Tukang Cucur Batal Haji

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Agustus 2017
Tukang Cucur Batal Haji

Tukang Cucur Batal Haji

 Karya : Shanti Agustiani

Terinspirasi dari kisah-kisah sinetron, Kang Suher menysihkan uang hasil jualan kue cucur untuk cicilan ongkos naik haji. Ia menabung seribu sampai puluhan ribu sehari ke dalam celengan semar yang dirawatnya semenjak kecil. Istrinya, Sri setiap hari mengolah adonan kue cucur, Kang Suher membantu menggorengnya satu per satu agar adonan rapi lingkaran serta tebal-tipis ukurannya sama rata. Dua anaknya Nimas dan Bolang membantu menjual sebagian kue cucur di sekolah mereka masing-masing.

Keringat bercucuran di bawah terik matahari tak menyurutkan Kang Suher, pijak pedal sepedanya malah semakin bersemangat membawa dua toples besar kue cucur keliling kota. Pada setiap sekolah atau kantor ia berhenti mampir untuk menawarkan dagangannya.

“Berapa Kang, harga kue cucurnya?” tanya seorang ibu muda pegawai kantor yang mengenakan tas hermes ketika ia berpapasan dengan Kang Suher di pintu gerbang.

“Dua ribu lima ratus Bu …,” sahutnya sembari tersenyum menyodorkan toples kue cucur

“Aduh … mahal amat ‘sih, di pasar saya barusan dua hari lalu beli cuma dua rebuan …! Sahut wanita itu sambil memonyongkan bibirnya yang tebal oleh lipstick merah menor.

“Mungkin lain Bu bahannya, saya pake tepung terigu dan tepung beras kualitas nomor satu,” ujar Kang Suher mencoba menjelaskan.

“Aish … di mana-mana tepung dan kecap ya jargonnya nomor satu! Ya sudah beli satu aja mumpung lagi pingin, kecuali kalau mau dua rebuan aku mborong lima deh!” sahut ibu menor itu sembari menyodorkan uang dua ribu lima ratus yang paling kusut dari yang disimpannya di dalam dompet receh.

Kang Suher mengangguk dan berterima kasih, ia memiliki berjuta sabar untuk menghadapi pelanggan seperti itu. Semenjak kecil oleh Mbah Kyai Haji Dawud, guru ngajinya ia diajar untuk sabar, “Wong sabar luhur wekasane.” Memang banyak cobaan untuk mengamalkan nasihat leluhur itu namun Kang Suher nyatanya telah terlatih bertahun-tahun. Merintis karir dari seorang penyapu jalanan, kini ia menekuni usaha yang lebih bisa diandalkan untuk mengepulkan asap dapur keluarga, meskipun lelah dan harus ikhlas merangkul semua suka dan duka yang silih berganti menemani.

Kang Suher juga tak pernah ketinggalan sholat lima waktu, ia selalu mampir ke masjid atau musholla yang dilewatinya ketika membawa dagangannya berkeliling. Kadang-kadang ketika mampir sholat ada saja tangan-tangan jahiil yang mencuri kue cucurnya sebiji dua biji. Tetapi itu semua dilkhlaskannya. Baginya tak ada yang pergi jika belum waktunya pergi, yang hilang sekarang biarlah hilang karena memang belum rejeki. Ia selalu memanjatkan do’a agar niatnya mencukupkan uang untuk naik haji bersama istrinya segera terwujud.  Telah belasan tahun ia menabung namun kiranya uang untuk melunasi biaya haji masih jauh dari cukup.

Setibanya di sebuah butik ternama, Kang Suher mampir dan menurunkan dagangannya. Kali ini ia bertemu ibu pemilik butik yang juga menor dan cantik. Tidak seperti ibu yang ditemui sebelumnya, kali ini Ibu Daniella, nama ibu cantik dengan pakaian syar’i itu jauh lebih ramah. Ia tak menawar kue cucur Kang Suher, malah diborongnya satu toples penuh untuk para karyawannya yang sedang menjahit pakaian.

Ibu Daniella mengajak Kang Suher becakap-cakap di teras sembari memberikan brosur umrah murah meriah. Kang Suher yang membacanya masih mengeja memerlukan waktu lama untuk memahami isi brosur tersebut. Ibu Daniella menjelaskan dengan sabar isi brosur tersebut, intinya agar kang Suher memanfaatkan promo umrah murah meriah yang ditawarkan jasa travel miliknya “Bouraq Suci”.

