Ijinkan Dita Menggambar!

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2017
Ijinkan Dita Menggambar!

Ijinkan Dita Menggambar!

Karya : Shanti Agustiani

Hari ini hari libur, dan tak ada hiburan lain kecuali mencorat-coret sesuatu di loteng bersama nenek. Dita dan nenek selalu kompak berdiam di atas loteng, nenek merajut syal dan kaos kaki sedangkan Madita menggambari kertas catatan belanja nenek yang masih kosong. Madita sangat senang sekali dan merasa nyaman di loteng itu, sampai terdengar suara teriakan dari bawah ….

“Dita … turunlah, jangan bermalas-malasan!” Mama mengguncang-guncang tangga menuju loteng, tiba-tiba Dita merasa pusing lantai terasa bergetar dan ujung tangga itu seperti hendak runtuh seperti terguncang gempa. Nenek memegang dahinya, hangat dan jemarinya berkeringat, nenek mengelapnya dengan syal kain wol yang baru saja selesai dibuatnya untuk Madita.

“Rumah ini bising Nek … mengapa Nenek bisa tetap tenang?”

“Nenek mencoba berdamai … suatu saat nenek dipanggil Tuhan harus tanpa sisa kebencian, agar ruh nenek ringan terangkat dari sisa-sisa kotoran bumi!”

“Jangan pergi Nek … jangan pernah tinggalkan Dita di rumah ini!”

Nenek tak menjawab, pandangannya telah kabur, kaki-kakinya semakin lemah menopang tubuh yang telah membungkuk sekian tahun, sendi-sendinya sering terasa sakit ketika malam hari saat udara dingin menyergap melalui ventilasi di atas jendela loteng rumah.  Ia ingin segera menyusul Sam suaminya yang telah meninggal lima tahun lalu namun ia juga tak tega meninggalkan Madita dengan segenap ketakutannya menghadapi ibunya sendiri, Martina yang pemarah. Nenek menyuruh Madita tatap berbaring di kasur bulu angsa pembaringan nenek.

“Martina, anakmu sedang sakit, jangan kau suruh turun sementara ini!” suara nenek parau dari atas loteng sambil memperlihatkan wajahnya ke bawah agar mama melihatnya bersungguh-sungguh.

“Dasar anak manja, dia belum membantuku membersihkan rumah, tahu-tahu sudah sakit. Ingatkan juga dia agar tidak mencorat-coret sembarang kertas. Kertas yang masih bagus hanya digunakan untuk menulis surat dan mengetik urusan kantor papanya!”

“Tenanglah dia tak mencoret apa pun di sini, ia hanya berbaring karena demam, sebaiknya kau carikan obat untuknya!”

“Jika hanya demam obatnya hanya istirahat, tak perlu menggunakan banyak zat kimia jika hanya untuk meredakan demam!”
Madita mendengarkan percakapan bersahut-sahutan nenek dan mamanya yang berteriak-teriak dari anak tangga paling bawah. Tubuh mama besar seberat tujuh puluh kilo sehingga ia enggan menaiki anak tangga yang terbuat dari susunan kayu kecil-kecil, kemungkinan kayu-kayu itu bisa gemeretak patah oleh pijakannya. Kalimat yang selalu terngiang-ngiang di telinga Madita  yang membuatnya merasa malu dan bersalah terhadap neneknya adalah “Jangan mencorat-coret kertas yang masih bagus!”

Kalimat itu terlalu sering diucapkan mama semenjak Madita berusia tiga tahun dan mulai mencuri selembar kertas folio milik papa untuk menggambar kuda. Dengan bangga ia menunjukkan hasil gambarnya kepada mama Martina. Namun reaksi mama sungguh tak disangka mata hatinya yang polos. Dengan cepat mama merebut kertas folio itu dan merobek-robeknya kecil-kecil sembari jemari tangan kanannya menjentik pelipis Dita dengan keras dan menjewer telinga kirinya, “Jangan mencorat-coret kertas yang masih bagus, ingat itu…!”

Madita kecil saat itu hanya menangis sesunggukan tak mengerti mengapa hasil karyanya tak lebih berharga dapada seonggok kertas putih tak berisi apa-apa yang sekian lama menganggur di atas meja kerja papa.

