Menyisir Kesatria Pesisir

siti hardianti darma pertiwi
Karya siti hardianti darma pertiwi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 18 November 2016
Menyisir Kesatria Pesisir

Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain.

Maka berterima kasihlah kepada guru, dosen dan para senior yang mendidikmu,

 yang mengubah arah gerak langkahmu mulai dari mengubah jalan pikiranmu.

(Aiman Yusuf)

 

Dalam ruang kotak remang-remang ditemani nyanyian rintik air dan raungan rintihan anjing, aku masih setia menatap layar datar berwarna ini. Menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi ketika perasaan dilema menghampiri. Antara menyelesaikan tugas akhir atau tetap di kampus bergerak sebagai seorang aktivis. Ku menoleh ke layar yang lebih kecil, “gadget” begitulah orang sekarang menamainya. Sekilas ku membaca tulisan  yang dikirim oleh teman ku via line “Pengumuman Peserta Ekspedisi Nusantara Jaya 2016”. Ku menemukan namaku dalam tabel yang berjudul tulisan itu. Dalam hati ada rasa senang bercampur gelisah. Yah, gelisah karena beberapa hari aktifitas mahasiswa tingkat akhir ini akan ku tinggalkan yang dapat merusak rencanaku untuk mencapai target yang telah ku tentukan.

Tiga tahun bergelut di lembaga internal kampus bukanlah waktu yang sebentar. Aku baru tersadar bahwa hanya tersisa satu tahun lagi masa mahasiswa ini ku lepas. Setahun bukanlah waktu yang lama bagiku untuk keluar melebarkan sayap selain di lembaga internal kampus. Hingga akhirnya saat itu ku pilih untuk mengikuti kegiatan sosial tersebut. Memanfaatkan waktu setahun untuk kegiatan-kegiatan sosial. Untuk lebih mengenal alam, lebih mengenal orang lain, dan memberi waktu lebih lama untuk mengenal diriku sendiri.

Bertemu dengan orang-orang baru, memasuki lingkungan baru, melakukan perjalanan jauh yang cukup lama bersama mereka memberikan tantangan tersendiri bagiku. Kebanyakan orang cenderung takut untuk memasuki lingkungan baru jika tidak memiliki teman yang bergabung dalam lingkungan tersebut. Lain halnya denganku. Aku lebih suka bergabung dengan orang baru yang belum saya kenal sebelumnya. Pernah sekali ku mengalami hal ini dan pada akhinya aku dan teman baruku layaknya saudara hingga sekarang.

Perjalanan ku mulai dengan mulai meminggirkan tumpukan beban pikiran tentang tanggungjawabku sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir. Saat itu ku berbisik dalam hati, “Sekali-kali kau harus memberikan waktu untuk dirimu sendiri, menikmati waktumu, bersenggama, merasakan apa yang orang lain rasakan.” Hingga tibalah kami pada suatu pulau tempat kami mengabdi. Pengalaman kuliah kerja nyataku kini terulang kembali, mengabdi di pulau-pulau terpencil.

Rombongan pemuda-pemudi yang baru saja tiba menjadi pusat perhatian masyarakat pulau ini. Selamat datang di pulau tanpa listrik, pulau tanpa jaringan, namun pulau ini memiliki anak-anak yang selalu tersenyum meskipun keterbatasan mengelili mereka. Mereka menyambut kami dengan senyum ceria. Senyum yang bermakna penuh harapan kepada kami.

Selama di pulau ini kami tinggal di “Pustu”, begitu masyarakat sini menyebutnya. Pustu adalah singkatan dari puskesmas pembantu. Tempat ini dihuni oleh seorang bidan, Hj. Anti yang mengabdikan diri sebagai “dokter” pulau ini. Selama disana, saya diberikan kesempatan untuk menggali informasi tentang pulau ini. Saya dan teman-teman “tim pencari fakta” lainnya mulai mencatat siapa saja yang dapat kami jadikan informan untuk membantu menyelesaikan misi kami, yaitu membuat video profil pulau ini.

Selama melaksanakan misi, saya pribadi tertarik pada bidang kesehatan dan pendidikan di pulau ini. Tertarik untuk mengetahui sepak terjang perjuangan tokoh pendidikan dan kesehatan di pulau ini. Dibalik pulau yang serba terbatas ada pengorbanan besar untuk tetap menjadi manusia yang sebaik-baiknya manusia, yaitu berguna bagi orang lain. Hingga akhirnya saya berkesempatan untuk mewawancarai Hj. Anti sebagai tokoh kesehatan di pulau ini.

