Selendang Takdir

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juli 2017
Selendang Takdir

Selendang Takdir

Karya : Shanti Agustiani

 

Aku bukan hanya menginginkan selendang merahku kembali, tetapi juga dia yang telah bersusah payah memanjat pohon kumis kucing hingga menggapai ranting tempat selendang itu tersangkut sedangkan ia melupakan  layang-layangnya sendiri.

“Hai Nona ... bukankah selendangmu sudah kembali, Jadi apa yang kau tangiskan?” selidik kondektur bus sembari melirik dari kaca spion ke arah mataku yang sembab oleh airmata. Sementara mama yang duduk di sampingku tak bergeming menatap kaca jendela bus dengan pandangan kosong.

“Tak apa-apa ...”

Kondektur itu mengangguk tersenyum dan membunyikan klakson telolet yang panjang meninggalkan kota kecil Town Hall. Kami tiba di kota Temindung sore hari, ada tiga tas yang harus kami bawa, rupanya mama tak akan kembali lagi pada papa yang selalu merayakan kesedihannya dengan sebotol whisky hampir setiap hari. Mama tak tahan dan saking marahnya memecahkan semua botol-botol ke tungku perapian. Papa semakin marah dan melempari mama dengan botol-botol yang masih bisa diselamatkannya, mama membalas, rumah kami perang botol whisky.

Aku memilih membuka jendela di pojok belakang rumah untuk tak menyaksikan perang botol itu dengan ketakutan dan air mata.  Aku duduk mematung memandang keluar sana pada takdir baik yang kuharap menghampiriku segera. Kupejamkan mata dan ... beberapa saat kemudian seiring matahari terbit aku melihat sepasang mata bulat hitam yang seketika itu menembus ke dalam jiwaku. Mata elang milik anak lelaki kecil berkaos oblong putih dengan layang-layang yang sangat besar, lebih besar dari tubuhnya. Ia mengagetkanku hingga aku hampir jatuh dari kursi rotan tanpa sandaran. Isyarat lambaian tangan kecilnya mengajakku pergi mencari angin di luar. Maka diam-diam aku tinggalkan perang botol di rumahku, dan aku menurut saja ketika tangan anak lelaki itu menarik jemariku berlari menuju ke tanah lapang di belakang rumahku.

“Tolong ... bantu aku terbangkan Doraemon ini  ya?" ujarnya dengan mimik muka memelas.

Aku tertawa menganggguk dan merasakan betapa bahagianya ia dengan layang-layang bergambar Doraemon itu. Angin di luar terasa lebih sejuk daripada yang berhembus ke jendela rumahku.

“Apa kau bikin sendiri layang-layang ini?”

“Ya ... tentu, aku tidak punya cukup uang untuk membeli, jadi aku buat sendiri dari bahan-bahan bekas!”

Mataku semakin berbinar senang dan bangga padanya. Dengan riang aku membentangkan layang-layang Doraemon sembari melompat tinggi-tinggi. Anak lelaki itu lihai memainkan benang sehingga si Doraemon dapat terbang jauh lebih tinggi. Aku bersorak melompat-lompat kegirangan dan ia menarik-ulur benang dengan wajah secerah alam. Aku terus melompat bertepuk tangan, kurasa aku tak pernah merasa sebahagia itu. Tanpa sadar selendang merah yang kujadikan syal di leherku terhembus angin kencang hingga ia ikut terbang tinggi. Anak lelaki itu juga mengalami hal yang naas karena layang-layangnya putus. Aku mengejar selendang merahku dan ia mengejar layang-layang Doraemon-nya. Namun ketika melihatku terjatuh, ia menghentikan mengejar layang-layang dan berbalik menolongku untuk meraih selendang yang akhirnya tersangkut pada ranting pohon kumis kucing. Anak itu memanjat dan ketika itu aku mendengar sayup-sayup namaku dipanggil mama dari kejauhan.

 “Ini dia dicari-cari dari tadi, ayo ikut Mama!”

“Kita ke mana Ma?”

“Sudah jangan banyak tanya, cepat bantu Mama membawa koper-koper ini!

Aku hanya menitikkan air mata sementara mama menarik lenganku dan menyetop bus kota, anak lelaki itu baru saja berhasil meraih selendangku dan bergegas turun.

