Ucapan dan perilaku kita, sudah baikkah? (Masih tentang 04 November 2016)

shella syakhfiani
Karya shella syakhfiani Kategori Lainnya
dipublikasikan 06 November 2016
Ucapan dan perilaku kita, sudah baikkah? (Masih tentang 04 November 2016)

Setiap manusia memiliki hak untuk memilih dan menetapkan jalan hidupnya. Begitu juga hak dalam bersikap, mengambil keputusan maupun memaknai segala sesuatu yang ada, sudah pasti kita sebagai manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Sebagai contoh ketika memaknai dan menyikapi Jihad di jalan Allah, apakah kita sebagai umat muslim memiliki makna dan sikap yang sama ? tentu saja tidak.

Mungkin kita bisa melihat kembali kejadian pada tanggal 04 November 2016 kemarin. Sebagian besar saudara kita memaknai Jihad dengan cara turun ke jalan, dengan maksud mengutarakan keinginan dan tujuan mereka secara langsung di depan pemerintah. Namun sebagian besar yang lainnya, memaknai Jihad dengan tidak turun ke jalan, mendoakan dari jauh, membaca dzikir dan mungkin ada juga yang menanggapi dengan biasa saja (tetap bekerja dan beraktifitas seperti biasa. Karena menurut mereka bekerja menafkahi keluarga juga termasuk jihad).

Semua pilihan yang mereka ambil itu tidak ada yang salah. Tidak perlu mereka yang turun ke jalan kemudian menghujat dan berfikir, bahwasannya mereka (saudara muslim yang tidak ikut turun ke jalan) termasuk dalam golongan orang-orang kafir, menutupi yang salah, turut menistakan agama karena tidak berbuat apa-apa, dan bahkan ada yang berfikir bahwa mereka sudah tidak pantas lagi di sebut saudara se-iman dan se-Islam.

Begitu pun dengan mereka yang tidak turun ke jalan, tidak perlu menghujat dan berfikir, bahwasannya mereka (saudara muslim yang turun kejalan) adalah golongan orang-orang yang berlebihan, para provokator, perusak keharmonisan bangsa, tidak toleran, dan bahkan ada yang beranggapan bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang sia-sisa.

Kita telah salah menilai saudaraku…

Apakah kita tahu isi hati dan maksud dalam diri seseorang?

Apakah kita harus memaksa kehendak seseorang untuk mengikuti apa yang kita lakukan?

Apakah sudah tidak ada lagi kata-kata baik yang pantas untuk kita ucapakan?

Apakah dengan menghujat dan berfikir negatif tentang saudara kita, tentang orang lain, membuat kita merasa yang terbaik di mata Allah?

Apakah kita sadar kita telah memecah belah persaudaraan kita sendiri dan sekaligus memecah belah bangsa ini, melalui sikap dan ucapan kita?

Apakah kita lupa bahwa “hanya” Allah Juri yang Maha Adil, “hanya” Allah yang berhak menilai bagaimana diri kita dan saudara kita?

Apa yang telah kita lakukan dan jalan mana yang telah kita pilih, belum tentu Allah Ridho dengan pilihan kita. Bisa jadi saudara-saudara kita yang turun jalan kemarin adalah saudara-saudara muslim yang di ridhoi Allah.

Atau mungkin Allah juga meridhoi  sikap saudara-saudara kita yang memilih untuk tidak turun ke jalan, berdo’a dalam diam dan berdzikir semampu mereka.

Bisa jadi juga, Allah malah mengasihi orang-orang yang telah kita hujat, kita sebut-sebut sebagai kafir, iblis, antek yahudi, dan menistakan agama.

Dan mungkin juga, Allah lebih mengasihi Bapak Presiden beserta pemerintahannya (yang kini juga ikut terhujat), yang kita sebut-sebut sebagai pemimpin yang tidak becus, menelantarkan rakyatnya, hanya pencitraan, dan bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai pengecut.

