Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 April 2018   19:26 WIB
Aini, Pagimu Retak

Aini, Pagimu Retak

Karya : Shanti Agustiani

 

“Kita terhubung dalam putaran waktu dan siklus gelombang kehidupan. Susah, senang, sakit, sehat, bahagia dan derita hanyalah fana, usah bersedih terlalu lama.”

Itulah pesan sms terakhir darimu Mas Sam, ketika langit mulai mendung dan kilat menyambar-nyambar. Kurasakan tubuhku bergetar hebat manakala teriakan orang-orang kampung memanggil namaku agar keluar dari rumah. Mereka menghantarkan sebuah berita duka bahwa engkau lenyap ditelan ombak. Jantungku berdentam sangat keras, aku membayangkan kapal kecil kita yang diperoleh setelah menabung bertahun-tahun terayun-ayun di tengah samudra yang sedang ganas dengan gulungan ombak yang besar. Tangkapan jalamu terlepas dan tubuh gempalmu mendekap erat tiang pancang layar dengan merapal doa, Tentu yang kau ingat adalah pasrahmu pada Sang Kuasa di satu sisi takut dan khawatirmu membayangkan masa depanku tanpamu.

“Dek, sudah jangan lagi ngelangut memikirkan momongan. Namanya belum diberi amanah anak oleh Gusti Allah. Ndak papa, justru kita diberi kesempatan berduaan, pacaran lebih lama lagi. Saling mengenal dan memahami lebih dalam lagi. Nanti setelah cukup waktu pacaran, insya allah dengan segala ikhtiar kita akan mendapat amanah-Nya, diberi momongan. Dulu ‘kan kita ndak sempat pacaran lama …,” ucapmu di suatu pagi.

Kala itu aku tengah menanak nasi dan menggoreng ikan dengan wajah cemberut, seusai menonton televisi yang menayangkan program “Kasih Bunda”. Ketika itu aku memelototi bayi-bayi yang digendong ibunya dengan wajah bahagia. Tentu aku mencemburui mereka tetapi kamu yang mencium gelagat tidak nyaman itu tiba-tiba merangkulku dari belakang, menolehkan wajahku padamu dan mengecupi bibirku dengan mesra.

Betapa aku merindukan menggendong bayi darimu Mas Sam, bayi anugerah cinta kita. Tapi kau pergi lebih dulu, sedangkan kau dan aku belum sempat berikhtiar untuk mewujudkan impian bersama kita. Aku sedih terlalu lama Mas, sudah tiga tahun kepergianmu dan aku masih sendiri di rumah pinggir pantai ini. Banyak lelaki yang mencoba mendekatiku namun hatiku tak bisa bepaling darimu. Aku yakin kita akan berjumpa lagi di akhirat kelak sebagai sepasang suami-istri dengan cinta abadi.

“Wo Aini … aku cinta padamuuuu …” itu suara Bang Nasir, tetangga sebelah yang sudah punya bini tapi genitnya ndak ketulungan. Aku sebal mendengar suaranya yang selalu nyaring saat istrinya pergi ke pasar. Sudah berkali-kali aku mengomelinya namun tetap saja ia tebal muka. Pernah tengah malam pintu rumahku diketuk olehnya, kukira ada kebakaran atau ada situasi genting, tak tahunya dia muncul dengan sarung menyelimuti kepalanya.

“Apa-apan Bang … pergi sana, bertamu kok tengah malam!”

“Aini … semalam saja, aku tahu kamu sudah lama merindukan belaian lelaki!” suara lelaki itu parau dan samar oleh angin malam yang terus berhembus di sepanjang pantai, tetapi aku jelas mendengarnya.

“Persetan dengan pengetahuanmu, aku tidak butuh. Husshhh pergi-pergi sebelum aku berteriak memanggil seisi kampung, aku punya kentongan!”

Sekuat tenaga aku menekan pintu jati rumahku dengan keringat bercucuran, karena takut dan juga kelelahan menahan tekanan dari luar, Bang Nasir terus berusaha memaksa pintu itu agar terbuka. Beruntung aku yang menang, berhasil menutup dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Besok-besok ketika ada ketukan pintu tengah malam tak penah sekalipun aku buka.

Aku begitu risih dengan keadaan ini, Mas Sam. Wahai suamiku Mas Samudra yang melarungkan takdirmu selamanya di samudra lepas, mengenai kepergianmu itu aku sudah ikhlas, Mas. Tapi tolong ijinkan aku sekali ini mencari teman hidup, bukan … bukan pengganti dirimu, melainkan seorang anak. Aku, Ainimu Mas, ingin mencari anak yang kurang beruntung untuk bisa kita adopsi, Ya kita, selamanya kita, aku tak berniat menggantikan posisimu dengan orang lain.

