Minimal

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
Minimal

Minimal

 

Karya: Shanti Agustiani

Aku lupa menutup jendela sehingga angin malam yang dingin menembus tulang rusuk yang telah banyak kekurangan kalsium ini. Ya dalam kerentaanku, aku sangat mudah melupakan sesuatu, tetapi aku selalu ingat untuk menulis setiap detail hari yang kualami. Minimal masih ada yang akan kukenang sebelum aku mati.

Dengan enggan kusibakkan selimut dan bangun untuk menutup jendela dan menyalakan tungku perapian. Ah… salju pertama turun di penghujung tahun ini. Tahun pertama kalinya aku ditinggal sendiri di dataran tinggi Jaya Wijaya. Ya anak-anakku dua orang Martin dan Maya pergi menuntut ilmu ke kota, tempat peradaban yang lebih maju.

Aku bertahan di bukit ini untuk sebuah kenangan dan kedamaian. Aku juga ingat pertama kali aku mengenal cinta lelaki yang menjaring emas dan seringkali tak berhasil menemukan logam mulia itu. Ia malah mendapatkan aku yang selalu menemaninya merendam jaring dan tampi pada danau di kaki bukit.  Jika kami menemukan benda-benda berharga meski pun bukan emas, kami akan menyimpannya pada sebuah noken yang cukup besar. Kadang-kadang kami menemukan sepasang sepatu boot yang dibuang oleh orang-orang perusahaan, pernah juga kami menemukan topi dan aneka macam sarung tangan. Semua kami simpan untuk dipakai dan dikoleksi.

“Kenapa kau tak bekerja di perusahaan tambang itu?” tanyaku menyeldik waktu itu

“Aku pernah bekerja di sana, tetapi karena penyakitku, aku pilih berhenti. Kau tahu kan … udara tambang tak baik bagi paru-paru!”

Aku takjub, itu kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan karena biasanya kau sangat pendiam. Kata-kata yang biasanya kau ucapkan hanyalah ‘iya’ dan ‘tidak’ atau tanpa kata hanya mengangguk-angguk saja. Aku merasa kau adalah tantanganku, ingin sekali rasanya membuatmu berbicara lebih banyak sehingga aku lebih banyak pula menatap mata dan senyum dinginmu. Semenjak itulah aku rela menemanimu berendam di danau untuk mendulang emas, sesungguhnya bagiku emas tak begitu berharga dibanding derai tawa yang mampu aku pancing pada wajah kaku milikmu.

Ketika aku akan menutup jendela kayu di kamar, salju pertama mulai berjatuhan seperti spons putih yang mulai menghinggapi dedaunan dan tanah bukit. Di bawah pohon pinus, aku seperti melihat sosokmu lengkap dengan topi baret merah dan jaket kulit berwarna coklat. Ah tak mungkin! Bukankah kau sudah lebih dulu mati di pangkuan janda muda dengan rambut lurus rebonding yang  telah merebut cintamu dariku? Mataku rupanya sudah semakin rabun sekarang ini. Ku tarik napas panjang, segera ku tutup rapat-rapat jendela dan menurunkan tirai putih kusam yang dipenuhi bitnik-bintik hitam karena udara yang lembab. Kucoba lagi untuk berbaring dan melanjutkan tidur serta mimpi indahku, namun mata ini tak jadi mengantuk. Tiba-tiba aku merindukanmu, merindukan Marten dan Maya anak-anakmu yang telah beranjak dewasa.

Aku bahkan telah melupakan rasa sakit ketika kau tinggalkan meskipun detilnya selalu aku ingat dan pernah aku tuliskan. Saat itu juga turun salju dan di antara badai serta angin kencang, kau nekad mengepaki semua pakaian bahkan membawa noken kenangan kita. Betapa serakahnya egomu, betapa kau telah menyia-nyakan hati yang selalu bertekad membuat sedikit garis senyum pada wajah beku. Pada akhirnya kau memilih dia, perempuan dari bukit Arfak yang sering menghampirimu dan menemanimu mendulang emas pada saat aku sedang sibuk bersama anak-anak di rumah bukit dataran tinggi Jaya Wijaya.  Tetapi aku selalu belajar dari setiap patah hati dan kehilangan, bahkan dari ucapan-ucapan anak-anakmu yang polos dan selalu ceria. Mereka tidak menangis saat kau tinggalkan, mungkin karena sudah terbiasa kau tinggalkan semenjak kau makin sibuk dengan wanita ke dua itu. Janda kembang yang membawa peruntungan karena ketika bersamanya kau banyak sekali mendapatkan serpihan dan butir-butir emas, sehingga kau simpulkan bahwa wanita janda tanpa anak bertahi lalat di dagu itu memang membawa peruntungan yang tak boleh kau sia-siakan.

“Dia itu punya mantra apa ya … baru beberapa hari ditemaninya aku sudah bisa membawa pulang biji-biji emas ini!” ujarmu dengan wajah merah merona memuji wanita itu di depanku dan tak peduli pada perasaanku yang sangat takut kehilangan kebersamaan denganmu. Rona merah di wajahmu yang sudah jarang aku tangkap semenjak kita menikah.