“Tapi niat saya buat  pergi haji, bukan umrah Bu … Iya sekalian haji saja!” sahut Kang Suher sambil terus memelototi brosur itu dengan binar-binar harapan.

“Buat haji juga bisa Kang … tapi ‘kan kondisi tabungan Kang Suher kiranya masih lama ya buat ONH-nya, sedangkan buat umrah segitu mah sudah cukup bahkan lebih. Ada nilai plusnya juga lho Kang … dana umrahnya juga bisa buat dapat bonus DP haji!”

“DP haji Bu?” Kang Suher melongo tak mengerti

“Iya … coba nih baca lagi baik-baik di brosur, di situ ‘kan dikatakan bahwa dana umrah delapan juta itu, satu jutanya buat DP haji yang bisa dilunasi sewaktu-waktu kapan pun tabungan Kang Suher sudah mencukupi.  Siapa tahu nih Kang … kita  nggak ada umur panjang…  aduh sayang uangnya Kang Suher yang sudah terkumpul cukup banyak itu tidak sempat digunakan untuk ke rumah Allah. Tapi ‘kan Allah memang mencatat niat kita ya … cuma kalau saya boleh menyarankan, pakai aja dulu atuh buat umrah. Umrah ‘kan haji kecil, itung-itung kita sudah merasakan suasana Baitullah dan memanjaatkan do’a-do’a makbul kita di sana, melihat Ka’bah … aduh subhanallah … Ahamdulillah saya sekeluarga sudah empat kali umrah!” tutur bu Daniella dengan nada bicara sangat cepat seolah tak bisa dihentikan, ia melanjutkan kembali bercerita tentang pengalaman harunya ketika umrah.

Mata Kang Suher semakin berbinar-binar, ia membayangkan ia dan istrinya Sri bergandengan tangan menuju Makkah dan Madinah, memakai pakaian ihram dan siap dengan beribu do’a yang hendak dipanjatkan. Apalagi saat membayangkan mereka sedang tawaf mengelilingi Ka’bah tak terasa matanya berkaca-kaca meskipun baru sekedar membayangkan. Kang Suher mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang diejaskan ibu Daniella.

“Ah iya … setelah saya pikir-pikir betul juga itu kata Bu Daniella, jika umur tidak panjang paling tidak saya sudah merasakan sujud di kota suci Makkah dan Madinah ketika umrah, haji kecil … seperti penjelasan Ibu tadi. Apalagi ada bonus DP haji segala … Kalau begitu saya mau bergabung!”

Mendengar itu Ibu Daniella langsung menyodorkan formulir pendaftaran umrah yang pelunasannya harus hari itu juga karena promo murah meriah plus DP haji hanya berlaku sampai hari itu. Kang Suher buru-buru menggenjot sepedanya pulang ke rumah untuk memebritahu istrinya dan memecahkan celengan semar.

Sesampai di rumah Sri kaget karena tidak biasanya kang Suher pulang lebih awal dengan wajah berseri-seri  yang membuat kumis tipis lelaki berwajah coklat  tegas itu melengkung ke atas. Sri yang sedang menggoreng ikan asin segera membereskan pekerjaannya dan menyambut suaminya dengan  tanda tanya besar, “Ada apa Kang, kok tumben pulang cepat?”

“Bu’e … kamu mau umrah ndak ? Ini … aku barusan dapat tawaran umrah murah meriah! Coba baca ini, Bu’e lancar tho mbacanya?”

“Wah murah tenan ya Kang … ini cuma delapan juta lha biasanya ‘kan minimal empat belas juta ya buat umrah. Mau Kang … iya, aku ikut ya Kang?!”

“Ya sudah pastilah Bu’e ikut lha nanti siapa yang kasih semangat buat Kang Suher  kalau kakangmu ini ndak enak badan?”

Sri tertawa bahagia, ia membantu suaminya memecahkan celengan semar dan memeriksa sudut-sudut kasur kapuk tempat menyimpan uang kertas dan recehan. Sri juga ingat bahwa ia sering menyelempitkan uang kembalian di dalam kutangnya yang sengaja ia beri kantung kain. Bukan semata-mata buat berpenampilan seksi di hadapan suaminya melainkan juga untuk menyimpan aset recehan jika ia sibuk melayani pelanggan dan tak sempat menyimpan uangnya di balik kasur. Setelah lengkap membongkar uang simpanan mereka, Sri dan Kang Suher menghitung hasil jerih payah mereka selama belasan tahun itu untuk disetorkan ke travel “Bouraq Suci”.

