Malu Sama Qabil

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Agama
dipublikasikan 18 Maret 2017
Malu Sama Qabil

Malu Sama Qabil

 

Kematian adalah pasti dan itu telah terjadi semenjak anak-anak Nabi Adam dan kematian paling tragis pertama kali adalah peristiwa terbunuhnya Habil di tangan saudaranya sendiri Qabil.

Demikianlah kebencian yang telah menguasai hati Qobil yang juga telah melanda dan mengacaukan berjuta-juta insan di dunia. Ali bin Abi Thalib, mengatakan "Sungguh lebih mudah untuk membuat gunung menjadi debu, ketimbang menanam cinta di hati yang penuh dengan kebencian.”

Bahkan para malaikat di surga telah memprediksi kehancuran bumi ini akibat perilaku manusia yang dikuasai nafsu angkara murka, jauh hari sebelum Nabi Adam diciptakan. Hawa nafsu dan kebencian atas nama iri dengki, kebencian atas nama politik, kebencian atas nama ras, kebencian atas nama agama. Sejarah telah mencatat berbagai kehancuran umat manusia karena semua hal tersebut.

Seperti yang telah dikisahkan secara turun-temurun serta tertulis dalam Al Qur’an, kisah Qabil yang telah membunuh saudaranya sendiri Habil hanya gara-gara memperebutkan wanita yang akan dinikahi pun iri karena kurban Habil diterima Allah Swt.  Iri dengki yang memuncak menjadi kebencian sehingga merasa yakin bahwa saudaranya harus disingkirkan agar kehendak dan nafsunya tercapai. Maka terjadilah pembunuhan pertama di muka bumi ini.

Namun, ketika menyadari bahwa Habil benar-benar meninggal, timbul rasa sesal pada diri Qabil. Belum lagi ia bingung harus bagaimana menceritakan hal ini kepada Ayahndanya Nabi Adam yang sudah pasti akan marah besar kepada dirinya. Sekian lama Qabil terpekur di depan jenazah sang adik, merasa takut dan menyesali tindakannya. Sampai tiba-tiba datang burung gagak mengusik lamunan penyesalan Qobil. Allah menyuruh burung gagak itu mengkais-kais tanah untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya (Habil). Berkata Qabil, “Aduhai celaka aku. Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” maka dengan rasa sesal dan takzim atas jenazah saudaranya, Qobil mulai menggali tanah menguburkan adik yang tadinya sangat dibencinya karena iri dan dengki yang memuncak menjadi kebencian.  Kisah ini tertulis pada surat Al Maidah : 27-30.

Saat itu Qobil meskipun belum diajari bagaimana melaksanakan sholat jenazah, tetapi dengan sekelumit kisah tersebut, kita memahami bahwa Allah Swt dengan mengutus si burung gagak telah mengajari Qabil bagaimana memperlakukan jenazah dengan rasa hormat. Jangankan jenazah manusia, jenazah hewan pun harus diperlakukan dengan baik, dikuburkan dengan layak.

Pelajaran pertama dalam mengurus dan menghormati jenasah seharusnya telah kita hayati semenjak kita lahir ke dunia ini, terpatri dalam qalbu yang bersih, yang belum terkotori oleh kebencian dan politik. Pelajaran tersebut termasuk pelajaran pertama dan utama dalam hal memperlakukan jenazah. Demikian pula kemahfuman bahwa hukum mensholatkan jenazah adalah fardhu kifayah, serta dosa besar bagi kita yang masih hidup bila tidak memperlakukan dengan hormat jenazah sesama muslim/muslimah, terlebih tidak mau mensholatkannya hanya karena berbeda pilihan dalam PILKADA, dan serta merta menganggap mereka kafir, sekeji itu kah?

Para jasad itu, urusan duniawi mereka sudah selesai dan kita tak berhak menghakimi mereka sebelum Allah sendiri yang menjadi hakim agung bagi tiap-tiap jiwa. Campur tangan kita dalam menunjuk-nunjuk orang lain sebagai kafir dan munafik adalah juga merebut hak veto Allah dalam menimbang dan menilai amalan hamba-Nya.