Semenjak itu rumah terasa lebih sempit dan tiba-tiba pagar di sekeliling rumah tumbuh tinggi menjulang menghimpit dada Madita yang semakin sesak oleh penyakit asma. Mama selalu marah-marah jika Madita berekspresi polos kekakank-kanakan meminta perhatian dan papa tak pernah terganggu akan suasana komunikasi di rumah itu karena papa lebih sering berada di luar rumah dengan rekan kantornya atau dengan teman wanitanya yang bisa lebih banyak berbicara hal yang menyenangkan daripada menyimak omelan mama di rumah.

Hanya nenek yang memberi kehangatan pada jiwanya, nenek yang memeluknya saat meneteskan air mata. Nenek pula yang memberikan kertas diam-diam meskipun itu hanya secarik kertas dari buku catatan belanjaan nenek. Pada helai demi helai kertas pemberian nenek itulah Madita menggambar apa saja dengan hemat dan cermat, tak boleh ada kertas yang sia-sia karena buku catatan belanjaan nenek hanyalah buku tipis yang sebentar lagi akan habis. Kecil-kecil ia membuat gambar, diirit setiap hari  sepulang sekolah seusai mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga yang diperintahkan mama. Jika Dita membuat gambar keluarga, anak-anak dan orangtua berdiri rapat, tak boleh ada ruang kosong tersisa, jika ia menggambar gunung maka pegunungan itu harus kembar lengkap dengan pepohonan dan helai-helai daun yang berjatuhan. Tak boleh ada gambar gagal, tak boleh ada ruang kosong, cukup dihatinya, cukup lah sudut kekosongan di relung hatinya.

Esok paginya Madita sudah kembali sehat, ia tak boleh berlama-lama sakit karena ia khawatir nenek akan turut menjadi sasaran kemarahan mama. Maka ia sehat, bersekolah dan sepulang sekolah ia mulai mengepel lantai, membersihkan gelas-gelas kristal dan piring-piring untuk makan siang. Madita mengelap gelas-gelas kristal pajangan dengan tekanan yang kuat, “Bersihkan sampai mengkilap!” Begitulah perintah mama yang harus dipatuhinya. Madita mengelap dengan sangat kuat dan tiba-tiba, Prakkk! Sebuah gelas kristal rengat pecah perlahan oleh genggaman tangan Dita yang tak terkendali lagi tekanannya, jemari kirinya penuh darah.

Mendengar itu mama menghampirinya, menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti mengapa Dita menghancurkan gelas kristral kesayangannya dan tangan mama serta merta melayang menampar pipi Madita.

“Anak kurang ajar kau, ini gelas kristal peninggalan ratu Belanda, dan kau … menghancurkannya dengan sekali genggaman!”
Madita mengaduh, tidak ada air mata lagi yang tersisa untuk ia teteskan hari itu, bahkan jemarinya yang masih mengalirkan darah oleh karena tertusuk remukan beling gelas kristal tak lagi digubrisnya. Madita diam beringsut mengambil sapu dan membersihkan sisa-sisa pecahan kaca, membuangnya ke tempat sampah dan berlari keatas loteng menemui nenek.

“Bagus, kau selalu punya tempat pelarian di atas loteng!” mama berteriak lantang dari dapur. Madita tatap menaiki anak-anak tangga itu perlahan, ia tak mau mengagetkan nenek. Dari ujung tangga teratas, ia melihat nenek sedang berbaring dengan selimut tebal bergambar mawar merah muda. Sungguh tak biasa nenek tidur siang hari saat matahari sedang tinggi tepat di atas atap rumah, bukankah sangat panas di loteng? Lalu mengapa nenek nampak kedinginan merapatkan selimut tebalnya?

“Nek … nenek… Dita mau bicara sama nenek!” Madita menggerak-gerakkan bahu nenek tetapi bahunya terasa membeku, Dita kaget dan meraba seluruh tubuh nenek yang dingin, diam dan bisu, tak ada nafas, tak ada debar jantung tak ada denyut nadi. Madita mulai histeris, “Nenek … jangan tinggalkan Dita! Dita mau ikut nenek!”

