini?

Dan aku pun juga baru tahu apa makna dari kata-kata bu Handri dan senyumnya waktu itu ketika aku telah benar-benar tinggal bersama ?ortu asuhku?.

??????????? Setelah mengobrol lumayan lama, akhirnya kami memutuskan untuk segera ke rumah bu Ratri biar tidak kesorean dan juga tidak terlambat ke rumahnya karena ibu Ratri termasuk orang yang disiplin. Kalau janji jam sekian ya harus jam sekian datangnya. Berhubung adik asistennya bu Ratna rencananya juga mau ikut bu Ratri jadi mbak Intan pun juga ikut ke BG ke rumahnya bu Ratri. Setelah berpamitan ke bu Ratna, kami semua berangkat menuju kediaman bu Ratri. Bu Handri, mb Intan, dan adiknya, mbak Dewi naik angkot. Aku dan Royan mengikuti mereka naik motor di belakangnya. Jarak rumah bu Ratna dan bu Ratri tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit kami sudah sampai di kediamannya bu Ratri. Rumahnya masuk gang, dekat dengan Universitas Negeri yang ada di Malang yang ternyata merupakan kompleks perumahan dosen. Sekitar 200 meter dari jalan raya, kami telah sampai di depan rumahnya bu Ratri. Dari Luar, rumahnya lumayan besar dan asri, halaman rumahnya luas banyak tanaman bunga-bunga dan pohon-pohon besar mengelilinginya sehingga terlihat hijau dan rungkut. Teras rumahnya tidak terlihat dari luar karena tertutup pohon-pohon dan tanaman yang ada di halaman. Rumahya dikelilingi pagar, sehingga orang dari luar tidak dapat melihat aktivitas orang-orang yang ada di dalam. Sesampai di depan rumahnya, ibu Handri meminta Royan mengebel rumahnya, karena letak belnya di dalam dan pagarnya terlalu tinggi sehingga hanya orang-orang yang berukuran tinggi dan tangannya agak panjang yang dapat menjangkau belnya. Setelah memencet bel, tidak lama kemudian si empunya rumah berjalan menuju pagar untuk membukanya, karena saya orangnya pendek jadi saya tidak tahu wajahnya dengan pasti sebelum ibu Ratri membukanya untuk kami. Pemilik rumah tersenyum ramah menyambut kami. Jauh sekali dari dugaan saya sebelumnya ternyata si empunya rumah ini orangnya sudah tua tetapi terlihat sekali kalau jiwanya masih muda. Yang unik adalah ibu Ratri rambutnya sudah putih semua tetapi masih terlihat cantik. Dengan potongan rambut pendek diatas bahu dan cara berpakaiannya, pakai kemeja putih rapi dan rok selutut terlihat sekali kalau bu Ratri masuk kedalam golongan orang-orang menengah keatas yang fashionable. Kesan pertama melihatnya adalah beliau seorang yang ramah dan menyenangkan, walaupun pada awalnya beliau komplain pada kami karena kami datang terlambat.? Sambil membuka pintu pagar bu Ratri bilang pada bu Handri dengan gaya khasnya.

??????????? ?Ah, bu Handri kok baru datang? Hampir saja mau saya tinggal pergi kalau tidak datang-datang. ? Kata bu Ratri sambil membuka pintu pagar.

??????????? ? Maaf bu agak terlambat karena ini tadi angkotnya juga lama?. Jawab bu Handri dengan nada sungkan.

??????????? ? Oya bu ini anak-anak yang rencananya akan ikut bu Ratri?. Kata bu Handri sambil menunjuk kami pada bu Ratri.

??????????? ?Oh ya, ayo masuk dulu aja, kita ngobrol di dalam.? Kata bu Ratri sambil mengajak kami masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan kami duduk.

??????????? Sesampainya di dalam rumah, kami di suguhi ruang tamu yang lumayan luas dan rapi. Baru pertama kali ini saya melihat ruang tamu yang lumayan besar dan tertata dengan rapi. Banyak sekali ukiran-ukiran kayunya, disebelah kiri tempat duduk kami ada sebuah organ yang tertutup rapi dan disebelah kanan kami ada beberapa patung dari kayu yang tersusun rapi juga. Bahkan tempat duduk yang kami tempati juga terbuat dari ukiran kayu, terlihat sekali kalau si empunya rumah suka sekali dengan seni.

? Ini tadi, sudah hampir saya tinggal keluar, saya sudah mau mengeluarkan mobil. Sambil menunggu tadi saya berkebun. Asal tahu aja ya anak-anak ini, ibu ini orangnya disiplin dan on time. Kalau janji jam 2 ya harus datang jam 2, bukan begitu bu Handri??. Jelas bu Ratri kepada kami dengan tegas.

