Terselip Surat Untuk -Nya

Shatya Silen
Karya Shatya Silen Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
Terselip Surat Untuk -Nya

Aku dan Zack adalah saudara kembar yang identik. Sangat susah bagi orang baru untuk membedakan kami. Zack adalah abangku, kami hanya berbeda 3 menit saja. Sedangkan ayah, dia sudah lama meninggalkan kami, bahkan sebelum kami lahirpun ayah sudah tiada. Kata ibu, ayah meninggal karena mobilnya yang menabrak pembatas jalan.

Hanya itu yang aku tau. Ibu selalu tak ingin banyak cerita bila itu tentang ayah. Jadi aku dan Zack sudah lama terbiasa hidup tanpa seorang ayah.

Saat kami kecil, kadang ibu juga salah memanggil nama kami. Karena seperti yang aku bilang tadi, agak susah membedakan kami untuk di awal. Tapi jika sudah mengenal kami, kalian pasti bisa langsung membedakannya.

Kadang aku sendiri bingung, apa yang menjadi perbedaan antara aku dan Zack. Kami sama – sama menyukai warna merah, kami sama – sama menyukai bulu tangkis, dan kami sama – sama menyukai nasi goreng.

Yaaa ! Nasi goreng pedas tanpa kecap dengan telor dadar buatan ibu, itulah yang paling juara untuk kami berdua.

Saat kami berusia 10 tahun, disuatu malam Zack tiba – tiba harus dilarikan kerumah sakit karena demamnya yang tak juga menurun. Ibu bilang dia terkena demam berdarah dan mengharuskan dia untuk dirawat dirumah sakit untuk beberapa saat sampai ia sembuh.

Saat itu aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku sangat khawatir terhadap abangku itu. Pikiranku sudah melayang jauh memikirkan hal – hal buruk yang menyangkut dengan Zack.

Aku ingin bermain – main lagi dengannya seperti sebelumnya. Kami bermain robot – robotan bersama. Kami bermain pistol air bersama. Tapi saat itu aku sedih melihat Zack terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit dengan selang yang masuk ke lubang hidungnya.

Tak lama dokter menghampiri ibuku, lalu ibuku membawaku masuk untuk melihat Zack lebih dekat.

Aku memandangi wajahnya yang pucat. “Bangun, Zack” ujarku dalam hati. Dan saat aku memanggil namanya dalam hati, entah mengapa ia seperti mendengar suaraku. Ia membuka matanya perlahan dan langsung melihat ke arahku, lalu ia mencoba tersenyum padaku. “Hai Zein” ujarnya padaku dengan suaranya yang kecil.

Jauh didalam lubuk hatiku, aku sangat gembira melihat abangku itu bisa tersenyum lagi.

“Kita sehidup semati kan ?” tanyanya. Lantas aku menganggukan kepalaku.

Saat itu kami berdua percaya, kami dilahirkan bersama, matipun kami akan bersama. Tak ada rasa ingin berpisah diantara kami.

Tapi ibu menangis dan memeluk erat kami berdua.

Keesokan harinya sebelum kerumah sakit, aku mencoba menyiapkan makanan kesukaan Zack. Nasi goreng tanpa kecap dengan telor dadar. Kata ibu Zack tak boleh makan yang pedas – pedas dulu. Walau aku tak sepandai ibu, tapi aku yakin Zack pasti suka. Tapi ibu hanya bisa tertawa melihatku yang sibuk sendiri.

Saat kami sampai dirumah sakit, terlihat wajahnya lebih cerah dari pada kemarin. Langsung aku menyodorinya nasi goreng buatanku. Tentu ia gembira dan sepertinya ia tak tahan ingin memakan nasi goreng itu. Lalu ibupun menyuapi kami berdua. Bagiku nasi gorengku tak kalah enak dengan buatan ibu.

            Sore harinya seperti suatu keajaiban bagiku, seketika kondisi Zack membaik. Dan dokter sudah mengijinkannya untuk pulang kerumah.

            “Nasi goreng ajaib” ujar ibu lalu tertawa padaku.

