the stories begin....

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....

Ketika Ibuku harus mengadu nasib ke kota (everyday ?duduh? )

Setelah beberapa tahun ibuku mencari nafkah dengan berdagang, akhirnya ibu berhenti juga dari pekerjaannya dan mengadu nasib ke kota dengan menjadi buruh. Yup! ?Buruh? kawan, menjadi pembantu rumah tangga di rumah orang. Sebenarnya jualan emakku maju pesat, tidak hanya menjual jajan tapi juga rujak manis. Dan rujak manis inilah yang membuat laris manis, masih jelas dalam ingatanku kalau kios toko kami lumayan bertambah besar. Dan baru ku ketahui saat ini kalau ibuku memutuskan untuk menutup warungnya dan bekerja sebagai buruh karena ada tetangga yang menyainginya dan berbuat tidak baik terhadap dagangannya sehingga jualan ibu menjadi sepi.

Awalnya ibuku bekerja di Jakarta sebagai buruh anak tetanggaku. Alhasil kami cuma tinggal bertiga dirumah, diusiaku yang masih kecil aku harus mengurus adikku termasuk mencucikan bajunya, mendandaninya sebelum berangkat sekolah. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika harus mencucikan ompolnya. Ya, walaupun sudah TK tapi adikku masih suka mengompol. Walaupun kadang sebel dengan tingkahnya yang masih mengompol tetapi aku tanpa terpaksa tetap mencuci ompol dan baju-bajunya, yah aku sangat menyayanginya. Secara tiba-tiba dalam diriku tumbuh rasa ??responsibility? untuk menjaga adikku dan membantu semua keperluannya. Ya, aku seakan menjadi ibu dan kakak untuknya, walaupun kami sering bertengkar tapi saya selalu berusaha berbuat terbaik untuknya dan melindunginya. I love you sist...Sementara bapakku sibuk dalam urusan dapur dan memasakkan untuk kami semua. Ah..bapak I love you too.. J

Dan bapak menjadi ?ibu? rumah tangga dikeluarga kami, karena usianya sudah renta maka pekerjaannya hanya memasak di dapur. Setelah bekerja di Jakarta, yang pulangnya tidak menentu, ibu memutuskan untuk bekerja ke kota yang dekat dengan kami. Ibu bekerja di kota Malang dan lagi-lagi masih sebagai ?buruh?, kalau sekarang sih istilahnya sebagai asisten rumah tangga. Karena ibu juga tidak menentu mengirimi kami uang, maka kami yang dirumahpun meng?irit? atau berhemat, tepatnya bukan meng?irit ? tetapi memang tidak ada sehingga yang kami buat makan sehari-haripun ?seadanya?. Tahukah kau kawan-kawan, apa makanan pokok kami selain nasi? dan bagiku ini adalah lauk ?terlezat? yang pernah kurasakan dalam hidupku. This is it ?duduh? tanpa sayur, just ?DUDUH? kawan...D-U-DU-H??DUDUH?, yup! tiap hari kami hanya makan nasi sama ?duduh?. ?Duduh? itu kalau dalam bahasa Indonesia adalah kuah santan yang telah di beri bumbu, hanya kuah santan tanpa ada sayur didalamnya. Hal ini di karenakan tidak ada uang untuk membeli sayur atau lauk untuk dimasukkan dalam ?duduh? itu. Walaupun tidak ada isi sayur didalamnya, kami bertiga begitu menikmatinya ketika menyantapnya, that?s why I called it?s delicious food ever. Setiap tetangga atau saudaraku yang menanyakan kepadaku, ?Bapakmu masak apa Mimi?? saya dengan lantang dan pede menjawab ?DUDUH!?, dan seperti biasa tetanggaku bakal nyeletuk ?bendino kok duduh?(tiap hari kok masak duduh). Yah, memang seperti itu kenyataannya dan tak ada rasa malu atau apapun dibenakku, malah merasa ?bangga? karena tidak ada yang menyamai. Mana ada orang yang hanya memasak santan..ahh.. bapak memang hebat, he?s pioneer of ?duduh?. ?Duduh? yang telah menghidupi kami dan membuat kami menjadi orang-orang yang tegar seperti saat ini. Hidup ?Duduh?!!!

?