??????????? ?Iya bu. Maaf ini tadi agak terlambat datangnya.? Kata bu Handri dengan tidak enak hati.

??????????? ?Sebenarnya bu Handri sudah tahu kebiasaan saya, iya kan bu?? tanya bu Ratri sekali lagi sambil tersenyum.

??????????? ?Hehe..iya bu?. Jawab bu Handri sambil tersenyum merasa bersalah.

??????????? ?Baik, bagaimana ini maunya bu Handri? Dan siapa saja ini yang di bawa kok sepertinya rombongan gini? Seperti saya mau diserang begini? hehe?. Tanya bu Ratri membuka percakapan kami, setelah kami semua duduk.

??????????? ? Oh iya bu, ini yang mau ikut dengan bu Ratri, dua anak ini. Yang ini namanya Dewi, adiknya mbak Intan, lha mbak Intan ini merupakan asistennya bu Ratna?. Kata bu Handri menjelaskan.

??????????? ?Iya..iya?. Jawab bu Ratri sambil manggut-manggut.

??????????? ?Dan yang ini? namanya Mimi, dan itu laki-laki di sebelahnya kakak sepupunya namanya Royan.? Lanjut bu Handri sambil menunjuk kami berdua.

??????????? ? Oke. Jadi intinya kedua-duanya mau tinggal di sini ya. Berarti harus mau dan ikut peraturan sini ya? ? Kata bu Ratri tegas sambil menatap aku dan mbak Dewi.

Kami berdua pun mengangguk sambil ragu-ragu dan juga rasa sedikit ketakutan di diri kami.

??????????? ?Saya disini cuma tinggal sendiri dan ditemani satpam yang siap jaga 24 jam, tahu siapa satpam saya?? tanya bu Ratri pada kami berdua.

?Belum sempat kami menjawabnya bu Ratri melanjutkan ceritanya. Satpam saya itu anjing saya namanya Lewinski, dia tidak galak , dia baik dan penurut kok, nanti lama-lama juga bakal bersahabat kok dengan kalian.? Lanjut bu Ratri.

??????????? Jujur, ketika mendengar ceritanya kalau punya anjing, agak takut juga dan ngeri kalau harus satu rumah dengan anjing.

Seperti sudah dapat membaca pikiran kami, bu Ratri melanjutkan pembicaraannya. ?Tidak usah takut, Lewinski bukan anjing liar dan galak.? Jangan khawatir agama saya Islam walaupun memelihara anjing. Asal tahu saja ya, saya juga sudah haji lho, kemarin tahun 2000, tidak kelihatan ya? Saya ini netral, walaupun sudah haji saya ya tidak memakai kerudung, rambut saya ya saya biarkan putih seperti ini. Banyak yang bilang masak bu Hajjah memelihara anjing, tapi anjing ini kan buat keamanan kan tidak apa-apa.? Jelas bu Ratri panjang lebar.

? Karena saya jarang dirumah, jadi kalau disini nanti kalian masak nasi dan masak lauk sendiri ya? Bisa kan? Tanya bu Ratri pada kami berdua. Kalau saya makannya gampang, banyak yang kasih makan, yang penting buat kalian berdua, harus siap masak sendiri ya??

??????????? Kami berdua hanya mengangguk. Tapi di dalam hatiku agak keder juga karena saya tidak bisa masak nasi, nanti bagaimana? kalau masak sayur dan lauk sih oke-oke saja tetapi kalau nasi aku masih tidak terlalu bisa karena selama ini yang masak nasi adalah bapak.

??????????? ?Karena saya masih mengajar dan sering seminar-seminar jadi saya sering makan diluar. Kalau saya tidak khawatir kalau soal makan, selalu ada yang ngasih makan?. Lanjut bu Ratri sambil tersenyum pada kami semua.

??????????? ?Loh ibu masih mengajar bu? Dimana?? tanya Royan antusias dan terlihat kagum pada bu Ratri.

??????????? ?Iya saya masih ngajar, walaupun sudah pensiun tapi otak saya masih dibutuhkan. Ya begini ini para orang muda masih tidak mau sendiri, masih perlu bimbingan dari yang tua. Pasti mikirnya kamu, saya ini nyantai di rumah tinggal baca koran ya??

??????????? ?Hehe..iya bu.?

??????????? ?Oh..tidaaak. Kalau saya tidak seperti itu, maunya sih seperti itu tapi otak saya bakalan mati jika tidak? di jalankan seperti ini?. Kata bu Ratri

??????????? ?Tepatnya masih banyak yang membutuhkan pemikiran-pemikiran bu Ratri?. Potong bu Handri.