            Semenjak kejadian itu hingga sekarang, jika kami ingin ibu memasakkan nasi goreng, kami hanya bilang “nasi goreng ajaib” dan ibu akan memasakkannya untuk kami. Tentu saja lebih enak.

            Sekarang kami berumur 19 tahun. Aku adalah mahasiswa semester 3 di salah satu universitas di tengah kota Jakarta dan aku mengambil jurusan kedokteran. Aku sangat tertarik dengan dunia kedokteran. Aku suka mempelajari anatomi tubuh dan semua yang menyangkut dengan ilmu biologi.

Sedangkan Zack, ia mengambil jurusan IT. Memang semakin kita dewasa, semakin banyak terlihat perbedaan diantara kami. Apalagi semenjak aku mengidap penyakit kanker otak stadium 4. Tak lagi sulit bagi orang baru untuk membedakan kami. Wajar saja, kini badanku jauh lebih kurus dibandingkan dengan Zack. Dan kini kepalaku botak, aku tak bisa memiliki rambut panjang seperti Zack.

 Zack menjadi pria idaman dikampusnya. Banyak cewe – cewe yang mengejar – ngejar ingin menjadi pacarnya. Sangat kecewa terhadap Zack karena kini ia tak lagi menyukai bulu tangkis, kini ia lebih menyukai futsal dan juga kini warna kesukaannya hitam bukan lagi merah. Tapi untuk nasi goreng ajaib, syukurlah ia masih menyukainya.

Banyak perubahan pada Zack yang kadang tak aku sukai. Apalagi semenjak kehadiran Chintya dihidupnya, ia lebih jarang dirumah dan ia lebih jarang bermain bersama lagi denganku.

Hari ini tepat di jam 12 malam nanti, adalah hari ulang tahun aku dan Zack yang ke 20. Sepulang aku dari kampus, ibu sudah menyiapkan cake untukku dan Zack. Untuk masalah cake, ibu tak pernah membelinya. Ia cukup jago dalam hal membuat kue – kue ataupun cake.

Sore itu ibu terlihat sangat sibuk membuat cake di dapur. Walau saat itu aku sangat lelah, tapi aku harus membungkus kado untuk Zack. Karena seperti tahun – tahun sebelumnya, kami pasti bertukaran kado.

Seminggu yang lalu aku sengaja membeli racket untuk ku jadikan kado saat kami ulang tahun. Aku sengaja memilih racket, karena aku ingin Zack bermain bulu tangkis lagi seperti dulu, mengingat ia sangat berbakat bermain bulu tangkis.

Saat tepat jam 12 malam, aku dan ibu sudah menunggu di meja makan. Ibu sudah menyiapkan cake dengan lilin angka 20 diatasnya. Sedangkan aku sudah menyiapkan kado untuk Zack. Padahal aku sudah sangat mengantuk saat itu. Tapi ini adalah hari spesial bagi kami. Jadi aku ingin merayakan bersama – sama dengan Zack dan juga ibu.

Namun Zack tak juga pulang kerumah. Aku tau pasti dia sedang bersama Chintya, tapi kenapa ia melupakan adiknya.

Kata ibu wajar saja jika aku atau Zack telah mendapatkan wanita yang cocok, lambat laun pasti akan menghabiskan waktu bersama wanita itu dan meninggalkan ibu. Aku tau ibu juga kecewa terhadap Zack, tapi ibu tak ingin menunjukkannya padaku.

Padahal saat itu sudah pukul 2 pagi, tapi Zack belum juga pulang. Akhirnya ibu pamit tidur kepadaku, dan menyuruhku untuk tidur juga. Tapi aku belum mau tidur, aku masih ingin menunggu abangku pulang, agar kami bisa merayakan ulang tahun kami bersama.

Ibu mencium keningku. “Selamat ulang tahun, Zein” ujarnya lalu pergi ke kamarnya untuk tidur.

Aku yakin sebentar lagi Zack pasti pulang. Entah mengapa tiba – tiba saja mataku berkaca – kaca. Jujur aku sedih, tak seperti tahun lalu.

