Berdiamlah, nikmati, dan cukup memperbaiki diri.

Shella Ayudya
Karya Shella Ayudya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 September 2016
Berdiamlah, nikmati, dan cukup memperbaiki diri.

I’am just a nothing.
Aku memang bukan siapa-siapa, tapi kali ini aku ingin menumpahkan tulisan dalam ruang layar putih bernama catatan yang entah layak atau tidak ianya disebut bermakna. Tapi setidaknya suatu saat jika aku melupa, tulisan ini bisa mengingatkan :)
 
Jika kau pernah berjaya disuatu masa, kau akan mengulang kejayaan itu pada masa sekarang atau yang akan datang.
Mungkin saat ini kau sedang berada di atas, tapi siapa tau suatu saat giliran orang lain.
Mungkin saat ini orang lain sedang berada di bawah, tapi siapa tau suatu saat justru giliranmu.
 
Tak perlu lah banyak komentar jika tak diminta, tak perlu menjawab jika tak ditanya.
Sebab, orang pandai tau apa yang semestinya ia perbuat.
 
Kau tau? Segala yang kau miliki sekarang mungkin terlihat wah, mungkin saja kau yang tak sadar jika dulu kau pun pernah tak memiliki apa-apa dan hanya bisa pasrah.
 
***
 
Tak perlu menghakimi mereka yang mungkin tak terlihat awam. Cukup nasehati secara diam-diam, tak perlu tunjukkan seberapa benarnya dirimu pada khalayak ramai.
 
Kau bilang menikah berbeda agama itu dosa, siapa yang tau jika sebelum halal pun kau sudah hamil diluar nikah.
Kau bilang tak berhijab itu dosa karena menebar aurat, siapa yang tau mungkin kau yang sudah berhijab pun masih menebar maksiat.
Apa yang tak baik, cukup ingatkan agar berubah menjadi baik,
Apa yang tak biasa, cukup ingatkan agar menjadi sederhana dan sesuai syariat agama.
 
Berkacalah, sebelum menjadi seperti sekarang kau pun pernah berada di posisi mereka dan masing-masing memiliki dosa.
Tak perlu menghakimi, sebab syurga dan neraka urusan pribadi.
Syurga adalah hak setiap umat, sementara menuju ke jalan-NYA adalah kewajiban semua umat. Bukankah Tuhan hanya menganjurkan kita untuk berbuat kebaikan dan mengingatkan? Bukan menyudutkan agar diri sendirilah yang terlihat memiliki kesempurnaan.
 
***
 
Aku menarik diri dari berbagai kemajuan technology bernama sosial media, meski tak sepenuhnya. Aku masih memainkan jemari mengililingi beranda, masih membolak-balikkan layar ponsel untuk mengganti display picture BBM, masih berimajinasi dalam beberapa tulisan, masih sliweran menebar komentar, masih membaca pesan whatsapp dalam group persahabatan.
Tapi sudah tak sesering dulu, jika pada masa itu aku pernah menjadi manusia yang paling update, menjadi sosok yang tulisannya banyak dibagi dan dikagumi. Tapi sekarang? Masaku bukan lagi di sana, waktuku bukan lagi untuk menekuni maya.
Aku yakin, kedewasaan bukan diukur dari seberapa panjang status yang dia tebar. Kecantikan seseorang bukan diukur dari seberapa banyak dia membagikan fotonya.
Tapi keduanya ada pada dimana dia bisa bersikap dan memposisikan diri agar tak berkata menyakiti.
 
Aku mungkin tak lagi sering menampakkan ketikanku pada kolom komentar sahabat ataupun orang yang aku kenal. Tapi taukah kalian, dari setiap status dan panjangnya komentar. Dari situlah aku cukup memperoleh kabar. Sahabat tak diukur dari berapa banyak kalimat yang beradu, tapi mereka yang cukup mengingat sepanjang waktu. Sahabat tak diukur dari berapa banyak pesan yang terkirim, tapi dari setiap doa yang teriring.
 
Aku menarik diri, bukan tak tau diri. Menarik dari sesuatu yang menurutku tak terlalu penting. Aku cukup menjadi pemerhati agar tau bagaimana caranya menempatkan diri.
 
***
 
Bersikaplah seadanya dan sewajarnya, tak perlu berlebihan, tak perlu membanggakan, tak perlu menghambakan sesuatu yang belum pasti. Agar jika ia pergi ataupun tak termiliki, kau tak berubah membencinya setengah mati. Agar jika ia mengecewakan, kau tak mengumpatnya secara perlahan.
Kita tak pernah tau, mungkin saja sekarang yang kau cinta suatu saat bisa berubah menjadi seseorang yang beri kecewa. Jadi tak perlu berlebihan memuja.
Kita tak pernah tau, mungkin saja dari sekian banyak tawa yang kau perlihatkan, ada beberapa dari mereka yang sedang menyembunyikan kepiluan.
Atau kita pun tak pernah tau, mungkin saja dari sekian banyak kemewahan yang kau banggakan, ada sebagian dari mereka yang sangat bersyukur meski dengan kesederhanaan.
 
Kau tak perlu menjadi munafik hanya untuk terlihat baik.
Berbuat kebaikan tak perlu diumbar. Mengetahui aib seseorang tak perlu menebar. Cukup diam, nikmati dan perbaiki diri.

  • view 375