Bidadari Cemburu

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juni 2017
Bidadari Cemburu

Bidadari Cemburu

Karya: Shanti Agustiani

 

Langit di sungai Leihari senja hari itu menampakkan matahari merah saga.  Air sungainya tetap saja coklat meski ditimpa cahaya yang indah kemerahan, jarang anak-anak kecil yang suka berenang-renang di sana, kecuali yang kulitnya kebal tahan air kotor dan anti gatal seperti kak Huda sekarang ini, sungai Leihari memang semakin tercemar beberapa tahun belakangan, terlebih dengan semakin maraknya galian-galian batu bara yang mencemari lingkungan dan limbahnya mau tak mau mengalir juga ke sungai Leihari melalui rembesan tanah.

Hamida duduk-duduk membuat jalinan manik-manik, merangkainya menjadi beberapa gelang sembari memandangi sungai itu dan tertawa melihat Huda yang mencoba mencari sisa-sisa ikan di sungai yang masih bertahan hidup di air tercemah limbah itu. Namun ia kembali ke batang menghampiri Hamida dengan tangan hampa, dihempaskan tubuh bongsornya ke sisi Hamida.

 “Aku tak menemukan ikan satu pun, tetapi aku bertemu bidadari itu lagi!’ ujar Huda duduk di sisi Hamida,

 “Hah bidadari?”tanya Hamida sambil tertawa.

 “Ya… kutemukan bidadari yang telah menemuiku semenjak bertahun-tahun lalu! Tapi…bidadari itu selalu saja terlepas. Nanti aku tangkap lagi bidadari itu!” ujar Huda tersenyum kepada Hamida.

 “Halah bual kau Kak…mana ada bidadari yg mau mandi di sungai sekotor ini, bisa-bisa kulitnya bentol-bentol kena penyakit kulit!” sahut Hamida tertawa. Huda pun tertawa keras-keras, mereka pulang di senja hari. Tak banyak bicara, hanya saling menjaga berdampingan dan bersitatap sekali-kali.

Suatu siang ketika matahari terik merayapi sirap-sirap atap rumah betang, tiba-tiba datang seseorang yang menyeruak lamunan dara yang sedang asyik menyulam kain adat. Tubuh gesitnya yang bergerak cepat mengagetkan Hamida dari belakang lamunan panjang. Arliana namanya, sepupu Hamida. Gadis metropolis itu mahasiswi kehutanan yang sedang berlibur sembari hendak melakukan penelitian terhadap dampak pencemaran lingkungan di sekitar hutan. Ia soarang gadis yang memiliki gaya khas, mudah tertawa keras pada siapa pun dan menghamburkan sungging senyum lesung pipinya yang merah jambu dan sebulat apam serabai. Ia tertawa terpingkal-pingkal melihat Hamida yang hampir tertidur di balai-balai sembari memegangi sulaman kain adat bermotif burung enggang. “uh …kau rupanya anak bengal!” seru Hamida seraya ikut tertawa dan memeluk erat bahu Arliana

Arliana berlibur di sini selama satu bulan penuh, ia tak mengikuti semester pendek seperti teman-temannya yang lain, karena toh selama ini nilainya sangat memuaskan, tak ada yang perlu diulang, dan tak perlu takut ketinggalan. Jadi ia bisa dengan tenang mempersiapkan skripsinya.

Huda, yang juga tetangga Hamida cepat menyambangi Arliana dan Hamida sore itu. Huda akan menjadi pengusaha sawit, bapaknyalah yang mewariskan usaha itu, bahkan dua hektar lahan sawit sudah diserahkannya kepada Huda untuk dikelola. Tetapi ia merasa masih miskin ilmu, juga mengenai  proses penanaman kembali lahan-lahan gundul di daerahnya sehingga bencana banjir dan longsor tak dapat lagi terelakkan menghampiri mereka sewaktu-waktu. Mungkin hanya Huda dan segelintir orang yang bertekad melakukan peremajaan hutan dan berusaha menambal bopeng-bopeng wajah pertiwi  di daerahnya. Kini, mumpung ada Arliana ia bisa belajar banyak dan bekerja sama sembari Arliana menyelesaikan penelitiannya. Bagaimanapun ilmu dan praktek perlu saling melengkapi usai perkenalan niat itu pun diutarakannya, “Mau kan dinda Liana bantu bang Huda?”