Lalu ke mana dan di mana aku mencari anak adopsi?

Aku mengayuh sepeda membawa sebakul ikan segar untuk dijual di pasar yang jaraknya sebelas kilometer dari pinggir pantai. Semenjak kamu tiada Mas Sam, aku terpaksa membeli sebagian ikan Lek Samudi selain dari keramba kita. Tabungan kita yang kausimpan pada beberapa ruas bambu masih ada. Kau bilang saat itu, tabungan itu untuk pendidikan anak-anak kita kelak, agar mereka sekolah tinggi dan pintar, tidak seperti kita yang hanya mengenyam pendidikan sampai SLTA. Anak kita tidak boleh putus sekolah sampai perguruan tinggi, begitu tekadmu yang selalu aku aminkan. Namun anugerah anak tak kunjung kita dapatkan sampai engkau tenggelam dijemput kematian di samudra lepas. Aku memeluk ruas-ruas bambu tabungan kita, belum aku buka, kuharap cukup untuk membiayai pendidikan anak kita kelak, anak adopsi kita.

“Aini, kamu itu cantik, seksi, banyak lelaki yang melirik, cepetan gih kawin lagi. Kamu ndak takut lelaki yang sudah beristri nggodain kamu gara-gara tahu kamu jablai?” Wintri, Si Ceriwis itu berbisik ke telingaku saat kami sama-sama berjualan ikan bersebelahan.

Tidak … tidak bisa, Aku hanya milik Mas Sam, esok jika aku mati di akhirat kelak aku akan bertemu lagi dengan almarhum suamiku!”

“Ealatala … dikasih saran kok malah ndablek toh! Jadi janda itu ndak enak, selalu jadi sumber fitnah, kamu bisa rasakan nanti kalau kamu tidak camkan kata-kataku ini! Peduli amat nanti kamu di akhirat bakal ketemu Mas Sam atau sama siapa. Yang penting sekarang, Aini  … hidupmu di bumi ini, saat ini!”

“Ndak Win … aku ndak bisa ke lain hati, Mas Sam … cinta sejatiku!”

Wintri beringsut menjauh, ia masih saja mengomel gara-gara aku tidak mengikuti sarannya. “Awas ya … kau goda suamiku!” katanya sambil menjauhkan lapaknya dariku,

“Ih amit-amit Wintri! Kau kira aku ini perempuan gatel apa?” Aku marah betul dengan ucapan Wintri itu. Aku ikut menjauhkan lapakku dua meter darinya, menyuruh Mbok Ginah yang jualan tape menggantikan posisiku.

Pulang dari pasar aku masih kesal memikirkan kata-kata Wintri. Sebenarnya omongan dia ada benarnya juga tapi aku punya senjata untuk melawan laki-laki iseng, aku punya kentongan besar dan pisau-pisau dapur yang tajam yang biasanya kugunakan untuk menyiangi ikan tongkol yang besar-besar. Awas lelaki iseng mendekat, akan kusayat!

Di tengah perjalanan pulang ke rumah, hampir senja. Aku melihat sesosok gadis di pinggir pantai, ia menjual manik-manik dan hiasan dari kerang. Gadis itu nampak dikerubuti pemuda-pemuda yang mempermainkan jualannya, matanya berkaca-kaca dan mencoba mengusir tiga pemuda itu dengan terbata-bata.

“Hai kalian … beraninya sama anak perempuan ya! Jauh sana, minggir, dia anakku. Awas kau ganggu ya!”

Suasana hatiku yang sedang kesal pada Wintri semakin panas melihat gerombolan pemuda iseng itu. Anak gadis itu memang terintimidasi oleh tiga orang pemuda yang mengambili kulit-kulit kerangnya sambil tertawa-tawa.

“Pergi ndak, atau mau kusayat dengan pisau ini!” suaraku menggelegar memecah pantai, mukaku memerah, dengan berkacak pinggang sesekali kuacungkan pisau bekas menyiangi ikan yang masih merah dan amis oleh darah ikan. Ternyata aksiku mampu menakuti tiga pemuda iseng itu. Mereka lari terbirit-birit sambil terus tertawa.

“Lari … ada emaknya Si Bisuuuu ….!” seru mereka melecehkan kami.

Nafasku terengah-engah, duduk di batu sebelah anak gadis yang terus terpana menatapku. Aku tersenyum dan menyapanya, “Nduk, namamu siapa? Rumahmu di mana?”

