Pengantin Hoax (bagian 3)

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Januari 2017
Pengantin Hoax (bagian 3)

Pengantin Hoax  (part 3)

 

Karya : Shanti Agustiani

Gedung-gedung rakai rapuh dan akhirnya runtuh, menjadi puing-puing material yang meninggalkan tingginya keangkuhan manusia modern. Kini hanya tikus-tikus berseliweran melintasi mayat-mayat pucat berselimut debu yang menjadi penghuni reruntuhan itu. Adel membuka kelopak mata, entah berapa hari ia pingsan dan terhimpit tumpukan buku perpustakaan, di sisinya ada mayat Fadia, adik yang sangat dicintainya. Diciuminya wajah kaku Fadia yang penuh debu dengan titik air mata yang cepat kering oleh angin dan debu yang berterbangan. Dengan susah payah ia menarik kakinya yang masih terhimpit rak, kemudian berjalan terpincang-pincang melintasi reruntuhan dengan sisa-sisa tenaga. Di antara reruntuhan ia menemukan air mineral dengan air itulah ia menyambung hidup.

Apakah ini mimpi? Adel mengingat-ingat lagi, semenjak adiknya Fadia membuat laporan hoax yang pelakunya suaminya sendiri. Adel selalu berdebar-debar khawatir atas keselamatan Fadia. Ia tidak bisa makan dan tidur, maka ia pun menyusul Fadia. Tanpa ia duga, Bachri kembali ke rumah untuk suatu benda penting yang tertinggal, lelaki kurus jangkung itu menyeringai geram begitu mengetahui Adel pergi meninggalkan rumah. Terlebih setelah membongkar isi laptop Adel yang berisi capture mengenai kegiatan liputan hoax Bachri yang Adel simpan menggunakan password, tetapi Bachri berhasil membobolnya. Dalam hati Bachri muncul percikan api kesumat yang membuatnya bernafsu memburu Adel dan Fadia.

Tugu jam kota waktu itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh ketika bundaran di sekitar tugu dipenuhi lautan manusia pendemo. Mereka berteriak, “Turunkan Presiden! Turunkan Harga! Berantas PKI!” Hantu PKI memang paling efektif digaungkan untuk menakut-nakuti pilihan sikap masyarakat yang traumatik atas serangan tiga puluh September berpuluh tahun lalu. Adel menyusup di antara para demonstran, tujuannya hanya mencari Fadia dan menuju kantor polisi. Hujan senapan angin dan gas air mata serta-merta mengguyur dari berbagai arah. Adel dengan langkah panjangnya sampai di kantor polisi tetapi  di sana semua serba semerawut, polisi kocar-kacir kewalahan mengatasi para pendemo yang telah kehilangan kendali merusak berbagai fasilitas umum. Adel menggigit bibirnya hingga berdarah, pedih  tak terasa lagi … ketika ia berbalik ia dikejutkan oleh sosok jangkung berjaket hitam dengan kacamata hitam mencegatnya.

“Apa yang kau lakukan istriku sayang?”

“A … aku hanya mencari Fadia, dua belas jam ia hilang tanpa berita!” Adel tergagap menghadapi Bachri.

“Hmmm … baguslah, bisa disimpulkan ia sudah mati. Apa kau mau menyusul kematiannya, wanita jalang?!”

“Apa maksudmu?”

“Aku hanya ingin mengamankanmu … wanita pengkhianat!”

“Bukankah kau pengkhianat sebenarnya? Kau telah mengkhianati bangsa ini dengan semua berita hoax itu!” Adel geram dan tak dapat lagi menahan hardiknya yang keras kepada lelaki yang menikahinya sejak dua puluh lima hari lalu. Ia menangis dalam kemarahannya, “Lihatlah … mereka semua telah saling caci dan menyakiti … tak lama lagi mereka akan saling bunuh satu sama lain. Apa kau puas men-skenariokan kehancuran bangsamu sendiri?”

Bachri maju satu langkah mencengkeram leher baju Adel dan meludahi wajah perempuan yang meradang kepadanya itu. Adel tak mau kalah sigap ia melayangkan tamparan ke pipi Bachri ditambah bonus tendangan kaki kanannya tepat mengenai selangkangan lelaki itu, Bachri meringis kesakitan. Sedangkan Adel segera berlari sambil menahan sakit hati dan benci pada pasangan hoax-nya itu. Ia mengguyur wajahnya membersihkan wajahnya pada westafel di WC umum kantor polisi. Setelah itu ia berlari sekuat tenaga, kembali mencari Fadia.