 “Gimana ya … mau ndak ya …?” lagi-lagi Arliana tertawa berderai-derai, kali ini deret gigi putih gingsulnya nampak begitu menyilaukan hati Hamida yang entah kenapa semenjak itu merasa bahwa Arliana lebih baik segalanya daripada dirinya sendiri. Hampir saja jarum ditangannya menusuk jemari Hamida ketika melihat dua insan itu tertawa di hadapan Hamida.

Terlebih pada hari-hari berikutnya,  mereka sering pergi ke hutan untuk saling belajar dan membantu satu sama lain. Sebenarnya Hamida juga diajak, tetapi Hamida lebih sering menolak dengan alasan sibuk membantu mamak mengerjakan kerajinan manik-manik dan sulaman kain yang akan dijual ke kota.

 “Ida … Ayo ikut kami, kali ini kami mau sambil memetik buah ramania di hutan!,” seru Arliana kepada Hamida, ia nampak sangat bersemangat, “Ayo… kak Huda tadi bilang… Hamida musti ikut!”

Hamida yang sedang asyik merangkai manik-manik menolak dengan halus, apalagi ia sedikit kesal karena Huda tidak mengajaknya langsung, malah ia menitipkan pesan saja lewat Arliana. “Huh… ternyata ia sudah punya teman baru untuk menemaninya pergi berpetualang. Sahabat lama pun ia lupakan!” dalam hati Hamida menggerutu,“Sudah, kau saja yang pergi, aku masih betah dengan manik-manik ini!”begitu kata Hamida. Lantas Arliana segera menyambar sepeda Hamida, “Aku pinjam sepedamu!” teriaknya sembari melambaikan tangan kepada Hamida begitu melihat Huda sudah tiba menjemput di halaman.

 “Ida …  tidak ikut kami?” tanya Huda sembari melongokkan wajahnya ke jendela rumah betang.

 “Tidak … aku selesaikan pekerjaaanku dulu, nanti kalau ada waktu biar kususul kalian!” Hamida berteriak dari jendela dalam rumah betang.  Ada empat kamar di rumah betang itu, dan setiap kamar dihuni satu keluarga kecil,  mereka adalah keluarga paman dan bibinya, sedangkan kamar utama dihuni oleh Hamida dan ibunya yang merupakan pengrajin manik-manik untuk dijadikan gelang, keranjang, tas, dan aneka souvenir lainnya, Souvenir tersebut dibawa ke kota dan laris dibeli turis lokal dan luar negeri. Rupanya bakat merangkai manik-manik diturunkan kepada Hamida yang dengan senang hati meneruskan usaha turun temurun ini. Bersama bibi dan saudara sepupu perempuanya mereka mengerjakan kerajinan khas kalimantan itu setiap hari di bagian belakang rumah betang. Sedangkan ayah Hamida sudah wafat bertahun-tahun silam.

Entah mengapa sore itu selama mengerjakan kerajinan manik-manik, hatinya mulai merasa tak enak. Ia terngiang-ngiang kata-kata Arliana dan Huda tadi, jadi belum selesai pekerjaannya sudah ditinggalkannya rangkaian gelang manik-manik itu. Hamida berpamitan kepada mamak sekaligus meninjam sepeda mamaknya untuk menyusul Huda dan Arliana ke hutan.

Sesampainya di hutan tempat buah ramania yang semakin langka masih tumbuh dan berbuah. Hamida menurunkan sepedanya agak jauh tersembunyi oleh semak belukar. Ia tak lantas berteriak memanggil Huda dan Arliana. Hamida berjalan pelan-pelan dan mengendap-endap berusaha tak menimbulkan suara, rupanya ia penasaran apa yang dilakukan mereka berdua tanpa Hamida.