 Menjadi satu-satunya tokoh pelopor kesehatan di pulau ini bukanlah hal yang mudah. Selama proses wawancara berlangsung, ada banyak rasa kagum yang menggerogoti batinku. Perjuangan yang ibu Hj. Anti ceritakan sungguh berat. Sepuluh tahun lamanya dia mengabdikan diri di pulau ini. Berani meninggalkan keluarga demi menjaga kesehatan masyarakat pulau. Awal perjuangannya bukanlah hal yang mudah. Fasilitas yang serba terbatas tidak menyiutkan niat ibu Hj. Anti untuk tetap bertahan di pulau ini. Selama menajalankan tugasnya sebagai “dokter” pulau, baik untuk pengobatan maupun perawatan dia lakukan di salah satu rumah penduduk. Namun salah satu kendala yang dia hadapi yaitu rusaknya vaksin untuk balita. Bantuan vaksin yang dia terima dari pemerintah kabupaten sering kali rusak dikarenakan fasilitas pendingin untuk mengawetkan vaksin tidak memadai. Litrik yang tidak mengalir 24 jam juga menjadi pemicu rusaknya vaksin. 

Berada di daerah yang masyarakatnya kurang peduli tentang kesehatan diri dan kesehatan lingkungan, menjadi tantangan tersendiri untuk ibu Hj. Anti.   Penyakit malaria dan diare tak henti-hentinya menyerang masyarakat pulau ini. Hal ini diakibatkan karena konsumsi air bersih yang tidak memadai dan kebersihan lingkungan yang membuat nyamuk malaria berkembang biak. Berbagai upaya telah ia gerakkan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan, salah satunya yaitu program “Arisan Jamban”.

Tidak banyak masyarakat yang memiliki jamban di pulau ini. Selain karena pola pikir masyarakat yang masih rendah, kondisi ekonomi juga merupakan faktor utama yang menyebabkan masalah tersebut. Dahulu masyarakat masih mengandalkan pantai sebagai tempat buang hajat. Hal ini merupakan salah satu faktor pemicu masyarakat terjangkit penyakit malaria. Hingga akhirnya karena dua faktor diatas, ibu Hj. Anti berinisiatif untuk menggerakkan program tersebut. Sasaran program ini adalah ibu-ibu di pulau ini. Selain sebagai media penyuluhan / sosialisasi kepada ibu-ibu tentang pentingnya kesehatan lingkungan, program ini dapat membantu masyarakat dalam pengadaan jamban untuk setiap rumah tangga. Program ini menuai sukses besar hingga akhirnya setelah 5 tahun Hj. Anti mengabdi di pulau ini, rata-rata masyarakat telah memiliki jamban dan berhasil menurunkan angka penderita penyakit diare dan malaria di pulau ini.

Hingga saat ini fasilitas yang diberikan pemerintah untuk memajukan kesehatan masyarakat pulau cukup memadai. Pustu telah menjadi bangunan permanen yang sebelumnya merupakan bangunan semi permanen. Pembangunan pustu telah mencapai 90%. Kini, pustu juga dilengkapi dengan fasilitas pendingin vaksin yang dilengkapi dengan pembangkit listrik tenaga surya dengan aliran listrik 24 jam untuk lemari pendingin tersebut. Dengan adanya fasilitas yang memadai dapat pula berpengaruh positif pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kini masyarakat dapat bersalin, berobat dan di rawat di pustu. Kondisi lingkungan yang bersih adalah tanda bahwa masyarakat telah sadar akan pentingnya kesehatan. Secara tidak langsung hal ini adalah bentuk keberhasilan dari jerih payah Hj. Anti 10 tahun yang lalu.

Berprofesi sebagai seorang bidan juga harus siap siaga 24 jam. Suatu subuh saya dibangunkan oleh suara ketukan pintu ketika kami tidur di pustu. Terdengar dia memanggil nama ibu Hj. Anti. Aku bangun dan segera membuka pintu. Ku dapati sepasang orang tua yang meminta tolong untuk membangunkan Ibu bidan. Ternyata pada hari itu ada warga yang hendak bersalin. Dengan tergesa-gesa Ibu bidan menuju ke rumah warga tersebut. Menjadi seorang bidan merupakan suatu perngorbanan yang luar biasa. Rela menyampingkan kepentingan pribadi demi menjalankan misi sosial, demi kemanfaatan dirinya untuk orang lain.

Selain kesehatan, salah satu aspek penting yang berperan demi kemajuan bangsa adalah pendidikan. Dua hal ini adalah permasalahan utama yang dihadapi warga pulau. Saya teringat oleh perkataan ibu guru di sekolah pulau ini. Dengan berdiri di depan kelas, dia menyampaikan hal ini kepada muridnya, “kalau mau bercita-cita jadi guru dan bidan saja nak. Bolehji bercita-cita sebagai dokter tapi lebih baik jadi bidan, karena 2 orang ini yang sangat dibutuhkan di pulau”.

