Geometri Keadilan

Shanti Agustiani
Karya Shanti Agustiani Kategori Puisi
dipublikasikan 11 Januari 2017
Geometri Keadilan

GEOMETRI KEADILAN

 

Aku telah memeluk ribuan dahan, mengecup jutaaan ilalang, juga memakan dedaunan dan ulat-ulat cantik untuk memperkaya bhineka-nya darah dan daging. Tetapi masih saja wajahku sepucat mayat.

“Ayo kejar kami jika kau masih sanggup berlari!” Kalian tertawa meninggikan ringkikan kuda.

Aku tak takut tantangan, mari … kuendus cuping-cuping hidung kalian yang semungil siput atau pun sebagong jambu bol, untuk mempertajam jejak sejarah negeri.  Merasai hirup paru-paru dari yang tersemayam TBC hingga yang mengembang lupa membagi oksigen. Aku bahkan siap mencongkel mata kalian yang mencuri pandang dari sudut-sudut retina yang sepi. Akan kuselesaikan permainan kejar dan sihir dengan spektrum pelangi.

Telak, jalinan akar itu memang telah mati, dan akan retas satu per satu …. Rakai membusuk dimakan akar cabai petani yang tak bisa menjual tanaman sendiri. Merunduk di bawah pantat tengkulak yang semakin seksi.

Mejikuhibiniu itu tidak terhampar untuk permadani yang bulat, sebagian dari kalian justru menyimpulkan flat. Mungkin karena  gerahamku kini asyik mencacah onde-onde sedangkan kau meliuri fitsa hats.

Ingat, kita masih akan bersilat lidah tentang goemetri keadilan itu hingga hari kiamat!

 

#puisiprosais

  • view 96