Aisyah: Pembelajar Sejati

Sheila El Fira Raszad
Karya Sheila El Fira Raszad Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Maret 2018
Aisyah: Pembelajar Sejati

Diantara istri-istri Rasulullah saw., Aisyah adalah istri yang paling dicintainya. Ummul Mukminin ini memang berbeda dari istri-istri Rasulullah saw. yang lain. Selain cantik, ia adalah seorang Muslimah yang cerdas.

Aisyah begitu istimewa, sejak belia ia memperoleh kehormatan menjadi istri sekaligus sahabat Rasulullah. Ia tumbuh besar dan banyak memperoleh pembelajaran dalam asuhan suaminya, sehingga dengan mudah ia menyerap segala hal yang diajarkan oleh Rasulullah.

Kedudukan Aisyah bisa jadi sama dengan istri Rasulullah lainnya. Namun kedalaman ilmunyalah yang menjadikannya tak tertandingi. Tak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan ketangkasan Aisyah, baik wanita maupun pria pada zamannya. Hanya beberapa sahabat yang memiliki ilmu sedalam Aisyah.

Belajar dari Rasulullah

Sebenarnya, tak ada waktu khusus untuk belajar bagi Aisyah, sebab sang guru selalu bersamanya. Setiap saat, ia bisa menanyakan berbagai hal kepada sumbernya secara langsung. Selain itu, setiap hari Rasulullah mengadakan majelis ilmu di Masjid Nabawi, sedangkan bilik Aisyah menempel dengan masjid tersebut sehingga ia dapat mengikuti apa yang disampaikan Rasulullah di dalam Masjid Nabawi.

Aisyah adalah seorang pembelajar yang kritis. Rasa keingintahuannya sangatlah besar sehingga ia tidak pernah merasa puas jika pertanyaannya belum terjawab. Ia selalu mencari tahu apapun yang belum ia mengerti. Karena itulah ia memiliki pengetahuan yang luas tentang kandungan Al-Qur'an dan Sunnah.

llmu Aisyah Tentang Al-Qur'an

Sejak kecil, Aisyah tidak asing dengan Al-Qur'an. Rasulullah sering mengunjungi rumah sahabatnya, Abu Bakar, sehingga Aisyah selalu menyempatkan belajar Al-Qur'an baik dari ayahnya maupun Rasulullah sendiri. Kemudian ia menghafal semua ayat yang didengarnya lalu diresapi dan disimpan dalam ingatannya. 

Jika dibacakan sebuah ayat oleh Rasulullah, Aisyah akan meminta penafsirannya. Jika belum jelas, ia akan terus bertanya hingga ia mengerti. Itulah yang mebuatnya begitu memahami Al-Qur'an. Dan setiap akan memutuskan suatu perkara, Aisyah selalu mengkaji dan merujuk pada Al-Qur'an.

Sang Perawi Hadits

Ada sekitar 2210 hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Ia menempati urutan keempat para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar dan Anas bin Malik yang kebanyakan meriwayatkan tentang kepemimpinan, pemerintahan, dan sosial yang mereka dapat saat mengiringi Rasulullah dalam perjalanan jauh. Berbeda dengan Aisyah, ia sangat jarang keluar rumah. Satu-satunya pengajaran yang didapat adalah bertatap muka langsung dengan Rasulullah, sehingga dalam meriwayatkan hadits ia sungguh luar biasa.

Ciri khas yang dimiliki Ummul Mukminin ini adalah dalam menjelaskan suatu hukum,  ia tidak hanya menjelaskan hukum syar'inya saja, melainkan juga menerangkan latar belakang yang mendasari hukum tersebut,  serta menguraikan hikmah dan nilai pentingnya. Tujuannya agar si penanya benar-benar memahami apa yang disampaikannya.

Selain itu, jika ia mendengar suatu hal peristiwa yang tidak dilihatnya sendiri, maka ia akan mengecek sumbernya terlebih dahulu kemudian menyelidikinya dengan hati-hati. Setelah yakin, baru ia sampaikan. Jika kesulitan memahami suatu masalah, Aisyah akan menanyakan ke Rasulullah saw, sang guru besarnya.

Jika ada seseorang yang meminta Aisyah suatu hadits yang diriwayatkan orang lain, ia tidak segera meriwayatkan hadits yang diminta, melainkan Aisyah akan menyuruhnya untuk merujuk kepada orang yang telah meriwayatkan hadits tersebut agar ia mendapatkan hadits secara langsung dari sumbernya. Hal itu Aisyah lakukan agar menghindari kesalahan dan bersikap toleran terhadap hadits yang disampaikan sahabat lain, meski ia juga kerap mengoreksi kesalahan-kesalahan riwayat sahabat yang sampai ditelinganya.