“Selendang merahku Ma ...”

“Nanti Mama belikan yang baru!” tukas mama sembari menaikkan koper-koper kami ke atas bus dan aku berdiri di pinggir pintu bus menatap nanar pada anak lelaki kecil yang berlari menghampiri kami

“Tunggu... Pak Kondektur! Aku ingin selendangku!”

Beruntung kondektur bus itu mau bersabar menunggu dan menganggukkan kepalanya dengan ramah. Saat anak lelaki itu akhirnya berhasil meraih tanganku untuk memberikan selendang merah, aku merasakan jemarinya sangat dingin. Hingga jatuh rasa iba yang menggerakkanku untuk melemparkan jaket Jeans-ku kepadanya. Ia menolak tetapi aku melambaikan tanganku hingga tubuhnya semakin kecil terlihat dari kejauhan ketika bus kami mulai melaju pergi meninggalkan rasa persahabatan yang baru saja terjalin. Semenjak itu aku berjanji akan mencari lagi dia dalam hidupku.

Aku sedang mengelapkan jendela yang basah oleh air hujan sore itu ketika Mama mengagetkanku dengan seruan bertubi-tubi.

“Kau tak pernah bergaul Damai ... bagaimana mungkin kau dapat pasangan hidup? Tidakkah kau dengar tante Lidya akan menikahkan putrinya bulan ini. Lalu kamu bagaimana? Apa lelaki kaya yang menanyakanmu lewat mama tempo hari itu kurang ganteng? Memangnya kamu secantik apa sih? Memangnya kamu sekaya apa sehingga menolak takdir berjodoh dengan pemilik kedai? Jangan jual mahal ah!”

“Ma ... aku punya takdir jodoh sendiri, kali ini aku mohon Mama jangan turut campur mengatur kehidupan pribadiku!”

“Siapa?”

“Bukan siapa-siapa Ma ... tak perlu dibahas!”

“Baik ... silahkan cari lelaki antah berantahmu itu asal jangan kau bawa lelaki rombengan yang akan menumpang hidup di rumah ini seperti papamu dulu! Nanti ... kalau kau jadi perawan tua, Mama tak peduli!”

Aku terdiam, ya biar saja! Aku sudah kenyang diomeli mama dan harus menuruti kemauannya semenjak aku kecil. Tetapi kini, aku tidak akan menurut jika ia tetap ngotot menjodohkan aku dengan lelaki kedai itu. Lelaki itu, meskipun kaya dan berkelas tetapi tidak memilki etika sama sekali dalam menghadapi sesama manusia. Pernah aku memergokinya mengusir pengamen lusuh dengan meludah di depan pengamen itu. Belum lagi ketika ia mencoba menggodaku dengan kata-kata kotor seolah-olah aku ini pelacur yang dapat dibeli.

“Damai ... berapa duit kamu semalam, berani-beraninya gadis miskin sepertimu menolakku. Tak tahukah kamu, mamamu mengemis-ngemis pekerjaan di sini, apa imbalanmu?”

“Tanyakan padanya, bukan padaku! Aku tak mengemis apa pun darimu dan menjauhlah dari kehidupanku!”

Mengetahui pertikaian itu, mama yang sangat takut dipecat dari pekerjaannya justru berbalik memarahiku dan mengambil serbet terbaiknya untuk mengelap sepatu si Boss Kedai 99 itu. Kali ini aku yang meludah di depannya dan semenjak itu tak pernah lagi mau mengunjungi tempat kerja mama.

Baiklah ini kode alam agar aku mandiri dan mulai mencari pekerjaan, mulai mencari matahari terbitku, lelaki cinta pertamaku yang tak dapat aku lupakan hingga kini. Meskipun hanya bermodal ijazah SMA aku beranikan diri kembali ke Town Hall mencari jejak takdirku di sana.

