MENGINSPIRASI DARI BILIK PINGITAN

shila asilya
Karya shila asilya Kategori Tokoh
dipublikasikan 21 April 2016
MENGINSPIRASI DARI BILIK PINGITAN

MENGINSPIRASI DARI BILIK PINGITAN

Ada beberapa tempat yang mebuat saya terenyuh namun sekaligus bangga  serta kagum ketika berkunjung ke Pendopo Kabupaten Jepara. Salah satunya adalah Kamar Pingit Kartini.

Pertama, ketika saya memasuki kamar dimana R.A Kartini di pingit ketika beranjak remaja. Langkah kaki saya mulai memasuki Pendopo Kabupaten Jepara. Kamar itu berada disebelah kanan dan memang agak kedalam karena saya harus melewati ruang tamu serta ruang tengah yang cukup besar. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kamar itu, saya sedikit tercengang. Dalam pikiran saya, seorang anak bangsawan pasti memiliki kamar yang mewah dan sangat besar. Bahkan dengan kamar tidur saya dirumah, sedikit lebih besar kamar saya. R.A. Kartini memang tidak suka kemewahan. Memasuki kamar pingit ini melalui pintu berdaun pintu berjumlah dua dan tinggi mirip model pintu gaya Belanda. Ada dua buah pintu sebenarnya. Namun satu pintu ditutup mungkin pintu itu menuju ke teras kamar dulunya. Didalam kamarnya pun tidak ada perabotan yang mewah. Hanya ada tempat tidur, meja belajar, meja rias sederhana, semacam kotak perhiasan bertingkat (mungkin pada waktu itu digunakan oleh beliau untuk menyimpan tusuk konde, bros-bros, dan sedikit perhiasannya karena mengingat beliau sangat suka kesederhanaan jadi tidak ada perhiasan yang mewah), sebuah peti kecil (mungkin untuk menyimpan baju). Namun ada yang menarik perhatian yaitu perabotannya terdapat ornamen ukiran yang jika dilihat secara detail sepertinya motif khas Jepara. Hampir semua perabotannya berhiaskan ukiran kecuali meja belajar serta meja rias yang hanya berlapiskan batu marmer. Selain perabotan besar yang sudah umum kita lihat dalam sebuah kamar, dalam kamar pingit Kartini ini terdapat alat permainan jaman dahulu yaitu congklak atau orang Jepara biasa menyebutnya permainan dakon. Papan dakonnya ini terbuat dari kayu, simple, tanpa ada ornamen-ornamen ukirannya. Ketika melihatnya, saya membayangkan R.A. Kartini sedang bermain dakon dengan adik-adiknya. Saya juga membayangkan saya sedang diajak main dakon bersama R.A. kartini. Sungguh beruntung mereka yang mengenal secara pribadi dengan R.A. Kartini. Selain itu, diatas meja kecil juga terdapat peralatan untuk membatik. Itu minyimpulkan pemikiran saya juga bahwa beliau juga sangat suka membatik untuk mengisi waktu luangnya. Lantainya juga masih lantai asli dari jaman dahulu yaitu tegel kuno berwarna gelap dan mengkilap. Sungguh terasa sekali keaslian bangunan tersebut.

Didalam kamar yang hanya berukuran kurang lebih 4x4 meter itulah R.A. Kartini dipingit. Tidak ada kemewahan didalamnya. Pada usia yang menurut saya masih sangat belia yaitu 12 tahun, beliau sudah menjalani masa pingitan. Pada masa itu memang sudah menjadi kebiasaan jika ada anak yang tergolong masih kecil atau masih usia sekolah yang kemudian di nikahkan atau di jodohkan. Didalam kamar itu pula Kartini mulai menulis surat-surat untuk sahabatnya seperti pasangan suami istri Mr. & Mrs. Abendanon, Stella Zeehandelear, dan masih banyak lagi sahabat-sahabat R.A. Kartini. Meskipun sedang dalam keadaan dipingit, beliau membuka pikirannya. Beliau tidak mau jika hanya diam menunggu masa pingitan. Namun ada yang unik dari sosok R.A. Kartini yang saya baca dari sebuah buku. Jika banyak anak gadis yang tidak betah dalam kamar pingitan, entah mengapa hal tersebut tidak berlaku bagi R.A. Kartini. Beliau justru sangat betah sekali dalam kamar pingitan ini. Meskipun pada awal masa pingitan beliau nampak murung dan sedih tentunya. Namun lama kelamaan mungkin beliau berpikir, tidak bisa jika harus sedih berlarut-larut. Pasti waktunya akan sangat sia-sia. Dalam kamar pingitnya tersebut Kartini diberi berbagai macam buku bacaan, majalah, surat kabar dan lain sebagainya baik yang berbahasa Melayu dan banyak pula yang berbahasa Belanda. Dari bacaan-bacaan itulah Kartini semakin terbuka wawasannya. Melihat hobinya membaca serta potensi yang dimiliki Kartini, sang kakak Sosrokartono pun semakin sering memberinya bahan bacaan. R.A. Kartini pun akhirnya sering menghabiskan waktunya didalam kamar pingit untuk membaca bahan-bahan bacaan tersebut.

Kegemarannya membaca itu pun dapat dilihat dari surat yang dikirimkannya kepada Stella Zeehandelear yang berisi : “Suatu kebanggan besar bagi saya, bahwa saya masih boleh membaca buku-buku Belanda dan berkirim surat dengan teman-teman Belanda. Semua itu merupakan satu-satunya titik terang dalam masa yang sedih dan suram. Dua hal tersebut bagi saya merupakan segalanya. Tanpa kedua hal tersebut barangkali saya akan binasa atau bahkan lebih dari itu, jiwa saya akan mati”. Kartini melihat dunia luar melalui buku, melalui hobi membacanya, serta menulis surat kepada sahabat-sahabatnya.