Kang Suher dijanjikan akan berangkat pada bulan Desember, itu artinya enam bulan lagi. Semenjak itu setiap kali mereka sekeluarga berkesempatan makan bersama, dua anak mereka yakni  Nimas dan Bolang diberi wejangan dan tutorial memasak serta mengerjakan pekerjaan rumah  lainnya secara mandiri agar siap ketika kedua orangtuanya berangkat umrah selama sebelas hari.

“Memangnya Bapak sama Ibuk sudah pegang tiketnya, yang buat umrah?” tanya Bolang menyelidik.

“Lha Bapak sama Ibuk memang belum dipegangi tiket, lha wong berangkatnya masih lama. Tapi Bapak sama Ibuk sudah punya kartu ini, lihat ini kartu hijau yang ada tulisan arabnya ini, ini kartu calon jamaah “Bouraq Suci”!

“Oh … kartu itu sudah jaminan ya Pak’ e?”

“Insyaallah nak!” Kang Suher meyakinkan anak-anaknya dan istrinya yang sudut pandangnya sedikit goyah ketika mendengar pertanyan kritis  Bolang. “lha kok pada bengong, ayo cepet dimakan, Nimas, ikan asinmu itu lho … mubazir kalau cuma diuyek-uyek pake garpu gitu, ayo dihabiskan!”

Enam bulan kemudian, Kang Suher kembali menyambangi butik dan travel “Bouraq Suci” . Sesampai di sana ramai sekali yang datang baik dari kalangan wong cilik seperti dirinya hingga kalangan atas yang memarkir mobil berderet-deret.  Di dalam Butik tak nampak lagi karyawan yang menjahit pakaian. Mereka harus mengantri untuk menemui owner travel haji dan umrah, ibu Daniella dan suami. Dua jam lebih barulah sampai giliran Kang Suher, ia menanyakan kepastian tanggal umrah, setelah ia mengurus paspor dua minggu lalu di kantor imigrasi.

“Mohon maaf Kang Suher, dengan berat hati kami terpaksa menunda keberangkatan Kang Suher dan istri enam bulan ke depan. Ini dikarenakan cuaca buruk dan juga manajemen kami sedang dalam pembenahan, maklum Kang sekarang musim pailit, kami kena imbasnya, karyawan kami banyak yang harus keliuar. Ini pasti gara-gara pemerintah menaikkan BBM dan tarif listrik, aduh… maaf ya Kang beribu-ribu kali maaf!”

Kang Suher melongo, hatinya campur aduk tak karuan mendengar tutur bu Daniella dengan wajah memelas dan mata yang berkaca-kaca. Tentu saja sebagai lelaki gentle ia tidak tega untuk menuntut ibu cantik itu. Akhirnya ia mengatakan, “Baiklah Bu … tidak apa-apa kalau kami harus tertunda berangkat umrah, asalkan uang kami tidak hilang ya Bu … saya yakin kok travel ini amanah!”

“Insyaalllah Kang, mohon dibantu do’a agar kami bisa cepat membenahi manajemen CV kami ya!” pinta bu Daniella sembari menyalami Kang Suher.

Lidah lentur tak bertulang, bila terbentur tanyakan pada ilalang.  Enam bulan kemudian Kang Suher seperti disambar halilintar ketika melihat tayangan televisi atas kasus penipuan terhadap ribuan calon jemaah umrah dan haji yang tak kunjung diberangkatkan setelah diberi janji-janji bertahun-tahun. Pelakunya adalah owner travel “Bouraq Suci”, ada wajah ibu cantik Daniella dan suaminya pada televisi yang gambarnya redup-buram karena bertahun-tahun tak pernah di-service apalagi diganti yang baru.

Kang Suher yang sedang menonton berita itu bersama istrinya mulai menitikkan air mata, pertanda sudah menjadi fakta bahwa uangnya hilang dan keberangkatannya ke tanah suci hanya iming-iming yang tak pernah ditepati.

Sri menangis meraung-raung tak terima hasil jerih payahnya bertahun-tahun sia-sia karena termakan janji palsu. Ia memukul-mukul dirinya sendiri dengan penuh sesal. Kang Suher mencoba menenangkannya, “Sudahla Buk’e … sudah! Besok kakangmu ke sana buat memastikan. Yang sabar Buk’ e … Eling Gusti Allah mboten sare, wong sabar luhur wekasane!”

 

 

***
 

 Sumber Gambar : 
https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3583541/306-calon-jamaah-haji-asal-jabar-batal-berangkat-ke-tanah-suci

 

  • view 183