Dulu sewaktu SMA kelas sepuluh aku hampir jatuh cinta pada Hardian, lelaki yang sangat mirip matanya dengan si matahari terbit. Ia juga yang menolongku dari kasus-kasus bully bertubi-tubi yang menimpa anak kurang gaul sepertiku. Ia yang membersihkan permen karet sebelum aku duduk atau memperingatkanku akan jebakan-jebakan mereka di lain waktu. Ia juga menemaniku duduk di pojokan sambil menangis karena rambutku habis diacak-acak dengan telur busuk dan mereka berdalih merayakan ulang tahunku ketika guru sekolah kami menanyakan perlakuan mereka.

Dari Hardian aku belajar tentang sikap altruisme, menolong tanpa pamrih, karena ia tak punya maksud apa-apa terhadapku kecuali rasa iba dan kemanusiaan. Tetapi semua itu berlalu ketika kelas sebelas kami pisah kelas. Ia tak lagi menjadi pahlawanku dan angan-angan cintaku aku kembalikan pada anak lelaki di masa kecilku, si matahari terbit.

“Toot ... toot ... “ aku mengenali suara klakson bus kota itu, suara yang lebih berat dari bunyi klakson lainnya, cepat aku melambaikan tangan dan melompat ke atas bus dengan semangat. Pulang kampung ke Town Hall! Apakah aku akan bertemu papaku di sana? Rasanya sudah sepuluh tahun lebih tak betemu dengannya, bahkan mendegar suaranya dari telepon pun tak pernah. Apakah aku merindukannya? Tidak, aku ‘kan merindukan si matahari terbit itu!

Bus melenggang jalan menyusuri jalan yang berkelok-kelok, untunglah kondektur bus memutarkan lagu-lagu slow Michael Jackson yang aku suka, membuat mataku memberat dan teramat mengantuk. Selain lagu itu tak ada yang menarik pada bus tua yang didalamnya kebanyakan penumpang separuh baya dan beberapa pedagang asongan.

 “Damai .... kau 'kan Damai!’

Kondektur bus berseru agak keras membangunkan aku yang hampir hanyut oleh mimpi. Rupanya sedari tadi ia memperhatikanku dari kaca spionnya.

“Bapak kenal saya?”

“Namamu Damai ‘kan?”

“I ... iya .... hmmm dari mana Bapak tahu?

“Kau anak gadisku, sini duduk dekat Bapak!” Ia menyerukan hal yang tak terduga itu dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar percakapan kami seisi bus yang tadinya hening tiba-tiba menjadi riuh-rendah bersorak dan bertepuk tangan, “Ayo Neng ... dekati ayahmu! Jangan sia-siakan kesempatan ke dua untuk bertemu!” Seorang pedagang asongan berteriak yang diikuti dengan pandangan seisi bus ke arahku sembari menangguk dan tersenyum berharap agar aku tidak ragu. Bahkan seorang nenek memperlihatkan gigi ompongnya tersenyum membesarkan hatiku. Akhirnya aku menuruti rasa penasaranku, apakah benar ia papaku? Aku pindah duduk di samping kondektur bus itu dan mulai bercakap-cakap tentang masa lalu.

“Maafkan Papa ....  Papa tak tahu alamat barumu dan tak tahu bagaimana cara menghubungimu“ Lelaki yang kusadari sebagai papa karena garis tegas di pelipis wajahnya yang selalu kuingat semenjak ia menggendongku suatu waktu di kebun binatang.

Ia mencoba menggenggam jemariku. Aku menepis tangannya, ada sedikit kebencian dan juga kerinduan, serta rasa penasaran seperti apa kisah hidupnya semenjak kami berpisah hingga ia menjadi seorang kondektur bus kota yang membawaku kembali ke Town Hall. Mendengarkan kisahnya, menyusup di relung hatiku sebuah perasaaan lega luar biasa ketika mengetahui bahwa ia kini bebas dari ketergantungan alkohol. Aku masih menyayangi papa.

 “Bagaimana Papa bisa mengenaliku tadi, tidakkah aku berubah sekarang?”

 Papa mengamati wajahku sembari tersenyum, gurat-gurat kerut di dahi dan garis senyumnya, serta rambut yang hampir seluruhnya memutih menjadikannya nampak sebagai manusia yang telah bermetamorfosa sedemikian indah, ia tak lagi sangar seperti dulu. Hingga aku merasa lebih nyaman berada di sisinya.