Aku Ingin SMA

??????????? Dilema dalam diriku terjadi di akhir-akhir masa SMPku. Paling nyesek ketika teman-teman sudah menceritakan rencananya mau melanjutkan sekolah kemana setelah SMP. Kalau aku??? Jelas banget kalau aku tidak bakalan bisa melanjutkan SMA. Bayar uang SPP SMP aja kembang kempis, syukur-syukur ini tetap bisa melanjutkan sampai lulus. Ibuku sudah mengultimatum aku, kalau ibu tidak bisa membiayai sekolahku untuk melanjutkan ke SMA. Jujur aku sedih sekali karena keinginanku cuma satu yaitu ?SEKOLAH?. Dalam pikiranku saat itu benar-benar ?SMA Minded?, aku tidak ingin kepintaran otakku hanya berujung di SMP. Lalu ibuku bilang kalau mau melanjutkan sekolah, di SMK kecamatan saja, ibu masih bisa membiayai kalau disitu tapi kalau di SMA Negeri kota, ibu tidak kuat? biaya hariannya. Ya, memang benar...bukan SPP yang kami khawatirkan tetapi biaya transport untuk sehari-hari yang sulit. Karena jarak SMP ku lebih jauh daripada SMK otomatis aku gengsi banget kalau harus sekolah disitu. Lagipula saat itu SMK belum begitu populer seperti saat ini, dan SMK nya juga belum terlalu teruji kualitasnya atau bisa dikatakan belum bermutu. Dan yang makin membuat aku sangat ingin masuk SMA adalah imbas dari pengajaran guru fisikaku di SMP, orangnya sangat pintar sekali, kata-katanya melambungkan angan-anganku untuk menjadi seseorang yang berhasil, ya menjadi fisikawan atau ilmuwan itulah keinginanku. Intinya aku tidak ingin menyia-nyiakan otakku, aku tidak ingin berhenti hanya sampai disini. Aku tahu sangat sulit bagiku untuk bisa melanjutkan sekolah lagi tetapi dalam hati aku yakin kalau aku pasti bisa ke SMA bagaimanapun itu caranya. Sampai pada suatu hari adik keponakanku mempunyai ide agar aku tetap bisa melanjutkan SMA. Walaupun secara saudara dia adikku tetapi usianya lebih tua dariku, jarak kami selang 3 tahun, dia waktu itu kelas 3 SMA, sebut saja namanya Royan. Dialah nanti orang yang banyak terlibat dalam kehidupanku, yang membawaku kedunia ?aneh bin ajaib?, dimana semua berawal dari ide ?briliant?nya. Suatu ide yang memang solusi yang terbaik sebenarnya tetapi membuatku berada dalam dilema. Ya, adik keponakanku dan orang tuanya juga menyayangkan kalau nasib pendidikanku hanya putus sampai di SMP. Aku tahu niat mereka baik mau membantuku, kalau menyekolahkanku jelas mereka tidak sanggup karena merekapun tidak dalam kondisi yang baik keuangannya. Suatu ide yang dapat meruntuhkan harga diri bapakku, membuat murka dan kecewa ibuku. Ya sebuah ide yang aku sendiri antara iya dan tidak untuk melakukannya. Jujur, waktu itu aku juga tidak enak sama ibu dan bapakku, terutama bapakku. Dari sorot matanya terlihat jelas ?beliau sangat kecewa ketika aku akan berangkat bersama adik keponakanku dan orangtuanya merealisasikan ide kami. Tetapi bapak ?juga tidak bisa berbuat apa-apa karena beliaupun sadar dan tahu diri kalau beliau tidak bisa membiayai sekolahku selanjutnya. Ya, ide itu adalah menemui bapak kandungku, memintanya untuk membiayai sekolah SMAku karena sejak kecil bapak kandungku tidak mengurus dan membiayai semua keperluanku. Dan begitulah kawan, bapakku sekarang yang sering kuceritakan pada kalian sebagai ?the pioner of duduh? itu bukan bapak kandungku. Usiaku baru 2 atau 3 tahun ketika ibu menikah dengan bapakku yang sekarang. Oleh karena itulah yang ku tahu sebelumnya bapakku yang sekarang inilah bapak kandungku yang sebenarnya. Sampai waktu itupun terungkap saat aku kelas 6 SD bapak kandungku datang ke rumah mencariku dengan diantar tetanggaku.? Aku begitu shocked ketika tahu bahwa bapakku yang saat ini bukan bapak kandungku dan bapak-bapak yang datang ke rumah ternyata bapak kandungku yang sebenarya. Tetapi aku tidak terima dengan hal itu dan aku langsung lari menangis meraung-raung di kamar dan tidak mau menemui bapak kandungku. Setelah bapak kandungku pulang, bapakku menghampiriku, menenangkan hatiku dan mengucapkan kata-kata yang akan selalu terkenang dalam hidupku. ?Sudah jangan menangis, aku ini bapakmu, ya aku ini bapakmu?. Dan kalimat lembut itulah yang dapat menenangkan hatiku, dan selalu tertanam dalam hatiku bahwa memang inilah bapakku yang sebenarnya. Mungkin secara biologis bapak bukan bapak kandungku tapi kasih sayang yang bapak berikan sudah lebih dari cukup untuk aku memanggilnya sebagai seorang ?BAPAK?, ya memang dialah bapakku sebenarnya. I love you bapak! Begitulah sedikit cerita tentang asal muasal bapak kandungku. Dan karena itulah Royan dan keluarganya bermaksud untuk meminta bapak kandungku membantu membiayai sekolahku.

