the stories begin....

Schumi Azzahra
Karya Schumi Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
the stories begin....

Ini kisah tentang kehidupan anak manusia, kalau disebut semua cerita kehidupan di dunia ini adalah skenario dari Allah SWT memang benar sekali. Tawa, tangis, kesedihan, kebahagiaan silih berganti menghiasi kehidupan manusia begitu juga yang terjadi pada hidup gadis kecil ini. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, dia berusaha untuk mewujudkan semua impian, cita-cita dan harapannya.

Sebenarnya dari kecil dia sudah banyak mengalami yang namanya kesusahan dan kesedihan. Semua itu seakan sudah menjadi makanan sehari-harinya atau bisa dikatakan telah menjadi santapan hariannya. Tetapi, namanya juga anak kecil, dia serasa tak menghiraukannya, dia tetap menikmati hari-harinya dengan teman-temannya. Bercanda, tertawa-tawa, feels that nothing happened, she enjoyed her life so much. Dia merasa hidupnya sudah sempurna, mempunyai ibu, bapak, adik..semua terasa lengkap walaupun tinggal dirumah yang sangat sederhana dan dalam keadaan yang pas-pasan bahkan jika dalam keadaan yang ?tidak normal? dapat dikatakan serba kekurangan. Bagaimana tidak dapat disebut seperti itu jika kedua orang tua Mimi hanya bekerja sebagai buruh tani yang bayarannya tidak menentu, kalau ada yang menyuruh atau butuh tenaganya maka orang tuanya akan bekerja tetapi kalau tidak ada yang menyuruh maka mereka akan mencari kayu bakar untuk dijual ke tetangga atau ?leles? kopi dikebun milik orang yang sudah dipanen. Kehidupannya makin menyesakkan ketika bapaknya yang sudah tua renta dan tidak kuat bekerja lagi harus berhenti bekerja, sehingga otomatis hanya ibunya yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ibunya harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. That?s why she called her mom as a hero. For detail?s story, here we go...

Kok, Jualan kita tidak ada yang beli bu???

??????????? Setelah bapakku tidak kuat lagi untuk bekerja di sawah sebagai buruh tani, yang meliputi mencangkul, ?jombret1?, ?unduh2?,?ngaret3 ? karena faktor usia dan tenaganya yang sudah mulai rapuh otomatis yang mencari nafkah adalah ibuku. Ya, ibuku menjadi tulang punggung keluarga, ibu bekerja ?srabutan4?sebagai buruh tani. Dan kalau tidak ada yang membutuhkan tenaganya maka ibuku akan ?leles5? atau mencari kayu bakar untuk dijual, yang mana uang hasil penjualannya dipergunakan untuk keperluan kita sehari-hari.