Didalam kamar itu pula terdapat sebuah lukisan tiga angsa putih yang terbingkai dalam bingkai kayu berhiaskan ornamen ukiran. Mengapa angsa ? dan mengapa jumlahnya tiga buah angsa ? Apa inikah lukisan yang dilukis oleh R.A. Kartini seperti dalam buku yang pernah saya baca yang didalamnya menerangkan bahwa dahulu pada masa itu terdapat sungai kecil dihalaman belakang kediaman Bupati Jepara. Jumlahnya tiga buah mungkin itu menggambarkan tiga putri Jepara yaitu R.A. Kartini bersama kedua adiknya yaitu R.A. Kardinah dan R.A. Roekmini.

Setelah puas menikmati kamar R.A. Kartini, ketika melangkah keluar kamar terdapat dua buah almari kaca. Almari kaca pertama didalamnya terdapat baju kebaya kuno milik R.A. Kartini. Baju kebaya tersebut berbahan kain beludru berwarna biru tua lebih ke hitam dengan hiasan ukiran yang disulam dengan benang emas. Serta disampingnya terpampang pula kain batik atau kain jarik bermotif kawung. Sederhana namun tetap elegan. Almari yang kedua merupakan lembaran kain putih yang di batik karena membatik juga merupakan salah satu hobi R.A. Kartini.

Menuju ke teras belakang ... sebuah tempat yang juga istimewa.

Teras belakang merupakan sebuah ruangan terbuka yang cukup besar. Disitu terdapat banyak sekali kursi-kursi kayu. Lantas, mengapa saya katakan istimewa ? saya mengatakan ini tempat istimewa karena dahulunya tempat ini digunakan R.A. kartini untuk mengajar murid-muridnya yang pada waktu itu tidak terlalu banyak. R.A. Kartini mengajar mereka membaca, menulis, kadang juga memasak, dan juga mengajari tentang pelajaran kepribadian. Sungguh beruntung sekali murid-muridnya. Untuk perabotan yang digunakan untuk mengajar sepertinya telah berubah. Ada yang mengatakan kursi dan mejanya telah diganti dengan bahan kayu yang baru namun modelnya tidak berubah. Namun ada pula yang mengatakan masih asli dari jaman dulu hanya dudukan kursinya saja yang diganti. Namun suasananya masih sangat terasa keasliannya. Dari teras belakang ini kita dapat langsung menyaksikan halaman belakang kediaman Bupati Jepara.

Halaman belakang kediaman Bupati Jepara ini sangatlah asri. Banyak tumbuh pohon-pohon besar yang mungkin telah berumur ratusan tahun. Hewan-hewan peliharaan juga banyak sekali terutama unggas. Banyak burung merpati berwarna putih yang menghiasi halaman itu. Merpati itu bertempat tinggal di rumah kayu atau pagupon yang diletakkan diatas pohon diantara dahan-dahan. Ada pula beberapa ayam kalkun. Damai sekali suasananya. Saya pun duduk disebuah kursi taman dan membayangkan sedang belajar bersama R.A. Kartini sambil menikmati damainya halaman belakang ini. Di halaman belakang ini juga terdapat sebuah pohon bunga favorit R.A. Kartini yaitu Bunga Kantil. Bunga Kantil merupakan bunga favorit beliau karena mungkin bau harumnya yang khas. Pohon Bunga Kantil disini telah berusia ratusan tahun entah berapa tepatnya. Pohon yang besar dan tinggi. Dan kata beberapa orang yang tinggal didalam area tersebut, ketika bunga-bunga ini mekar akan menghasilkan bau harum yang sangat khas. Sayangnya waktu kesana sedang tidak berbunga banyak dan pohonnya pun sangat tinggi jadi tidak berani untuk naik ke pohon dan mengambilnya. Namun saya tidak kecewa karena didepan Kantor Bupati terdapat pohon baru yang masih kecil namun sudah berbunga. Meskipun katanya bau harumnya berbeda dengan yang telah berusia ratusan tahun namun saya sedikit puas dapat menghirup keharuman bunga favorit R.A. Kartini.

Di halaman belakang itu pula terdapat sebuah tembok. Tembok yang membatasi antara kalangan bangsawan di Kabupaten dengan rakyat biasa. Tembok yang sangat kokoh dan tinggi. Sangat tidak mungkin untuk dinaiki apalagi jika yang menaikinya adalah seorang wanita. Namun di tengah-tengah tembok yang kokoh tersebut terdapat pintu besar. Konon dari pintu itulah R.A. Kartini menyapa rakyat. Pintu itulah yang menjadi saksi keramahan dan kepedulian R.A. Kartini kepada rakyat sekitar. Namun nampaknya sekarang pintu itu sudah tertutup rapat. Entah sudah berapa lama pintu itu tertutup. Mungkin juga karena alasan keamanan yang membuat pintu itu akhirnya ditutup mungkin untuk selamanya.

Meskipun dari balik dinding yang tinggi, aturan adat yang sangat ketat, R.A. Kartini tetap saja memikirkan nasib rakyatnya. Tetap memperjuangkan hak-hak kaumnya agar selalu mendapatkan keadilan dan terus membuka wawasan bagi dirinya sendiri agar tetap dapat berhubungan dengan dunia luar dengan caranya sendiri.

  • view 262