Kebetulan bapak dari adik keponakanku baru saja bertemu dengan bapak kandungku dan secara finansial bapak kandungku lebih mapan dari keluargaku sekarang. Hal itulah yang membuat ibuku ?mencak-mencak? dan tidak rela kalau aku sekolah dibiayai oleh bapak kandungku karena dari kecil bapak kandungku tidak pernah memperhatikanku. Hanya sekali menemuiku ketika aku kelas enam SD. Otomatis sejak saat itu, telah tiga tahun kami tidak pernah bertemu. Dan entah ?bodoh?nya aku atau keegoisanku, aku menuruti kata-kata keluarga Royan untuk menemui bapak kandungku, bermaksud memintanya membiayai SMA ku. Dan dengan perginya aku ke rumah bapak kandungku betapa aku telah menyakiti hati kedua orang tuaku. And I did it!

??????????? Sore itu, menjelang maghrib kami berempat sampai dirumah bapak kandungku. Aku, Royan dan kedua orang tuanya. Sesampai disana kami disambut oleh seorang perempuan paruh baya, aku yakin banget kalau itu pasti istri bapakku. Ternyata saat itu bapakku sedang tidak ada dirumah karena sedang kenduri di rumah tetangganya. Kami menunggu lumayan lama sekitar 45 menitan, lalu beliaupun datang. Sumpah saat itu aku betul-betul nervous, takut, dan juga kaget, aku tidak tahu kalau itu bapakku, hanya pernah bertemu sekali dalam hidupku lalu bertemu untuk kedua kalinya setelah tiga tahun berselang, jelas aku sudah lupa bagaimana rupanya, ?untuk mengingat dan membayangkan wajahnya dalam memori ingatanku saja aku tak sanggup. Aku baru ?ngeh? kalau itu bapakku ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya mendatangi kami yang sedang menunggu di ruang tamu. Bapaknya Royan langsung bediri tersenyum dan menyalaminya sambil berkata ?Selamat malam pak, bagaimana kabarnya?? orang itupun membalasnya sambil tersenyum dengan penuh keheranan melihat kami ?baik? katanya. Lalu kami bertiga bergantian bersalaman dengannya, lalu bapaknya Royan bilang ke aku ?Lho, gimana Mi ini lho bapakmu kok gak disapa??

I?m speechless, tidak bisa berkata apa-apa, bingung, dan ingin menangis. Air mata ini sudah menumpuk dipelupuk mata, bahkan sampai sudah ada yang menetes namun buru-buru kuhapus dengan tanganku sambil menunduk supaya tidak terlihat oleh siapapun. Yah, memang pada dasarnya aku orang yang sensitif. Jadi, kalau sudah bersinggungan dengan masalah hati, air mata ini tak kuasa untuk keluar dari pelupuk mata.

Kami tidak begitu lama disitu, bapaknya Royan langsung to the point ke pokok masalah tujuan kami kesana. Hasilnya bapakku mau membiayai sekolahku asalkan aku mau tinggal disana bersamanya. Lalu kamipun pulang dan bapakku memberiku uang Rp. 50.000,-.