“Selendang merah yang kau kenakan itu ... oleh-oleh Papa sewaktu pulang dari Prancis. Saat itu Papa masih bekerja sebagai ABK di kapal Prancis. Lalu mamamu marah-marah karena Papa jarang pulang. Maka aku tak bekerja lagi ... eh ... malah dia semakin rajin marah setiap hari!”

“Itu karena Papa pemabuk!”

“Ha ha iya juga ... Papa depresi karena tak mendapat pekerjaan lagi ... makanya Papa larut dengan alkohol ... sementara tuntutan hidup mamamu tinggi. Sepeninggal kalian Papa semakin larut dalam depresi berkepanjangan ...”

“Begitu ya?”

“Ya ... Papa hampir mati karena mabuk dan depresi ... untunglah ada malaikat kecil yang menolong Papa”  mata papa menerawang jauh ke masa lalu sepuluh tahun yang lalu. “Malaikat kecil itu mengajak Papa utuk mengamen bersamanya, aih ... suara anak lelaki kecil seusia mu itu merdu sekali. Banyak yang terpesona pada anak itu ketika kami mengamen bersama. Kami mengumpulkan koin demi koin untuk membeli sebungkus nasi yang kadang-kadang dimakan berdua. Bahkan ia sudah kuanggap sebagai anakku sendiri pengganti kau Damai ... aku punya nama kesayangan untuknya, si Buyung ...”

“Buyung?”

“Iya si Buyung ... bahkan sampai kini aku tak tahu nama asli anak itu,... begitu aku dapat pekerjaan sebagai kondektur ia pergi menghilang membawa semua botol-botol whisky-ku. Entah dikemanakan, ia hanya menulis surat ucapan selamat padaku. Dan sebelum pergi ia menggantung sebuah lukisan di kamarmu.

“Di kamarku?”

“Nah ... itu dia, sepertinya dia mengenalmu, mungkin teman mainmu juga ya Damai?”

“Mmm ... mungkinkah dia si matahari terbit?”

“Apa, kau bilang apa? Keras-keraslah bicara karena telinga Papa ini sudah saliwang!”

Aku tertawa dan enggan berbicara lebih banyak tentang si matahari terbit itu. “Sudahlah Pa... ya bisa saja dia teman mainku dulu!”

Akhirnya bus yang melaju berkelok-kelok itu sampai kepada rumah masa laluku,  rumah mungil dengan dua kamar dan dinding batu bata merah. Dari halaman depan rumah itu nampak tak terawat karena tenaman rambat dan lumut hijau mulai banyak menyelimuti dinding luar rumah.  Setelah Papa pergi melanjutkan pekerjaannya, aku langsung menuju kamarku dan benar saja aku terperangah. Lukisan itu .... yang terpaku di dinding kamarku menggambarkan dua orang anak, yang perempuan mengejar selendang merah, yang lelaki mengejar layang-layang, si matahari terbit! Aneka macam perasaan menyelimutiku, apakah dia juga memikirkan dan mengharapkan perjumpaan denganku, dia takdir selendang merahku?

Beberapa hari di Town Hall aku mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah toko roti sehingga aku bisa menggunakan sebagian waktuku untuk mencari si matahari terbitku Aku bertanya pada tetangga, membuat sketsa wajah mungilnya, membaca koran. Hingga suatu saat aku duduk di taman kota yang dulunya berselimut ilalang tempat kami menerbangkan layang-layang di sana, seorang anak penjual koran datang menghampiriku.

“Koran Kak?”

“Mmm ... baiklah aku beli!”

“Apakah Kakak juga mau saya semirkan sepatunya?” anak lelaki penjual koran itu duduk di sampingku dengan wajah penuh harap. Tiba-tiba aku teringat wajah memelas si matahari terbit dan aku mengangguk meskipun sepatu sandalku tak butuh disemir.

Aku mulai membaca koran ditemani anak yang bernama Dabo itu, kami bercakap-cakap dengan akrab. Saat mataku melihat sesosok wajah pada halaman tengah koran, rasanya wajah itu tak asing lagi bagiku. Rupanya ia seorang pelukis yang baru saja pameran di kota Temindung. Astaga, mata elangnya ... bentuk hidungnya yang lurus, serta dekik lesung pipi itu ... rasanya aku ingat wajah yang selalu aku simpan dalam lubuk hatiku yang paling dalam, namanya Sadewa bukan Buyung, si matahari terbit!