Kini sudah jam 4 pagi, tapi kenapa Zack tidak pulang juga. Aku mencoba menghidupkan lilin ulang tahun dengan korek yang sejak tadi aku pegang. Tapi tak sengaja aku meneteskan air mata, mungkin karena cahaya api yang menyilaukan pandanganku. Lalu aku pun meniup lilin itu hingga padam.

Tak terasa kini matahari telah terbit. Aku hanya lelah, tapi aku belum mengantuk. Aku masih bisa menunggu Zack. Tapi entah mengapa tiba – tiba saja hidungku terasa panas. Hingga tiba – tiba darah yang begitu kental bercucuran keluar dari dalamnya. Jujur aku kaget, sebentar lagi jam 8 pagi dan sebentar lagi ibu pasti bangun, aku harus cepat – cepat mengelapnya sebelum ibu melihatnya. Tapi kini mataku yang terasa panas, mungkin karena aku belum tidur.

Hari ini ibu bangun jam 9 pagi, tak seperti biasanya. Mungkin karena kemarin ia tidur larut karena menunggu Zack. Syukurlah ia tak melihat darah yang keluar dari hidungku tadi.

Begitu keluar kamar, ia kaget melihatku. Mungkin ia kaget karena aku masih terduduk dimeja makan sambil tetap menunggu Zack.

“Mata kamu sayup, wajah kamu pucat” ujarnya memarahiku “badan kamu panas sekali” tambahnya sambil memegang lenganku.

Tapi aku hanya tersenyum pada ibu. Mungkin ibu tak tau apa yang aku rasakan.

Ibu memaksaku untuk ikut dengannya kerumah sakit saat itu juga. Katanya aku harus dilarikan kerumah sakit. Tapi aku tak mau, ibu memang selalu berlebihan. Aku masih ingin menunggu Zack pulang. Cakenya belum aku sentuh sedikitpun, aku akan memakannya nanti bersama Zack.

Tak lama Zackpun pulang. Tentu aku langsung tersenyum. Wajahnya sedikit bingung, mungkin karena ibu dan aku yang serempak melihat ke arahnya. Lalu ia langsung menuju kamarnya.

Tapi aku bingung kenapa wajah ibu justru berubah menjadi sangat marah. Justru aku sangat senang. Ibu mengikutinya kekamar dan langsung memarahinya. Ibu berteriak keras pada Zack. Baru kali itu aku melihat kemarahan ibu yang begitu besar. Aku ingin mencegah ibu, tapi rasanya aku tak bisa berdiri. Tubuh ku seketika terasa sangat berat, tapi aku harus menengahi mereka.

Akhirnya aku berhasil berdiri.

“Kita udah besar, Mah. Bukan anak – anak kecil lagi” ujar Zack kepada ibu “aku punya dunia aku sendiri, begitupun dengan dia” tambahnya.

Aku mendengar itu. Aku mencoba tersenyum tapi kenapa air mataku malah terjatuh.

“Tapi adik kamu lagi sakit. Ngga bisa kamu bahagiain dia sedikit aja ?. Ibu ngga mau kamu menyesal, Zack” ujar ibu sambil menangis.

Aku juga mendengar itu. Kenapa ibu harus membahas itu. Aku tak bisa hentikan tangisanku.

Aku harus cepat menghampiri mereka dan menyudahi pertengkaran mereka. Aku ingin melangkah tapi seketika pandanganku terasa kabur. Dan hidungku kembali terasa panas. Sepertinya darah mulai berucuran lagi, tapi kini aku tak bisa lagi mengelapnya. Badanku terasa sangat lemas. Kepalaku terasa sangat sakit, hingga tiba – tiba aku tak bisa melihat apa – apa lagi dan aku tak mendengar apa – apa lagi. Tubuhku seketika terasa ambruk.

“Bangun, Zein”.

Aku mendengar suara Zack memanggil namaku. Tapi aku sendiri tidak tahu aku berada dimana. Semua begitu terang hingga menyilaukan pandanganku, aku tak bisa melihat dengan jelas.