Aku bilang ke Royan dan orang tuanya kalau aku tidak mungkin tinggal sama bapakku karena tidak enak sama ibuku dan pada dasarnya akupun? juga tidak ingin. Dari obrolan itupun dicari sebuah solusi agar aku tidak tinggal disitu, solusi yang merupakan adil buat kedua belah pihak. Aku disarankan untuk ngekos sama Royan, karena di SMA N 1 hari Jum?at masuk agak siang maka kamis aku disarankan pulang kerumah bapakku dan yang minggunya aku pulang kerumah ibuku. Jadi, selama seminggu waktuku dapat terbagi buat dua keluarga. Yah menurutku itu ide yang ?tidak terlalu buruk, aku tersenyum bahagia dan merasa lega karena akhirnya ada sedikit kejelasan tentang masa depanku, aku bisa melanjutkan ke SMA. Tetapi disisi lain aku juga sedih karena? merasa tidak enak dengan bapak ibuku dirumah.

Sesampainya dirumah, aku tidak kuasa melihat raut wajah bapakku, bapak memang tidak mengeluarkan sepatah katapun tapi raut kekecewaan terlihat jelas diwajahnya, seakan berkata ?Kenapa kau lakukan ini padaku??. Karena dengan aku pergi ke rumah bapak kandungku berarti sama dengan menampar wajah bapakku yang ada disini. Jujur, aku merasa sangat bersalah tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ibuku, sejak kedatanganku sampai beberapa hari berikutnya terus ?mencak-mencak? dan berkata? tidak rela kalau aku harus tinggal dengan bapakku.

?Lebih baik kamu tidak sekolah kalau harus tinggal sama orang itu, aku pokoknya tidak rela kalau kamu harus tinggal disana?. Kata ibuku berapi-api. Sungguh dengan bersikap seperti ini, ibu menempatkanku pada posisi yang semakin sulit, aku benar-benar terjepit, tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.

?Kalau mau sekolah, ibu bisa membiayai kalau di SMK kecamatan, kalau tidak mau ya tidak usah sekolah saja? sungutnya dengan emosi.

Dan seperti biasanya aku tidak bisa berkata apa-apa hanya diam aja. Karena aku sebenarnya juga tidak mau dengan situasi seperti ini, yang bisa kulakukan hanya menangis dan menangis. Ibuku benar-benar sepertinya dendam banget dengan bapak kandungku tapi aku juga tidak kuasa menanyakan alasannya mengapa ibu sampai sebegitu bencinya terhadap bapak kandungku.

Lalu setiap bertemu aku di rumah selalu bilang ?Orang tidak mengerti kamu dari kecil kok sekarang mau kau ikuti, aku tetap tidak rela, tidak rela?.

Di lain waktu ibuku memprovokasiku dan menakut-nakutiku ?Disana kamu bakal ikut ibu tiri, pasti bakal disuruh-suruh terus, dijahati, apa kamu tidak lihat itu ditipi-tipi banyak ibu tiri yang jahat sama anak tirinya. Lebih enak ikut ibuknya sendiri, kalau tidak nyuci piring atau nyuci baju tidak bakal dimarahi. Tidak bisa tidur dengan nyenyak karena disuruh-suruh?. Kalau di rumah sendiri mau ngapain aja tidak ada yang memarahi, tinggal makan, tidur dan sekolah. ?Begitulah kata-katanya dan masih banyak lagi yang menggambarkan jahatnya seorang ibu tiri, lagi-lagi aku hanya diam sambil memikirkan apa yang dikatakan ibuku dan menurutku ?ada benarnya juga, memikirkan hal itu membuatku ngeri juga. Aku jadi merasa diselimuti kecemasan kalau hal itu memang terjadi dan akupun takut membayangkannya,ah memang lebih enak ikut ibu kandung. Selain kecemasan itu, hal yang paling merisaukanku adalah rasa tidak enakku pada ibu dan bapakku sertu ibu yang benar-benar tidak merestuiku. Aku betul-betul dilema menghadapi ini semua hingga sebuah kejadian menyelamatkanku dari ?kedelimaan? ini dan membawaku ke tempat yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.

to be continued...

  • view 97