“Dabo ... aku buru-buru, aku akan ke Temindung hari ini juga, terima kasih sudah membawakan Kakak koran yang sangat keren ini ya!”

“Oke Kak ... semoga takdirmu baik hari ini!”

Ucapan Dabo mengenai takdir itu sedikit mempercepat debar jantungku, mungkinkah aku menemukan belahan jiwaku hari ini? Aku berlari ke rumahku berharap papa ada di sana agar aku bisa berpamitan. Beruntung aku menemukannya sedang memasak dua telur ceplok.

“Papa ... Papa ... aku menemukan Buyung!”

“Buyung?”

“Iya Pa ... dia di Temindung sekarang, aku harus menemuinya siang ini juga karena sore ini pamerannya sudah akan tutup! Ya ampun Pa ... aku mencarinya di sini sementara dia tinggal di sana satu kota denganku selama tiga tahun. Dan selama itu aku tak pernah bertemu dengannya seujung jempol kakinya sekalipun!”

Papa duduk sembari menghidangkan telur ceplok satu untukku dan satu untuknya, dua gelas besar  kopi hitam yang kental juga terhidang di atas meja, “Jadi kau kembali ke Temindung sekarang, nak?”

“Ya, aku rasa dia takdirku Pa ... aku harus menemui takdirku!”

“Bagaimana kalau dia bukan takdirmu?”

“Tidak ... dia pasti takdirku, aku tak bisa melupakannya dan aku tak bisa mengganti isi hatiku dengan sosok lelaki lain”

“Terserah kau Damai ... kau sudah semakin dewasa. Hanya Papa pinta, jangan terlalu memaksakan takdir!”

Aku hanya tersenyum dengan sebuah nasihat itu, ia yang selama ini tak pernah memberikan nasihat kini dengan gurat yang semakin banyak pada wajahnya seolah berubah bijaksana. Tapi aku tetap menghargainya, “Aku tak menyerah Pa!”

***

 

Sesampai di Temindung aku langsung menuju lokasi pameran lukisan dan mencari-cari di mana ia dan gallery-nya. Aku melihat lukisan gaya natural, ini bukan dia dan oh itu si sana pastilah lukisan-lukisan abstrak itu miliknya. Meski aku hanya mengenalnya beberapa saat di masa kecil dan melalui lukisan yang ditinggalkannya di dinding kamarku, aku menyelami jiwanya sekian lama. Dan aku telah membentuk psikologi kepribadiannya dalam angan-anganku sendiri, seolah kami telah lama berdialog pada puncak telepati.

Ketika asyik menikmati lukisan-lukisan itu seseorang menyentil bahuku dari belakang, irama jantungku semakin kencang ketika berbalik dan menemukan sesosok pria gondrong berkacamata yang tersenyum padaku dengan lesung pipinya. Sungguh kacamata itu tak bisa menyembunyikan mata elang yang aku kenal, “Sadewa ... kau Dewa kan? Pelukis muda berbakat?” Lelaki itu mengangguk dan mengulurkan tangannya.

“Ya benar ... saya Sadewa, silahkan duduk!”

Kami duduk di kursi pengunjung pameran yang berbentuk lingkaran. Kami berhadapan, hidung lurusnya serasa tepat menghujam hatiku yang menjadi tak keruan.

“Mmm ... Perkenalkan namaku Damai .... aku sudah lama mengagumi lukisan-lukisanmu termasuk yang ini!” ujarku sembari mengeluarkan isi tasku, lukisan yang digantungnya di dinding kamarku.

“Oh Tuhan .... kau Damai .... anak perempuan dengan selendang merah itu?”

Aku mengangguk senang.

“Bahkan dulu kita tak sempat berkenalan!” ia tersenyum lebar memperlihatkan dekik lesung pipi yang semakin jelas. “Iya ... lukisan itu aku buat karena aku melihat kekecewaan di wajahmu saat pertemuan pertama dan terakhir kita semasa kecil. Aku menyesal belum sempat menanyakan namamu ...” Sadewa menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengacak-acak rambut gondrongnya, matanya jauh menerawang masa lalu kami.