Hanya Allah hakim tertinggi dan paling adil, kebaikan manusia maupun keburukannya yang sebesar biji Dzarah pun pasti diketahui-Nya. Jika kita bukan umat yang sombong dan ujub, niscaya kita tidak akan berani memberi label kafir dan munafik kepada orang lain. Bahkan Rasulullah pun tak pernah menyebutkan orang lain sebagi kafir.

Kita harus kuat dalam memegang suatu hukum tapi tetap menjunjung toleransi dalam perbedaan pendapat. Terlebih jika mempermasalahkan perbedaan pendapat yang ternyata sudut pandang tersebut membawa pada kerugian yang lebih besar disertai klaim kebenaran sepihak. Janganlah al Quran kita gunakan untuk menilai orang lain, tapi nilailah diri kita apakah sudah sesuai dengan petunjuk al Quran.

Afifudin Dimyathi, Pengasuh Ponpes Hidayatul Quran - Peterongan - DU – Jombang mengatakan, “Jika al Quran membicarakan orang kafir, janganlah mencari cari orang kafir yang sesuai dengan sifat itu, tapi, lihatlah diri kita sendiri apakah masih ada sifat kafir di dalamnya. Jika al Quran membicarakan orang munafik, janganlah mencari cari orang munafik di sekitar kita yang sesuai dengan sifat tersebut tapi lihatlah diri kita sendiri, apakah masih ada sifat munafik di dalamnya...” Karena menurut sebagian besar ulama makna kafir itu adalah menyembunyikan kebenaran, menyembunyikan fakta sedangkan sifat munafik itu tersembunyi, hanya bilik hati insan dan Allah saja yang mengetahui. Sehingga lebih baik bagi kita untuk menjadikan al Qur'an sebagai cermin agar selalu introspeksi dan tidak menggunakan prasangka serta tanda-tanda yang seolah kita pahami untuk kita pakaikan pada orang lain. Itu jika kita termasuk orang-orang yang mau belajar dan mawas diri, tidak ujub dan sombong atas keilmuan dan pengetahuan manusia yang serba terbatas.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahaya mengkafirkan seorang muslim, beliau bersabda :

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata,”Wajib atas orang yang menasehati dirinya agar tidak berbicara dalam masalah ini kecuali dengan ilmu dan petunjuk langsung dari Allah, hendaklah ia waspada dari mengeluarkan seseorang dari islam dengan sebatas pemahamannya, dan penganggapan baik akalnya, karena mengeluarkan seseorang dari islam atau memasukkannya termasuk perkara agama yang paling agung, dan setan telah menggelincirkan kebanyakan manusia dalam masalah ini.”

Kaidah yang harus di fahami dalam masalah ini adalah “Salah dalam memaafkan lebih baik daripada salah dalam memberikan sangsi” sebagaimana yang dikatakan oleh ibnul Wazir ketika mengingkari orang yang mengkafirkan ahli bid’ah, maka salah ketika kita tidak mengkafirkan karena adanya syubhat lebih ringan dari pada salah dalam mengkafirkan.

Baiklah sampai di sini kita semua pasti paham bahwa perbedaan pendapat haruslah dihargai. Islam rahmatan lil alamin adalah Islam yang sejuk bagi hati semua orang bahkan bagi seluruh alam. Islam yang memberi rahmat penuh kasih sayang. Islam yang tidak suka men-judge orang lain tetapi lebih keras terhadap amalan diri sendiri. Jika perbedaan pendapat dianggap rahmat di antara manusia yang masih hidup apalagi terhadap mayit, jenazah yang sudah tidak dapat mengatakan pendapatnya lagi. Betapa berani dan lancangnya diri kita insan yang penuh khilaf dan dosa ini ketika menghukum para jenazah dengan tidak mau mensholatkannya. Seolah telah mendapat mandat alih kuasa penghakiman atas sesama manusia dari Allah Swt dan terlepas dari dosa akan kewajiban fardhu kifayah. Sungguh hamba-Mu malu sama Qabil yang tetap menghormati dan memperlakukan dengan baik jenazah saudara yang dibencinya.

 

Wallahu'alam bhissawab

 

***

Tenggarong,  18 Maret 2017

Dilihat 337