Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 Januari 2017   01:26 WIB
Pengantin Hoax (bagian 2)

PENGANTIN HOAX (part 2)

 

Karya: Shanti Agustiani

 

Malam pengantin yang telah berlalu beberapa hari tak berasa berkahnya bagi Adel, malam yang sangat dingin dan penuh kepura-puraan. Ia berperilaku seolah sebagai istri pemalu yang baru belajar meladeni suaminya di ranjang semalam. Pagi hari Bachri minta dibuatkan kopi hitam, satu sendok gula, dan tiga sendok kopi pahit, ditambah air panas mendidih. Ingin rasanya Adel menambahkan sesendok teh serbuk sianida, tapi tidak, ini belum waktunya! Begitulah pikiran Adel di pagi hari pertamanya sebagai istri Bachri.

“Kok lama betul sih bikin kopi?!” Bachri sedikit memberengut sembari meletakkan korannya di meja makan.

“Ini kopi spesial, bikinnya mesti penuh perasaan!” ujar Adel sembari tersenyum

“Ngomong-ngomong Bang … sampai kini Abang tidak pernah cerita padaku, di koran atau majalah mana Abang bekerja, bolehlah istri tahu pekerjaan suaminya, biar afdol doa dinda. Adel sebagai istri akan selalu senang hati mendoakan kebaikan bagi suaminya”

“Ah … kau harus teruji dulu menjadi istri yang setia, baru kau akan kubagi semua rahasiaku. Jika tidak, jangan harap! Ingat, mamimu bebas hutang karena uangku!” Ancaman Bachri di pagi hari pertama sebagai suami. Adel terbelalak, senyumnya luntur, sejak pagi itu ia tak pernah bertanya apa-apa lagi tentang pekerjaan Bachri. Kecurigaannya semakin nyata, tak ada basa-basi lagi.

Bachri berangkat dengan derum suara motor Harley yang sangat keras, ia kesal dengan pagi itu, mungkin juga kesal dengan malam pertama bersama Adel yang tak menggelorakan bara cinta. Begitu dingin, perempuan yang seperti mayat hidup! Begitulah pemikiran Bachri mengenai pelayanan Adel sebagai istri.

Adel bisa merasakan kekesalan Bachri, ia pun tak kalah kesal karena usahanya mengumpulkan bukti-bukti dipersulit dengan bungkamnya Bachri. Usahanya harus lebih keras tetapi Adel menyadari acting-nya mengecewakan, ia tak bisa berpura-pura sebagai istri yang hangat sehingga mampu mengendorkan urat-urat petahananan diri Bachri, “Bullshit!” Adel memaki dirinya sendiri.

Adel membuka laptop, searching mengintip isi twitter Bachri.  Masih sama, isinya link-link berita kebencian dan menyudutkan pihak-pihak tertentu. Link tersebut dari Harian Pos Citra, tak ada alamat redaksi, tak ada struktur, tak ada pengurus, tak ada nomor telepon. Nama-nama penulis sumber berita pun hanya berupa inisial “SY” atau “Kn” atau “Bc”, tetapi anehnya berita-berita murahan mereka tersebar berulang kali pada berbagai sosial media. Mereka memanfaatkan google adsense!

Sekian lama di depan laptop…“Kecipak-kecipuk dalam perutku, kukira bayi yang berenang… mana mungkin bayi hoax? Oh lapar ... hanya sesendok nasi dan ampal jagung yang kumakan seharian ini, lupa kalau lelaki itu pernah menyentuhku sekali lagi” Adel tertawa getir di depan laptopnya. Semenjak menikah, ia dilarang mengerjakan kerjaan paruh waktunya sebagai editor penerbit indie. Kali ini ia masih menurut agar upayanya membongkar kedok suami hoax-nya lancar.

Adel membobol password suaminya pada laman web, seorang editor bukan hanya harus menguasai diksi dan olah kata, tetapi juga mesti menguasai trik-trik dalam melihat fakta tulisan asli atau palsu. Pada google image Adel menelusuri sumber-sumber gambar berita yang ditampilkan Bachri baik gambar editan mau pun gambar asli yang ternyata latar belakang peristiwanya sangat jauh panggang dari api, parah! Semua itu ia rekam dengan camera digitalnya ditambah keterangan deskripsi kepalsuan berita yang ia ketik rapi dalam sebuah file.

Hari ke lima pernikahan, Fadia mengunjungi Adel dengan membawa sekeranjang buah apel dan balado jengkol kesukaan Adel. “Cabe mahal kak … seratus ribu per kilo … mami sekarang irit menggunakannya buat usaha catering kita, katanya ini karena rezim pemerintah kita sedang berusaha memiskinkan rakyat …”

“Fadia … dari mana kamu belajar ilmu ‘katanya’. Jika melihat suatu masalah, upayakan lihat dari sisi kompleksitasnya, penyebab cabe mahal bisa macam-macam … bisa karena cuaca buruk… bisa karena tengkulak memainkan harga pasar, lagi pula dari dulu ‘kan harganya memang naik turun. Percuma kakak membantu biaya kuliahmu kalau hal-hal seperti ini kau lihat secara picik,!”

