Selamat Datang

Shelin Dyah
Karya Shelin Dyah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2017
Selamat Datang

Hai, Selamat datang…

Aku senang kau berkunjung kemari, sudah lama tempat ini hanya menjadi milikku sendiri. Maaf harus membuatmu menunggu lama, hanya untuk menunggu izinku agar kau dapat sekedar datang dan bertamu kesini. Aku juga minta maaf karena tempat ini begitu berantakan, entah mengapa aku tak pernah bisa merapikannya.

Aku ingat kau punya banyak pertanyaan yang selalu kau ajukan padaku. Misalnya “Mengapa aku tak boleh datang?” , “Apa rumahmu jauh?, atau mungkin kau malu dengan keadaan rumahmu?”, “Apa yang membuatmu sulit mempercayai orang lain?”, atau satu pertanyaan yang membuat aku mempertimbangkan mu datang kemari “Apa aku layak menjadi orang yang kau percayai?”. Aku tak pernah dapat menuntaskan segala jawaban dari pertanyaanmu, tapi kau selalu bersedia menungguku untuk perlahan memberitahu kepadamu.

Oh iya, Silahkan duduk…

Kita akan bercerita dahulu di teras ini. Untuk aku yang sulit mempercayai orang lain, mempersilahkan orang lain bertamu dirumahku merupakan hal yang sangat berat bagiku. Dengan mengizinkan seorang bertamu di tempatmu maka itu berarti memberikan orang lain kesempatan untuk mengenalmu, lalu menjadi teman bertukar pikiran denganmu dan akhirnya mempercayainya.

Mungkin saat kau mendengar ini kau mungkin akan beranggapan bahwa aku ini menganggap semua orang tak bisa dipercaya. Tapi sebenarnya bukan begitu. Kekurangannya ada pada diriku, aku tidak bisa melihat mana orang yang bisa dipercaya dan mana yang dapat berkhianat. Sungguh aku masih yakin bahwa masih banyak orang yang dapat dipercaya diluar sana, hanya saja aku tidak tahu seperti apa tanda-tanda pasti mereka. Dulu aku pernah mempercayai seseorang dengan mudah, namun yang kudapat malah luka.

Jika kau bosan duduk disini kau bisa melihat-lihat taman bungaku yang berada di ujung sana. Seingatku disana sangat indah. Ya … itu seingatku, tapi entah bagaimana keadaannya sekarang aku sudah lama tak mengunjunginya. Terakir kali aku kesana sesaat sebelum dahulu ada yang datang kesini. Mungkin aku juga perlu kesana agar aku dapat kembali menemukan diriku yang dulu disana.

Sebagaimana yang telah sedikit aku ceritakan tadi, dulu tempat ini ditinggali oleh orang lain selain diriku. Ia datang dengan cara yang sama denganmu, namun saat itu tempat ini masih rapi dan kosong. Seringkali aku merasa sepi dengan kekosongan tempat ku ini, sehingga saat ia datang aku sangat senang dan langsung mempersilahkan ia masuk. 

Dia baik sekali. Dia mewarnai setiap sudut tempat ini, memberikan dekorasi di sana sini, menambahkan bunga-bunga indah dan lain sebagainya. Ia telah banyak merubah tempat ini, walaupun secara tak sadar aku pun jadi selalu ikut keinginannya. Masa-masa yang indah. Melihat tempat ini sangat berubah jadi penuh warna dan  meriah. Tapi, tahukah kau? Untuk merubah tempat ini aku harus merelakannya dipaku atau dilubangi disana sini. Katanya dia ingin memberikan hiasan terbaik. Tak mengapa, dia bilang ini baik jadi ku ikuti saja.

Banyak waktu terlawati. Dia sudah cukup lama tinggal disini. Tapi semakin lama, ia semakin banyak menancapkan paku di dinding ini –tapi ku biarkan saja. Makin lama lagi dia mulai mengganti bunga-bunga indah yang ia beri dengan kaktus yang berduri, aku mulai meragukannya –tapi mungkin ia punya maksud baik. Makin lama lagi ia merusak hiasan yang ia rangkai sendiri, katanya ini sudah tak cocok lagi ditempat ini. Aku makin meragukannya. Lalu setelah beberapa lama, ia tiba-tiba pergi dari tempat ini. Katanya ia tak betah lagi tinggal di tempat ini. 