Mengenang kebiasaan Fadia, Adel teringat pada perpustakaan kota tempat Fadia dan Adel biasa menenggelamkan diri apabila jenuh dengan rutinitas. Adel menemukan perpustakaan itu sepi tak berpenghuni dan tanpa pegamanan, dengan bebas ia masuk ke gedung yang tak terkunci itu dan menemukan buku-buku berserakan di mana-mana. Matanya tertumpu pada sebuah buku di antara tumpukan buku-buku dengan judul “Hancurnya Sebuah Peradaban”, Adel memungut buku itu dan menemukan jemari menggenggami buku itu, Adel menyibak tumpukan buku dan menemukan bahwa jemari itu adalah milik Fadia yang terbujur kaku di antara tumpukan buku yang coba diraihnya. Fadia telah wafat! Wajah gadis itu biru lebam, Adel mengusap kelopak mata Fadia yang sedikit terbuka, “Innalillahi wa inna ilayhi rojiun…” Adel tersedu mencoba membopong mayat Fadia ke luar ruangan. Namun belum sampai ia keluar bunyi ledakan muncul dari segala arah. Adel merasa gedung perpustakaan akan runtuh seketika sehingga ia membawa Fadia kembali di antara buku-buku. Adel menutupi tubuhnya dan tubuh Fadia dengan tumpukan buku. Tak lama terdengar bunyi ledakan yang lebih dahsyat memekakkan telinga, Adel memeluk Fadia, lantas jatuh pingsan.

Bau tumpukan kertas yang menghembuskan wangi akasia menusuk hidung Adel, membangunkannya dari pingsan ataukah mati suri? Ia terbangun di tengah hutan akasia dengan sebuah buku yang tadinya digenggam Fadia di perpustakaan, kini buku itu menempel di ujung hidung runcing Adel. Yang lebih aneh, gedung perpustakaan telah berganti menjadi hutan akasia, tak ada Fadia di sampingnya. Adel beringsut dari semak belukar dan bertambah kaget mendapati dirinya mengenakan kemben, dengan sanggul kecil di kepalanya. Rasanya Adel telah memotong rambutnya menjadi cepak satu hari sebelum pernikahan hoax itu. Ah ia tak peduli lagi apakah episode ini sebuah mimpi ataukah halusinasi. Diperbaikinya sanggul  dan kembennya lalu mulai berjalan tertatih mencari paparan cahaya matahari yang lebih luas. Bagaimanapun ia harus menemukan kembali peradaban manusia. Buku itu tetap dalam genggamannya.

Setelah sekian kilometer berjalan, Adel menemukan sebuah kampung di pinggiran hutan. Kampung yang rumah-rumah penduduknya besar-besar terbuat dari jati yang kokoh, jarak satu rumah dengan yang lainnya masih sangat jarang.  Ada seorang wanita tua sedang berjalan membawa seikat ubi rambat. Adel bergegas mengiringi wanita tua itu.

“Ini kampung apa Mbok?” tanya Adel setelah berjalan bersisian dengan wanita yang dipanggil si Mbok.

“Ini Majapahit  tanah permulaan perjuangan Patih menyatukan Nusantara Nduk”

“Nusantara?”

 Si Mbok tersenyum, “Begitulah Baginda Patih menginginkan kami menyebut seluruh tanah-air ini”

“Patih siapa?”

“Ayo ndherek … mereka sedang di alun-alun” dengan isyarat tangan si Mbok mengajak Adel mengikutinya ke tanah lapang yang sangat luas. Di sana sudah banyak rakyat jelata yang mendengarkan seseorang berpidato di atas sebuah gunungan tanah sebagai podiumnya. Lelaki itu mengenakan pakaian kerajaan jaman dulu, berwajah persegi dengan tampang tegas yang tak memilki garis senyum. Mugkinkah ia Patih Gajah Mada? Adel penasaran dan dengan susah payah ia menerobos lautan manusia yang sedang menyimak tutur kata Sang Patih. Ia berhasil menerobos ke barisan paling depan. Lalu sembari mengumpulkan keberaniannya ia memotong pidato Sang Patih, “Maafkan saya … saya hanya ingin memastikan, apakah benar anda Patih Gajah Mada?”

“Ya … begitulah mereka menyebutku ... ” Sang Patih melanjutkan tanpa ekspresi, kata-kata yang kemudian meluncur di mulutnya tidak dipahami oleh Adel "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa."

Usai menyampaikan pidatonya yang disambut dengan tepuk tangan gegap gempita. Tak disangka-sangka lelaki bertubuh kekar pendek itu menghampiri Adel sembari menunjuk buku yang digenggam Adel yang lantas menyerahkan buku itu ke tangan gempal kekar sang patih Gajah Mada.

“Dari mana kau dapatkan kitab sebaik ini?” selidik Sang Patih sembari menggeleng-geleng takjub.

“Ohh … buku ini … saya pinjam dari perpustakaan masa depan Baginda Patih …” Adel kebingungan menjelaskan keberadaan buku itu yang telah menyertai perjalanan menembus waktu.

“Tuan Puteri ini dari masa depan!” Patih Gajah Mada berseru di depan khalayak ramai. Mereka berbisik-bisik tak percaya, bahkan ada yang menyoraki Adel, “Perempuan pembohong, mana ada perjalananan menembus waktu?”