??????????? ?Kalau sekarang memang saya harus bertanggung jawab untuk membiayai sekolah calon anak-anak saya ini, bukan begitu? Kalau saya tidak bekerja darimana nanti saya dapat uang untuk membayai sekolah anak-anak ini?? kata bu Ratri sambil tersenyum kepada kami.

??????????? ?Ah..ibu memang hebat?. Puji Royan pada bu Ratri.

Lalu bu Ratri melanjutkan bicaranya.

? Ini sepertinya masih terlihat masih kecil-kecil, apa sudah mau masuk kuliah atau bagaiman ini bu Handri??

??????????? ?Begini bu, kalau yang mbak Dewi ini sudah kelas 2. SMA atau SMEA mb?? tanya bu Handri pada mbak Dewi.

?SMEA jurusan akuntansi.? Jawab mb Dewi Lirih.

??????????? ?Oh, SMEA..itu yang sekarang disebut SMK kan??

??????????? ?Iya bu?. Jawab bu Handri

????????????? ? Bagus...bagus...memang saat ini lebih baik sekolah di SMK daripada SMA. Trus kalau Mimi ini bagaimana? Dari tadi kok diam aja? Tegang atau takut? Masak sama ibu takut??Kata bu Ratri sambil tersenyum padaku.

??????????? Dan otomatis aku pun juga ikut tersenyum. Senyum yang kelihatan di paksakan.

??????????? ?Mimi ni kelas 3 SMP bu, jadi masih mau masuk SMA bu?. Jelas bu Handri.

??????????? ?Mau ke SMA? ya Mimi?? tanya bu Handri padaku.

??????????? ? Iya bu?. Jawabku antusias.

??????????? ?Oh.. No..No.. Kalau SMA tidak! Saya tidak mau menyekolahkan SMA karena tidak bakal punya keahlian. Lebih baik SMK, kalau SMK walaupun tidak kuliah tetapi sudah punya keahlian untuk bekerja. Ibu sudah tua lho, ibu belum tentu bisa mengkuliahkan jadi lebih baik sekolah SMK?. ?Kata bu Ratri panjang lebar.

??????????? Jreng..jreng...saat itu juga pupus sudah harapanku, rasanya aku sudah tidak ingin mendengar lagi apa yang dikatakan bu Ratri. Ketika beliau sudah bilang ke SMK, aku sudah tidak berniat lagi ikut dengannya, angan-anganku untuk tinggal bersamanya sirna sudah. Yang aku inginkan hanya satu, aku ingin sekolah SMA, bayanganku dulu aku bisa masuk SMA Negeri favorit di Malang, dengan perkataannya itu telah memupuskan harapanku.

Bu Ratri melanjutkan pembicaraannya,

?Baru kali ini juga saya mengambil anak asuh anak SMA, anak-anak asuh saya semuanya sudah besar-besar sudah pada kuliah. Jangan salah ya, jangan dikira anak asuh saya baru ini, anak asuh saya sudah banyak. Dewi dan Mimi ini merupakan anak asuh saya yang ke 29 dan 30. Yang kemarin ke 28, Parmi namanya baru lulus tahun kemarin jurusan Biologi.

?Oh ya bu Handri, SMK Negeri dimana ya??

?Di Janti bu, ada SMK Negeri 1?. Jawab bu Handri.

? Wah, tidak bu kejauhan dari sini, di dekat sini di jalan Surakarta saya lihat sepertinya ada SMK Negeri. Besok coba saya lihat dan tanyakan. Kalau tidak salah saya kenal sama kepala sekolahnya.?

?Kalau Dewi ini, disana sekolahnya negeri atau swasta? trus berarti harus mengurusi surat pindah ya??

?Di swasta di SMK Nusantara?.

?Iya bu, ini lagi menunggu rapornya saja ya Dewi??. Kata bu Handri.

? O..gitu, baguslah kalau begitu. Berarti ini sudah fix ya, kalian berdua jadi tinggal disini ya? Oh ya..kalau Mimi ini bagaimana nilai danemnya sudah keluar?

?Belum.? Jawabku.

?Kan pendaftarannya masih sekitar sebulan lagi kalau tidak salah bu, jadi nanti saya dan Mimi kesini lagi kalau ijazah dan nilainya sudah keluar.? Kata Royan.

?Baiklah kalau begitu, berarti sudah jelas ya, kalau Dewi masih tinggal mengurus kepindahan dan rapor dan Mimi menunggu nilai ujiannya keluar.?

?Kalau begitu bisa pindah ke topik lain ya bu?, hehehe?. Tanya Royan agak sedikit cengengesan. Saya jadi ingin tahu banyak tentang ibu?. Lanjut Royan.