Lantas kau memang pergi bersamanya untuk selamanya. Marten menghiburku, “Mama … sudahlah jangan nangis terus. Minimal mama punya dua anak seperti kami yang siap membantu Mama!”

Ya akhirnya aku belajar menghargai kata ‘minimal’ yang selalu diucapkan Marten untuk menghiburku. Maya yang sudah lebih dewasa biasanya hanya menimpali perkataan adiknya dengan tertawa berderai-derai. Ya mereka tertawa lepas tanpa beban. Mereka tidak pernah menangis atas kepergian papanya. “Minimal kita masih bisa tertawa bersama Ma … dan kita bisa makan dan minum dari hasil ternak”

Aku pun tak lama menghayati rasa sedih kehilangan wajah kakumu. Kami memenuhi seisi ruangan rumah mungil kami dengan tawa dan canda yang tiada habisnya. Menjelang tidur kadang-kadang aku menitikkan air mata. Namun tak pernah lagi berlarut-larut agar jatuhnya air mata itu secukupnya saja untuk membersihkan kelopak dan sebagian hati kelam yang perlu mendapat tempat ekspresi. Ada banyak alasan untuk melanjutkan hidup, ada banyak pula halangan yang memperlemahnya di titik-titik tertentu, tinggal ikuti irama roller-coasternya. Dan di saat tujuan kita hanya ingin bernafas lebih lega itu bisa tercapai dengan mudah karena oksigen gratis dari alam asri ini telah tersedia. Minimal anak-anak cemerlang itu dalam keadaan baik-baik saja.

“Nah gitu dong … kalau Mama tertawa 'kan bikin awet muda. Siapa tahu nanti Mama bisa dapat papa baru!” Marten menyeletuk mencoba menghiburku.

Mendengar itu Maya nampak geram dan mengernyitkan dahinya, matanya terbelalak tak senang. “Hush Marten … kau kira aku mau papa tiri? Tidak lah … cukup kita saja di rumah ini, jangan ada papa tiri, nanti dia bisa lebih galak daripada papa kita!” ketus Maya menimpali Marten dan kemudian Maya menatapku seolah meminta persetujuan sikap. “Maaf Ma … aku takut papa tiri itu nanti seperti papa tiri Helena yang tega memukuli Helena dan adiknya dengan rotan …”

“Sudah … sudah … tenang jangan ribut ya! Mama tak akan menikah lagi … toh di bukit ini yang tertinggal hanyalah para lelaki tua. Nah … kecuali kalau ada pangeran berkuda tersesat ke bukit ini, barulah Mama mau menjadikannya papa baru kalian!”

“Hahhh … pangeran itu kan mestinya buat aku Ma?” Maya menggodaku dan kembali tertawa demikian pula Marten menyeringaikan gigi gingsulnya.

“Ha ha… iya ya… Mama lupa kalau sudah tua, mana ada ya … pangeran waras yang  mau sama perempuan tua seperti mama,  sudah turun mesin!” Kami kembali tergelak-gelak menutup makan malam keluarga yang tak lengkap. Tahun-tahun berikutnya tinggal aku sendiri duduk di ujung meja makan keluarga itu sembari mengenang gelak tawa Marten dan Maya.

Aku ingat selalu menyuruh mereka agar menghabiskan makanan tanpa meninggalkan sisa termasuk susu domba yang selalu tersedia agar menjadi tambahan lemak bagi tubuh kurus Marten dan Maya. Namanya juga anak-anak dalam masa pertumbuhan menjelang remaja. Meski pun banyak makan tetap saja tubuh mereka kurus. Persediaan energi mereka selalu terserap menjadi keringat dan otot-otot kuat agar dapat berlari menembus ngarai dan hutan bahkan melewati danau yang kadangkala menghentikan langkah kaki telanjang mereka ketika dihadang buaya, Hanya berhenti sesaat, danau itu tetap mereka seberangi tanpa rasa ragu agar dapat bersekolah di SD Inpres. Marten dan Maya tak pernah mengeluh, selalu bersemangat pergi ke sekolah yang jaraknya berkilo-kilo itu sehingga aku pun tak punya alasan untuk berkeluh kesah atas kehidupan yang tak seideal mimpi anak perawan. Aku memang belajar dari mereka, anak-anaku yang menjadi guru kehidupan. Aku bersyukur, ya … minimal aku masih punya rasa syukur!

Tahun demi tahun kami lewati, dan papa mereka memang tak pernah kembali. Dulu di tahun pertama perpisahan, kadang-ladang ia lewat dan mencantelkan sebuah bungkusan kresek pada dahan pohon pinus dekat rumah kami. Kadang-kadang ada buah duku, dendeng atau sagu untuk Marten dan Maya. Ia menyelinap begitu saja tanpa kata-kata, hanya sekelebat baret merah dan jaket kulit berwarna coklat yang sempat aku lihat dari balik jendela. Jantungku masih berdegub kencang apabila melihat bayangannya, namun di tahun ke dua tak ada lagi bungkusan di dahan pohon pinus. Yang seringkali muncul hanyalah fatamorgana. Kudengar-dengar dari kabar burung, bahwa penyakit radang paru-parunya kambuh.