Nenek tatap diam membisu, dari sudut–sudut matanya ada sisa-sia air mata yang mengering, kedua tangannya memegang sebuah buku dan syal warna pelangi, ada pula sepucuk surat  yang terselip pada buku itu dan akhirnya dibaca oleh Dita. “Menggambarlah di buku gambar baru ini, aku telah menyuruh tetangga kita bibi Ratih untuk membeikan buku gambar yang paing tebal untukmu, cukup untuk bertahun-tahun goresan pensilmu yang sangat berharga, syal ini juga untukmu. Aku selalu mencintaimu, dari nenek Madita”

Hari pemakaman, mereka menggali kuburan nenek dan Madita memegang keranjang bunga dengan gaun hitam dan mata sembab penuh duka abadi. Mama dan papa menyampaikan pidato singkat bahwa keluarga ini sangat menyayangi nenek dan bahwa jasa beliau sangat berarti bagi anak-anak dan cucu keluarga besar ini. Sambil menangis dan memeluk Madita, mama menyebutkan pula bahwa Madita adalah cucu kesayangan almarhumah.

Madita bergeming ketika melihat mereka mulai menimbuni nenek dengan gumpalan-gumpalan tanah, rasanya separuh jiwanya telah turut serta terkubur bersama nenek, jiwanya yang kini masih tersisa pada raga hanyalah jiwa yang pasif dan sepi. Tak ada lagi loteng perlindungan dan kasih sayang, tak ada lagi acara menggambar diam-diam sembari mendengar nasihat nenek. Baju hitamnya pada acara pemakaman itu dihiasi syal pelangi peninggalan nenek, tetapi buku gambar tebal disembunyikanya pada kotak hitam berisi foto-foto lama milik nenek dibawah tempat tidur di atas loteng. Senja hari proses pemakaman itu selesai dan dengan langkah gontai Madita pulang ke rumah yang semakin sunyi, rapat dan sesak oleh pagar-pagar yang menjulang semakin tinggi. Penyakit asmanya kumat.

Ketika semua orang di rumah sedang tidur, diam-diam Madita menaiki tangga ke loteng dan menyapa hawa nafas nenek yang masih dihirupnya dalam-dalam. Ia membuka peti hitam dan mengambil buku gambar peningggalan nenek dan mulai menggambar kenangan cinta bersama nenek. Kadang-kadang ia mengobrol dengan hawa nafas nenek hanya untuk mengucapkan betapa Dita sangat berterima kasih pada almarhumah. Begitulah hampir setiap hari Madita menyelinap ke loteng untuk menggambar setelah kedua orangtuanya tertidur lelap. Jika ia bosan dengan pensil, ia akan memberi warna pada lukisannya dengan arang dari perapian, kunyit dan kembang taman yang ditumbuk halus. Tak ada cat air, tak ada pensil warna.
Suatu saat buku sketsa gambarnya di bawa ke sekolah agar bisa digunakan pada materi pelajaran seni di kelas lima dengan seorang guru baru yang sangat menghargai karya siswanya. Guru lelaki bernama Wimar itu tak sengaja melihat sketsa gambar Madita yang telah terkumpul puluhan lembar dan ia menjadi sedemikan takjub dengan raut wajah melongo dan akhirnya berdecak kagum, “Dita … kau sangat berbakat dalam melukis! Berlatihlah terus karena kau terpilih untuk menjadi salah satu peserta pameran seni pada pekan seni bulan depan!”

Madita tak percaya dengan pujian guru Wimar, “Apakah Pak Guru yakin aku tak menyia-nyiakan kertas gambar dengan coretan yang tak berarti?”

“Semua coretanmu sangat berarti, percayalah, Nak!”

Pulang sekolah Madita menjadi sangat bersemangat memberitahukan hal itu kepada papa dan mama ketika mereka berkesempatan makan siang bersama, “Ma ... Pa … bulan depan aku diminta untuk mengadakan pameran hasil lukisanku bolehkah aku meluangkan waktu untuk berlatih dan menghasilkan lukisanku yang terbaik?”

“Hmmm … lalu bagaimana dengan pelajaran matematikamu?” mama bertanya hal lain  yang kurang disukai Madita.

