Semenjak Itu

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2017
Semenjak Itu

SEMENJAK ITU

 

Karya: Shanti Agustiani

Aku tahu, aku memang bukan dia yang bisa membawakan karakter pujaan, yang selalu tepat dalam bersikap dalam tindak perilaku. Semenjak aku merasa terperangkap pada tubuh ini, rasanya tubuh ini memang bukan pasangan jiwa yang tepat. Ketika ramai-ramai orang meneriakkan kesatuan jiwa-raga dalam semangat heroik mereka, sebagai gentleman, aku tidak! Aku hanya diam dan menitikkan air mata. Tetapi jika adik semata wayangku datang aku akan cepat-cepat menghapus air mataku, “Kak Dion cengeng!” Pernah ia protes ketika memergokiku sedang sesunggukan di balik bantal ketika tengah malam aku terbangun dan merindukan Ibu. Aku cepat-cepat menghiburnya, tetapi jika ia sudah melihat satu tetes air mataku maka ia akan menangis diam-diam kemudian. Aku tak kan melakukan hal itu lagi.

Ya, hanya Sekar yang menjadikan aku tetap kuat menjalani hidup ini. Sekar baru berusia lima tahun ketika ibu meninggal dunia, dan kini ia telah berusia sebelas tahun. Aku harus lebih teliti dalam memperhatikannya. Untung saja aku tanggap ketika mendapati Sekar pucat pasi setelah keluar dari kamar mandi sembari memegangi roknya yang basah, “Sekar kenapa kamu?”

“Kak Dion … aku barusan mencuci rokku … aku berdarah, apa karena bisulku pecah?”

“Sekar … emang kamu bisulan di mana?”

“Sebenarnya … aku tidak merasa ada bisul kak… tetapi tiba-tiba celana dalamku berdarah …”

Ulala aku tahu penyebabnya, Sekar mengalami menstruasi pertama kali, untung aku sering membaca artikel tentang menstruasi sehingga aku bisa berperan sebagai ibu baginya memberi bimbingan yang dia butuhkan.

Ayah datang malam hari dan hanya bisa marah-marah pada kami dan selalu aku yang menjadi sasararan bentakan, kadang-kadang bahkan tendangan dan tamparan dengan ringan mampir di pipiku oleh sebab-sebab sepele yang tak dapat kuceritakan satu per satu. Jika sudah demikian, pastilah Sekar muncul membela abangnya, Ia minta agar ia saja yang dipukul tetapi ayah tidak pernah melakukannya dan aku memang rela sakit, asal jangan Sekar!

Satu hal yang patut disyukuri adalah aku dan Sekar masih bisa bersekolah hingga hari ini dalam keterbatasan ekonomi. Meskipun di sekolah mereka sering mengejek aku yang terlalu lentik, halus dan lembut dalam bertutur kata, “Diona bencong!” begitulah celetuk mereka, diikuti dengan derai tawa. Sesungguhnya ucapan mereka tidak salah. Semenjak ibu meninggal aku merasa ruh ibu menyatu dalam jiwaku, ruh yang lembut dan penuh kasih. Di malam kematian ibu aku bermimpi akan hadirnya ibu memeluk diriku erat, “Jagalah adikmu nak … dan jaga dirimu sendiri!”  Pelukan Ibu tak kulepaskan dan kuhirup dengan sepenuh jiwa hingga menyatu dan menjelma menjadi sifat-sifat femininku. Itulah sebabnya aku menjadi sangat melindungi Sekar, selalu memaafkan kemarahan ayah, dan menjaga serta mendoakan keluarga kecilku dengan doa terbaik sepanjang malam menjelang tidur. Salahkah lelaki sepertiku yang berjiwa feminin?

Aku selalu mendoakan agar tiga insan yang tersisa ini selalu merasa bercukupan meski pun telah ditinggalkan seorang ibu. Dan kuharap Tuhanku mau mendengar doa lelaki sepertiku. Kami toh masih memiliki rasa syukur dengan keadaan kami, terlindungi di rumah kayu beratapkan seng yang memilki AC jendela dari angin yang berhasil lolos menyusup dari himpitan bangunan tinggi.  Ia telah cukup memberi sedikit kesegaran bagi kami, sedikit saja, tak perlu banyak.

 

 

***