??????????? Sampai pada suatu ketika ibu mengambil batu loncatan baru dengan mencoba berdagang di depan rumah (di teras rumah kami tepatnya). Karena kebetulan rumah kami jaraknya dekat dengan sekolahan SD (dimana sorenya , ditempati SMP) maka hal ini dimanfaatkan oleh ibu untuk berjualan jajanan atau ?snack? anak-anak sekolah.? Walaupun belum terlihat hasilnya tapi untungnya cukup lumayan. Walaupun sering mendapat untung yang pas-pasan, tetapi yang penting cukup buat makan dan kehidupan kami berempat. Selain berjualan di teras rumah, kami biasanya juga berjualan dimana ada kegiatan yang tidak biasa atau tontonan semisal film layar tancap, wayangan, jaranan atau apapun itu yang ada di kantor kelurahan, di desa lain atau dimanapun itu yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, kami rela mendatanginya ?untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Karena kalau ada tontonan, maka akan banyak orang ?yang menonton, baik hanya sekedar jalan-jalan atau benar-benar ingin menikmati hiburan tersebut. Maklum, orang desa akan antusias keluar rumah jika ada suatu tontonan. Hal ini dikarenakan tontonan itu merupakan hal yang langka bagi kami masyarakat desa dan tidak pasti ada setiap tahunnya, hanya sewaktu-waktu saja jika ada acara ?bersih desa? dikelurahan atau ada orang yang punya ?gawe? nikahan atau ?tanggapan?. Maka dari itu, kami tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan ini, dimanapun tontonan itu berada pasti akan kami datangi. Jualan kami pun bertambah, kami ?tidak hanya menjual panganan berupa snack tetapi juga kacang rebus dan kacang goreng yang merupakan favoritnya orang - orang desa. Dan yang pasti jualan kami yang bakal ludes laris manis adalah kacang-kacangan itu. Tapi ada satu hal yang paling membuat saya miris dan sedih dengan semua ini jika melihat ibu menjajakan jualan kami yang masih banyak sementara bapak harus menggendong adik yang sudah rewel karena mengantuk, dan saya hanya melihat kepolosan ?kesedihan? anak kecil dalam diri saya. I can feel that but I do nothing, it?s so sad. Dan satu hal lagi yang tidak dapat saya tolerir adalah ??kesedihan? dalam hati saya ketika harus melihat bapak saya? yang sudah tua renta harus memikul jualan kami dari rumah sampai tempat tontonan itu berada, yang mana kebanyakan tempat tontonan itu jaraknya sangat jauh dari rumah kami. Saya benar-benar tidak tega melihatnya, melihat punggung tuanya yang sudah mulai membungkuk ditambah dengan beban berat pikulannya membuat jalannya terseok-seok..oh bapak..hal ini yang tak pernah aku lupa darimu. Dan kami berempat akan berangkat sore sekitar jam empatan atau sebelum maghrib dan pulang tengah malam, dimana orang-orang lain sudah tertidur pulas dengan selimutnya tetapi kami masih melangkahkan kaki kami untuk pulang demi mengumpulkan recehan rupiah untuk kelangsungan hidup kami. Takdir hidup ini serasa berat buat kami tetapi langkah-langkah kaki kami menunjukkan bahwa kami yakin bisa melewati semua ini, ?langkah juang makhluk Tuhan? begitulah aku menyebutnya.

Dan di episode ?perdagangan? ini ada satu fase yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku dan akan selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku sebagai kisah paling menyedihkan dan memilukan seorang ibu dan anak. Padahal waktu itu aku masih kelas satu SD tapi masih sangat jelas dan terekam dalam ingatanku. Dan itu merupakan awal mulanya ibu mulai berdagang. Seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya pada awalnya ibu hanya jualan jajan-jajan snack anak sekolah seperti krupuk, menyeng, mie, dll. Saat itu, hari minggu tepatnya, tiba-tiba ibu diajak tetangga kami yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami untuk berjualan di ?persel?, dimana pada hari itu para pekerjanya akan gajian.

?Mbah De, ayo ikut aku ke ?persel? jualan. Sekarang di ?persel? pekerjanya bayaran jadi uangnya banyak, kalau kita jualan kesana pasti laris manis. Aku mau jualan gorengan. ? Kata tetanggaku.

Ya, karena bapakku disini merupakan kerabat paling tua jadi saudara-saudara dan tetanggaku memanggil ibuku pun dengan sebutan ?mbah? walaupun ibuku belum terlalu tua banget.

?Lha aku cuma jualan jajan seperti ini apa ada yang beli?? kata ibuku

?Ya malah laris mbah,kalau gajian seperti ini orang-orang akan antusias membelanjakan uangnya, banyak juga yang berjualan disana, ayo ya berangkat sekarang? ? lanjut tetanggaku dengan antusias dan berapi-api.
?Tapi jajanku cuma krupuk-krupukan gitu apa ya bakal laku lho Ni?? Ibuku berkata agak ragu

?Halah..sudah jangan khawatir, pasti orang-orang bakal beli..orang-orang disana itu ?rakus? banget dalam membelanjakan uangnya, kalau beli tidak hanya satu atau dua tetapi biasanya malah ?mborong?, sudah ya bungkus semua daganganmu, aku tak pulang mengambil daganganku.? Kata tetanggaku dengan penuh provokasi.

