Tenda Kolong Langit

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 3 bulan lalu
Tenda Kolong Langit

TENDA KOLONG LANGIT

 

Karya: Shanti Agustiani

Langit, hari ini engkau mendung, menyaput bersama gumpalan awan yang tadinya malu-malu kini bergerombolan hendak mengeroyok tenda yang kubangun dengan susah payah bersama Ibu.  Apakah tenda ini akan rubuh lagi untuk yang ke sekian kali? Aku telah berjuang mendirikan empat tiang bambu sisa-sisa perjuangan yang menjadi senjata pertahanan terakhir kami sebelum akhirnya enyah dari Bunda Pertiwi.  Jemari ibu yang urat-uratnya bagai jalinan akar yang liat telah biasa dengan kerja keras terbukti memang paling kuat menajakkan ujung–ujung bambu runcing itu ke pijakan bumi yang telah coba kami pertahankan dengan harga diri. Ya tentu saja, kami masih punya harga diri sebab telah memperjuangkan tanah air sebelum akhirnya menjadi tahanan perang dan lantas menempuh perjalanan melarikan diri yang penuh resiko, mengendap-endap di antara desing peluru dan Molotov. Hingga sampai ke tanah asing ini.

“Ibu … untunglah Ibu datang, awan telah berat di atas sana, sebentar lagi gumpalan-gumpalan itu akan mengguyur tenda kita. Ke mana lagi kita berlindung jika tenda hancur oleh badai?”

“Rindu … maafkan Ibu… Ibu telah berusaha … hujan memang datang sekehandak-Nya. Apakah hari ini ibu harus protes pada Tuhan kita karena cuaca buruk dagangan kita pun tak laku. Tak ada yang mau membeli ketan buatan Ibu. Mereka langsung menutup pintu dan jendela rapat-rapat, bahkan toko makanan kecil tak mau dititipi”

Aku diam lama merenungi kata-kata Ibu, “Kukira kita tetap harus bersyukur Bu … Allah telah memberikan kenikmatan hidup sebelum masa perang saudara yang saat itu lupa kita syukuri sebagai anugerah tak terhingga. Kini … ketika Ia mencabut kenikmatan demi kenikmatan … kita diingatkan atas kealpaan itu bahwa tetap ada kenikmatan sekecil apa pun yang patut disyukuri.”

Di masa kealpaan itu, nikmat Allah memang melenakan kami. Tempat tidurku besar ukuran nomor satu dengan busa per dan bantal bulu angsa. Namun aku tak melewatkan hariku hanya dengan tidur-tiduran saja. Ya … aku seperti remaja aktif lainnya yang suka mencari hal-hal baru, update HP terbaru, gossip terbaru, bahkan pacar baru setiap kali bosan dengan lelaki yang unyu-unyu. Sedangkan ibuku seorang wanita karir di bidang bisnis yang hoby arisan. Dalam satu hari belum tentu kami bertemu karena kesibukan duniawi masing-masing. Ayahku menikahi wanita lain dan aku tak punya cerita tentang dia seumur hidupku kecuali ketika masa bayi aku pernah berfoto ditimang olehnya.

Lalu datanglah masa kehebohan ketika negeri kami menyelenggarakan pilkada. Tiba-tiba kami saling membenci satu sama lain. Kami tetap berdo’a, tetapi bukan doa yang meminta harap atas diri sendiri, melainkan doa yang menunjuk-nunjuk orang lain. “Ya Allah … semoga dia diberi hidayah!“ Do’a seperti itulah yang sering kami tunjukkan kepada lawan politik kami, di antara saling serang argumen dari media sosial hingga ke dunia nyata sehari-hari. Do’a yang dipanjatkan dengan wajah judes dan senyum puas jika berhasil mengkafirkan sesama saudara kami yang telah sekian tahun menikmati mandi dari aliran air sungai yang sama dan makan dari padi yang serupa.

Maka terjadilah, terkabulnya do’a saling mendapat hidayah dengan dicabutnya kenikmatan persaudaraan kami satu per satu. Orang-orang saling lempar fitnah yang terbungkus kitab-kitab suci, perang saudara tak terelakkan. Politik devide et impera pelajaran sejarahku yang masih terngiang-ngiang menjadi kenyataan yang terulang kembali. Ketika mereka datang, yang kukira malaikat suci penyelamat negeri, ternyata tak lebih dari orang-orang asing yang mencaplok satu per satu nusantara pertiwi kami. Banyak kematian dari rentetan peristiwa berdarah, situasi semakin kacau dan pencaplokan pulau demi pulau semakin tak terkendali. Aku dan ibu bersembunyi mengendap-endap melarikan diri dari kamp tahanan di antara desing peluru dan Molotov hingga menemukan perahu penyelamat yang seolah disediakan Tuhan buat kami. Dengan perahu kecil itu kami terombang-ambing di lautan lepas antara hidup dan mati, kami pasrah. Allah saja yang meniupkan angin laut itu hingga membawa perahu kami sampai ke negeri asing yang tak begitu ramah terhadap pengungsi, mereka menempatkan kami di daerah kumuh tempat akhir pembuangan sampah, dan kami mendirikan sendiri tenda kecil dari sisa-sia kardus dan perca yang kami temukan di sana.

Ibu menatapku dalam-dalam dengan mata cekung kurang tidur yang dimilikinya seperti memantulkan sinar bulan yang kian merambat dalam malam. Ia memeluk tubuh kurusku dan akhirnya mengambil air wudhu dari gerimis yang mulai datang berayun-ayun bersama angin kencang. Aku mengikutinya, kami saling memandang dan tersenyum. “Ini saatnya kita bersyukur!”

“Paling tidak, masih ada ketan yang bisa kita makan bersama malam ini. Tak peduli badai menghempas tenda, kita akan mendirikannya kembali setelah reda.”

Aku meyakinkan Ibu. Kami memang harus saling menguatkan satu sama lain. Aku juga menyesal karena belum bisa menemani Ibu berjualan karena kakiku masih bengkak, terserempet serpihan peluru, Ibu sendiri yang membedahku namun infeksinya masih belum terobati hingga kini. Ibu telah mengikat jalan pendarahan pada kaki kananku dengan satu-satunya purdah yang ia miliki. Ya, ia telah mengorbankan banyak hal, bahkan kehormatannya sebagai muslimah yang menjaga diri. Ia lebih memilih menjaga hidupku. Setiap hari aku lafalkan Al-Quran lembar demi lembar sebagai tabungan yang bisa aku sisihkan untuk menebus surga-Nya bagi Ibuku. Semoga bisa.

Usai sholat aku berdoa dengan bisik yang ditelan gemuruh halilintar, “ Ya Allahu Robbi, Allah Yang Maha Adil, jika tenda ini harus roboh, mungkin Engkau telah menyediakan tempat berlindung yang lebih luas dan megah daripada ini. Aku akan menerima setiap hadiah-Mu baik dalam suka maupun duka. Kami tak akan gentar ya Allah … Bahkan jika langit itu Kau hadiahkan bagi kami ketika kami tak punya tenda kecil lagi. Sesungguhnya itu tanda bahwa aku dan Ibuku akan memiliki ruang yang lebih besar lagi.”

Tak lama kemudian badai memang merubuhkan tenda kami dan langit nampak tersenyum ketika leluasa Ia melihat tengadahku dengan harap dan cinta. Aku dan Ibu saling memeluk menikmati tenda kolong langit kami.

 

***

 

 

Dilihat 88