Ia terus menatapku tanpa kata, tapi beberapa detik kemudian ia mengambil kertas dan menuliskan namanya di situ, “Namaku Gendis, tinggal di Balai Desa sementara. Orangtuaku sudah tiada.”

Deg … jantungku berdesir lembut kala menatapnya seperti saat menatap cinta pertamaku, Mas Samudra. Tiba-tiba aku jatuh hati pada Gendis, dia bisu rupanya dan tak punya orangtua. Mungkinkah ini pertanda doaku akan dikabulkan Gusti Allah?

“Oalah Cah Ayu Gendis, sini yuk tak antar pulang dulu ke Balai Desa, hari sudah senja, Nduk!”

Gendis mengangguk riang. Anak gadis itu kira-kira berusia sebelas tahun, wajahnya lucu dengan hidung mungil dan lesung pipi menghiasi pipi gembulnya yang kemerahan ditimpa matahari senja. Rambutnya panjang sebahu dan agak kusam tak terawat, aih … ingin kukeramasi dia dengan shampoo. Serta merta ia memberesi barang-barangnya lalu duduk di boncengan sepedaku.

Rupanya tempat tinggal Gendis adalah sebuah bilik bekas gudang Balai Desa yang sempit, hanya berukuran empat kali empat meter dan masih banyak tumpukan barang-barang kantor yang rusak di sana. Saat itu tak ada siapa pun di sana dan aku meninggalkannya dengan perasaan khawatir. Kutinggali ia sebungkus tiwul dari pasar untuk makan malamnya dan ia mencium jemariku sebagai ucapan terima kasih dengan mulut tersungging senyum sumringah. Gendis, anak gadis yang cantik dan baik.

Mas Sam, aku tak berhenti memikirkan Gendis hingga sampai sepertiga malam aku ndak bisa tidur memikirkan anak gadis itu. Aku benar-benar ingin mengadopsinya. Aku tak sabar menunggu hari esok mencari waktu ketika Pak Kades berkantor di Balai Desa dan segera berlari menghambur menemuinya.

“Pak … Gendis, anak itu kenapa Bapak biarkan tinggal sendiri di bilik bekas gudang? Sudah, biar aku saja yang merawatnya. Kumohon Pak, aku ingin sekali mengadopsinya!”

Pak Kades Surjono geleng-geleng kepala keheranan melihatku menyerbu kantornya dengan tanya yang bertubi-tubi mengenai Gendis. Ia mempersilakan aku duduk dan aku baru sadar untuk duduk dengan sopan karena sedari tadi aku bertanya sambil berdiri dengan sedikit emosional.

“Maafkan saya tidak sopan, tapi Gendis ….”

 “Jeng Aini, anak itu cacat lho!”

“Aku tahu … justru itu aku ingin merawatnya!”

“Tapi ibunya dulu bekas pelacur! Semenjak ibunya meninggal setahun lalu karena HIV AIDs, aku menyuruhnya tinggal di sini karena anak itu tidak bisa membayar kontrakan. Aku memodalinya untuk berjualan kerang. Istriku melarangku mengadopsi anak itu karena khawatir masih ada benih HIV yang bisa saja sudah tertular padanya. Ayahnya sendiri sudah lama meninggal sebelum ibunya menjajakan diri sebagai pelacur.”

Aku tercenung sejenak menyimak keterangan Pak Kades Surjono. Namun itu tidak menggoyahkan kehendakku. Aku tetap ingin merawat dan melindungi anak gadis tak berdosa itu.

“Biar ibunya pelacur atau bapaknya sekalian perampok harta jagad raya ini. Anak gadis itu tetap suci tak berdosa. Aku tetap ingin mengadopsinya!”

Kades Surjono tersenyum melihat tekadku yang tidak berubah. Aku bergeming menunggu jawabannya. Bukannya menjawab lelaki setengah baya dengan rambut putih yang menyembul dari balik pecinya itu mengamatiku dari atas sampai bawah, membuat perasaaanku risih, tapi aku tetap menanti jawabannya.

“Ngomong-ngomong Aini … kamu ndak kawin lagi aja? ‘Kan bisa punya anak sendiri, kulihat kamu masih subur, masih bisa beranak lima. Atau mau kujadikan istri ke dua?”

Tatapan Kades Surjono mulai nakal mengamati dadaku yang menonjol di balik kain kemben, padahal kerudung putih telah kusampirkan di sana. Aku benar-benar marah sembari membetulkan kain selendangku rapat-rapat menutupi dada, ini pelecehan!

“Pak Kades, saya mau urus Gendis bukan cari jodoh ke dua! Jodoh saya cuma satu, Mas Samudra!”

“Iya … iya tenanglah Aini, kalau kamunya sewot begitu saya malas menguruskan surat adopsimu!”