Kali ini ibuku benar-benar terprovokasi dengan ajakan mbok Ni, tetanggaku itu dan dengan antusiasnya ibu memasukkan semua jajan-jajan itu kedalam kresek merah besar, jadilah dua kresek besar dan satu kresek kecil putih. Dan saat itu ibu mengajak aku sekalian. Jam? 13.30, disaat panas begitu teriknya kami berangkat ke?persel?, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Lewat jalan beraspal kami bertiga menyusuri jalan di bawah terik matahari yang begitu menyengat tapi kami tidak menghiraukannya karena disepanjang jalan tetanggaku itu terus bercerita ?manis? tentang keadaan disana, kalau memang suasananya ramai, orang-orang semuanya akan membeli, dagangan kita pasti laris manis diserbunya, karena orang ?orang ini membelinya tidak perbiji tapi diborong. Pokoknya tetanggaku ini benar-benar hebat dalam memprovokasi dan melambungkan angan-angan kami, terutama diriku, aku sudah membayangkan betapa dagangan kami bakal laris manis dan kami akan memperoleh uang banyak. Beberapa lembaran rupiahpun sudah menari-nari dibenakku. Kamipun tersenyum, bibir kami tak henti-hentinya mengulum senyum sambil membayangakan aliran rupiah bakal merembes ke kantong kami dan akupun yakin apa yang dipikirkan ibuku pasti sama dengan yang aku bayangkan saat ini karena tetanggaku bercerita kalau dagangannya dan dagangan adiknya selalu habis tak tersisa. Mimpi kami, senyum kami, tertawanya kami, impian kami, angan-angan kami berbalik 3600dari kenyataan yang ada dan semua hal itu sekejap sirna setelah kami menjajakan dagangan kami. Setiba di ?persel? memang suasananya lumayan rame, kami menggelar dagangan kami dengan senyum merekah yang menghiasi bibir kami. Ibuku menggelar dagangannya tepat disebelah gelaran dagangan tetanggaku, karena tetanggaku hanya jualan gorengan jadi dia tidak membutuhkan space luas, hanya dua ?patiman?dan tempat dia duduk. Sementara ibuku menggelar dagangannya diatas ?kebo6? yang telah kami bawa dari rumah. Disitu suasananya memang seperti pasar? tapi terletak ditengah-tengah kebun kopi. Para pedagang menggelar dagangannya dipinggir jalan yang dilewati para pekerja dimana dikanan kiri jalan itu penuh dengan pohon kopi. Di pasar itu lumayan banyak pedagang yang menjajakan jualannya, ada yang menjual kain, baju, peralatan masak, alat-alat rumah tangga, jualan kacang goreng atau rebus, nasi pecel, gorengan, dan satu-satunya yang berjualan jajan-jajan snack, ya cuma kami berdua (aku dan ibuku), kelihatan sekali apa yang kami jual tidak berkelas.

Hal yang ditunggu-tunggu tiba, sekitar jam 3 atau setengah? 4an para pekerja yang baru saja ?gajian datang dengan tawa riang dan senyum sumringah dari bibirnya (secara habis gajian gitu). Ya, aku akui pekerjanya memang banyak, sekitar 50an lebih, oiya para pekerja ini adalah para pekerja perempuan. Yang paling banyak diserbu oleh ibu-ibu adalah para penjual baju dan peralatan masak. Stand tetanggaku juga sudah mulai dikerubungi oleh pembeli sampai dia kewalahan, saya melihat hampir semua dagangan para penjual disana ramai oleh pembeli, dan kau tahu kawan betapa sedih dan tertusuknya hati kami ketika tak seorangpun yang membeli dagangan kami, bahkan ibuku tiap ada yang lewat selalu menjajakan dagangan kami.

?krupuknya mbak...jajannya mbak...?

?krupuknya mbak...jajannya mbak?...

Berkali-kali tapi no respon. Bahkan banyak dari para pekerja itu yang bukannya membeli tetapi malah mlengos dan mencibir ke arah kami. Kesannya seperti bilang ? jajan seperti itu aja kok dijual disini?...ahh..tatapan mata mereka itu, aku tidak akan pernah melupakannya sampai saat ini, tatapan sinis dan merendahkan.