Di pulau ini jumlah siswa dan tenaga pengajar berbanding terbalik. Pulau ini terdiri dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Setiap kelas di SD dihuni oleh 30-35 siswa, sedangkan tenaga pengajar yang berada disekolah ini hanya 4 guru tetap yang dominan berasal dari luar pulau ini. Selama berada di pulau, kami di bagi perdivisi, salah satunya divisi pendidikan yang bertugas mengajar di SD dan SMP pulau ini. Awal kunjungan ku di sekolah ini aku disambut oleh suara kebisingan yang berasal dari dalam kelas. Penggaris kayu yang begitu panjang tak pernah lepas dari tangan ibu guru. Selain sebagai alat untuk menenangkan siswa ketika suara tak mampu lagi menegur, kadang alat ini dijadikan alat untuk memberikan hukuman kepada siswa yang tidak bisa ditegur. Saya jadi teringat masa-masa sewaktu SD dulu. Menjadi seorang guru SD, selain memiliki kemampuan mengajar juga harus memiliki suara yang nyaring jika kondisi sekolahnya seperti ini, seorang guru berhadapan dengan 30 orang murid.

Mendidik anak-anak bukanlah hal yang mudah. Selain karena pikiran mereka belum dewasa, guru SD juga harus pandai menguasai forum agar perhatian siswa tertuju padanya. Terkadang dalam mengajar aku melihat cara yang sedikit kasar. Namun  jika aku berada pada posisinya aku bahkan mungkin melakukan hal yang lebih parah dari itu.  Menjadi seorang guru SD tidaklah mudah. Guru SD juga salah seorang yang sangat berjasa dalam dunia pendidikan. Kesabarannya dalam mengajari kita menulis, membaca bahkan berbicara didepan kelas. Karena tanpa hal mendasar itu kita tidak akan dapat merasakan nikmatnya ilmu pengetahuan, nikmatnya menjadi seorang yang berilmu.  

Selain realitas pendidikan sekolah dasar pulau ini, ada realitas lain dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu sekolah menengah pertama (SMP). SMP terdiri dari 3 kelas dengan jumlah siswa setiap kelas sebanyak 10-15 orang dan tenaga pengajar yang berjumlah 3 orang guru kelas yang dominan juga berasal dari luar pulau ini. SMP di pulau ini baru menghasilkan 1 angkatan alumni karena SMP ini berdiri tahun 2013 berkat bantuan dana dari pemerintah Australia.

Dahulu sebelum SMP dibangun, tingkat kesadaran pendidikan masyarakat pulau masih rendah. Rata-rata anak-anak pulau ini hanya sampai pada tataran sekolah dasar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tokoh pendidikan di pulau ini, termasuk Bapak Faisal sebagai kepala SMP dan guru yang pernah mengajar di SD. Faktor ekonomi dan transportasi juga salah satu pemicu rendahnya tingkat pendidikan di pulau ini.

Dalam wawancaranya, Pak Faisal mengutarakan perjuangannya selama mengubah pola pikir masyarakat tentang pendidikan. Dari rumah ke rumah, Pak Faisal selalu berupaya berdiskusi dengan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Tentang kisah seorang yang sukses jika berpendidikan tinggi. Hasil pengamatan Pak Faisal menyimpulkan bahwa masyarakat pulau ini cenderung beranggapan bahwa lebih baik anak-anak membantu orang tua sebagai nelayan dari pada sekolah lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, saat ini jumlah siswa perempuan lebih banyak dari pada siswa laki-laki karena sebagian anak laki-laki mengikuti orang tuanya melaut. Tak sedikit siswa SMP yang dikeluarkan dari sekolah karena tingkat kehadirannya di sekolah rendah. Lagi-lagi ini disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat pulau ini. Siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMP harus menyeberang ke pulau sebelah agar dapat melajutkan sekolah ke tingkat SMA.

Hingga sekarang tokoh pendidikan di pulau ini masih terus berusaha memotivasi siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, kehadiran kami dapat menjadi motivasi besar bagi siswa-siswa di sekolah ini. Pada malam perpisahan hingga momen saat kami hendak menaiki kapal untuk pulang, kami tak henti-hentinya memberikan pesan kepada anak-anak pulau ini untuk tetap melanjutkan sekolahnya dan pulang membangun pulaunya sendiri. Pulang mengabdi dan menjadi tenaga medis serta tenaga pengajar untuk pulau ini. Hingga tak ada lagi orang yang seperti Ibu Hj. Anti dan Pak Faisal yang rela jauh dari keluarga, tinggal ditempat dimana listriknya tidak mengalir 24 jam, dan jaringan telepon belum ada, karena besarnya rasa kepedulian kepada masyarakat pulau ini.

Seorang pahlawan tak selamanya berarti pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan suatu negara. Guru, dokter, petani, nelayan, tukang becak, petugas kebersihan, orang tua bahkan dirimu sendiri dapat menjadi pahlawan jika kamu mau berkorban untuk orang lain karena sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain.

 

  • view 327