Aisyah benar-benar seorang perawi hadits yang hebat. Daya ingatnya luar biasa. Ia mampu menghafal semua peristiwa pada zaman Rasulullah, mengingatnya dan menyerapnya secara akurat, lalu meriwayatkan kembali seperti aslinya. Sungguh anugerah yang luar biasa bagi Aisyah radhiyallahu 'anha.

Ilmu Aisyah Tentang Fikih

Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dalil, sedangkan fikih adalah sebutan dari hasil kesimpulan yang disarikan dari dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam menerapkan hukum fikih, Aisyah selalu merujuk pada Al-Qur'an. Setelah itu ia juga merujuk pada Sunnah Rasulullah. Jika menemui jalan buntu, ia akan melakukan qiyas dan menyesuaikan satu masalah dengan masalah lainnya.

Ummul Mukminin Aisyah adalah seorang ahli fikih yang handal dalam memutuskan suatu perkara. Oleh karena itu, tingkat kesalahan dalam qiyas yang dilakukan Aisyah sangat sedikit.

Ketauhidan Aisyah

Rasulullah telah memberikan cahaya atas gelapnya kehidupan untuk kita bahwa jika seseorang mengalami keraguan dan kebutuan tentang suatu masalah, hendaknya ia kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah. Sebab dengan keduanya orang mukmin tidak akan tersesat.

Begitupun Aisyah, saat orang-orang datang menanyakan keraguan mereka terhadap pemahaman islam, ia akan merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Salah satu contohnya adalah sebagian orang mengira bahwa pengetahuan tentang perkara gaib merupakan sifat-sifat Rasulullah. Namun Aisyah membantah bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui perkara gaib, bahkan Rasulullah sekalipun. Hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui.

Ia berkata, "Barangsiapa yang meriwayatkan kepadamu bahwa Nabi saw. mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka ia telah berbohong". Kemudian Aisyah merujuk pada firman Allah, "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok". (QS. Luqman [31]: 34)

Ilmu Aisyah tentang Kedokteran

Aisyah adalah seorang yang hebat dan mahir disegala bidang. Pengetahuannya yang luas dalam bidang sejarah, mahir membuat syair, dan pandai memahami sastra. Selain itu, ia juga mahir dalam bidang pengobatan.

Dahulu, bidang kedokteran tidak mendapatkan perhatian serius oleh kalangan masyarakat Arab. Aisyah sendiri belajar ilmu kedokteran dari para tabib yang merawat Rasulullah ketika menjelang wafat. Dari merekalah Aisyah secara langsung melihat pengobatan yang diberikan untuk Rasulullah. Karena ialah yang mendapat kehormatan merawat Rasulullah di dalam biliknya saat beliau sakit.

Aisyah Bersyair

Aisyah mewarisi kemahiran bersyair dari ayahnya karena Abu Bakar Ash-Shidiq termasuk dalam kelompok masyarakat yang menguasai syair.

"Syair itu ada yang baik dan ada ynag buruk. Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Aku sendiri telah meriwayatkan syair-syair Ka'ab bin Malik", kata Aisyah.

Aisyah juga memuji Rasulullah dengan dua bait syair, ketika Aisyah melihat dan tercengang akibat perubahan wajah Rasulullah yang tengah memperbaiki sandal disampingnya, tiba-tiba air muka beliau bercahaya.

"Ia terbebas dari noda kotoran
dari kerusakan dan penyakit yang mematikan

Bila kulihat rona wajahnya
berseri bak cahaya awan yang kilauan".

Usai membacakan syair tersebut, Aisyah berkata, "Andai saja Abu Kabir Al-Hadzali melihat Engkau, niscaya ia akan tahu bahwa Engkaulah yang paling berhak mendapatkan pujian syairnya".

Mendengar kata-kata Aisyah, Rasulullah lalu bangkit dan mencium kening Aisyah seraya berkata, "Semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepadamu, wahai Aisyah, atas kebahagiaanmu dariku, dan kebahagiaanku darimu".


---------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------

Sumber Referensi: 
* Wahyuti, Sri. 2015. Follow Aisyah Open Your Heart. Yogyakarta: Citra Risalah.

  • view 149