Teringat dalam benaknya di masa kecil mereka berburu ramania untuk dijual ke Kai Atuk yang berjualan buah di pasar buah, mereka berdua kadang mendapatkan seratus atau limaratus perak bergantung dari banyaknya buah yang berhasil mereka dapatkan. Buah-buah ramania yang manis dan masamnya serupa anggur , namun ramania lebih besar dan bulat seperti tomat. Buah tersebut kini langka di hutan Leihari.

Hamida kecil memang agak tomboy, hobi juga memanjat pohon ramania dan sesekali usil mengerjai bekantan dan wak-wak yang suka berlompatan dari dahan ke dahan. Sekarang populasi bekantan pun semakin berkurang, sangat jarang mereka terlihat berkeliaran dari pohon ke pohon lagi. Seiring dengan kedewasaan, mereka mulai menyadari bahwa tak layak mengganggu habitat hewan yang dilindungi itu. Terlebih Hamida perasaannya semakin halus dan hilang sifat tomboy-nya, bahkan nyamuk pun enggan dipukulnya kini.

 “Awas jatuh Kak…!” itu suara Arliana. Huda rupanya sudah memanjat dan mendapatkan buah-buah ramania. Dari atas pohon timbul sifat isengnya melempari Arliana dengan buah yang dipetiknya. Arliana tertawa terbahak-bahak melihat Huda yang berpura-pura menjadi monyet jelek dengan ekspresinya mulut menganga, menggaruk-garuk tubuh dan kepala dan sesekali menyeringai di atas dahan, ia balik melempar Huda dengan ramania busuk, “Awas kamu ya!” Huda tertawa dari atas dahan.

Betapa tak menentu hati Hamida, Arliana dan Huda terlihat cocok satu sama lain, mereka sama-sama periang dan suka bercanda, tidak seperti dirinya yang selalu serius dan penuh lamunan. Memang semenjak abah meninggal, Hamida putus sekolah, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup, diliputi kesedihan kehilangan figur abah dan juga kehilangan cita-cita masa depannya yang ingin lanjut kuliah dan menjadi guru sekolah dasar di desanya. Sebenarnya Huda pun sekolahnya hanya tamatan SMA, tetapi pemuda itu punya warisan sawit dan semenjak lulus ia mulai mendampingi ayahnya membantu mengawasi lahan sawit mereka.

Tak lama terdengar suara yang menyentak lamunan Hamida, ‘Brakk!!’.Huda terjatuh dari dahan yang licin ketika ia mencoba turun menggantungi dahan dengan gaya monyet. Kakinya tergores bebatuan dan semak-semak. Arliana dengan sigap menolongnya dengan tissue basah diusapnya darah yang mengalir dari lutut lelaki bomgsor itu, Arliana bahkan merelakan syal-nya untuk menghentikan pendarahan di kaki Huda, diikatnya kaki Huda setelah menyibakkan celana panjang Huda hingga selutut. Lelaki itu meringis kesakitan, sementara Hamida masih tetap di posisinya mengintip mereka dari balik semak belukar hutan.

 “Makasih ya Ar … aduh! Heran … selama aku main ke hutan semnjak kecil bersama Hamida tak pernah aku jatuh dan luka separah ini…..Eh dengan kamu…kok bisa jatuh ya…grogi kali?!

 “Ha…ha...ha...,“ mereka tertawa lagi memekakkan telinga burung-burung hutan dan terlebi telinga Hamida yang semakin sakit. “Bisa aja kamu kak…masih sempat-sempatnya bercanda meski berdarah-darah!” tukas Arliana nampak manja. Meskipun agak jauh, Hamida dapat melihat pipi apam serabai Arliana yang bersemu kemerahan, entah kenapa serasa ada lahar yang panas mendidih merambat di hati Hamida. Hamida menyadari, ia kini cemburu setengah mati. Perasaan cinta yang terpendam ternyata telah tumbuh pelan tapi pasti. Dan perasaan itu semakin nyata ketika Arliana hadir di antara mereka. Ia begitu terganggu atas candaan bujang dan gadis cantik itu.