Kami asyik berbincang-bincang dan rasa canggung di antara kami semakin cair, mengetahui bahwa obrolan kami ‘nyambung’ ibarat gayung yang selalu bersambut membuatku merasa kebahagiaan tatakala bermain bersamanya di masa kecil itu kembali terulang.

Pukul lima sore, para pengunjung mulai berkurang, lukisan-lukisan mulai diturunkan karena pameran akan tutup, namun obrolan kami tiada habis-habisnya termasuk menceritakan hal pertemuannya dengan papa serta sebab mengapa ia tiba-tiba menghilang.

Ketika suasana mulai sepi, datang dua pengunjung lagi yang menghampiri kami dengan seorang anak perempuan balita. Pengunjung wanita mengenakan dress merah marun dengan juntaian kalung mutiara putih nan elegan dan yang laki-laki. Oh Tuhan .... “Hardian!”

Lelaki itu tak kalah kaget mengucek-ucek matanya tak percaya, “Damai .... kau ... kenal Sadewa?!”

“Dia ... teman masa kecilku di Town Hall” aku menjelaskan dan melirik sekilas pada wanita cantik yang melengos tak senang melihat keberadaanku. Mungkinkah ini istri Hardian?

“Ya  ... dia teman masa kecilku, jadi kalian kenal di mana?” tanya Sadewa sambil tertawa dan meraih anak balita yang kemudian berada di pangkuannya.

“Damai ini kan teman SMA-ku!" tukas Hardian yang akhirnya duduk bersama kami. Wanita  berambut panjang sebahu itu hanya berdiri tak mau turut duduk bersama kami, wajahnya masih memberengut. Cemburu kah ia?

“Oh ya kenalkan ... tante Damai ... ini Naila putri kecilku dan ini istriku Siska!” Sadewa yang mengucapkan hal itu ... ya Sadewa ... bukan Hardian. Rasanya remuk, tetapi aku tahan, aku mengulurkan tangan pada putri kecil Sadewa yang memiliki wajah papanya, lalu pada Siska yang dengan senyum sinis menyambut tanganku sekejap. “Tadi karena aku sibuk pameran, aku minta tolong abangku Hardian untuk menjemput istriku yang sedang berbelanja.”

“Oh begitu ya? ... jadi Hardian abang kandungmu?”

“Ya ... begitulah masa kecil kami terpisah karena perpisahan orangtua, tetapi kami akhirnya bertemu di sini.” Sadewa menjelaskan. Selanjutnya aku sudah tak lagi fokus pada pembicaraan mereka. Rasa-rasanya kepalaku sangat berat dan aku berpamitan, mereka pun kelihatannya bersiap-siap untuk membereskan semua lukisan Sadewa.

Aku pulang ke rumah mama, dan melihat wajah mama teramat gembira.

“Damai ... kau tak memberi kabar, Mama rindu nak, maafkan Mama ya?”

Aku memeluknya dan mama merasakan kesedihan yang berkecamuk di hatiku.

“Istirahatlah dulu, nampaknya putri Mama kelelahan. Mama tak menuntut apa pun darimu nak, percayalah!”

“Ya Ma ... terima kasih... tapi aku hanya butuh tidur sekarang!”

“Tidurlah ... kamarmu sudah Mama rapikan!”

Di dalam kamar yang telah aku kunci rapat-rapat, aku menangis sepuas-puasnya. Lukisan masa kecil aku dan Sadewa yang masih kusimpan kusobek-sobek kecil-kecil dan kubuang ke tempat sampah, panantianku hanya sampah! Takdirku tak sejalan dengan angan –angan yang kujaga semenjak kecil hingga kini aku dewasa. Selendang merahku bukan untuk disambut olehnya. Nyatanya matahari terbit itu telah menghanguskankan istana cinta yang aku bangun bertahun-tahun dan aku jaga kemurniannya. Aku tertidur dalam rasa sakit yang tak tertahankan.

Tengah malam aku terbangun oleh notifikasi pada handphone-ku yang berdenting di atas kepala. Sebuah notifikasi wa pada pukul sebelas malam, “Apa kabar Nona Damai?” dari Hardian.

 

***

 

 

  • view 138