“Aku bisa belajar pelajaran lain sambil melukis!”

“Sungguh, Mama cuma mengkhawatirkan masa depanmu, seniman itu kebanyakan kere!”

“Aku janji tak akan jadi seniman, ini ‘kan hanya hoby!”

Papa akhirnya angkat bicara membela Madita, “Sudahlah Ma … biarkan dia melukis, suatu saat ia akan fokus ke cita-cita sesungguhnya, ini kan dia baru kelas lima!”

“Tapi Mama dengar melukis atau menggambar itu memuja benda, lama-lama kau bisa memyembah benda-benda mati yang seolah-olah hidup!”

Madita terdiam tertunduk dengan kata-kata yang menusuk dari mama, papa menimpali, “Aku yakin Madita bisa membedakan gambar dengan kehidupan nyata, mana yang disembah dan mana yang tak layak disembah”

Madita makan sedikit lalu pergi meninggalkan meja makan, tubuhnya mulai menggigil dan tarikan nafasnya berbunyi ‘ngik’ oleh karena penyakit asmanya kembali kambuh. Jika sudah begitu ia akan meminum jahe hangat dan mencoba menenangkan diri di atas loteng. Kata-kata tajam dari mama selalu lebih mempengaruhi jiwanya daripada pembelaan papa. Madita hanya ingin menggambar, bukan menyembah benda mati. Madita hanya menuangkan beban-beban jiwa ke dalam bentuk coretan-coretan yang hemat dan bermakna, memperluas rasa syukur yang masih ada atas kehidupan ini. Akhirnya ia demam selama dua minggu tidak masuk sekolah. Mama mulai melunak dan mengatakan bahwa ia boleh mengggambar sesekali setelah belajar ilmu pasti atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Guru Wimar datang menjenguk menanyakan kesiapan Madita untuk mengikuti pameran pekan seni. Madita mendengar Guru Wimar bercakap-cakap dengan mama di ruang tamu, ia mengintip, nampak olehnya mama mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.

Usai pertemuan itu … ,“Dita, pameran itu teranyata ajang bergengsi, walikota akan datang dan kemungkinan akan melhat sketsa dan lukisanmu! Ayo cepat sembuhlah … dan mulai mempersiapkan pameranmu! Oh … sebentar aku akan membelikan krayon dan cat minyak terbaik. Tunggu Mama ya?” mama mulai bersiap-siap memperbaiki riasan wajahnya pada cermin. Madita sangat kaget dengan perubahan sikap mama. Ah tapi tidak … Mama melakukan itu semua untuk sebuah gengsi tetapi Madita tidak peduli yang penting  pamerannya telah direstui. Madita cepat mengangguk dan merasa semakin sehat. Ia tak sabar menunggu krayon dan cat minyak dari mama yang bergegas pergi ke toko buku.

Madita cuma ingin menggambar!
 
***
 
 
 
 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    29 hari yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Yang konsisten lagi dari tulisannya Shanti Agustiani; mengetengahkan tokoh perempuan dan segala konflik di antara mereka. Kali ini Shanti mengangkat cerita Dita, yang kami yakin mewakili kisah salah pengasuhan orang tua modern saat ini dimana orang tua sibuk bekerja lalu sang ibu kurang perhatian terhadap putrinya sendiri. Seperti nasib Dita ini yang mencari kasih sayang dari nenek yang pada akhirnya meninggal dunia. Beruntung Dita suka menggambar yang tak hanya jadi tempat ia menyalurkan bakat tetapi jadi tempatnya mengekspresikan suasana hati.

    Ditulis dengan bahasa yang lugas dalam struktur organisasi yang baik, fiksi ini selain enak dinikmati juga berhasil mengeksplorasi emosi tokoh-tokohnya. Akhir kisah fiksi ini juga asyik dimana Dita tumbuh jadi orang kuat di usia yang masih sangat belia. Walau ia tahu sang ibu hanya mendukung hobinya demi mengejar nama baik di hadapan banyak orang, Dita tetap menggambar. Keinginan polos anak kecil yang berarti banyak untuknya.

    • Lihat 1 Respon