Usai Huda dan Arliana memunguti buah ramania yang bertebaran, mereka menumpuk buah-buah itu di keranjang sepeda. Mereka pulang, tak menyadari sama sekali akan kehadiran Hamida di hutan yang sepanjang sore hari ini menguntit mereka berdua.

Arliana yang sampai lebih dulu ke rumah betang, sangat kaget ketika mengetahui Hamida baru datang dengan sepeda mamak di belakangnya. “Darimana Ida? Katanya tadi mau nyusul?” tanya Arliana menyelidik.

 “Dari … .dari mengantar manik-manik pesanan orang!” sahut Hamida sekenanya dengan wajahnya yang nampak pucat.

 “Kenapa kamu Da? Sakit? Maaf ya kamu jadi memakai sepeda mamak untuk mangantar barang dan maaf tadi Kak Huda aku pinjam…”ujar Arliana tersenyum penuh arti.

 “Pinjam?” Hamida berkerut keningn mendengar kata-kata itu.

 “Iya …  kan Kak Huda milikmu! Sudahlah Ida … nggak usah pura-pura deh, aku tahu itu semenjak awal melihat gelagat kalian!” Hamida kaget dengan kata-kata Arliana  yang langsung kena sasaran itu. “Kasian lho tadi kak Huda jatuh, jadi aku bantu obati lukanya” lanjut Arliana mengedipkan mata, “Untungnya bukan jatuh cinta!”

“Masa?!” Hamida pura-pura tidak tahu. “Mana kuat dahan ramania menahan tubuh bongsor itu!.” Hamida menimpali, ikut tertawa basa-basi yang menutupi rasa cemburunya.

 “Iya…betul itu!, kata Arliana sembari tertawa.

Kian hari Hamida semakin merasa gelisah, Ia semakin yakin bahwa ia sudah benar-benar cemburu dan itulah tanda cinta yang baru muncul setelah sekian lama. Rupanya kedatangan Arliana untuk memperjelas bedanya perasaan yang tak biasa itu.

Jelang rembulan menghangatkan malam, Hamida mengenang kebersamaannya dengan Huda selama ini, kadang mereka bertengkar seperti kakak beradik, tetapi kemudian akur lagi. Namun Huda pun selama ini tak menunjukkan perasaan yang lebih daripada sekedar persahabatan. Bolak-balik Hamida mencoba tidur dan menghilangkan kegelisahannya, hingga ia menemukan di balik bantalnya sebuah surat, surat dari Huda! Surat itu ditulis Huda dengan tulisannya yang besar-besar. Begini tulisnya, “Hamida, aku heran kenapa sekarang Ida tak mau lagi menemani Huda, tadi kami juga menunggumu, tetapi batang hidungmu yang merah jambu itu tidak juga muncul. Hamida, apakah kamu tidak pernah cemburu?” Surat itu … baru kali ini ia mendapatkan surat dari Huda, dengan bahasanya yang pendek dan lugu.”Jadi dia mau aku cemburu?” pikir Hamida dalam hatinya.

Esok harinya di sore nan jingga, Huda datang bertandang ke rumah betang Hamida. Arliana menyambutnya dengan riang “Eh kak Huda … ups maaf kali ini aku yang bantu mamak, aku ingin juga lah … belajar membuat perhiasan dari manik-manik…” ujarnya seraya mempersilahkan Huda duduk di sebelah Hamida yang sedang melamun dan tiba-tiba gelagapan dengan kehadiran Huda sore itu. Sementara Arliana melenggang ke belakang rumah betang.

“Hamida … kamu baca surat aku?”tanya Huda

  “Hmmm ya …”sahut Hamida nampak salah tingkah.

“Jadi apa tanggapanmu?”

“Mmmm … Entahlah …”

“Ida … Ida, aku bosan dengan tanggapanmu yang seperti ini!”