Atau mungkin juga… Allah meridhoi segala sikap yang kita ambil, apapun itu.... Yang pasti Hanya Allah yang tahu akan diberikan kepada siapa ke-Ridho-an Nya.

Kita tidak tahu saudaraku… siapakah diantara kita yang paling tulus niatnya, ikhlas hatinya, tanpa ada sentuhan dari pihak manapun.

Seperti dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Dalam Hadits lain, Rsulullah SAW juga bersabda : “Dari Abu Umamah Al-Bahiliy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku menjamin rumah di surga yang paling bawah kepada siapa saja yang meninggalkan perdebatan walaupun ia berada pada pihak yang benar”. (H.R. Abu Dawud)

Selain dua Hadits tersebut, Rasulullah juga menegaskan dalam Hadits lain, yang berbunyi : "Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Jauhilah olehmu berprasangka. Sebab berprasangka adalah sejelek-jelek pembicaraan. Janganlah kamu saling mencari kejelekan orang lain, janganlah saling bermegah-megahan, dan janganlah saling dengki mendengki. Janganlah saling mengumbar emosi, dan janganlah saling menjauhi. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersatu dan bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Satu hal yang pasti, Allah akan mendengar dan melindungi kaumnya yang amanah dan menjaga segala sesuatu yang telah Allah berikan. Menjaga lisan, mata, telinga, langkah kaki, hati, dan tindak tanduk diri kita, untuk senantiasa tidak menyakiti orang lain (terutama saudara sesama muslim). Karena segala yang melekat di tubuh kita ini, bukanlah milik kita, semua ini milik Allah Sang Pencipta. Bukankah kita tak memiliki apapun di bumi ini ? bahkan Iman pun, Allah yang memberi.

Kewajiban kita hanyalah menjaga dan menghormati segala apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Karena hidup ini tidak hanya tentang hablumminallah (hubungan kita terhadap Allah Tuhan yang Maha Esa) tetapi juga tentang hablumminannas (hubungan kita terhadap manusia) dan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Terlepas dari itu semua, jika ada sekelompok orang yang memiliki kepentingan di balik sejarah 04 November 2016 kemarin, entah itu kepentingan politik, hukum, agama atau kepentingan yang lainnya, kita sebagai saudara se-bangsa dan se-muslim alangkah baiknya untuk tidak mudah terprovokasi, tersulut emosi kemudian saling menyalahkan satu sama lain (seperti halnya menyalahkan dan menyudutkan pemerintah, hukum, bahkan saudara kita sendiri). Sudah sharusnya kita berbaik sangka, mengesampingkan ego, karena terkadang ada alasan-alasan yang tidak kita ketahui, bisa jadi apa yang mereka lakukan dibalik itu semua adalah sesuatu yang terbaik untuk negri ini.

Melihat kembali kebenaran dari segala sesuatu yang kita dengar, lihat, dan rasakan adalah suatu keharusan, agar tidak mudah terprovokasi dengan segala hal yang bisa memecah belah persaudaraan dan negri ini.

Semoga Allah senantiasa melindungi dan meridhoi segala niat baik kita, dan semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa menjaga fikiran, lisan dan tingkah laku. Amiin ya Rabbal’alamin…

NB :

  • Saya terketuk untuk menulis ini, karena hingga saat ini masih banyak diantara kita yang saling menghujat satu sama lain, bahkan dengan saudaranya sesama muslim (semoga semua ini segera meredam).
  • Sedih rasanya, jika negara yang kita tinggali (negara yang di sanjung oleh dunia karena terdapat berbagai suku, ras, agama, dan budaya, yang bisa hidup rukun, damai berdampingan), kini harus terpecah belah karena ucapan dan sikap kita sendiri.
  • Mohon maaf jika ada yang merasa tersakiti karena tulisan saya, kritik dan saran akan sangat saya terima, terimakasih. #salamdamai

 

Shella Syakhfiani, 06 November 2016

  • view 606