Aku sudah tak sabar duduk di hadapan lelaki dengan pandangan melecehkan seperti itu. Aku beranjak dari kursi dan meninggalkannya dengan kalimat tegas.

“Aku bawa Gendis sekarang juga, tolong Bapak uruskan. Jika perlu imbalan saya siap menjual atau memberikan keramba saya untuk Bapak!”

Pak Kades hanya tertawa mendengar ucapanku, tapi aku serius menuju bilik gudang tempat tinggal Gendis dan mengajaknya bercakap-cakap dengan mimik dan tulisan, beruntung gadis itu sudah mahir membaca dan menulis meskipun putus sekolah setahun lalu. Satu jam kami mengobrol, lalu akhirnya ia setuju mengikutiku, membawa kulit kerang dan beberapa potong pakaiannya.

“Gendis mau ‘kan menganggap aku sebagai ibu kandungmu?”

“Iya, mau … dan aku mau sekolah lagi!” tulisnya.

“Pasti Nduk, Ibuk akan menyekolahkanmu bahkan sampai kuliah nanti!”

Mata jelinya berbinar-binar demi mendengar janjiku itu. Segera ia mengangguk dan memasukkan barang-barangnya ke dalam sebuah tas kresek merah dan satu-satunya tas ransel sekolah yang sudah sobek di sana-sini.

Ahhhh … Alhamdulillah, akhirnya aku menjemput anugerah! Tak terasa airmataku menetes ketika aku mengayuh sepedaku pulang ke rumah dengan Gendis di belakangku memeluk pinggangku erat-erat. Oalah Cah Ayu, pelukanmu membuatku merasa menjadi seorang ibu yang sempurna! Peluh di keringatku bercampur air mata yang terus menetes tanpa mampu kubendung lagi. Gendis kecil, terayun–ayun di belakang sebab jalan yang  kulalui bergelombang, tak rata. Semilir angin membelai-belai perasaan haru di hati kami berdua.

Mas Sam. Pak Kades memang menguruskan surat-surat adopsiku, tapi ia menagih janjiku untuk memberikan keramba kita. Tak apa ya Mas, kuharap kamu juga ikhlas. Keramba atau harta benda tidak kita bawa mati, hanya kasih sayang dan ketulusan yang akan kita bawa mati bersama segenggam iman dan keyakinan bahwa kita akan bertemu lagi di akhirat kelak, akan kuperkenalkan Gendis kepadamu, Mas. Kuharap kamu menyayanginya seperti anak sendiri sebagaimana aku kini, Mas.

Anak kita sudah aku keramasi dengan shampoo urang-aring kesukaaanmu, biar rambutnya makin hitam seperti rambutmu yang ikal dan hitam lebat itu. Di mana aku setiap malam mencecap cinta pada tiap helai-helainya. Selalu kuhirup wanginya menjelang tidur malam setelah melihatmu terlelap seusai kita bercinta dalam peluk erat yang tak pernah longgar saban malam.

Setiap hari Gendis kuantar ke sekolah SD Inpres No 001 yang jaraknya lima belas kilo dari rumah kita. Ya ia sudah kudaftarkan sekolah lagi meskipun  harus mengulang dari kelas empat SD. Namun ia cerdas Mas, dalam jangka beberapa bulan saja ia telah hafal perkalian. Aku mengajarinya setiap malam sehabis Isya.

Sampai di suatu hari kelabu itu, entah kenapa hujan tak berhenti dari pagi, Badan Gendis hangat, ia mesti istirahat di rumah maka kubaluri tubuhnya dengan minyak bawang merah, kuminumi jamu kunyit dan jahe setelah sarapan bubur bayam yang dicampur ikan. Aku ragu meninggalkannya sendirian, tetapi ikan yang di bakul harus segera dijual agar tidak membusuk percuma.

“Gendis … istirahat di rumah ya. Nanti Ibuk carikan obat di apotek. Ibuk tetap harus jualan, Nduk.”

Gendis mengangguk, kucium kening dan rambutnya seperti kebiasaanku menciumimu Mas Sam. Anak kita ini sangat penurut, dia sangat manis. Kau akan bahagia melihatnya.

Aku mengenakan jas hujan dan mengayuh sepedaku ke pasar dengan rasa was-was menyelinap di dadaku karena meninggalkan Gendis dalam keadan sakit. Tadi sebelum berangkat tubuhnya kuselimuti kain tebal dan di keningnya kubaluri daun lidah buaya yang sudah kutumbuk halus.