Huda nampak marah dan mengambil sepedanya. Hati Hamida bergetar, begitu dingin memang ia menjawab Huda yang sebenarnya mengharapkan jawaban lebih dari itu. Sesungguhnya itu merupakan reaksi kecemburuan dan salah tingkahnya yang berlebihan. Lalu secepat kilat Ida menyusul Huda naik sepeda menuju batang, ke sungai Leihari tempat mereka biasa bermain semenjak kecil.

 “Kak Huda…!” Hamida memanggil dengan perasaan kuatir.

Huda tak menoleh, ia berlari ke pinggir sungai dan berteriak keras-keras, “Bidadari…kau dimana…?!” Suaranya bergema tiga kali, “Bidadari…kau dimana…?!” “Bidadari…kau dimana…?!”

 “Kak Huda….kau sudah gila ya?!” seru Hamida sedikit membentak Huda. Ia malu jika suara yang menggema itu didengar oleh orang-orang yang tinggal di dekat batang sungai Leihari itu. “Mana ada bidadari di sini!”

“Ada tuh…. Bidadariku itu ajaib, ia cantik tapi sederhana, tak banyak bicara sekarang, makanya aku merasa kehilangan! Padahal dulunya cerewet minta ampun…dan kulit putihnya tak pernah tercemari coklat dan kotornya air sungai ini!” ujar Huda sembari menoleh ke arah Hamida.

  “Maksudmu apa Kak?” Hamida bertanya dan memberanikan diri menatap mata Huda yang tajam menghujam jantung hatinya.

 “Iya… maksudku … kaulah Hamida, bidadari yang kutemukan bertahun-tahun lalu. Mungkin kini saatnya aku menangkapmu …. atau harus kulepaskan selamanya dan tak akan pernah kucari lagi!”

“Tapi … selama ini kak Huda tak berterus terang kepadaku…” Hamida menjawab pelan sembari merapatkan sepedanya ke batang jembatan yang mengarah ke sungai leihari. Mereka berdua duduk di ujung batang itu dengan wajah mengkerut.

“Itu karena sikapmu … Hamida sekarang ini lebih menutup diri, tak pernah menanggapi kata-kataku dengan serius dan bahkan kini enggan menjadi sahabatku lagi!” Huda berkata dengan nada marah.

 “Kak Huda…Apakah sahabat juga boleh jatuh cinta?” Hamida bertanya sambil merenung dalam-dalam.

 “Hamida, setahuku justru cinta yang berawal dari persahabatan itu lebih murni dan kekal” tukas Huda mencoba meyakinkan Hamida, “Kita sudah saling tahu watak masing-masing, nggak perlu jaim lagi…”

Wajah Hamida bersemu merah semerah matahari yang mengintip dialog mereka dengan sinarnya yang malu-malu. Hamida menunduk dan mulai tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga tetapi tetap tenang setenang sungai Leihari yang sunyi.

“Bulan depan Kak Huda melamarmu, kamu siap?!”pertanyaan itu sepertinya tak mengharapkan jawaban yang lain kecuali iya. Maka Hamida pun mengangguk tersenyum malu-malu dengan senyumnya yang paling indah sore itu di Leihari.

“Ketahuilah Hamida … kau bidadariku yang sangat langka … aku merasa wajib melestarikanmu!” ujar Huda mulai bercanda. Hamida menyikut lengan Huda dengan kasih sayang, sedikit cubitan di pipi Huda mendarat tanpa ditangkis lelaki yang telah pasrah. “kau kira aku ini benda keramat?”

“Kau bidadari Leihari!” Hamida tersenyum simpul. Mereka pulang berdampingan, kali ini dengan saling berdebat tentang rencana pernikahan mereka nanti, tentang sawit dan pelestarian hutan, tentang peran seorang istri dan tanggungjawab suami. Langkah mereka diiringi senyum ramah matahari yang mulai bersembunyi ke peraduannya, nampaknya Sang Surya ikut lega atas ungkapan kasih sayang dua insan yang bersahabat semenjak kecil itu. Gema tak mesti disahut gema, si periang tak mesti berpasangan dengan si ceria, bisa jadi jodohnya memang bidadari Leihari yang sunyi.

 

***

  • view 131