Sampai tiba saatnya Maya dan Marten yang selalu juara kelas itu lulus dari SMA dan masing-masing mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk lanjut kuliah di Jawa. Maya pergi lebih dulu, baru disusul Marten di tahun berikutnya, berlinangan air mata kami saat pelukan perpisahan itu. Terbersit ketakutan dalam hatiku ketika  nanti mereka kembali ke sini, menemukan mamanya hanya jasad atau tinggal tengkorak saja. Tetapi ketakutan itu segera aku tepis demi melihat binar mata bola mereka yang memantulkan kasih sayang abadi, tak lekang oleh ruang dan waktu. Ruh kami akan selalu bersentuhan dan bergandengan erat ke mana dan di mana pun mereka melangkah.

“Mama ikutlah dengan kami pergi ke Jawa …”

“Kalian ‘kan sudah beranjak dewasa … harus pintar mengurus diri sendiri agar kelak punya rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga kalian kelak!”

“Aku belum bisa memasak makanan seenak Mama … ”

“Marten … meski kau lelaki kau harus belajar memasak nanti biar mama tuliskan resepnya. JIka kau berkeluarga nanti tiba saat istrimu sakit atau sedang hamil besar. Jangan biarkan ia mengurus pekerjaan rumah tangga sendirian!”

Marten mengangguk sembari memeluk erat bahuku, tiba-tiba bulir air mata jatuh di pipinya yang mulai tegas oleh tulang rahang yang besar. Kakaknya Maya sudah lebih dulu pergi kuliah. Kini si bungsu nampak begitu berat meninggalkanku sendiri, begitu pula aku sebenarnya.

Aku mengantar Marten ke bandara. Kini perjalanan menuju bandara tidaklah sesulit dulu saat melalui jalan terjal berliku-liku. Pemerintah sudah membuatkan jalan layang yang menembus hutan dan ngarai, Trans papua sepanjang 4.330,07 kilometer yang membentang dari Sorong hingga Merauke itu mempermudah dan meringankan hati Marten untuk segera berangkat. Sanguku untuknya hanyalah do’a dan sedikit tabungan dari celengan bambu yang telah diisi anak-anak semenjak kecil. Marten dan Maya tak pernah meminta lebih dari apa yang kupunya.

Sudah satu tahun semenjak Marten pergi dan dua tahun bagi Maya. Mereka masih belum bisa pulang karena aku tak punya uang lebih untuk membayar ongkos pesawat mereka. Nanti lah … siapa tahu kebun kelapa sawitku panen. Sambil menunggu itu kami cukup menyalurkan rasa kangen lewat telepon seluler satu minggu sekali. Aku selalu mendoakan mereka juga mendoakan papa mereka yang masih aku cintai hingga saat ini, dengan cinta yang membebaskan. Aku toh tak pernah benar-benar sendiri, minimal masih ada ternak domba yang selalu menantikan uluran tanganku untuk merawat dan menggembalakan mereka setiap hari.

Aku menarik selimutku yang bertambal segi empat dan segi tiga warna-warni. Perapian yang sudah mulai padam aku nyalakan lagi agar tulangku tak terlalu ngilu ditusuk-tusuk udara dingin. Aku mencukupkan kenangan untuk hari ini. Dalam tidurku kini dan nanti aku enggan bermimpi lagi. Sebab hidup senyata oksigen gratis yang Tuhan berikan tanpa syarat. Minimal ada Tuhan yeng selalu menemani hidupku dalam susah dan senang. Aku tertidur pulas.

 

***


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kredit khusus bagi Shanti Agustiani yang fokus menulis banyak fiksi menyuarakan tentang wanita dengan segala permasalahan yang dihadapi tetapi berhasil tetap tegar dan melanjutkan hidup mereka.
    Urusan teknik penuturan cerita tak perlu banyak dikomentari. Shanti tetap konsisten mengetengahkan alur yang runut, tidak berbelit-belit dalam kemasan bahasa yang enak dinikmati.

    Dalam cerpen ini ia cukup sukses mengeksplorasi tanah Jaya Wijaya, menuangkannya imajinasi ‘setting’ yang dimaksud secara cukup indah. Pelajaran penting yang bisa dipetik dari tokoh utama sekaligus narator ini merujuk pada judul yang pas banget, Minimal. Tentang perjuangan wanita menghidupi kedua orang anaknya paska ditinggal suaminya selingkuh. Membaca cerpen ini membuat kita untuk selalu bersyukur, bahkan meski hidup terasa getir seperti yang dialami oleh sang naratornya sendiri.

    • Lihat 1 Respon