?O boleh...mau nanya saya tentang apa? Saya Prof. Ratri Astuti Suseno, ngajar di Universitas Negeri XXX. Suami saya prof. Suseno merupakan dosen di Universitas Negri BBB. Saya janda sudah hampir 10 tahun. Saya punya dua anak perempuan tapi sudah menikah semuanya. Anak saya yang pertama sekarang tinggal di Amerika dengan anaknya. Dan anak kedua saya sekarang tinggal di jakarta bersama suaminya. Tapi saya bahagia tinggal sendiri karena saya tidak perlu menyusahkan anak-anak saya dengan menginginkan mereka tinggal bersama kita. Kalau peraturan dirumah ini kalau sudah lulus kuliah berarti harus pergi dari rumah ini, harus keluar dan bisa nyari duit sendiri. Ya begitulah, anak-anak kalau sudah lulus kuliah tidak boleh nggandol sama orang tuanya, mereka harus bisa mandiri karena kita telah membekali mereka ilmu dengan menyekolahkan mereka. Setelah itu mereka harus bisa menentukan nasibnya sendiri. Bukannya harus begitu kan memang sebaiknya? Iya kan??. Jelas bu Ratri panjang lebar.

?Hmmm..iya..iya..? Jawab Royan sambil manggut-manggut. ?

?Sekarang kamu sendiri, masih sekolah atau gimana Royan??.

?Saya sudah lulus SMA bu, sekarang lagi mau ikut tes UMPTN di Universitas BBB.?

?O..Bagus kalau begitu, makanya kok ngomongnya berapi-api dan ngotot, memang jiwa-jiwanya Mahasiswa sekarang. Kelihatan pinter ngomong, iya kan? Rencananya mau ngambil jurusan apa??

?Jurusan teknik sipil bu, minggu depan ini tesnya bu. Minta do?anya ya bu??

?Iya saya do?akan semoga ujiannya lancar, boleh tahu kok bisa ngambil jurusan teknik sipil?

?Berhubung bapak saya kerjanya di bangunan, jadi saya rencananya nanti meneruskan pekerjaan bapak bu?.

?Oh No! salah itu! benar-benar salah. Tidak boleh seharusnya punya pemikiran seperti itu, kamu harus punya kehidupan sendiri. Mulai sekarang saya harus jadi seperti ini. Jangan pernah berpikiran seperti itu?.

?Lho ya tidak bisa bu, saya harus gini..dan gini...?

Begitulah Royan dan bu Ratri saling berargumen dengan dibumbui guyonan-guyonan dan bu Handri juga. Kami para perempuan-perempuan kecil ini hanya mendengarkan perbincangan mereka yang lumayan seru.

Sekitar satu jam kami berada di rumah bu Ratri, dan sekitar jam setengah empatan sore kami akhirnya pamit pulang.

Di perjalanan pulang Royan berkata padaku.

?Gimana Mi, sudah siap tinggal sama bu Ratri? Dia profesor lho..?.

?Gak tahu aku, males ah..lha ibunya tadi bilang kalau harus sekolah SMK, aku inginnya kan SMA?. Jawabku dengan cemberut.

?Sudahlah kamu jangan terlalu idealis, SMA dan SMK lho sama saja, yang penting bisa sekolah?.

?Tapi aku tetep ingin SMA pokoknya, aku gak seneng sekolah di SMK?. Aku tetep? ngotot.

?Jangan terlalu idealis harus sekolah SMA?. Jawab Royan dengan agak emosi.

?Tapi, kalau tidak senang lha gimana lagi? Aku pengen SMA pokoknya titik?. Jawabku dengan manyun.

?Ya sudah..sudah jangan sebel dulu, kan ini belum tentu, lagi pula danemmu kan juga belum keluar. Siapa tahu saja nanti bu Ratri berubah pikiran dengan melihat nilaimu dan mau menyekolahkanmu di SMA?. Kata Royan menghiburku.

Jujur, dengan jawaban Royan itu, hatiku agak terhibur dan berharap apa yang dikatakan Royan menjadi kenyataan. Setelah obrolan itu, kami semua terdiam menikmati perjalanan pulang kami dengan perasaan capek ditubuh kami, tetapi hal itu seakan tidak terasa dengan apa yang telah kita dapat hari ini. Sore itu, secercah harapan datang padaku, ya akhirnya ada titik terang kalau aku akan dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Senang rasanya, walaupun ada kekhawatiran jika harus ke SMK. Tetapi setidaknya aku dapat melanjutkan sekolah tanpa harus menyakiti ibu dengan tinggal bersama bapak. Dan sore itulah, takdir atas diriku dimulai.

  • view 147