Akhirnya, setelah menunggu sekian lama ada juga pembeli yang membeli dagangan kami itupun cuma satu. Aku rasanya tidak tega melihat wajah ibuku, betapa aku melihat kekecewaan diraut wajahnya. Ibu...akupun juga merasakan hal yang sama, makin sesak ketika melihat semua stand ramai dikunjungi pembeli dan terdengar slentingan beberapa pekerja sambil jalan kasak kusuk berkata bahwa disini kok jualan seperti itu, ya mana laku? Selang waktu berlalu, pembeli kami tak bertambah hanya 2 atau 3 orang saja, sampai pada akhirnya ada salah satu tetanggaku yang ?juga pekerja disini menghampiri kami.

?Loh mbah De, kok bisa sampai sini? sama siapa?? Tanya tetanggaku

?Sama mbok Ni.? Jawab ibuku

Melihat dagangan ibuku yang masih banyak, dari tatapan tetanggaku aku bisa menyimpulkan seperti ini..merasa kasihan juga sekaligus menganggap kami bodoh.

Lalu dia berkata,?

?Harusnya sampean jualan kacang rebus gitu juga karena disini kalau cuma jualan seperti ini tidak ada orang yang tertarik, kalau krupuk-krupuk dan jajan seperti ini mereka sering makan dan ini kan jajanannya anak kecil.? (Tatapan matanya, mengisyaratkan ?sorry to say this?)

? Iya ini tadi tidak kepikiran sampai kesitu?, jawab ibuku dengan lemahnya.

?Tidak apa-apa mbah, kalau tidak begini kan tidak tahu suasana pasar ?persel?, kata tetanggaku sambil berlalu pergi.

Karena setelah sekian lama tidak ada pembeli, akhirnya ibuku mengajakku pulang. Kami memasukkan dagangan kami kembali ke kresek merah, sementara itu kulihat dagangan tetanggaku masih laris manis diserbu pembeli. Setelah selesai membungkus semuanya, ibuku pamit ke tetanggaku.

?Ni, aku pulang dulu ya??

?Loh pulang mbah? Ya wes, aku tak menghabiskan ini dulu, tinggal sedikit?. Jawabnya sambil meladeni para pembeli.

Disepanjang perjalanan pulang kami berjalan dengan gontai seperti orang yang kalah perang, kami tidak mendapatkan apa-apa, benar-benar tidak sesuai dengan pengorbanan dan perjalanan kami menempuh jarak sejauh itu tanpa mendapatkan apa-apa. Ibuku tidak berkata apa-apa, hanya diam seribu bahasa dan dari raut wajahnya terlihat kekecawaan yang begitu mendalam. Aku dengan kepolosan dan kesedihan dalam diriku bebicara sendiri tetapi? dengan keras dan nada marah.

?Kok jualan kita tidak ada yang membeli ya??

?Malah jualannya mbok Ni laris...banyak yang membeli, hoalah?

Aku yakin ibuku mendengarnya dengan jelas tapi hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya yang membuat air mataku tidak berhenti jatuh menetes yang terus menerus ke pipiku di sepanjang perjalanan kami menuju ke rumah.

?Untung ae nduk, kamu tadi ikut, sehingga emak ada temannya?. Hanya satu baris kalimat itulah yang keluar dari mulut ibuku.

Jleb! Saat itu juga airmataku terus menerus mengalir, tak terbendung, tak dapat tertahankan dan aku tidak dapat berkata apa-apa, sesak rasanya hati ini. Karena hal ini, aku jadi tidak ?merasakan beban berat dagangan kami yang ada di kresek merah. Aku terus berjalan menunduk dibelakang ibuku agar tidak terlihat olehnya kalau aku menangis, tapi aku tahu pasti di saat yang sama pula ibuku pun juga sedang menangis meraung-raung dalam hatinya. Oh..Ibu I love you so much.

?

CK:

  1. Memotong?rumput-rumput?yang?ada?di?kebun?kopi
  2. Memetik?atau?memanen?kopi?
  3. Mencari?rumput?untuk?makanan?kambing
  4. Gonta?ganti?atau?apa?saja yang bisa di kerjakan
  5. Kebun kopi milik PTPN XII
  6. Tikar yang terbuat dari karung beras

to be continued....

  • view 120