“Ibuk … aku sayang Ibuk!” tulisnya pada sehelai kertas yang diselipkannya ke genggaman tanganku tadi sebelum berangkat. Air mataku kembali menetes membaca ungkapan hatinya, Mas. Dengarlah anak itu menyayangiku, jika kamu masih di sini pastilah ia menyayangimu juga.

Mas Sam, tengah hari itu ikanku belum semua laku, tapi perasaanku terus gelisah dan ingin segera pulang demi memeriksa keadaaan anak gadis kita. Sungguh tak pernah kuduga itu. Pintu rumah yang tadinya terkunci sekarang terbuka, dengan perlahan kudorong pintu jati itu dan mendengar suara-suara aneh di kamar Gendis. Astagfirullah, kamar Gendis terkunci dari dalam. Entah apa yang kupikirkan saat itu sehingga seluruh akalku berfungsi penuh. Aku mencongkel kunci kamar Gendis dengan dua  jepit rambut hitam yang biasa kupakai. Coba … coba dan coba, ughhh akhirnyaa … berhasil! Pintu itu terbuka lebar dan jantungku berdentam keras tatkala melihat Bang Nasir menindih tubuh lemah Gendis yang meronta tak berdaya.

“Bangsat kamu, Nasir! Beraninya kau ganggu anak gadisku!”

Lelaki sampah itu serta merta berdiri mengambil sarungnya untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Gendis menangis, kuseret tangan kiri gadis itu sambil melempar selimut ke tubuhnya, kutunjuk pintu kamar agar Gendis segera ke luar kamar dengan selimut itu, ia paham dan menuruti isyaratku. Biar aku yang menghadapi lelaki sampah ini.

“Tenanglah Aini … dia bukan anak kandungmu, dia anak pelacur!”

Aku gemetar bukan karena takut, tapi karena rasa jijik dan amarahku yang muncul bagai quantum gelombang tsunami pada lelaki sampah di hadapanku. Mataku rasanya  memerah bagai kesetanan. Sedikit saja ia bergerak mendekat maka tak segan-segan aku akan menghunuskan pisau yang baru kuasah tadi pagi ini ke dadanya.

“Aini sayang … sini kemarikan pisaumu! Jangan-jangan kamu cemburu hasratku beralih pada Gendis?“

Aku bergeming tak menjawab tanyanya yang semakin ngawur, aku mencium bau tuak oplosan dari mulut lebarnya yang serakah itu. Mataku terus mengawasi gerak-geriknya, beberapa menit saling mengawasi akhirnya ia bergerak mendekat dengan melibaskan sarungnya ke pisau yang aku genggam, berharap benda itu terjatuh. Tapi harapannya meleset, “Sreetttt …” sarungnya robek oleh pisau tajamku, dari buku tangannya mengailr darah. Aku mendadak gembira dan tertawa lebar karena menguasai keadaan. Lalu semakin kudekati ia  yang mulai pucat ketakutan dan dengan yakin kuhunus pisau mengkilat itu ke dadanya, berkali-kali.

“Ini untuk melecehkanku, ini untuk melecehkan anakku, dan … ini untuk menghancurkan masa depan kami!” cecarku sambil menghunus pisau itu kuat-kuat ke dadanya tiga kali.

Mas Sam, sudah berbulan–bulan kejadian itu berlalu. Gendis dikembalikan ke Balai Desa, meski kabarnya ia terus-menerus menangisi aku. Sedangkan kini aku mendekam di penjara.

Aku tertawa lepas menghayati sandiwara kehidupan ini. Sebentar tertawa, sebentar kemudian aku menangis histeris. Aku tak lagi bisa membedakan antara nyata dan fiksi.

Wintri menyambangi selku.

“Aini … Apa kubilang, kini akibatnya sudah kaurasakan sendiri. Lihatlah dirimu sekarang, kau sakit jiwa!”

“Aku atau kalian yang sedang sakit jiwa, Ha?!” aku tertawa dan membentak Wintri, “Coba jawab, aku atau kalian?”

Wintri kaget dan mundur teratur, wajahnya pucat pasi. Ia berlalu merunduk meninggalkanku tanpa kata-kata. Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya, lalu sebentar kemudian rasa pedih menyelimuti dadaku sehingga aku menangis sesunggukan.

“Aini, pagimu retak, Sayang … ,“ aku mendengar suaramu Mas Sam, yang memantul sayup-sayup lewat dinding sel tahanan.

“Aku akan mati di sel ini Mas Sam, menyusulmu ke alam yang tak pernah menyakiti. Di mana angin terus membelai dan rambutmu terus menebar wangi. Lalu kita berciuman dan beranak-pinak di negeri awan.”

 

***

 

Karya : Shanti Agustiani