Ya… Dia sungguh pergi. Kembali membuatku jadi sendiri lagi di tempat ini. Tunggu dulu… Bukan hanya itu. Ia meninggalkan aku sendiri  disini setelah ia merubah keselurahan tempat ini. Tapi bukannya ia meninggalkan tempat ini dalam keadaan terbaiknya, malah dia meninggalkan tempat ini setelah ia merusak keseluruhannya. Ia meninggalkan paku-paku yang menancap begitu dalam di setiap sisi dindingku. Ia membiarkan kaktus yang ia beri itu tumbuh tak terpelihara. Belum lagi sampah-sampah yang berserakan di seluruh penjuru tempat ini, juga masih diperburuk dengan warna dinding yang dulu ceria kini telah jadi kelabu. Ya, aku baru sadar. Ia pergi setelah merusak tempat ini.

Setelah dia pergi , aku bukan hanya merasa sepi –tapi juga depresi. Tempatku kini tak lagi sama seperti dulu, sudah sangat berubah. Aku bingung. Aku bingung berkepanjangan. Aku sakit. Sakit karena kepercayaanku padanya sudah ia hancurkan begitu saja. Lama aku terpuruk, membiarkan kerusakan tempat ini menemani hari kelabuku. Kau tahu bagaimana rasanya?, atau mengertikah akan apa yang kurasa saat itu?.

Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa terus terpuruk. Lalu aku bangun dari tempatku meringkuk menghindari kenyataan, aku harus mulai mengembalikan tempat ini. Aku mulai memotong cabang-cabang kaktus yang tumbuh tak beraturan, walau durinya melukai kaki dan tanganku. Aku kerahkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk mencabut paku-paku yang tertanam di dinding yang selama ini kesakitan. Aku harus berpeluh dan kehausan untuk mengeluarkan sampah-sampah yang selama ini ku biarkan. Dengan peluh dan air mata aku berjuang sendirian.

Tapi tidak… Tempat ini tak kembali seperti semula. Duri-duri kaktus yang tersebar di lantai membuatku selalu berhati-hati kala berjalan. Dinding ku yang dahulu mulus kini penuh lubang bekas tancapan paku. Hiasannya meninggalkan kerak yang akan selalu jadi noda yang tak pernah tuntas dibersihkan. Semuanya mungkin membuatku menjadi orang yang berbeda dari aku yang dahulu. Aku selalu perlu menyesuaikan diri.

Tapi aku tetap berjuang. Walau bagaimana pun aku tak bisa selamanya hidup di tempat yang rusak. Aku terus mencoba memperbaikinya. Ku tutup dinding yang berlubang dengan kertas-kertas yang tebal. Ku punguti satu demi satu duri yang tersebar agar aku dapat kembali bebas berjalan. Ku gosok berulang-ulang noda kerak yang menempel disana sini agar hilang tak berbekas. Namun ternyata hasilnya memang tak pernah dapat menyamai tempat ini yang dahulu.

Tak apalah jika aku tak bisa mengembalikan tempat ini, setidaknya ini adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku sadar, suatu saat mungkin ada lubang yang terlihat atau sisa duri yang terinjak tak sengaja. Karena itu aku ingin menghindari semua kemungkinan buruk. Ku tutup dinding dengan lemari besar atau rak buku, aku menggelarkan permadani di lantaiku. Kini aku hanya perlu merapikan sedikit. Berbenah barang dan membersihkan debu dikiri kanan.

Kini setelah sekian lama, aku akan kembali membuka pintu untuk orang lain selain diriku. Aku sudah menceritakan kepadamu tentang orang yang dulu pernah datang dan segala yang ia perbuat di tempatku. Maka aku memohon kepadamu jangan kau ulang kembali apa kesalahan yang orang itu lakukan dahulu. Sungguh aku tak meminta banyak padamu. Bertahanlah dan jangan kau ulangi kesalahannya. Aku harap kau bisa sedikit membantuku merapikannya jika kelak kembali berantakan.

Ayo…! Silahkan masuk…

Sekali lagi selamat datang di tempatku.

Maaf, maksudku SELAMAT DATANG DI HATIKU…

  • view 56