“Berita-berita itu terus tayang dalam timeline sosmed-ku … gimana aku nggak terpengaruh…”

"Begitulah konspirasi politik, Buatlah kebohongan yang besar, katakan secara simple, lakukan berulang-ulang, Maka akhirnya  orang akan percaya. Itu kata Adolf Hitler"

Fadia menyimak, ilmu agama mengenai tabayyun pun diabaikannya selama ini demi mengamini kebohongan berulang-ulang itu. Kak Adel melanjutkan, “Fadia, kebanyakan itu hoax dan salah satu sumbernya ada di sebelahku saat malam pengantin itu!”

“Maksud kakak … Bang Bachri …?!” Fadia membelalakan mata ketakutan menghayati intonasi suara kakaknya yang bergetar mengucapkan kata-kata itu. Jilbab merah mudanya digigit menelan pahit yang dirasakan Adel.

“Ya … aku menikahi salah satu sumber hoax yang bertebaran pada timeline sosmed-mu!”

“Ya ampun kakak … demi apa coba?!”

“Demi menyelamatkanmu dan menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran!”

Adel menceritakan kepada Fadia akan sebab musabab pernikahan itu termasuk niat maminya menjadikan Fadia sebagai pengantin cadangan jika Adel menolak. Fadia berkaca-kaca mendengar kisah kakaknya. Ia memeluk dan menciumi rambut cepak Adel yang masih harum shampoo beraroma mawar.

“Fadia tidak tahu kak … Fadia tidak tahu … Maafkan Fadia tidak bisa bantu kakak!” Fadia berbisik dalam sedu sedannya. Adel berusaha menenangkan Fadia, “Ssst ... diamlah … aku khawatir suamiku tiba-tiba datang dan mendengar pembicaraan kita!”

Fadia mulai tenang sembari menyibak gorden jendela melihat-lihat situasi sekitar rumah Adel. Ia kembali duduk disamping kakaknya sambil berbisik, “Jadi apa yang bisa kubantu untuk mengeluarkanmu dari pernikahan ini?”

“Bantu aku memenjarakannya. Kamera dan flashdisk ini, bawalah dan langsung serahkan ke polisi dan pejabat berwenang agar pihak yang dirugikan membuat delik aduan upaya pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong dan pemalsuan data-data ke publik. Website dan media sosial Bachri penuh dengan link-link hasutan dan kebencian!”

“Baik Kakak … meskipun aku sangat takut dengan peran ini, tapi … Kak Adel telah menjadi tumbal!”

“Kau harus berani … demi bangsa ini kau harus berani, ini caramu untuk menjadi berarti … bagi persatuan dan kesatuan bangsa cita-cita para pendahulu kita … juga demi kakakmu!”

“Ya kak… InshaaAllah aku berani!” Fadia menatap lurus ke depan, sihir kata-kata Adel mampu menyelimuti hati Fadia dengan rasa percaya diri yang begitu kuat serta ketetapan hati.

Fadia memperbaiki jilbabnya dan memeluk kakaknya sekali lagi. Ia pulang membawa kamera dan flashdisk berisi deskripsi laporan Adel yang ditujukan kepada aparat pemerintah terkait serta kepolisian. Tugas Fadia memang penuh resiko, untuk itu Adel menyiapkan argumen-argumen yang harus dikatakan Fadia sebagai pelapor, siapa-siapa kenalan Adel yang harus dihubungi agar bisa menolongnya, termasuk pengacara kenalan Adel. 

Tengah malam, Adel pura-pura tertidur saat suaminya datang membuka kunci rumah. Dalam gelap kamar, ia merasakan tubuh suaminya yang mulai berebah, Bachri tidur tanpa melepas sepatunya, membelakangi tubuhnya. Adel mencium aroma bir yang sangat tajam. Lelaki itu langsung ngorok, tubuh Adel tak disentuh sedikit pun, barangkali ia telah puas dengan bir dan para wanita peneman minum. Adel tak peduli.

Malam semakin larut, Adel tak dapat memejamkan mata, sesekali muncul niatan menikam tubuh bau di sampingnya dengan pisau pemotong apel kiriman mami di meja lampu tempat tidurnya, memang busuk sekali dan layak ditiadakan! Tetapi Adel masih menahan diri.  Ia masih sabar menunggu hari ketika suaminya akan diciduk, dan ia masih punya sisa air mata yang sementara ini diirit untuk ditumpahkan pada hari bahagia itu.

 

***

Sambungan dari bagian 1

https://www.inspirasi.co/post/details/25277/pengantin-hoax

Bersambung ke : Pengantin Hoax Bagian 3

Karya : Shanti Agustiani