Tak lama dari kejauhan aku melihat seorang pria berjubah putih. Ia menjulurkan tangannya padaku. Apa mungkin itu ayah kami ?. Tapi ia terlihat berbeda dengan foto – foto ayah dirumah. Tapi kalau bukan ayah, lalu siapa lagi ?.

Aku ingin mendekat kearahnya.

“Zein, bangun !” suara Zack kembali terdengar. Pria itu masih menjulurkan tangannya padaku. Tentu aku berpaling dan meninggalkan pria itu, namun saat aku berlari menjauhi pria itu, seketika cahaya terang menyerbu wajahku sehingga aku tak bisa membuka mataku.

Namun perlahan aku mencoba membuka mataku. Dan entah mengapa tiba – tiba saja aku berada dirumah sakit. Aku terbaring disini dengan selang yang menjulur dari tanganku dan juga hidungku. Aku tersenyum saat melihat Zack berdiri didekatku dan menatapku, lalu ia tersenyum padaku dan mencoba menghentikan tangisannya. Ibu juga menangis, kata ibu aku sudah terbaring disini 3 hari dan tak sadarkan diri.

Lalu Zack menyodoriku nasi goreng ajaib, katanya itu buatan dia sendiri. Aku ingin sekali merasakan nasi goreng ajaib buatan dia. Tapi rasanya buka mulut saja aku sulit.

“Cepat sembuhlah, biar kita bisa maen bulu tangkis lagi” ujar Zack sambil memegang racket yang tadinya aku mau berikan kepadanya.

Aku sedih jika melihat ia menangis seperti itu.

“Kita tetap sehidup sematikan ?” tanyanya.

Tapi entah mengapa aku tak lagi menyukai kata – kata itu.

“Ngga ada lagi kata ‘sehidup semati‘, Zack. Itu artinya kita matipun harus bersama. Kita udah besar, Zack. Bukan anak – anak kecil lagi” ujarku kepada Zack “lo punya dunia lo sendiri, begitupun dengan gua” ujarku dengan suara kecilku.

“Tapi kita sehidup sesurga. Percayalah, kita lahir bersama, disurga nantipun kita akan bersama lagi, Zack” ujarku lagi.

Ibu memegang erat tangan kananku, sedangkan Zack memegang erat tangan kiriku.

“Mah, aku mengantuk sekali. Aku ingin tidur sebentar aja” ujarku memohon kepada ibu.

Zack ikut naik keatas ranjang lalu dia tidur disampingku. Ia memelukku sambil menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi air mata itu. Ia tak berhenti menangis.

Namun tiba – tiba saja aku seperti tak bisa lagi merasakan tubuhku. Tubuhku terasa enteng seperti kapas dan seketika aku seperti melayang terbang tinggi meninggalkan ibu dan Zack.

Dan tiba – tiba saja aku kembali berada ditempat yang penuh dengan cahaya. Dan lagi – lagi aku melihat pria berjubah putih itu dan pria itu menjulurkan tangannya lagi kepadaku. Aku tak mendengar apa – apa. Kali ini aku tak lagi mendengar suara Zack memanggil namaku. Namun kali ini, pria itu yang mendekatiku. Ia tersenyum padaku sambil memegang tanganku.

Aku yakin dia bukan ayah, tapi aku sendiripun tidak tau dia siapa.

Satu yang aku pelajari dari adikku, dia tidak pernah menunjukkan perubahannya kepadaku. Dia tak ingin aku merasa kecewa atau apapun itu.

Hal indah yang pernah aku lewati bersamanya semuanya karena kebersamaan kami yang tak pernah putus.

Walau aku pernah membuatnya kecewa, tapi aku yakin dia pasti memaafkan aku.

Tuhan, jika memang aku dan Zein sehidup sesurga, berjanjilah padaku untuk pertemukan kami kembali disurga nanti. Dan sampaikan salamku kepadanya. Aku menyayangi adikku.

-ZACK-

 Dari sini aku bisa memantau Zack. Aku tau apa saja yang ia lakukan disana. Dan aku bisa membaca jelas apa yang dituliskan olehnya. Surat itu ia terselip dibuku pelajarannya. Aku hanya bisa tersenyum.

  • view 225