Sang Patih membela Adel dengan seruan, “Ingat kisanak … tak ada yang tak mungkin dari perjalanan takdir, Lihatlah kitab ini! Kitab ini hadir dengan desain keajaiban masa depan sebagai bukti bahwa Tuan Puteri ini tidak berdusta. Kukira ia pula yang akan merawat nusantara agar selalu bersatu-padu. Aku memulainya dan kau Tuan Puteri … ku mohon kau mau merawatnya!”

“Jika hanya aku yang merawat nusantara, aku tidak sanggup Baginda Patih. Nyatanya nusantara di masaku telah tercerai-berai oleh perpecahan politik adu domba oleh orang-orang di dalam negeri sendiri.” Adel menunduk sedih.

“Kau yang punya kekuatan pena, satukan Nusantara dengan semangatmu yang membara, jangan mau kalah hai wanita dewi!”

Adel merasa tersanjung dengan ucapan Patih Gajah Mada, ia merundukkan badan untuk menghormati titahnya, “Baiklah Baginda … saya berusaha!” Sang Patih menyerahkan buku itu kembali kepada Adel yang menerima buku itu dengan hormat.

Sepeninggal Patih yang berlalu bersama para abdi. Adel duduk menyepi di bawah pohon jati dan mulai membuka buku itu. Namun ribuan kunang-kunang hutan tiba-tiba datang menyilaukan mata Adel sehingga ia harus menutup matanya beberapa saat. Ketika ia membuka kelopak matanya, hatinya kembali gemetar, betapa terkejut ia akan metamorfosa kunang-kunang yang menjelma menjadi cahaya 500 watt di atas ubun-ubunnya. Hutan di sekitarnya berubah menjadi ruangan serba putih dengan kain gorden hijau yang membatasi kamar tidurnya dengan ruang sebelah. “Di mana aku?” tanyanya lemah. Seorang wanita berseragam putih-putih dari ruang sebelah menghampirinya dan berkata, “Ini Malay Hospital … “ Wanita yang rupanya petugas medis itu menjawab Adel.

“Kenapa aku harus dibawa ke sini? Apa tidak ada rumah sakit di negeriku?’

“Tak bersisa, negeri Anda telah porak-poranda … kini setiap pulau telah dicaplok asing. Semua elemen pecah kongsi, hanya khatulistiwa yang selamat, kami membantu menyelamatkannya!”

Wajah Adel semakin suram dan kelam, di antara tatap nanar mata putus-asanya ia melihat ke sisi meja rumah sakit, buku itu tergeletak di sana.  Adel mengambil buku itu dan menciumi wangi akasia pada helai-helai kertasnya. Di dinding kamar ia melihat siaran televisi tentang kehancuran negerinya. Perseteruan yang tiada habisnya yang tak menghasilkan perbaikan apa pun, hanya menyisakan puing-puing dan mayat bergeletakan tanpa doa penghormatan dan air mata yang tersisa.

Adel membuka bukunya, namun semua tulisan di dalam buku mendadak hilang tak berbekas, apakah ribuan kunang-kunang telah meranggas habis semua huruf pada buku “Hancurnya Sebuah Peradaban?” Adel semakin tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Ia ingat Fadia, mami, teman-temannya, tetangga yang biasa mengobrol tentang harga cabai dan bercanda tentang ketidakmampuan mereka membeli kosmetik ketika harga cabai melonjak naik.  Bahkan ia mengingat Bachri ketika Adel memilin jemari manisnya yang masih terpasang cincin kawin, ah ... ini cincin kawin palsu! Bantah Adel dalam hati. Semuanya kini lenyap dan senyap sebagaimana debu yang dihembuskan angin prasangka. Adel melamun, lantas teringat perjalanan menembus waktu yang masih tak dapat dinalarnya dengan akal sehat. Mungkinkah yang barusan ia alami hanyalah mimpi? Mengapa titah Sang Patih kini terasa nyata mengaduk-aduk hatinya agar kuat dan bertahan pada semangat menyatukan nusantara? Ya, Adel akan mencoba menggunakan segala upaya yang tersisa. Tak ada tetesan pena yang sia-sia. Setiap kata mestinya mampu menggerakkan hati yang terpisah, kolase perjuangan mulai dari zaman Patih Gajah Mada hingga masa proklamasi kemerdekaan harusnya lebih kuat dari hasutan permusuhan antar suku, agama dan partai politik. Adel akan mencoba menggugah kembali serakan kepingan hati para pemilik sejati nusantara. "Suster … apakah saya boleh pinjam pulpen?”

Suster itu tersenyum dan mengangguk memberikan sebuah pulpen yang diterima Adel dengan penuh rasa syukur. Jika kata-kata pada buku telah hilang maka ia harus merangkainya kembali. Adel akan memulai perjuangan melalui pena untuk menyatukan kepingan-kepingan hati yang tercerai berai dari sebuah titik yang tertinggal, khatulistiwa … dan dari titik inilah Nusantara akan kembali menemukan wujudnya, utuh bersatu-padu pada suatu hari nanti.

 

***

 

Sambungan dari: Pengantin Hoax (bagian 2)